
"Bagaimana jika kita masuk?" Ajak Farid. Mungkin saja ada sebuah petunjuk di dalam. Pikirnya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ryoki.
"Apa perlu kupanggilkan bantuan?" Tanya Ryoki, mengambil ponsel.
"Tidak usah, mereka sedang aku arahkan ke peternakan. Aku takut ada penyelundupan lagi." Farid masih memeriksa keadaan rumah ini.
Farid mengarahkan pandangan ke sekeliling, di bagian ujung rumah, ada sebuah potongan kayu tipis menyerupai linggis, kemungkinan cukup kuat untuk mencongkel.
"Mungkin dari sini?" Farid menekan handel pintu. "Terkunci" Mencoba mendobrak, mental, pintu hanya berdentum lemah. Entah setebal apa pintu ini, hingga Farid merasakan tubuhnya kebas "kuat sekali, lebih mirip pintu baja." Farid berpindah ke jendela.
"Mungkin melalui ini." Beralih ke jendela. Memakai kayu yang dia temukan tadi. Mulai melakukan pencongkelan.
Dengan segala kemampuan yang dia miliki, Farid berusaha membobol jendela kaca. Segala daya dan upaya telah dia lakukan. Bahkan sampai peluh membanjiri. Nyatanya, bukan jendela yang terbuka. Kayu itu patah. Farid melemparkan sembarang arah dengan perasaan dongkol.
"Bagaimana sekarang?"
Farid menggidikkan bahu. "Ternyata tidak semudah yang terlihat di TV."
Mencari lagi sesuatu, apa saja yang mungkin bisa digunakan. Sedangkan Ryoki masih santai di tempat semula.
"Hai, apa yang kau lakukan di sana? Tidakkah kau ada niat membantuku? Kita harus melakukan penyelidikan menyeluruh." Kesal Farid pada Ryoki.
"Pintu buka." Perlahan pintu itu berderit.
"Apa! Jadi pintu ini menggunakan sensor suara?" Farid tercengang cukup lama. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Ryoki diam dengan gaya sombong menurut Farid.
"Aku penduduk kota metro!" Sombong Ryoki nyelonong masuk.
"Ejekan yang bagus!" Ucap Farid sambil membuntuti Ryoki. Keadaan di dalam rumah lumayan berdebu dan banyak sarang laba-laba bersebaran, hal itu telah membuktikan bahwa, sang pemilik telah lama pergi. Seekor tikus lari tunggang langgang saat melihat kedua pria itu.
"Oke! Mari kita lihat, apa yang bisa kita dapatkan dari rumah kosong ini?" Keduanya sibuk meneliti dan mencari bukti. Tidak menemukan apapun.
"Rumah ini sangat berantakan sekali. Seperti ada kekacauan sebelum penghuninya pergi." Farid mengiyakan ucapan Ryoki. "Keadaan pintu masih terlalu bagus jika dikatakan bahwa pemilik rumah kedatangan perampok. Daerah ini memang lumayan sedikit rumahnya, tapi tidak berarti pencurian berkeliaran dimana-mana. Aku tahu benar, daerah ini memiliki penjagaan yang memadai."
"Tidak ada apapun!" Ryoki putus asa.
"Tunggu sebentar, kita seperti melewatkan sesuatu. Jika rumah ini memiliki pintu yang canggih, sudah pasti ada memiliki ruang pengendali CCTV." Analisa Farid.
"Pintar juga kau penduduk desa."
"Hai, aku pejabat negara, sudah pasti lebih pintar dari rakyat biasa sepertimu!" Ejek balik Farid. Ryoki tergelak sambil menepuk bahu Farid.
Mereka menelusuri setiap ruangan, hingga sampai pada sebuah ruangan yang bisa dikatakan sebagai ruang kerja.
__ADS_1
"Banyak buku dan berkas yang berceceran, sseperti pernah terjadi penggeledahan." Komen Ryoki, membaca beberapa kertas yang berserakan di lantai. "Memang benar jika penghuninya adalah seorang dokter. Tapi kenapa masih banyak benda-benda mahal yang dibiarkan begitu saja?"
"Entahlah," Farid sibuk mengusap komputer yang tergeletak di meja.
"Apa kau bisa mengoperasikan benda itu?" Tanya Ryoki memperhatikan aktivitas Farid.
"Kau menghinaku?" Farid tidak terima. Mulai mengotak Atik benda yang memiliki layar berbentuk persegi. Sebentar menyala dengan sempurna, namun di saat Farid membuka sebuah file, seketika benda itu redup dan mati.
"Yah, sepertinya komputer ini rusak. Padahal, aku sempat melihat isinya."
"Jadi, kita belum bisa menyimpulkan dengan pasti, apa Hasma pernah tinggal di sini. Kita harus mencari bukti lain agar wanita ular itu bisa mendekam di penjara seumur hidup."
"Setuju! Aku juga mencurigai dirinya terlibat dalam penyelundupan hasil produksi PT Indochick. Wanita itu benar-benar kejam dan serakah. Dia sudah berani melenyapkan keluarga Kak Andhra, sudah pasti keluarga ini juga pergi karena tekanan dari wanita itu."
