
Mella melangkahkan kaki jenjangnya menuju sebuah kafe di pinggir taman kota. Rasanya begitu berat. Tapi menyerah, bukanlah pilihan yang tepat. Dia harus rileks setelah itu, memikirkan jalan keluar yang memungkinkan. Mella memilih tempat yang sedikit lebih sepi dari pengunjung lain. Ini adalah kafe dimana dia dan ayah angkatnya sering menghabiskan waktu.
Angga adalah ayah selalu berbuat baik padanya. Di kala dia menerima perlakuan buruk dari Hasma, Angga yang selalu datang untuk menenangkan dirinya,mengulurkan tangan, saat Mella terjatuh. Bahkan saat Mella di kunci dalam sebuah gudang dan tidak diberikan makan, Angga datang guna memberinya sepotong roti. Atau jajanan lain yang di sukai oleh Mella. Angga baru akan pergi, jika jajanan itu habis. Meski Angga juga tidak begitu berani membantah Hasma, tapi Mella sudah menganggap ayah angkatnya itu sebagai dewa.
"Papa! Kapan kau akan kembali seperti dahulu? Dan dimana dirimu sekarang? Aku sangat merindukan papa."
Mella memandang galeri ponsel, dimana ada dirinya dan Angga, mereka sangat bahagia kala itu.
Mella mengingat kenangannya bersama Angga, bersenda gurau dan bercerita banyak hal. Juga menghabiskan waktu bersama dengan melakukan piknik, atau sekedar jalan-jalan.
"Papa... Papa sekarang sama siapa? Kenapa papa harus pergi dari sana?" Mella semakin tidak terkendali. Mella sangat bersedih.
Sepulang dari kantor, Mella sangat antusias untuk menemui papanya, dia sangat rindu, hingga berniat untuk berkunjung ke rumah sakit jiwa, tempat papanya menjalani perawatan. Tapi nyatanya, papanya kabur dan tidak ada seorangpun yang melihat kemana arah Angga pergi. Terakhir kali perawat melihat Angga tidur nyenyak di dalam kamar, tapi setelah di cek kembali bersama dengan datangnya Mella Angga sudah hilang entah kemana. Seluruh Cctv juga tidak berfungsi di saat yang sama.
"Mella!" Sebuah suara yang tidak asing lagi di pendengaran Mella. Otomatis Mella mendongakkan kepalanya.
"Kau...!"
Seorang pria memakai tudung yang sama saat di kantor tadi siang.
"Bagaimana bisa kau berada di sini?" Mella menatap curiga, juga penuh selidik, sosok siapakah pria yang kini berdiri tegak di hadapannya.
"Mau apa kau?" Tanya Mella waspada. Takutnya, pria di hadapannya memiliki niat jahat.
"Pertama, saya kemari karena saya ingin mengenal Anda. Saya adalah orang yang ditugaskan untuk menjaga Anda selama perjalanan ke luar kota besok."
"Apakah Andhra yang menyuruhmu?" Tanya Mella. Pria itu mengangguk antusias.
"Anda bisa memastikannya jika tidak percaya."
Mella mengirim pesan kepada Andhra, dia tidak boleh gegabah. Tak ingin memberi pelaku kejahatan memiliki celah untuk melakukan aksinya.
"Bagaimana? Apakah aku sudah diperbolehkan duduk?"
"Apakah itu perlu?" Mella kurang suka dengan gaya penampilan pria ini. Misterius, gerak geriknya pun mencurigakan, sepertinya cukup menyebalkan. Bukankah dia melihat jika Mella sengaja menyendiri, masih saja pria ini datang mengganggu dirinya. Meja yang lain juga banyak yang masih kosong.
"Sangat!" Mella mendengkus kesal, dia hendak berdiri untuk menghindari pria ini, tapi dengan sigap, si pria bermasker ini menarik tangannya hingga terduduk kembali. "Tidak baik memendam kesedihan seorang diri. Akan lebih baik jika mau berbagi dengan orang lain, agar beban berat di pundak terasa lebih ringan, perasaanmu juga akan lebih plong."
Mella termangu, entah kenapa ucapan pria di hadapannya ini terasa hangat. Pria ini seperti begitu mengenal dirinya. Hanya saja, Mella tetap menjaga jarak, sebab statusnya. Ada hati yang harus dia jaga.
Ponsel berdering, dan itu milik Mella.
"Maaf! Saya harus mengangkat telpon."
Dia memasang muka masam, namun tetap saja sopan. Meminta izin saat mengangkat telpon, padahal, dia menganggap ku orang lain.
__ADS_1
"Silahkan!"
Pria itu bisa menebak, siapa yang tengah menelpon Mella.
"Saya di kafe."
Hening
"Ya!"
Panggilan itu terputus dengan setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Mella. Pria di hadapannya, menengadahkan tangan, tepat dimana air mata itu menetes.
Dia tahu, jika aku tengah tidak baik-baik saja, tapi kenapa tidak ada rasa simpati seperti sebelumnya. Bahkan kata-kata yang sering dia ucapkan dulu, tidak pernah lagi keluar dari mulutnya. Batin Mella. Menutup mata beberapa saat. Berharap jika semua ini akan hilang saat matanya terbuka.
