
Rumah makan sederhana yang dikelilingi oleh tanaman merambat dan juga tanaman hias yang ditata sedemikian rupa. Di sekitarnya juga ada buah-buahan yang mungkin saja ditanam oleh pemiliknya sebagai ciri khas.
"Mau pesan apa?" Rossi membuka lembaran menu namun tatapannya sesekali tertuju pada Andhra yang masih asyik menelisik sekeliling.
"Pesankan yang menurutmu paling enak!" jawab Andhra yang sama sekali tidak berkeinginan membuka lis menu padahal keduanya sama-sama diberi masing seorang satu.
"Oke, aku pesan nasi dua porsi dengan ikan bawal goreng sambal matah, udang Crispi satu porsi dan dua jus jeruk. Hanya itu. Terima kasih." Rossi menyodorkan kembali menu yang dia pegang. Begitupun dengan Andhra.
"Baik, tunggu sebentar ya, Mbak! Mas!"
Rumah makan yang hanya memiliki tiga karyawan itu seakan tidak pernah sepi pengunjung. Masing-masing kursi hampir penuh. Beruntung Rossi dan Andhra mendapatkan tempat dibagian sudut. Lumayan sepi. Tempat untuk empat orang hanya ada mereka berdua.
"Kau, tahu!" Rossi mencondongkan tubuhnya.
"Tidak!" Sambar Andhra.
"Dengerin dulu."
"Oke!"
Andhra meletakkan tangannya ke meja lalu menumpu pada dagunya sendiri tepat di depan wajah Rossi. Aroma mint menguar segar hingga memicu detak jantung Rossi semakin terguncang.
"Tidak sedekat ini juga kali." Inginnya menciptakan jarak. Secepat kilat jemari lentik itu beralih ke genggaman Andhra.
"Kang, An-An-An!" Hembusan nafas semakin memburu. Keduanya semakin mendekat. Perlahan tapi pasti, Andhra menarik jemari Rossi semakin menuju ke dadanya.
"Kau tidak pernah tahu, bahwa di sini." Rossi bisa merasakan detak jantung Andhra yang diperkirakan sama kencangnya dengan yang dia miliki. "Selalu melantunkan namamu saja." Rossi segera menarik tangannya. Nihil. Sebab Andhra semakin mengeratkan genggaman.
"And, malu dilihat banyak orang!" Antara suka, gelisah dan salah tingkah.
"Biarkan mereka melihat. Biarkan mereka tahu bahwa di dunia ini betapa beruntungnya diriku karena memiliki pasangan semanis dirimu." Suara lirih Andhra terdengar bak bulu perindu. Halus dan menggairahkan. Tanpa mereka sadari jika bibir keduanya bertemu.
"And, malu tahu." Mencubit manja lengan Andhra.
"Sudah aku katakan, jika malu dilihat orang, kita ke hotel saja." tukas Andhra sambil memainkan mata.
__ADS_1
Rossi berdecih di sela-sela menghirup udara serakah. Rossi hampir saja gagal jantung sebab perlakuan manis Andhra.
~
~
"Sampai kapan kita akan menunggu? Anak pungut itu tidak akan datang!" Sambil berlenggak lenggok menata riasan.
"Setahuku, Andhra tidak pernah ingkar janji." Abhi tampak kecewa. Pun dengan Rasya, mulai cemas. Sedangkan Mella dan Ozan sudah kembali setelah presentasi usai.
Tapi sayangnya, Abhi akan tanda tangan jika Andhra menepati janji untuk datang hari ini.
"Mungkin dia masih diperjalanan, Kang." Hibur Rasya tak yakin. Bagaimana jika memang benar tidak datang? Apa yang harus dia jelaskan?
"Sama sekali tidak ada rasa hormat terhadap yang lebih tua." Cibir Anggun menyulut api. Dia bertekad untuk menjatuhkan Andhra di hadapan ayahnya.
"Andhra tidak pernah terlambat seperti ini." Bela Rasya.
"Hai, apa kabar semua?"
"Kabar baik! Wahhh...kau semakin tampan saja." Berdiri kemudian merangkul Andhra.
"Tidak apa! Paman hanya terlalu rindu hingga tidak sabar menunggu." Abhi menepuk punggung ponakannya berulang kali.
"Apa kabar, Paman? Sehat kan?"
"Seperti yang kau lihat saat ini" Abhi membuka kedua tangannya. Tergelak lagi. Andhra memang tidak hubungan darah dengan keluarga Abhimanyu. Namun ikatan batinnya begitu kuat sehingga Abhi juga tidak bisa memperlakukan Andhra dengan buruk. Terlebih lagi setelah berdamainya Rasya dan Rena.
