Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 43


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan. Ini pesanan, Anda!"


Imajinasi ini, membuatku jadi gila.


Ozan nampak sumringah menerima pemberian Rossi. Tepat di belakang tubuh Andhra kini Rossi berada. "Terima kasih. Ternyata gercep juga ya."


"Itulah kelebihan kami, Tuan. Semoga istri Anda menyukainya." Ozan membuka kantong kresek itu, dilihatnya hasil masakan yang menggoda selera. "Sebab sebenarnya itu tidak ada dalam daftar menu kami." Terang Rossi hati-hati. Antisipasi aja, siapa tahu bakal pesan menu lain yang lebih merepotkan.


Bibir Andhra berkedut, seperti paham akan maksud kata Rossi. Dasar kancil.


Padahal ya, sebenarnya makanan itu tidak ada pada daftar menu restoran paman. Hanya saja, paman memiliki prinsip agar tidak menyinggung pelanggan. Apalagi pelanggan VIP. Jika ingin restoran ini semakin maju, maka jangan sampai kita menyinggung pelanggan. Terlebih petinggi di gedung ini. Restoran kita, berada di bawah naungannya.'


"Maaf! Tapi, saya tidak tahu harus minta tolong sama siapa. Istri saya lagi ngidam."


"Walah, ternyata! Terima kasih sudah mau pesan. Semoga istri dan anak bapak dalam kandungan suka."


Flashback


Teringat akan rengekan Arini di pagi buta. Baru bangun tidur sudah minta capcay. Adakah penjual capcay buka sepagi itu? Penjual sarapan mungkin banyak, yang tentunya bukan capcay. Ozan menekan otak cerdasnya agar berpikir jernih. Bahkan gedoran pintu kamar mandi tidak menyurutkan niatnya.


"Sayang, cepetan dong, kapan capcaynya datang?" Arini berteriak, memegang perut gendutnya yang bergerak-gerak. Dia tersenyum merabanya pelan sambil bergumam.


"Kita akan sarapan capcay ya, Sayang. Mama akan menuruti maumu." Entah benar atau tidak, nyatanya ibu hamil selalu menuruti nafsunya, dengan dalih si bayi yang minta. "Sayang, cepetan! Anak kamu sudah tidak sabar nih!" Kan, pengennya kayak di dunia peri gitu, tinggal ngomong langsung cling, datang."


"Ini sebentar lagi." Ozan buru-buru memakai pakaian resmi ke kantor secepat kilat. Masih berpikir kemana dia akan memesan makanan untuk sang istri. Bahkan meja makan tidak ada sarapan, sebab ngambek pengen capcay. Pelayan mana berani bertindak jika nyonya rumah memberi peringatan khusus.


"Jangan lama-lama." Memberengut kesal tanpa peduli sang suami sebenarnya juga butuh di sayang, di pakaikan dasi dan mungkin di bawakan tas kerja hingga diantar sampai pintu.


Tidak ya! Pagi ini lenyap sudah semua bonus untuk Ozan.


"Sayang!"


Masih pasang muka di tekuk.


"Iya, Sayang!"


Ozan buru-buru merapikan dasi. Huh, untung cinta, kalau tidak, pasti sudah nyari di tikungan lain.


"Jangan pergi kerja! Carikan aku capcay dulu!" Protesnya Arini menghentak kaki.


"Iya! Belinya di dekat kantor, Sayang!" Ucap Ozan asal. Padahal dia belum kepikiran buat beli di daerah sana lho.


"Benarkah?" Mata Arini berbinar. Ozan mengangguk lesu. "Kalau begitu, cepat pergi, Sayang. Bawakan capcay untukku." Mendorong ringan tubuh suaminya agar segara pergi.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Arini memberondong Ozan dengan puluhan pesan yang sama. Kapan capcaynya datang? Semakin dibiarkan, semakin gencar pesan yang sama itu terkirim. Hingga pesan terakhir memberi hidayah pada otak buram Ozan. 'Katanya beli di dekat kantor? Mengapa masih belum sampai juga'


Iya! Inilah solusinya. Paman pasti sangat mau memasak capcay khusus buat istrinya.


Solusi telah di jalankan, dan calon papa siaga masih melekat pada diri Ozan.


Seperti matahari yang terbit dari timur, secerah itu pula binar wajah Ozan kali ini. Capcay khusus buat sang istri telah dia dapatkan.


"Semoga saja. Dari tadi pagi, dia sangat menginginkan ini." Ozan begitu antusias. "Bos, aku balik dulu sebentar ya, Arini sangat menginginkan ini sejak tadi pagi. Takutnya dia nggak bakal mau makan jika tidak aku turuti. Kasihan bayi kami." Tanpa peduli akan perubahan raut wajah Andhra, Ozan segera berlari menuju parkiran.


Aku yang dipanggil bos, tapi dia yang ngatur dan seenak jidatnya pergi. Batin Andhra.


"Mau kemana kamu?" Saat melihat pergerakan tubuh Rossi yang juga bergerak meninggalkan dirinya.


Kebetulan sekali, bertemu di sini. Tidak akan aku lepaskan kau kali ini. Batin Andhra licik.