Ternyata, dia masih dalam posisi yang sama. Pasrah dan berusaha, mencoba kuat, meski badai mungkin baru saja tiba.
"Jika air mata bisa membuat dirimu lebih kuat, jika air mata membuatmu bisa melewati segala rasa yang menikam bahagiamu, maka, lepaskanlah. Biarkan dia mengalir dari mata indahmu. Dan jika kau butuh bahu untuk bersandar, kemarilah." Pria itu menepuk bahunya sendiri. "Dia sangat kokoh dan kuat!" Ucapan konyol itu, membuat Mella tergelak.
"Maaf! Tapi kita tidak sedekat itu, saya tidak terbiasa untuk bercerita tentang hal pribadi kepada orang lain." Itu sama dengan artinya Mella berusaha menghindar. Sia- sia saja, pria itu sangat pandai menghadang.
"Jangan pernah tunjukkan cinta dengan kata, cukup tindakan yang mengartikan segalanya."
Bukankah kata itu, kata yang sering diucapkan oleh Ryo? Tapi mengapa pria ini bisa mengetahuinya?
Bibir mengembang itu pun rapat kembali.
"Darimana kau mengetahui kalimat itu?" Mengusap air mata yang entah kenapa tidak juga mau berhenti.
Secepat kilat tangan pria itu menunjuk dada Mella,
"Sebetulnya kita sangatlah dekat. Hanya saja, kau tidak mengenaliku."
"Kau! Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" Kepalanya sampai miring, mencoba mengenali pria yang ada di hadapannya kini.
"Jangan bertanya jika hatimu masih terluka. Sebab dia tidak akan mengerti apa maknanya." Dengan lembut, pria itu merengkuh pundak Mella dan membawanya dalam pelukan. Nyaman dan hangat.
"Menurut lah, kau akan merasa lebih baik."
Mella tidak kuasa lagi menahannya, dia menangis terisak cukup lama. Dengan sabar, pria itu tetap menemani.
"Ternyata, wanita adalah sosok yang paling kuat. Jangankan saat dia melawan, saat menangis saja, dia masih bisa melukai para pria."
Mella segera bangkit dan menjauhkan tubuhnya dari pria itu.
"Apa maksudmu?" Ketusnya.
__ADS_1
"Bahuku sampai kram karenamu. Sungguh, wanita memang makhluk terkuat. Lihatlah, dia bisa menyakiti tanpa melukai." Menunjuk bahu yang kram. Menggerakkan bahu memutar, kemudian memijatnya.
Hai, bukankah kata menyakiti tanpa melukai adalah kata lain dari 'jatuh cinta'
"Maaf!"
Mella tersenyum malu.
"Sudah hilang pegalnya" Pria itu tersenyum di balik masker.
"Secepat itu?" Heran Mella.
"Iya! Sakitnya hilang setelah ada sinar terang seindah rembulan. Aku rasa, itulah obatnya."
"Kau ini ... menggombal seperti Ryo saja." Mella terdiam sejenak, iya! Pria di hadapannya seperti Ryo. Dan pria yang selama ini dia ketahui adalah Ryo, sikap dan perilakunya telah berubah. Sangat berbeda dari yang dia kenal dulu.
"Maaf! Saya tidak bermaksud menyamakan Anda dengan orang lain."
"Siapa Ryo? Apakah pacarmu?"
Hening.
Wajah sembab itu semakin mendung.
"Iya! Begitulah sebenarnya, tapi dia berubah sejak kami jadian. Ryo yang aku kenal, sangat berubah. Aku sampai merasa, dia bukanlah Ryo yang dulu. Padahal, aku sudah menaruh harapan yang begitu besar padanya."
Pria itu menjentikkan jari, meminta air mineral kepada waiters.
"Minumlah dulu, kamu harus tenang." Mengusap punggung Mella.
Bolehkah aku berpikir, bahwa dia adalah Ryo? Ataukah setiap pria memang seperti ini. Mereka akan bersikap manis bila menginginkan sesuatu, tapi akan tidak peduli, saat mereka telah mendapatkan apa yang dia mau.
"Terima kasih, kehadiranmu seakan mewakili dirinya." Mella merasa baik sepersekian detik, sebelum akhirnya dia sadar. Jika perbuatannya ini keliru. Jangan memberi celah bagi orang ketiga.
"Maaf! Tidak sepatutnya aku cerita seperti ini kepada Anda."
"No problem, keluarkan saja, apa yang bercokol di hatimu. Aku siap menampungnya. Yakinlah, kau akan lebih baik sesudahnya."
Dari sudut lain, seorang pria yang memakai topi warna putih, tersenyum bahagia melihat interaksi Mella dan orang bertudung hitam. Dia memutuskan untuk pergi, setelah meninggalkan sejumlah uang di atas meja.
Duggghhh
"Auwwhh ... Kalau jalan hati-hati dong, Mas!"
Gadis ini lagi. Huffft
__ADS_1
To be Continued