
"Bawa ke gubukku. Bukankah dia telah merusak ladangku? Dia harus bertanggung jawab untuk semuanya.
"Tapi, Pak! Lihatlah kea ...!"
"Diam, atau aku akan lapor polisi."
Akhirnya, Ozan menurut saja pada perintah pak tua itu. Memapah tubuh Andhra dengan sangat susah payah. Beruntung pak tua mau membantunya.
"Bapak tinggal sendirian di tempat ini?" tanya Ozan sambil membaringkan tubuh Andhra dengan hati-hati.
"Begitulah, siapa yang mau menemani pria tua renta macam bapak ini. Namamu siapa, Nak?"
"Saya Ozan, Pak! Dan dia adalah Andhra," jawab Ozan. "Nama bapak siapa?"
"Panggil saja, Soleh!"
Dia orang yang ramah dan baik hati. Batin Ozan.
"Biarkan saya saja yang melakukannya, Pak!" Ozan menghentikan tangan pak Soleh ketika terulur bermaksud membuka sepatu Andhra.
"Akan saya ambilkan minyak kayu putih." Pak Soleh berduri, kemudian mengambil sesuatu pada papan penyangga yang menempel sempurna di dinding bambu.
Rumah kecil berdindingkan bambu yang dienam serapi sulaman, lantai rumah juga terlihat bersih meski hanya beralaskan batu bata yang di jajar sedemikan rupa. Ozan duduk dengan gelisah di bagian sisi ranjang, ponsel di tangannya sama sekali tidak berguna, sebab kehabisan daya. Sedangkan ponsel milik Andhra entah kemana hilangnya.
Dia sesekali memandang nanar ke seberang meja,di sebuah kursi panjang terbuat dari rotan. Kursi klasik yang nyatanya lebih terkesan elegan di banding sofa mewah di rumah Ozan ataupun Andhra. Tidak ada pembatas apapun di rumah ini, kamarpun tidak ada, hanya ada sekat yang terbuat dari dinding bambu memisahkan antara dapur dan ruang lain.
Satu-satunya ranjang kayu dengan alas kasur lantai, bisa langsung ditelanjangi oleh mata sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah yang memang pantas disebut gubuk.
"Sepertinya temanmu sedang banyak pikiran. Banyak otot-otot yang tegang." Ucap Pak Tua sambil memijat bagian tertentu dari tubuh Andhra. "Dia pasti sangat kelelahan, aku telah mencoba membantu dengan terapi pijat saraf, semoga itu membantu peredaran darahnya agar lancar kembali. Sehingga, ketika dia bangun nanti, tubuhnya sudah fit."
"Terima kasih, Pak! Kami telah merepotkan Anda. Ozan dengan setia menemani Andhra, sambil mengoleskan minyak kayu putih.
"Apakah jalanan di sini selalu sepi, Pak! Setidaknya ada tumpangan buat kami pulang." Ozan menatap nyalang keluar rumah, hanya sorot temaram lampu di pinggir jalan. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat, sekalipun ada, hanya truk-truk besar pemuat barang. Rumah ini juga agak jauh dari tetangga.
"Beginilah keadaan di sini, hening dan jauh dari keramaian. Sebab itulah bapak merasa nyaman untuk tinggal." Soleh tersenyum tulus. Satu hal yang Ozan tahu, bapak ini memiliki kepribadian yang sangat baik. Taat beribadah, pemaaf dan suka menolong.
Tubuh lemah Andhra kini mulai bereaksi, Pak Soleh menyiratkan air ke wajah Andhra, setelah melakukan pemijatan.
"Andhra, kau sudah sadar?" Ozan segera mendekat.
Andhra bangkit dari tempat tidur, mengerjapkan mata berulang kali, lalu menatap segala sisi dari ruangan itu, seperti orang linglung, Andhra menatap sekeliling.
"Ozan, kita dimana?"
__ADS_1
"Syukurlah, kau masih mengenaliku." Ozan segera membantu Andhra duduk.
"Minumlah ini dulu, Nak! Biarkan tubuhmu kembali segar. Dan sebaiknya kau istirahat dahulu, agar kondisi mu segera pulih." Andhra menerima gelas belimbing yang disodorkan oleh Pak Soleh. Satu gelas telah tandas oleh Andhra. Ozan menerima gelas kosong dan meletakkannya di meja.
Andhra menggerakkan anggota tubuh, satu hal yang tidak biasa. Tubuhnya terasa ringan, bukankah biasanya akan pegal-pegal jika habis pingsan, kenapa sekarang tidak? Andhra segera berdiri, kembali menggerakkan anggota tubuhnya.
"Kenapa Ndhra? Harusnya kau rebahan lagi, kenapa malah berdiri?" Heran Ozan.
"Aku merasakan ada hal berbeda dari tubuhku, rasanya sangat ringan, bahkan kepalaku tidak pusing seperti biasanya." Andhra masih menggerakkan anggota tubuhnya bergantian.
"Benarkah itu? Wahhh, ternyata Pak Soleh sangat hebat. Beliau ini yang memijatmu tadi, berarti pijatannya sangat ampuh." Antusias Ozan mengacungkan dua jempol ke arah Pak Soleh.
"Jangan berlebihan, mungkin itu yang namanya 'kebarengan," Pak Soleh melemparkan senyum, kemudian menuju dapur.
"Kebarengan?" Beo Ozan.
