
"Kau tidak jelek, kok! hanya sedikit kurang menarik," jujur Rossi mengatakannya sambil menelisik penampilan Cyra dari atas sampai ke bawah. Wajah imut itu sebenarnya sungguh menawan, dengan pipi mulus tanpa polesan. Hanya saja, gaya pakaiannya yang terlalu kegedean serta perpaduan warna yang terlalu mencolok membuat gadis imut itu terlihat culun. Dan kacamata besar yang berwarna kuning itu, nggak banget kan.
"Aku memang tidak menarik," lirih Cyra sambil memainkan kotak hadiah di tangannya.
"Maaf! tapi kau bisa mengubah penampilanmu jika kau mau," ucap Rossi sambil memainkan ujung rambutnya sendiri. "Kita bicara sambil duduk saja, yuk. Biar enak ngobrolnya," kata Rossi sambil menuntun Cyra untuk duduk di bangku.
"Apakah itu bisa, aku selalu di ejek oleh teman-temanku selama ini. Mereka hanya mendekatiku hanya, karna ingin dekat dengan kakak kembaranku saja," curhat Cyra. "Sebab itulah, aku malas terlalu dekat dengan Candra saat di sekolah. Aku memilih pergi dan pulang sendiri."
Dia menceritakan bagaimana kehidupannya di sekolah yang di penuhi dengan ejekan dan bullyan dari teman-temannya. Apalagi otaknya yang memang kurang pintar, membuat Cyra semakin di buly dan di hina. Cyra mencoba bersabar dengan tetap menjalani hari-hari di sekolahnya seperti biasa. Tapi bullyan itu semakin menjadi, bahkan Cyra kadang mengalami kekerasan fisik dan mental.
"Aku merasa selalu sendiri di sekolah, tapi aku juga tidak mau membuat papa dan mama khawatir dan bersedih," kata Cyra sambil terisak-isak. Dia merasa berkecil hati menghadapi semuanya.
"Papa dan mama?" Rossi mengernyit mendengar pernyataan Cyra.
"Kau memiliki orang tua lengkap, tapi kenapa mereka tidak memperhatikan penampilan dirimu," menunjuk penampilan Cyra. "Apakah orang tuamu dari golongan yang kurang mampu," selidik Rossi lebih lanjut.
Cyra menggelengkan kepalanya "Tidak! jujur saja mama dan papaku orang berada, hanya saja mereka sering sibuk dengan pekerjaan mereka dari pada aku. Tapi sebenarnya, mereka sangat menyayangi ku."
*Aku pikir setiap anak orang kaya akan terlihat cantik dan menawan dengan pakaian yang wah dan elegan. Lha ini kok, sudah culun, cara berpakaiannya terkesan aneh dan norak.* batin Rossi.
"Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, andai aku punya kakak perempuan seperti kakak," lanjut Cyra lirih, tapi biar begitu mampu mengembalikan Rossi dari alam lamunan.
"Apa kamu bilang, tadi?" Rossi memastikan apa di dengarnya barusan. Cyra dengan patuh mengulang kembali kata-kata yang diucapkan-nya sama persis.
"Apa, kau, mau jadi adikku?" tanya Rossi sambil menggantungkan kelingkingnya ke udara di sambut antusias oleh Rossi.
"Mau banget, kak! aku mau, tapi kakak janji kan mau membantuku untuk mengubah penampilanku, ya?" menerima kelingking tanda hubungan di antara mereka kini sudah meningkat. Tapi pertanyaan Cyra membuat Rossi tertegun sejenak dan akhirnya memutuskan untuk mengangguk.
"Bukan itu saja, aku ingin kuat agar tidak lagi ditindas oleh anak-anak tadi."
"Tapi!"
"Tapi apa, Kak?" Cyra bertanya dengan perasaan was-was. Takut jika keinginannya untuk membuat penampilannya berubah hanyalah keinginan semu dia sudah lelah dengan keadaannya selama ini.
__ADS_1
"Dengarkan kakak,Ya!" Rossi mengambil nafas dengan serakah, lalu menghemmbuskannya pelan. Rossi mengambil kedua Cyra, lalu menggenggamnya erat.
"Perubahan yang benar adalah saat kau berubah dari yang buruk menjadi lebih baik, tapi bukan pada penampilan saja. Namun terlebih pada ini," Rossi menunjuk dadanya yang di maksud adalah hati.
"Manusia akan lebih di hormati jika berbudi pekerti luhur dan memiliki hati yang bersih. Aku tahu kamu selama ini merasa tertekan dan kesepian, tapi hatimu sangat baik dengan tidak membalas ejekan dan bullyan mereka. Aku berharap, walau nantinya kamu saat merubah penampilan mendapat banyak teman, di sukai lawan jenis tetaplah jaga hatimu agar selalu baik, ya! jangan sampai kau melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirimu dan orang lain, dan satu lagi, jangan takut untuk mempertahankan hak kamu. Kamu harus berani melawan kejahatan. Baik kejahatan itu di tujukan kepadamu atau kepada orang lain." Rossi tersenyum di akhir kalimatnya.
