Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 9


__ADS_3

"Ya Tuhan, kenapa harus ada makhluk berjenis wanita seperti dia." Andhra bergumam sambil memijat keningnya setelah itu melepas maskernya. Sedari tadi gadis di sampingnya ini selalu mengoceh mengajaknya bicara. Mulai dari kenalan, menanyakan alamat dan sebagainya.


"Hai kau begitu tampan lho. Kenapa baru di buka seh?" Celetuk gadis itu memperhatikan wajah Andhra.


"Terima kasih." Andhra tersenyum miring.


"Kang Andi tidak penasaran dengan saya." Gadis itu menunjuk wajahnya sendiri. " Maksudku alamat, hobi, cita cita atau semua yang ada padaku." Cerocos gadis itu tanpa malu dan sok akrab gitulah.


Andhra menggeleng, hembusan nafasnya menunjukkan rasa jengah dia kemudian menatap keluar jendela berharap gadis itu mengerti akan tindakannya yang tidak ingin diganggu.


Hening


*Sepertinya gadis itu cukup tahu diri. Syukurlah, setidaknya aku bisa menikmati perjalanan ini. Batin Andhra*


*Kenapa ya aku ingin sekali mengganggu dirinya. Ganggu lagi ah, siapa tahu dia bakal lebih kesel, lalu pindah ke kursi lain. Aaa aku bisa leluasa menguasai jendela. Ngapain ya? Ah aku punya ide*


Tiba tiba  Rossi menempelkan airphone di kuping sebelah kanan Andhra. Meruntuhkan kepercayaan Andhra yang baru saja terbangun.


"Hei apa yang kau...!" Lumayan terkejut.


"Dengarkan ini, kau akan sangat nyaman." Gadis itu tersenyum, lalu mengetukkan jarinya di paha sesekali mengikuti lirik lagu. Tanpa sadar Andhra ikut menikmati lagu yang di putar gadis itu. Hingga dia pun memejamkan mata setelah menyandarkan kepalanya.


Musik yang cukup menenangkan hati. Lebih baik aku diam daripada gadis ini selalu berulah.


*Pria ini terlihat begitu tampan, dan wajahnya itu kenapa begitu polos dan sedap di pandang ketika memejamkan mata. Tapi jika membuka mulutnya menjengkelkan.* Batin Rossi.


Beberapa jam telah berlalu, bus mengantarkan keduanya sampai ke tujuan.


"Oke kang Andi aku turun di sini ya. Hati hati di jalan." Entah pemikiran darimana gadis ini bisa-bisanya menyebut dengan nama Andi.


"Kang Andi, jangan lupa maskernya di pakai lagi ya, takutnya ada mak mak yang akan terhipnotis dengan wajah Kang Andi." Gadis yang dia kenal  bernama Rossi itu masih sempat merapikan masker di wajah Andhra lalu mengedipkan mata sebelum berjalan ke arah pintu untuk bersiap turun.


"Gadis yang unik." Tanpa sadar tiga kata itu meluncur begitu saja, dan kebetulan pula untuk orang yang sama. Tapi sepertinya Andhra belum mengetahui itu.


Rossi turun di terminal sebelum Andhra. Rossi sebenarnya sering pulang setiap satu minggu sekali. Mengingat ibunya yang sangat cerewet bila tidak melihat anaknya dalam satu Minggu. Begitulah nasib anak kesayangan.


"Rossi ini motormu, terima kasih ya sudah meminjamkannya kepadaku."  Ucap salah satu temannya.


"Oke! Bahan bakar full kan?"


"Tentu saja!"

__ADS_1


Rossi biasanya pulang dengan mengendarai motor sendiri, selain menghemat waktu juga bisa menghemat pengeluaran. Tapi kali ini ada karyawan pamannya sering mabuk kendaraan juga ikut pulang. Dia mengalah naik bus sedang kedua karyawan naik motor miliknya.


"Rossi ini kuncinya, apa kau tidak mampir dahulu." Mengedipkan mata sebelah sambil melambaikan tangan. Rossi membalas jempol.


"Tidak, terima kasih nanti aku bisa kesorean sampai rumah." Rossi mulai menyalakan motornya.


"Terima kasih ya. Hati hati di jalan." Ucap kedua temannya.


Rossi harus mengendarai motornya sedikit ngebut karna perjalanan yang lumayan masih jauh,  juga matahari yang cukup terik siang ini.


Sampai di sebuah masjid dia membelokkan motornya untuk melepas lelah. Di tempat ibadah inilah yang dia rasa paling aman untuk melepas penat sekalian menghadap sang pencipta. Beberapa jamaah lain juga melakukan hal yang serupa.


*Syukurlah dunia ini masih di penuhi oleh orang orang yang mengingat Tuhannya.* Batin Rossi.


Rossi menyandarkan punggungnya sebuah tiang bagian teras masjid. Ada seorang pria yang sudah mulai renta meletakkan sepeda dengan dagangannya. Di dekat Rossi berdiam.  Rossi mengeluarkan ponselnya dan berselfi di dekat sepeda milik si kakek yang hilang di balik tembok masjid.


"Kakek jualan apa?" Rossi menanyai sang kakek yang sudah kembali dari melaksanakan ibadah. Kakek itu masih belum menjawab mengorek telinganya.


"Apa Neng tadi bertanya kepadaku?" Kerutan di dahi pria tua semakin bertambah.


"Iya, kakek jualan apa?" Sedikit meninggikan intonasi.


