
Tubuh seorang pria tergeletak tak berdaya di atas sebuah ranjang rumah sakit, kedua tangan dan kakinya diikat. Beberapa jam yang lalu, pria ini di bius dan di culik oleh beberapa orang melalui sebuah lorong rahasia di rumah sakit. Pria paruh baya itu dalam kondisi tubuh yang baik-baik saja. Tapi entah dengan yang lain.
Aku dimana? Batin pria yang memiliki nama Ranggalan. Kadang ada yang menyebutnya Angga, kadang juga ada yang menyebutnya Alan. Dia adalah ayah angkat dari Mella.
"Hai, kenapa aku diikat? Lepaskan aku! Siapapun kamu, lepaskan aku!" Teriaknya, sambil memberontak. Dia diletakkan di ruangan khusus, dimana hanya ada dirinya berada. Ruangan ini juga seperti sel tahanan yang hanya bisa di buka dari luar.
Beberapa pasien lain juga mengalami nasib yang sama. Semua pasien ini, mereka dapatkan dari jalanan, atau juga dari rumah sakit lain yang sudah tidak lagi di urus oleh keluarganya.
Dua orang berbeda genre, diantarkan oleh seorang dokter untuk menengok kondisi pasien tersebut.
"Bagaimana kondisinya!"
"Dia sudah mulai tenang, setelah kami memberikan obat penenang. Sebelumnya, pasien terus saja berteriak dan meronta."
Satu wanita yang tidak pernah membuka kacamata hitamnya dimanapun dia berada, menyilangkan kedua tangan di dada, sedangkan si pria memilih menyembunyikan tangannya di balik saku celana. Keduanya menatap sinis pada pria yang terkulai tidak berdaya di atas ranjang. Tanpa dokter itu ketahui, bahwa dua orang beda genre itu memiliki maksud tersembunyi.
"Apakah dia bisa sembuh?"
"Jika rutin meminum obat dan menjalani perawatan, pasti akan sembuh."
"Minumkan saja obat ini." Hasma menyerahkan sebuah botol berisi pil penuh.
"Tapi...! Kami hanya memberikan obat yang telah disediakan oleh rumah sakit saja. Selain itu ..." Dokter itu terdiam saat melihat satu gepok uang, menggantung di udara, tepat di depan mata.
"Ini baru awal saja. Jika reaksinya benar-benar terlihat, maka dua kali lipat dari ini, akan menjadi milikmu."
Untuk beberapa saat, dokter itu masih enggan menerima, dia begitu hormat dengan seragam yang di kenakan. Sumpah yang pernah dia ucapkan, haruskah dia tukar dengan uang?
Gamang? Tentu saja! Siapa yang tidak akan tergiur oleh jumlah uang tidak sedikit, terlebih saat mendapatkannya tidak perlu repot-repot memeras keringat. Kebutuhan rumah tangga, cintanya kepada sang istri yang selalu menuntut dan kebutuhan lain, tidak lagi sanggup menguatkan iman seorang dokter muda itu.
Dengan angkuhnya wanita itu membeli kejujuran seorang tenaga medis. "Aku tahu, ibumu dalam keadaan tidak berdaya di rumah sakit, putrimu membutuhkan susu dan membayar sewa baby sitter, sedangkan istrimu, dia selalu menuntut uang lebih, bukan? Belum lagi, uang tagihan rumah dan mobil yang harus kau lunasi tiap bulannya."
Tanpa menunggu lagi, dokter itu mengambil uang dari tangan Hasma. "Berikan obatnya!" Senyum mengembang dari bibir Hasma dan pemuda yang mengikutinya sejak tadi.
"Bagus!"
"Kalau boleh tahu, mengapa kau lakukan hal itu kepadanya? Bukankah katamu, dia adalah suamimu?" Dokter itu penasaran.
"Cukup diam dan terima saja uangnya. Atau kau ingin nyawamu juga yang berperan dalam permainan ini? Kau juga bisa menggantikan posisinya jika mau." Dokter itu pun bergidik ngeri. Sedangkan wanita di hadapannya, tersenyum devil.
"Lakukan tugasmu dengan baik." Hasma memperbaiki kerah jas putih milik sang dokter, kemudian mengelus pipi dokter itu perlahan dan turun hingga ke dada bidang, Hasma menarik lembut jas milik dokter, mengancingkan dengan lihai, kemudian tangan lentik itu terangkat lagi bergerak ke kanan-kiri seakan mengusap debu yang menempel pada dada bidang sang dokter.
__ADS_1
"Jika ada kesalahan sedikit saja," Hasma mencondongkan tubuhnya, aroma harum tubuh Hasma, membuat dokter itu tegang seketika. "Anakmu yang akan menggantikan dirinya." Tubuh dokter bukan hanya tegang, tapi juga gemetaran. Hasma melepas pegangannya, kemudian membalikkan badan. "Kita pergi Ryo."
"Lakukan tugasmu dengan baik, Tuan Dokter." Ryo menyenggol bahu dokter. Tanpa permisi dokter itu ditinggalkan begitu saja.
