
Jika cinta adalah sebuah ikatan suci, maka kuatkanlah hati. Sejauh dia melangkah kemana arah kebaikan selalu tertuju. Berikan aku sejuta warna terang, agar gelapnya sanubari ini terobati.
Terkadang, aku takut akan sebuah pertemuan, karena bisa jadi, sebuah perpisahan telah menanti. Tapi aku ingin kau tetap disisi, meski suatu saat kau harus juga pergi.
💦Andhra
Sebuah foto lama menetap dalam genggaman seorang pria dalam waktu yang cukup lama dalam hitungan menit.
"Kau masih menanti dirinya?" Seorang pria lain mendekat sambil meletakkan secangkir kopi. Tentu saja pria itu sangat hapal betul bingkai siapa. Kenangan masa lalu.
"Tidak!"
"Tapi, kau selalu merindukannya sobat. Lihatlah dirimu. Sampai sekarang masih juga menyendiri. Sudah lewat satu tahun dari yang dia janjikan."
******* kecil terdengar jelas di pendengaran kedua pria itu.
"Cobalah untuk membuka hati kepada yang lain." Ozan mengambil kacang kering, mengupasnya lalu memasukkan ke dalam mulut dengan cara di lempar ke atas. Seperti teringat sesuatu, Ozan diam sejenak. Jarinya menunjuk ke atas tak tentu arah "Gadis di pesta waktu itu cukup lumayan. Sangat cocok dipanggil Ibu Presdir, mungkin hanya butuh sedikit polesan. Dan ada sesuatu yang hampir mirip dengan sosok Isy mu itu. Tapi apa ya?"
Flashback
Rintik rintik hujan mulai turun, beberapa orang memilih menghindar karna rintiknya yang semakin deras. Tapi tidak dengan gadis kecil berbadan gemuk yang di panggil Isy dia malah asyik bermain hujan di halaman rumah. Andhra sudah menegur dan mengajaknya berteduh tapi tidak di hiraukan.
"Kau baru sembuh, kakimu belum sembuh total jangan lari lari." teriak Andhra yang mulai panik dengan kelakuan gadis kecilnya. Apalagi baru tadi pagi perban kakinya dibuka.
Ya inilah hari yang di janjikan oleh Andhra mengajak gadis kecilnya jalan jalan. Setelah Andhra menjemput adik kembar Cyra dan Candra sekaligus menjemput Isy, gadis gendut yang dia temui di rumah sakit. Mama dan adik kembarnya sudah pulang kerumah. Anak kembar itu terlihat lebih berisi, cepat sekali berat badan mereka bertambah. Sehingga di perbolehkan pulang.
"Akhirnya, kita sudah sampai anak anak mama." Wajah Rena sangat berbinar mengatakan itu. Sesekali menciumi kedua buah hatinya yang tertidur di gendongan nya. Rasya hanya menghembuskan nafas pelan. Andhra pun menepuk bahu papanya.
"Sabar pa, di sini juga nyaman kok." Andhra tahu papanya ingin mengajak Rena pulang ke rumah yang lebih nyaman. Tapi Rena tidak mau karna merasa lebih nyaman di rumah peninggalan kakeknya ini. Rumah yang tidak terlalu luas bahkan di bilang sempit jika untuk mereka berlima nantinya.
"Aku harap kita bisa segera pindah ke rumah yang baru." Rasya masih menatap sekeliling rumah yang menurutnya terlalu sederhana untuk pertumbuhan anak kembarnya.
"Berjuanglah pa, tapi aku tidak akan membantu, aku cukup nyaman berada di sini." Andhra setengah berbisik kepada Rasya. Setelahnya melihat ke jendela kaca dari sana, gadis kecilnya terlihat masih asyik main hujan.
"Tega sekali kau mengatakan itu. Kita sama sama pria harus satu tim." Bujuk Rasya berbisik juga.
__ADS_1
"Kurasa kita belum sedekat itu, sampai harus menjadi satu tim." Andhra terkekeh melihat wajah Rasya yang berubah masam.
"Apa yang kalian bicarakan, sini bantu mama pindahin ke tempat tidur dong, pa." Suara memecah ketegangan mereka.
"Iya ma."
Rasya mendekat diikuti oleh Andhra. Dua bayi itu menggeliat dalam gendongan Rena. Entah kenapa Rena lebih suka menggendong keduanya seperti ini daripada di bawa sama orang lain.
"Ma, Andhra pergi jalan jalan sama Isy ya, ma." Pamit Andhra. Rasya masih fokus meletakkan anak anaknya ke ranjang mereka. Kamar sempit itu terlalu sempit jika harus ada ranjang bayi khusus.
"Pa, titip mama ya." Terdengar seperti sebuah ledekan bagi Rasya.
"Iya, pergilah." Kesal Rasya karna Andhra tidak mau membantunya membujuk Rena.
"Andhra tunggu...!" Rasya mengejar Andhra sebelum benar benar pergi. Rasya melihat ke dalam dan saat sudah di pastikan aman, Rasya mengeluarkan sejumlah uang.
"Ajak jalan kemana saja sampai kau bosan, tapi ingat, nanti malam bujuk mama untuk mau pindah ya. Kasihan adik adik kamu." Rasya menempelkan uang itu di tangan Andhra berharap usahanya kali ini akan berhasil.
