
"Apakah Rossi itu cantik?" Jika seorang pria memuji lawan jenis, sudah pasti ada ketertarikan bukan.
"Cantik"
"Nah! Kakak telah memuji temanku, itu berarti dia ...!"
"Perempuan!"
"Bukan itu maksudku Kak Andhra! Duh repot deh bicara sama jomblo akut." Omel Dara berlalu pergi. Andhra hanya menggidikkan bahu, acuh.
"Kau ini! Pandai sekali membuat para wanita kesal padamu." Pengganggu satunya pergi, datanglah yang lainnya. Entah darimana datangnya, Farid tiba-tiba muncul.
"Kayak Jelangkung saja!"
Andhra hendak membuka laptopnya kembali, namun urung sebab Farid menahannya.
"Hehe! Aku mau bicara serius sama Kakak." Farid menggeser benda pipih yang sebenarnya tidak menghalangi tujuannya untuk bicara dengan Andhra.
"Katakan!" Andhra bersandar malas, dia sudah bisa menebak, pasti lagi-lagi karena gadis yang bernama Rossi itu.
"Terima saja maksud baik Dara." Farid mencondongkan tubuhnya setengah berbisik.
"Berani sekali kau mengaturku." Farid panik sendiri karena ucapannya.
"Syuuuut, jangan keras-keras. Aku hanya ingin kantongku aman sentosa." Andhra masih diam, itu artinya menunggu lanjutan dari ucapan Farid.
"Dara telah menghabiskan banyak uang untuk gadis itu." Farid nampak cemberut. Tadi pagi menjelang siang, sebuah notif masuk ke dalam ponselnya, sejumlah uang telah terkirim ke salah satu rekening asing. Dan setelah dia menyelidiki siapa pemiliknya, ternyata dia adalah Rossi.
"Lalu!"
"Ya! Agar tidak rugi terlalu banyak, aku ingin kau menerima gadis itu saja. Itung-itung nolong saudaramu inilah. Tujuh juta bukanlah jumlah yang sedikit tahu. Gajiku sebagai kepala desa saja tidak sampai segitu."
Belum tahu dia. Jika istrinya malah menjanjikan lebih banyak uang untuk Rossi hihi.
"Bilang saja apa maumu?" Tantang Andhra. Pernah bersama setiap hari selama lima tahun, dan setelah itu mereka selalu berkabar lewat dunia maya. Tentu saja Andhra sangat paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh Farid. Meski sejak mereka SMP hanya hari libur akhir tahun saja mereka berjumpa.
"Kakak memang pengertian." Farid sok malu-malu.
"Katakan nominalnya!"
"Samakan saja dengan yang dikasih Dara untuk Rossi." Kan pada akhirnya kepala desa matre ini jujur.
"Kemarikan ponselku." Dengan sigap Farid mengambil benda pipih yang lebih kecil dari yang lainnya.
__ADS_1
"Beres!"
"Terima kasih, Kak! Kau yang terbaik." Farid girang bukan kepalang. Uangnya kembali.
"Matre!"
"Hanya sama kakak saja!"
"Tunggu! Apa ini artinya ...!" Ucapan Farid menggantung, sebab yang diajak bicara buru-buru berdiri. "Hai, aku belum selesai bicara." Tangannya menggantung di udara, tepat di belakang tubuh Andhra.
"Apa perlu, aku tarik kembali semua investasi ku?" Gertak Andhra malas berbalik.
"Tidak-tidak!"
"Bagus! Tidurlah! Besok kau harus bekerja lebih keras lagi daripada hari ini!" Titah Andhra tanpa menoleh.
"Kakak!"
"Ya!" Tetap tidak menoleh.
"Jangan lupa minum obatmu!" ucap Farid.
"Bukankah aku seperti pria yang penyakitan Rid?"
"Aku tahu, tujuanmu baik."
"Jika saja ..." Andhra tak kuasa meneruskan ucapannya, segera dia berjalan ringan menuju kamarnya.
"Aku tahu Kak! Jika saja Kakek masih hidup, tentu kau tidak akan mengalami ini semua."
Sampai kapan aku akan terus meminum barang ini. Andhra membanting benda putih yang diambilnya dari sebuah botol kecil di atas nakas. Hal itu bersamaan dengan masuknya sepasang kaki seorang wanita paruh baya.
"Maaf, Nak! Ibu masuk tanpa mengetuk pintu, sebab aku lihat pintunya sedikit terbuka." Setelah mengambil benda putih yang dibuang oleh Andhra.
"Tidak apa, Ibu! Masuklah."
Senyum mengembang di wajah senja yang mulai keriput, perlahan wanita itu mendekat.
"Apa kau lelah, Nak?" Andhra hanya menggeleng lemah. "Urip iku Ojo sepaneng, alon-alon waton kelakon." Memijat lembut bahu Andhra, meski lembut namun mengenai titik-titik tertentu sehingga Andhra merasakan efek nyaman. Kepala yang awalnya terasa berat, kini mulai berkurang.