"Kembali bekerja, Kang, Bos, Tuan!" Rossi menggigit bibir bawahnya sebab bingung harus memanggil apa, Rossi juga mulai penasaran dengan jabatan Andhra. Mungkinkah karyawan biasa, malah dimintai izin oleh petinggi seperti Ozan?


Andhra sok cuek, namun pipi itu terlihat cekung. Iyalah, sudut bibir juga melengkung.


"Sudah saya katakan bukan, kamu harus panggil saya apa?"


"Kang, atau Andhra."


"Terima kasih, Kang! Dari lahir memang sudah pintar. Saya permisi!"


Cepat kabur Ros, atau kejadian malam itu akan terulang lagi.


"Tunggu dulu!" Andhra mencekal pergelangan tangan Rossi. "Aku juga ingin pesan."


Eh, tidak harus seperti ini juga kan?


Tanpa banyak bicara, Andhra menarik Rossi masuk ke dalam lift, beberapa karyawan melihatnya. Mulai deh, ada gosip baru. Sekarang Bos Andhra mulai nakal, berani menggandeng seorang gadis. Menghapus gosip pertama kalinya tersebar. Yaitu, jika Andhra anti cewek, alias gay.


"Jika ingin pesan, tinggal bilang saja, tidak harus menarik tanganku begini. Kayak anak kecil tahu." Rossi berusaha melepas pegangan Andhra. Sayangnya, tangan mungil itu tenggelam dibalik telapak tangan Andhra. Sulit juga dilepas.


"Jangan begini dong, kayak anak kecil aja, di gandeng." Bukan itu sebenarnya yang Rossi resahkan. Namun kepada tatapan para karyawan yang menatapnya penuh selidik.


Jantungku ... Kau gaduh sekali. Bagaimana jika pria ini mendengarnya.


Tapi apa boleh buat, dia harus ingat akan pesan pamannya 'Jika ingin restoran ini semakin maju, maka jangan sampai kita menyinggung pelanggan. Terlebih petinggi di gedung ini. Restoran kita, berada di bawah naungannya.'


"Gini? sudah seperti orang dewasa belum?" Lengan Rossi terlepas, namun detik berikutnya, tangan kekar itu berpindah ke bahu. Tentu saja hal itu semakin membuat Rossi tidak nyaman.

__ADS_1


"Bisakah kau lepaskan tanganmu? Aku bisa berjalan sendiri." Rossi berusaha melerai tangan itu kembali. "Ayolah Kang, lepaskan tanganmu, ini sungguh tidak nyaman.


Andhra mendengkus kesal. Tapi, apa boleh buat.


"Jangan protes, atau kau tidak akan aku lepas sama sekali."


Posisi apa ini? Bahkan dadaku terasa sesak sekarang.


Rossi sampai mencium aroma maskulin dari tubuh Andhra. Pinggang ramping Rossi seketika menegang. "Hai, ayo jalan, mengapa malah berhenti?"


Tangan Anda Tuan, mengapa harus mendarat di sana? Rossi frustasi sendiri.


"Tangan Anda ini, bisakah di kondisikan?"


Bukan nya melepas, Andhra malah mengeratkan. Spontan Rossi mencubit lengan kekar Andhra. Tidak kerasa we.


"Semakin kau berani, aku semakin tertantang." Lengan kokoh semakin membelit seirama cubitan Rossi yang semakin dalam. Akhirnya Rossi mengalah. Percuma saja meladeni Si Batu. Dasar batu.


"Berani sekali kau menyentuhku. Lepaskan tanganmu." Hardik Rossi, masih berontak. "Hai, kau dengar apa tidak? Lepaskan!"


"Kau ya, kepala batu. Dasar batu!" Rossi memberengut kesal menunjuk wajah Andhra. Yang diajak bicara tetap diam, berjalan santai tanpa peduli pada karyawan menatapnya penuh keheranan juga rasa cemburu.


"Malu tahu dilihat banyak orang. Bagaimana jika mereka berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika mereka salah paham? Kau mau tanggung jawab?"


"Tentu saja! Kapan aku bisa melamarmu?"


Apa? What? Apakah dia sedang sakit?


Rossi memegang dahi Andhra menggunakan punggung tangan, kemudian beralih kepada dahinya sendiri. "Tidak panas."


"Aku baik-baik saja!"


"Jadi, kapan aku harus tanggung jawab."


"Tidak perlu! Aku bukan orang hamil, jadi tidak ada tanggung jawab."


"Baiklah, akan ku buat kau hamil. Setelah itu, kita menikah." Yah, jawaban Rossi selalu dijadikan peluang. Ini sungguh tidak adil. Kenapa Andhra harus sepintar itu dalam menjawab.


"Tidak! Aku nggak mau hamil diluar nikah. Karena itu adalah anak haram jadinya. Aku mau menikah dulu, baru hamil dan punya anak nantinya." Rossi mengerling penuh semangat.


"Oke! Deal! Kita menikah dahulu, baru punya anak. Farid akan datang bersama Ibu seminggu lagi untuk mengadakan lamaran. Kau bersiaplah. Secepatnya kita menikah."


"Apa?"

__ADS_1


To be Continued....


__ADS_2