"Itu sebuah istilah, jika seseorang tengah menjalani pengobatan dan dengan izin Allah SWT mendapatkan kesembuhan, maka disebut dengan 'kebarengan'" jelas Andhra.
"Itu benar!Sekarang, makanlah ini dulu," Pak Soleh telah kembali dengan satu piring singkong rebus.
"Kami merepotkan Bapak." Andhra merasa tidak enak hati.
Kalau sama aku saja dia irit bicara, tapi bila, bertemu orang tua, selalu ramah tanpa terkecuali. Batin Ozan.
"Tapi ... Saya adalah tamu yang membawa kesialan. Banyak tanaman yang rusak karena saya."Andhra menundukkan kepala, rasanya begitu berat memikul beban berat rasa bersalah.
"Kau mengingatnya Ndhra? Lalu, apakah kau ingat kenapa bisa sampai penyakitmu mendadak kambuh?"
"Penyakit?" Pak Soleh menatap Andhra dan Ozan bergantian.
"Iya, Teman saya ini mengidap sakit yang aneh, dia akan mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan."
"Ozan!"
Andhra menatap tidak suka ke arah Ozan. Bukankah biasanya Ozan selalu menjaga aibnya? Kenapa sekarang malah cerita kepada orang asing.
"Itu hal yang lumrah dan wajar terjadi pada setiap orang." Pak Soleh Kembali menepuk bahu Andhra. "Makanlah singkongnya, aku akan kembali dengan secangkir kopi. Rilekskan pikiranmu, buatlah dirimu senyaman mungkin disini." Pak Soleh menepuk kembali bahu Andhra, kemudian berdiri menuju dapur.
"Maafkan aku Ndhra, karena melihat kondisimu membaik dari sebelumnya, aku berpikir jika mungkin saja kau melakukan terapi pijat ini, kau akan sembuh total," ucap Ozan setengah berbisik
"Bagaimana bisa kau berpikir demikian?" Andhra ikut berbisik pula.
"Saat kau pingsan tadi, dia terus melakukan terapi pijat padamu, dan lihatlah hasilnya. Kau bahkan langsung terlihat segar. Biasanya kau akan mengalami amnesia sementara bahkan kadang kau sampai lupa siapa diriku. Dan parahnya lagi, kau tidak berdaya hanya untuk bisa bangun jika tidak meminum obat. Tapi hari ini, kau bisa bangun dan ingat segalanya dengan mudah."
__ADS_1
Andhra terdiam sejenak, membenarkan perkataan Ozan.
"Ini kopinya, silahkan di minum." Tuga kopi hitam telah terhidang di meja. Pak Soleh juga telah duduk kembali, menjamu tamu dengan riang hati.
"Pak Soleh, kami sungguh merepotkan dirimu. Dan kami juga ingin lebih merepotkan lagi." Ozan menatap ke arah Andhra sekilas. "Begini, saya telah melihat kemampuan Pak Soleh dalam hal memijat. Jika boleh, saya berharap Pak Soleh bersedia menolong Andhra. Memberikan terapi pijat agar teman saya bisa sembuh."
"Anak muda. Sebenarnya terapi pijat bukanlah obat untuk trauma psikologis."
"Saya tahu, tapi hampir semua dokter ahli psikologi kami datangi, hasilnya tetap saja. Nihil." Andhra menghembuskan nafas berat. Ozan sepertinya begitu gigih berjuang agar Andhra mendapatkan terapi pijat dari Pak Soleh.
"Tapi ...!"
"Saya pernah membaca, bahwa manfaat pijat juga bisa untuk meredakan kecemasan.Selain menurunkan tekanan darah, terapi pijat juga sangat bermanfaat untuk mengurangi gejala cemas berlebihan. Khususnya pada orang dengan gangguan kecemasan seperti teman saya ini.
Orang dengan GAD biasanya gampang kecapekan, kelelahan, bahkan sering sakit perut akibat pikirannya sendiri. Namun setelah dipijat, pikirannya ternyata berubah jadi jauh lebih tenang. Bahkan, para ahli mengungkapkan bahwa manfaat pijat ini sama besarnya dengan psikoterapi."
"Kau sangat menyayangi temanmu ini rupanya!" Pak Soleh menatap Andhra yang sejak tadi diam tanpa suara.
"Jadi, Pak Soleh setuju?"
"InsyaAllah!"
"Apa kau memiliki kenangan yang buruk di masa lalu?" Tangan Andhra mengepal kuat, rahangnya mengeras hingga menimbulkan semburat merah di wajahnya.
"Iklaskanlah, Nak! Jangan sampai kau memupuk dendam di hatimu."
Andhra menoleh seketika, tatapan matanya seolah menanyakan bagaimana bisa Pak Soleh mengetahui hal itu.
"Aku telah lama makan asam manis kehidupan. Wajah keriputku ini bukan hanya mengkerut tanpa perjalanan yang panjang."
Perlahan tangan Andhra kembali mekar, hal itu tidak luput dari perhatian Pak Soleh.
"Iklaskanlah, Nak! Lepaskan rasa dendam itu dan hiduplah dengan layak."
"Saya ... Saya!"
Belum selesai Andhra menjawab, sorot lampu sebuah mobil menembus hingga ke dalam rumah. Sepertinya Pak Soleh tengah kedatangan tamu lain.
"Assalamualaikum, Pak Soleh!" Suara seorang gadis begitu terdengar familiar di telinga Andhra.
"Kauuu...!"
To be Continued.....
__ADS_1