"Ibu Ndak mau, kamu sampai kenapa-napa. Sudah terlalu lama kamu jauh dari kami. Kau menghidupi kami hingga hidup layak seperti sekarang." Netra tua itu mulai berkaca-kaca." Mengingat setiap perjuangan Andhra. Ingat Andhra kecil yang pergi merantau ke kota sendirian, dan di saat sudah sukses Andhra membuat semua orang yang disayangi ikut merasakan hasil keringatnya.
"Coba digerakkan! Bagian mana lagi yang masih kurang enak?" Berharap pijatan ini mengendurkan saraf yang tegang.
__ADS_1
"Bagian sini, Ibu! Andhra sering mengalami kebas jika terlalu lama mengetik." Menunjukkan lengan bagian atas.
"Ini sangat keras!" Halimah malah memukul lengan Andhra.
"Ya sudah, jika begitu, ibu duduk saja dan temani Andhra mengobrol." Andhra menarik lembut tangan Hakimah, mengusap lalu menepuknya pelan.
Dia selalu seperti ini. Sangat pandai menolak tanpa membuat orang lain tersinggung. Pasti dia tidak enak hati sebab menyusahkan orang tua renta ini.
"Maafkan Andhra yang jarang pulang, Ibu! Andhra sulit sekali membagi waktu."
"Tidak apa, Nak! Kau memberi kabar setiap harinya saja, membuat rasa rindu ibu ini terobati." Menggenggam erat, gantian Halimah yang menepuk lembut tangan Andhra. "Kakekmu pasti sangat bangga padamu! Hiduplah dengan baik, Nak! Sudah saatnya kamu menata masa depan."
Andhra sungguh muak dengan pembahasan ini. Selalu dan selalu saja pasangan hidup. Bisakah mereka membahas yang lain saja. Ingin hati dia berteriak dan mengatakan hidupnya baik-baik saja tanpa pasangan hidup, mengeraskan hati dan bicara kasar. Namun sayangnya, yang tengah menasehatinya sekarang adalah orang tua, dia harus tetap menahan diri.
"Biar bagaimanapun kamu harus memikirkan masa depanmu juga. Setiap manusia membutuhkan pasangan hidup, untuk membagi suka dan duka."
"Kalian juga bisa menjadi tempatku berbagi suka dan duka, bukan?" Jawab Andhra sekenanya.
"Tapi antara pasangan dan keluarga itu berbeda, Nak! Ada masanya suatu keadaan dimana kamu hanya bisa bercerita kepada istrimu saja. Dia yang akan mengerti tentang keadaanmu. Menemani dirimu ketika bahagia, juga menghiburmu di saat susah. Itu bisa kau dapatkan hanya dari pasangan hidupmu."
~
~
Matahari belum menampakkan sinarnya. Langit membentuk awan jingga, menampar embun sehingga Kilauan cahayanya menyala sempurna. Basah dan segar. Andhra mengendarai sepeda dengan perlahan namun pasti. Menyusuri jalanan pinggir desa hingga naik perbukitan, Andhra masih terus mengkayuh sepeda beberapa kilometer lagi. Melewati jalan yang melengkung turun, lalu menanjak lumayan panjang. Kali ini Andhra menuntun sepedanya.
Tepat ketika mencapai jembatan di tepi kebun karet. Sedangkan hutan di sebelahnya, telah dibuka untuk kemaslahatan masyarakat, menjadi sumber daya pangan, meski beberapa pohon akasia dan mahoni mulai tumbuh setinggi orang dewasa. Di tempat inilah Andhra pernah putus asa. Dirinya hanyut bersama banjir. Potongan kegelapan itupun kembali muncul. Andhra memejamkan mata.
'Berusahalah untuk selalu tenang, Nak! Ikuti aliran air yang tenang hingga riaknya tak terdengar. Kemana arus membawamu, itulah takdirmu hingga kau membaur dengan lautan. Membaur bukan berarti melebur. Sekuat apapun godaan dari luar, seseorang yang hatinya hidup tidak akan terpengaruh oleh keburukan dan kesesatan. Seperti ikan di laut, meski airnya terasa asin, tapi ikannya tidak demikian.'
Mata Andhra seketika terbuka. Dari sini dia melihat ke kejauhan, villa miliknya terlihat lebih kecil dari ukurannya. Beberapa rumah warga juga terlihat seperti miniatur.
Tak berapa lama, ponsel Andhra berbunyi. Tangannya terkepal kuat, sebuah video telah menguji kesabaran nya. Andhra segera mengirim pesan kepada seseorang.
Masih berani dia bermain-main. Batin Andhra. Ponsel itupun telah kembali lagi ke saku.
"Nak Andhra! Untuk apa dia disini?"
Hampir saja dia memanggil dengan suara lantang, keburu Andhra pergi dengan sepedanya.
TBC
Siapakah itu?
__ADS_1