"Kuping kakek bermasalah, neng." Mengorek telinga lagi. Rossi tersenyum memeriksa dagangan sang kakek. Dia mengambil beberapa bungkus nasi dan beberapa gorengan.


Sendu kakek itu. Hati Rossi seketika berdesir mendengarnya. Dia yang begitu renta masih semangat untuk mencari nafkah. Sedangkan yang muda memiliki otot yang kuat dan kekar kadang lebih memilih meminta kepada orang tuanya dari pada mencari nafkah sendiri.


"Aku beli semuanya berapa kakek?"


Pas banget Rossi mendapatkan banyak tips dari para pembeli VIP kemarin. Jadi dia memilih untuk memberikan uangnya kepada sang kakek agar bisa berdagang lagi besok.


"Apa, neng!" Kakek itu mendekatkan kepalanya.


"Aku beli semua, kakek." Ulang Rossi, kakek itupun sedikit terkejut tapi kemudian terlontar kata syukur dari bibirnya.


Kakek penjual itu dengan antusias menghitung nasi bungkus, gorengan, dan beberapa makanan tradisional yang tersisa.


"Semuanya tiga ratus ribu dua puluh lima, neng. Yang ini gratis buat neng aja." Terharu sekali kakek ini juga ingin bersedekah kepadanya.


Rossi langsung membagikan makanan yang di belinya kepada para jamaah di masjid. Sampai pada seseorang yang memejamkan matanya sambil merebahkan badan di lantai masjid.


"Lho Kang Andi...! Kita ketemu lagi nih, mungkin inilah yang disebut jodoh." Ucap Rossi sambil meletakkan makanan di samping Andhra.

__ADS_1


"Makan Kang." Rossi membuka bungkusan terakhir yang di belinya. Memakannya di samping Andhra yang  masih terbaring.


"Kamu dalam acara apa bagi bagi makanan?" Andhra masih posisi wenak meluruskan punggung. Andai saja Rossi tahu bahwa di hadapannya adalah seorang pengusaha sukses pasti akan lain ceritanya.


"Ya dalam rangka sedekahlah." Rossi menguyah makanannya lagi dan lagi. Andhra hanya berdecih.


"Aku kemarin dapat banyak tip dari pelanggan. Juga dapet keuntungan dari berjualan ikan tadi malam. Ya sudah aku pikir tidak ada salahnya aku membantu kakek tadi. Kasihan juga sudah renta begitu tapi masih mencari nafkah sendiri." Rossi bercerita sambil sibuk makan. Andhra tersenyum tipis mendengarkan gadis itu mengoceh lagi.


"Jualan ikan?" Andhra teringat kejadian semalam.


"Iya, aku beli ikan dari Nenek yang berada di emperan toko. Lalu menjualnya pada paman." Rossi menampakkan deretan gigi putihnya.


Lalu mengapa dia membaginya denganku malam itu? Batin Andhra.


"Kau jualan ikan?"


"Tidak juga seh! Aku hanya membantu nenek yang sedang kesusahan. Aku coba bantu dengan memborong dagangannya, sebagian aku kasih ke orang lain sebagai sedekah, sebagian lagi aku jual kembali. Yaitu pada paman. Jadinya aku untung di dunia dan untung akhirat."


"Tapi untuk kali ini mengapa tidak kau jual kembali, kau memberikan secara percuma."


"Karena aku bersyukur!" Andhra mengernyit heran. "Iya, aku bersyukur karena mendapat rezeki. Dan aku ingin membaginya dengan orang lain agar lebih terasa nikmat."


"Aku saja kalau pas tanggal tua, kadang ada pelanggan yang hutang di kantin merasa prihatin karna pasti pendapatan berkurang jadi uang jajan yang dikasih ibu juga sedikit, auto harus pinter berhemat. Nggak kebayang jika kakek tadi yang semua uangnya buat modal eh malah tidak laku. Berarti tidak punya penghasilan dong kalau tidak laku. Terus di kasih makan apa istrinya." Mata Rossi berkaca kaca tak lepas dari penglihatan Andhra yang kini sudah duduk berhadapan dengan Rossi.


"Cuci tangan dulu, kang."


Rossi melihat sekeliling hanya ada dia dan Andhra saja saat ini.


"Semua orang sudah pada pergi ya, Kang."  Andhra menatap sekeliling benar apa yang dikatakan Rossi padahal tadi hampir ada dua puluhan orang pas Rossi membagi makanan.


Andhra membuka nasi bungkus pemberian Rossi dan memakannya dengan lahap. Dia sebenarnya mampu makan di tempat mewah sekalipun. Tapi untuk saat ini, dia melihat ada ketulusan yang terpancar dari wajah Rossi menjadi tidak tega menolak pemberiannya. Itung itung juga bernostalgia makan nasi bungkus.


"Enak kan."


"Apa kamu tidak merasa sayang dan merugi membagikan begitu banyak makanan apalagi orang itu tidak, kamu kenal." Bukannya jawab malah nanya hal lain.


"Tidak, anggap aja itu tabungan untuk kita ambil kelak." Ucap Rossi santai.


"Abang rumahnya di mana? Pulang bareng aku aja yuk. Aku bawa motor tapi rasanya malas berkemudi. Jadi nanti Akang bonceng aku ya."


"Uhuk uhuk." Andhra malah tersedak minuman.

__ADS_1


Kira kira kenapa ya?


__ADS_2