Cyra mencerna setiap ucapan yang di lontarkan oleh Rossi, namun dia malah merasa semakin kecil saja, bisakah dia melakukan itu semua. Sedangkan dia tidak memiliki kekuatan apapun.
"Bagaimana caranya?" tanya Cyra pelan.
"Keberanian, percaya diri dan keyakinan," Rossi melebarkan senyumnya. Lalu dia menerangkan semuanya kepada Cyra.
"Janji ya! Kakak akan selalu mengajariku semuanya!"
"Pasti! Dengan senang hati, Nona!" Mengerling menggoda. Cyra bahagia sekali.
"Satu lagi Kak, dua hari lagi adalah hari bersejarah bagiku. Ada perayaan pesta ulangtahun untukku dan Kak Candra, datang ya! Aku mohon." Rossi berlagak menolak.
"Mau ya!"
"Pasti acaranya sangat meriah, jika kamu dari kalangan atas, aku akan merasa minder di sana." Ucap Rossi jujur. Cyra diam, guna memikirkan sesuatu. Otak kecilnya lumayan bisa diajak bekerja bila saat genting begini.
"Baiklah, aku ada ide!"
✓✓✓
Di dalam sebuah bar mini pribadi seorang pria meneguk minumannya perlahan "bagaimana dengan Mella, apakah dia setuju untuk menikah denganku," ucapnya kepada wanita paruh baya yang berada di dekatnya.
"Tentu saja, dia akan selalu menuruti apa yang aku perintahkan," jawabnya percaya diri. Mendapat gelak tawa dari pria di hadapannya.
*Rubah tua yang licin* batin Ryo.
"Kapan pernikahan ini akan berlangsung?" Ryo menuang minuman kedalam gelas lalu menyerahkannya kepada Hasma.
__ADS_1
*Aku tidak peduli pernikahan ini terjadi atau tidak. Yang pasti adalah, Aku akan mengambil setiap kekayaan yang kau miliki,* senyum devil tercetak jelas di bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Ryo.
"Apa, kau begitu tidak sabar ingin menikmati Mella?" sebuah kalimat yang tidak semestinya terucap dari bibir seorang calon ibu mertua.
"Kau, pikir, apa? apakah aku seburuk itu?." Ryo menyadari jika wanita di hadapannya ini sudah tahu banyak hal tentang dirinya. Seorang badboy yang di besarkan dengan bergelimang harta. Tentu hanya kenikmatan dunia yang selalu diincarnya.
"Bukankah kau sudah menikmatinya? jangan kau pikir aku tidak tahu," Hasma menatap sinis orang di hadapannya.
"Apa, kau, keberatan?" Ryo menaikkan satu alisnya.
Hasma berdiri, lalu berjalan mendekati Ryo dia mengelus rahang pria tampan yang sangat menggelitik hatinya, "bagaimana jika pembukaannya di wakilkan oleh mamanya."
"Hentikan tanganmu, atau kau ingin aku mematahkannya sekarang juga," mencekal tangan Hasma dan menekannya kuat-kuat, sampai Hasma berteriak karena kesakitan. Tulangnya terasa remuk.
"Aku tidak berselera menyantap daging alot sepertimu," mengibaskan tangan Hasma dengan kencang, sehingga Hasma mundur beberapa langkah ke belakang.
Bersamaan dengan itu, datanglah seorang bodyguard membisikkan sesuatu kepada Ryo.
"Jangan macam-macam atau kau akan tahu bagaimana aku menyantap dalam arti yang sesungguhnya," Ryo merapikan jas yang di kenakannya, lalu meninggalkan Hasma. "Pastikan wanita ini tidak keluar dari tempat ini," ucapnya saat melewati bodyguard yang berada di depan pintu.
"Selamat datang raja Elang, tumben sekali anda bersedia hadir di sarang semut sepertiku," ucap Ryo sambil membungkukkan badannya, Andhra juga membungkuk.
"Silahkan duduk Raja Elang," Ryo terlebih dahulu menghempaskan tubuhnya ke sofa di ikuti oleh Andhra. Kini mereka duduk berhadapan seperti dua raja yang akan menjalin sebuah kesepakatan.
"Kau masih saja menyebut namaku dengan Raja Elang," Andhra terkekeh.
Mereka adalah sahabat masa kecil yang di pertemukan dalam sebuah tragedi kebakaran villa milik keluarga Ryo. Andhra yang saat itu menginap di sana, karna kemalaman berhasil menyelamatkan nyawa Ryo dari kobaran api. Sejak itulah mereka berteman. Entah mengapa Ryo selalu menyebut Andhra dengan sebutan Raja Elang.
Bersambung....
Untuk mengetahui alasan Ryo memanggilnya demikian, ikutilah episode berikutnya. Terimakasih.
Mohon dukungannya dalam bentuk vote, bintang dan share ya teman teman. Syukur syukur ada yang kasih hadiah hehe.
__ADS_1