"Coba aku periksa." Pinta Ryoki. Masih belum juga menyala. "Benda ini masih bagus, tapi aku tidak mengerti dimana letak kerusakannya." Ryoki berdiri tegak lagi. "Mungkin karena faktor perawatan yang kurang. Mesin ini jadi tidak berfungsi sebab tidak pernah digunakan lagi. Sebab karena lama tidak terpakai itulah, sistemnya tidak lagi berfungsi dengan baik."
Ryoki masih sibuk mengotak-atik, tiba-tiba sebuah percikan api muncul, Ryoki terkena aliran listrik.
"Sial!"
Braakkkk, pyarrr.
Sebuah bingkai foto di dinding, terbuang begitu saja. Siapa lagi pelakunya jika bukan Ryoki.
"Hai, sabar, Bung!"
Klinting ting ting
"Dari mana benda ini tadi?"
"Mungkin kah!" Farid segera bertindak memeriksa figura yang tanpa sengaja tersenggol tangan Ryoki. Masih ada satu lagi sebuah memori kecil berukuran sama menyelip di bagian belakang foto. Ketika diperhatikan terdapat tanda angka satu di bagian ujung.
"Bagaimana bisa ada seseorang yang menyimpan barang seperti ini di dalam figura?" Ryoki heran sendiri.
"Mungkin isinya adalah sesuatu yang penting, sehingga pemiliknya menyimpan ini di tempat yang tidak mungkin di sangka oleh siapapun." Farid menyampaikan pendapatnya.
"Bisa jadi seperti itu. Baiklah, kita simpan saja." Ryoki memasukkan ke dalam saku.
"Sudahlah, kita tidak menemukan petunjuk atau bukti apapun. Sebaiknya kita pergi." Ajak Farid.
"Yup, let's go."
~
~
~
__ADS_1
Kediaman Abhimanyu.
Seorang gadis remaja tengah bersolek di depan cermin, tidak ada kata cantik, karena dia menutupi itu semua dengan kacamata tebal. Rambut di kuncir dua rendah dan bando yang norak.
"Sempurna!"
"Siapa yang mau kau goda dengan penampilan seperti itu?" Saudara kembar yang sejak tadi memperhatikan adiknya sudah sangat jengah. Bagaimana tidak? Adik yang imut dan cantik kini berubah bagaikan Upik abu.
"Menurutmu?"
"Ch ch ch bahkan semut saja enggan berkenalan dengan dirimu, Sayang!" Candra mendekati Cyra, meletakkan satu tangan di leher sang adik dengan gaya coolnya. "Kau tahu apa artinya itu? Penampilanmu ini tidak ada manis-manisnya." Ejek Candra sambil mencubit gemas adiknya. "Sebenarnya, Abang juga tidak suka jika kau berdandan cantik. Itu akan menambah beban di pundakku. Aku tidak perlu lagi menjauhkan dirimu dari godaan para pria. Tentu saja, mereka bakalan mundur teratur, demi penampilan norakmu ini." Membelai geli rambut Cyra.
"Hai, Abang tampanku dan juga kembaran yang selalu menjadi perisaiku, bisakah kau lepaskan tanganmu sekarang?"
Cyra memutar bola matanya malas.
"Sumpek tahu nggak." Mendorong tubuh Candra. Hingga tubuh mereka berjarak. "Ingat ya! Terserah orang-orang mau berkata apa. Yang pasti, Cyra tidak akan merubah penampilan Cyra jika di luar sana. Dan ingat satu hal lagi, Cyra tetap akan berpenampilan seperti ini... sampai ada seseorang yang mencintai dan menyayangi Cyra dengan tulus. Tidak memandang Cyra sebelah mata hanya karena penampilan saja."
Cyra melenggang pergi setelah mengedipkan sebelah mata.
"Hai tungguin!" Teriak Candra, sambil berlari mengikuti Cyra.
"Kenapa lari-lari, Sayang?" Sampai di bawah Candra bukannya ketemu sama Cyra, malah dipergoki sama Rena.
"Mau ikut Cyra, Mah!"
"Cyra! Memangnya mau pergi kemana?"
Ih si mama kepo.
"Shipping, buat acar besok! Kami tidak punya baju buat di pantai. Rencananya Cyra dan Kak Rossi bakalan belanja gitu. Candra mau ikut." Jelas Candra.
"Shopping! Mama ikut." Wajah Candra memelas seketika.
"Ma...ini tuh acara anak muda. Kenapa harus ikut sih."
Bisa repot jika mama ikut. Apalagi jika nanti ketemu sama teman arisannya. Bakal rempong deh. Batin Candra.
"Mama... Jangan ikut ya, soalnya Candra bawa motor. Kasihan kulit lembut mama ini jika kena debu di jalan." Bujuk Candra.
"Pokoknya ikut. Mama ambil tas."
"Ayolah, Ma!"
"Mama ikut, titik."
"Mama tidak boleh ikut. Aku ada perlu sama mama." Seorang pria langsung memeluk erat tubuh Rena.
__ADS_1
Syukurlah, dewa penyelamat ku datang. Candra mengelus dada kemudian melipir pergi.
To be Continued