"Siapa gadis cantik ini?" Melirik gadis yang memiliki senyum memikat. "Diakah calon istrimu?"
"Perkenalkan, namanya Rossi, Paman!"
"Hemmh, kau pandai memilih calon pasangan." Tak sungkan Abhi memuja calon Andhra. Tidak sadar jika ada sosok lain yang begitu sinis melihat interaksi mereka.
"Terima kasih, Paman!"
__ADS_1
"Anak siapa dulu?" Bangga Rasya.
"Jangan terlalu berlebihan, Paman! Dia bukan anggota Abhimanyu. Bahkan kita tidak tahu asal usulnya. Bisa jadi dia menjadi serigala lapar dalam keluarga kita." Anggun semakin bersikap arogan.
Sejak datangnya Andhra, dia tidak lagi dianggap ada. Semua mengagungkan Andhra bahkan memujanya bagaikan dewa dari segala dewa. Padahal dia berusaha keras agar bisa duduk setara dengan keluarga Abhimanyu.
"Di tubuhnya memang tidak mengalir darah Abhimanyu, tapi jiwa dan raganya adalah milik keluarga Abhimanyu." Sambar Rasya dengan bangga. Andhra tersenyum memprovokasi.
Abhi mengangguk kemudian mempersilahkan mereka semua duduk. Tak perlu menanggapi ucapan yang sekiranya hanya akan memperkeruh suasana damai.
Anggun kesal dan memilih pergi. Mana lagi yang dia tuju jika bukan toilet. Amarahnya harus tersalurkan. Dia membanting tas ke bagian sisi wastafel.
"Tidak bagus melampiaskan amarah pada sebuah barang." Sontak saja Anggun menoleh. Seorang gadis remaja nampak santai menata rambutnya yang tidak berantakan.
"Kau...!"
Suasana hati yang tak karuan bertambah memburuk. Si gadis kecil yang menjabat sebagai sepupu terusil muncul di waktu yang tidak tepat. Rubah kecil ini lebih berbahaya dari yang dia temui tadi. Tapi biar bagaimanapun dia harus bersikap wajar
"Kenapa? Anda terkejut?" Tindakan gadis itu cukup menarik. Dia hanya memutari Anggun dengan senyum sinis menantang. "Aku lebih terkejut lagi...tahu." Kini bersandar santai sambil memainkan rambut kruelnya. Pipi chuby dia gembungkan. Semakin terlihat cantik di usianya yang terbilang belia.
"Apa maksudmu? Gadis kecil?" Keduanya saling memandang sinis.
"Anda lupa siapa saya?" Remaja itu semakin tersenyum manis namun sorot matanya penuh kebencian.
"Semakin hari, saya semakin tidak mengenali sikap Anda. Sejauh yang aku tahu, Kak Anggun ku bersikap seperti namanya. Anggun, dewasa dan berkarakter. Tapi..." Tatapan sinis seakan menelanjangi seluruh tubuh Anggun. "Anda sangat berbeda. Siapakah Anda?"
"Sa-saya Anggun." Wajahnya berubah panik. Bola mata bergerak cepat persis dengan karakter orang yang tengah berusaha menutupi sesuatu. "Tidakkah kau kenali wajahku ini? Saya Anggun putri Abhidharma."
"Anggap saja saya percaya padamu." Seakan mengusap debu di pundak Anggun. "Kenapa tegang begitu? Aku hanya melakukan kebiasaan ku. Kenapa responmu begitu gugup?"
Anggun mengambil nafas berulang kali. Ingin rasanya dia mencakar habis mulut pedas gadis cilik bernama Cyra ini. Tapi tetap harus dia tahan. Bukan saatnya dia menunjukkan jati diri yang sesungguhnya.
"Hufft. Panas sekali rasanya ya! Aku sampai tidak betah lho...!" Semakin melebarkan senyum kala diliriknya kepalan tangan Anggun semakin menguat. Deru nafas Anggun juga mulai memburu. Pertanda bahaya segera menerpa. "Permisi, Nona Anggun. Eh, Kak Anggun. Palsu."
"Cyraaaa!" Gadis bermulut cabe itu harus menerima akibat perbuatannya. "Dia tidak tahu berhadapan dengan siapa." Anggun beberapa kali membasuh muka setelah kepergian Cyra. Tidak tahukah dia jika orang yang dia sebut namanya masih menguping di balik pintu. Baru pergi dengan senyum cerah setelah ponselnya berbunyi.
__ADS_1
"Halo! Anggap saja misi pertama telah selesai."
To be continued