Selepas kepergian kedua orang itu, sang dokter nampak bingung. Tapi detik berikutnya, dokter mendapat sebuah notifikasi, tagihan rumah dan mobil, telah jatuh tempo. Sedangkan uang tabungannya habis untuk berobat sang ibu.
Apalagi yang harus dokter lakukan sekarang?
Setan mulai melafalkan mantra jahat.
~
~
Di rumah utama keluarga Abhimanyu.
"Bang Andhra, kau kemari!" Cyra menubruk tubuh tegap Andhra, hingga sedikit terdorong ke belakang. "Abang menginap kan?" Berondong Cyra, antusias. Cyra baru saja membuat sebuah konten. Dia yang biasanya cupu, kini terlihat cantik. Inilah penampilan dia sebenarnya, itu jika di rumah, atau tempat tertentu saja. Jika di sekolah, dia tetap menjadi gadis culun, entah sampai kapan.
"Sesekali Cyra, aku ingin bersama kalian. Oh ya! Dimana yang lain?"
"Ada di ruang keluarga." Cyra memasang earphone. "Hah! Ada kak Rossi juga?" Cyra melepas pelukannya, menghampiri gadis yang tengah melambaikan tangan padanya.
"Apa kabar Cyra?"
"Kakak kurang enak badan!" Rossi menggaruk kepala yang tidak gatal. Padahal tadi siang dia pingsan akibat ulah Andhra, iyalah alergi kucing.
Dan saat ini, Rossi sampai di sini juga karena Andhra.
"Ayuk! Aku antar kau pulang!" Sebuah tangan terulur tepat di depan wajah Rossi
"Hiks hiks hiks huaa..."
"Kenapa malah menangis, sudah diam yuk! Aku akan antar kau pulang." Dengan segala bujuk rayu, Rossi mau diantar oleh Andhra.
"Kita mampir sebentar menemui Cyra ya?" Kata Andhra saat sampai di perjalanan. "Bukankah kau janjian dengan Cyra kemarin. Kau akan menemuinya tadi siang. Tapi kamu malah tak sadarkan diri."
"Darimana kau tahu?"
"Tanpa sengaja aku melihat pesan di ponselmu."
"Kau Ini lancang sekali. Itu privasi tahu."
__ADS_1
Andhra hanya menggidikkan bahu acuh.
Dasar batu, tetap saja nyebelin.
Flashback off.
"Lalu, ngapain kamu di sini? Sendiri?" kepo Andhra, mengalihkan perhatian.
"Lagi iseng aja, bikin konten, Bang! Coba-coba aja gitu, Cyra pengen pengalaman baru" Menunjuk layar ponsel yang masih menyala.
"Tumben cantik banget, apa ada yang kakak lewatkan selama ini?" Curiga jika mungkin saja adiknya tengah mengalami masa pubertas. Sehingga berani bersolek di depan kamera.
"Nggak ada! Cyra hanya ingin suasana baru. Dan itu hanya di dunia sosmed. Bukan saat sekolah nanti, oke!" Ungkap Cyra tersenyum manis. "Cyra pikir, tidak ada salahnya mencoba kan? Mungkin saja Cyra akan mendapatkan cuan dari konten yang Cyra buat. Lumayan, bisa buat tambah uang jajan."
Antusias sekali, Andhra jadi terharu mendengarnya.
"Oke! Lakukan apa saja yang kau inginkan, tapi... ingat! Jangan sampai melampaui batas. Gunakan dengan bijak sosmed mu itu. Dan jangan lupa tetap belajar" Andhra memberi peringatan mutlak.
"Siap komandan!" Cyra seperti anggota upacara saja. Hormat pada bendera.
"Anak pintar!" Andhra mengusap lembut kepala adiknya, kemudian melabuhkan satu ciuman di kening.
"Eh, kakak mau kemana?" Sergah Cyra menarik tangan Rossi.
"Dia kan tamu di sini, ya ikut Abang lah." Ucap Andhra sambil meraih lembut jemari Rossi. Jemari mungil itu, tenggelam di balik telapak besar Andhra.
"Mau ajak kak Rossi temui papa sama mama?" Andhra mengangguk antusias.
"Tunggu!"
"Ada apa Cyra?"
Cyra memutar kepala ke kanan dan ke kiri, setelah di rasa aman dia membisikkan sesuatu di telinga Andhra.
Rossi sebenarnya penasaran, apa yang tengah mereka berdua rembuk. Tapi tidak etis jika dia menunjukkan hal itu secara langsung.
"Oke! Siap laksanakan tuan putri." Andhra mengacungkan jempolnya. Andhra melihat ke arah Rossi, kemudian menarik dengan lembut tangan itu."
"Ayo!"
"Tapikan, katanya tadi janjinya mau ketemu Cyra, kenapa malah menemui orang tuamu? Apa maksudnya ini?"
__ADS_1
To be Continued
Haissyy... Kang Andhra ini selalu saja membuat Rossi kesal.