"Uangmu tidak akan menyelesaikan masalah. Pakailah hati dan pikiran, anda pasti lebih tahu tentang mama, bukan." Tersenyum sinis menarik tangannya. Hingga uang uang itu jatuh tercecer. Andhra tidak semudah itu memaafkan orang yang telah menyakiti hati mamanya.
"Macan, ayo kita pergi." Andhra meraih tangan Isy dan membawanya pergi ke rumah Ozan. Sedangkan Rasya masih mematung di tempat. Dia merasa anaknya di sana pasti juga marah padanya seperti yang di lakukan Andhra saat ini. Sedangkan mendung sudah berganti cerah, dia berharap rumah tangganya akan sama seperti cuaca saat ini.
Andhra berjalan menuntun Daisya yang masih agak kesulitan berjalan. "Kamu tadi lari lari sehh makannya sekarang capekkan?" Andhra mengangkat tubuh Isy dan menggendongnya di depan. Isy mengalungkan kedua tangannya di leher Andhra sambil tersenyum manis. Baju Isy sedikit lembab akibat bermain hujan
"Kaki Isy yang capek tapi satu doang, yang satunya tidak." Jawab Isy polos.
"Makannya jangan lari lari. Ini juga baju kamu jadi basah. Bagaimana jika sakit nanti. Siapa yang repot coba" Omel Andhra sambil terus berjalan.
"Aku suka hujan. Hujan itu baik sekali, kata kakek dia memberi kita kehidupan. Hujan telah membasahi bumi agar bumi bisa menumbuhkan tanaman dan manusia seperti kita bisa mengambil manfaatnya. Dia baik kan." Celoteh Daisya.
Andhra hanya tersenyum sambil sesekali mencium pipi bakpao anak perempuan yang dia anggap adik. Siapa yang menyangka kejadian ini nantinya akan selalu membekas di ingatannya.
"Kalau kata mama, jika kau rindu kepada seseorang, maka titipkan rindu itu pada langit untuk disampaikan kepada orang yang kamu rindukan lewat hujan." Isy menatap langit cerah. Ada bias pelangi di langit membuat dia bersorak gembira.
"Mas, ada pelangi." Isy berbinar sejenak tapi setelah itu redup kembali. Andhra yang melihat perubahan itupun heran.
__ADS_1
"Kenapa cemberut hemmm!" Menoel pipi gembul Isy pelan.
"Terakhir kali aku melihat pelangi, juga terakhir kali aku bersama mama dan papa, hari ini juga sama, terakhir kali aku melihat mas Andhra bersama pelangi. Apakah kita tidak akan bertemu kembali, mas."
Andhra menghentikan langkahnya, dia bingung harus jawab apa. Andhra juga merasa nyaman bersama Isy seperti anak kecil yang bermain bersama mamanya . Andhra seperti mendapatkan adiknya yang pergi bersama sang mama. Dan entah kenapa dia begitu menyanyangi Isy walau pertemuan mereka sangatlah singkat. Tapi, dia juga tidak mungkin menahan Isy berada di dekatnya. Karna Isy masih memiliki kehidupan bersama keluarganya sendiri.
"Isy seperti pelangi yang muncul setelah hujan, kita juga akan bertemu kembali setelah melewati kehidupan kita dengan sangat baik. Pelangi itu sendiri yang akan mempertemukan kita." Andhra mencoba menghibur Isy padahal dia pun tidak yakin akan itu.
"Kang! jika nanti aku sudah besar, aku akan kemari untuk menemui Kang Andi " Ucap Isy antusias. Ucapan yang mungkin saja bisa menjadi sebuah doa dan di ijabah oleh Tuhan.
"Amiin!"
"Kang, itu rumah mas Ozan ya." Andhra mengangguk lalu menurunkan Isy dari gendongan nya setelah itu menggerakkan tangan yang terasa kebas. *Berat juga tuh bocah, ya iyalah gendut gitu* Andhra menggelengkan kepalanya. Ist sudah terlebih dahulu berlari menemui Ozan.
"Hati-hati Isy!"
"Mas Ozaaaan!"
Teriaknya padahal ya, Ozan sudah di teras melayani beberapa pembeli layangan.
"Jangan teriak Ndut, aku belum tuli." Kan ikutan teriak dasar Ozan nggak nyadar dia juga melakukan hal yang sama.
"Wahhh gede banget layang layangnya!" Isy memegang layangan berbentuk kepala naga.
"Mau melihat bagaimana cara menerbangkannya."
"Hai tapikan ini musim penghujan, bagaimana kalau ada petir?" Ozan panik karna tawaran Andhra pada Isy. Isy masih diam menatap mereka berdua bergantian.
"Kita ke taman kota saja ya, kita nanti beli es krim." Ozan sebenarnya enggan menerbangkan layang layang itu karna ukurannya yang besar, harus dua orang dewasa yang menariknya. Jika lapangan lagi ramai sehh oke oke saja, mereka dengan senang hati akan membantu, tapi jika masih siang hari seperti ini lapangan masih sepi.
"Apakah ini bisa terbang?" Masih mengamati layangan itu.
To be Continued.....
Selamat membaca mohon maaf bila ada typo, atau kesalahan lainnya.
__ADS_1