
Pagi yang cukup membuat Andhra muak. Sebab mimpi semalam, dia harus menemui psikolog pagi ini. Dia merasa kurang sehat meski telah pergi berobat. Jika begini, jalan satu-satunya adalah pergi ke kampung. Suasana di sana cukup membuat dirinya terhibur untuk beberapa saat.
"Bisakah sedetik saja ucapan itu hilang dari pendengaran ku." Gumam Andhra.
*Niat balas dendam juga dapat memperdaya pemikiran anda, menghabiskan waktu dan energi anda yang bisa lebih baik dihabiskan untuk cara yang lebih sehat. Padahal, anda bisa lebih konstruktif dalam menghadapi kemarahan, seperti belajar menerima ketidakadilan, menempatkan diri pada posisi orang lain, atau mengakui bahwa anda juga mungkin telah melukai seseorang dengan cara yang sama.*
Dijelaskan bahwa upaya balas dendam membuka kembali dan memperparah luka emosional anda Meskipun anda mungkin tergoda untuk menghukum yang salah, anda akhirnya menghukum diri sendiri karena rasa sakit hati kamu yang tidak bisa sembuh.
"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu menjadi lebih baik."Ali bin Abi Thalib.
Balas dendam kita pada orang lain yang berlaku buruk pada kita sebenarnya merupakan kewajaran psikologis. Sebab siapapun pasti tidak suka jika ada yang memperlakukan kita dengan buruk. Kita juga pasti ingin membalasnya.
Hanya saja jika balas dendam itu diwujudkan dalam bentuk perilaku yang bisa menghancurkan orang lain sudah pasti kita akan memasuki situasi hubungan yang makin merugikan kita dan mereka.
Akan tetapi jika balas dendam itu kita jadikan bentuk ikhtiyar memperbaiki diri menjadi sosok yang lebih baik, kemudian berinteraksi kembali dengan orang yang berlaku buruk pada kita, dengan interaksi yang lebih bermartabat, pasti kita dan mereka lebih banyak mendapatkan manfaat yang positif dan konstruktif.
Nah, itulah yang bisa kita lakukan untuk balas dendam yaitu dengan merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses tentunya.
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,” (QS. Asy Syuro: 39-43).
''Barangsiapa meninggalkan pertengkaran sedang ia salah, maka akan dibangunkan untuknya rumah di sekitar surga. Dan barangsiapa meninggalkan pertengkaran padahal ia benar, maka akan dibangun untuknya rumah di lantai tengah surga, sedang barangsiapa yang membaguskan akhlaknya, akan dibangun baginya rumah di tingkat paling atas surga,'' (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Prof begitulah orang dekatnya memanggil. Rambut putih selaras dengan baju putihnya. Usia yang menunjukkan betapa banyak ilmu yang telah di makan. Andhra mengingat perkataan itu sambil mengenakan jasnya.
*Saat Anda tersakiti, secara alami anda akan meresponnya dengan cara-cara tertentu untuk melakukan pertahanan diri. Tak hanya itu, kebanyakan orang pun juga banyak yang memilih untuk menyerang balik apa dan siapa yang menyerang/menyakiti anda, kadang perasaan ingin membalas dendam ini tidak kita akui, namun balas dendam adalah salah suatu perasaan intens yang muncul pada setiap manusia. Alih alih dapat menyembuhkan anda dari sakit dan melanjutkan hidup, penelitian justru menyebut balas dendam hanya akan membuat anda tetap tidak bahagia.*
Andhra memejamkan mata muak dengan kata yang membuatnya tidak nyaman. Entahlah, dia sendiri seperti tidak mengenali dirinya sendiri bahkan terkadang ucapan psikolog itu seperti heroin yang membuatnya kecanduan. Merasa baik sementara waktu namun kesudahannya menjadi candu. Dia ingin sembuh total dan merasa biasa saja saat mengingat kenangan masa lalunya, entah kapan. Saat dia sibuk dengan banyak pekerjaan dia akan dengan mudah melupakan peristiwa itu, tapi tubuhnya juga butuh istirahat. Dan setiap tidur panjang, dipenuhi oleh kenangan buruk.
Kini dia termenung setelah kepergian sang dokter.
__ADS_1
Andhra menghela nafas berulang kali melihat pantulan wajahnya di cermin rahang tegas, rambut coklat dan mata hitam kelam tajam seperti elang tidak mengurangi ketampanannya. Pelayan pria paruh baya yang membantunya hilang di balik pintu tak berapa lama datang lagi.
"Tuan, Tuan Ozan menunggu di bawah."
"Terima kasih, pak." Andhra menghembuskan nafasnya lagi. Sedangkan pria paruh baya berdoa dalam hati agar tuannya selalu di beri kebahagiaan, kemudahan dan keberkahan.
Di meja makan seperti biasa Ozan menunggu sang bos sambil membuat roti isi dan memakannya pelan.
Andhra duduk di hadapannya.
"Kenapa kalau sarapan di sini enak banget ya." Cengir Ozan tak berdosa.
*Pasti istrinya telat bangun* Andhra menggeleng dengan pikiran negatifnya yang sudah pasti tepat.
"Andhra bagaimana caranya membujuk wanita?" Andhra menyuapkan makanan kemulutnya. Sudah di pastikan sahabatnya pasti sedang bertengkar dengan sang istri lagi. Akhirnya sarapan pun mengungsi di rumah tetangga. Apakah berumah tangga serumit itu? Jika iya, Andhra siap menjomblo seumur hidup. Tapi juga tidak tahan akan tekanan dari mamanya.
"Arini merajuk kepadaku karena semalam aku nonton bola sampai pagi." Ozan menyeruput kopinya dan mulai meneruskan cerita.
"Ndhra ayolah, dia selalu mengabaikan aku. Bagaimana ini?" Andhra mengernyit, temannya ini galau apa kena busung lapar. Setiap berantem dengan istrinya selalu makan melampaui batas wajar.
*Dia yang punya bini, kenapa aku yang juga repot.*
"Berikan hadiah!" Andhra pernah melihat Rasya memberi hadiah Rena jika merajuk. Entah berguna atau tidak, saran itulah yang bertengger di otak cerdasnya sekarang.
*Aku jadi ingat rumah lagi padahal baru kemarin aku dari sana, aku akan pulang nanti ketika ulang tahun si kembar* batinnya.
Tak berapa lama ponselnya berdering ada nama si kembar di sana. Seperti biasa bertanya kabar sebelum pergi ke sekolah. Dengan ceria mereka menyampaikan pesta ulang tahun mereka. Andhra sesekali menanggapi Cyra yang dengan antusias menceritakan hari harinya dan sesekali juga di sambung oleh Candra. Masing masing dari mereka meminta kado ulang tahun yang di inginkan. Dan Andhra berjanji akan memenuhi segala permintaan adik adiknya.
Ritual pagi telah selesai. Tiba saatnya Andhra menjalankan hari harinya di sebuah gedung perkantoran yang membuat namanya di kenal banyak orang. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk dan mengucap salam di jawab dengan wajah datarnya. Mulutnya tertutup rapat gigi gingsul itu jarang sekali terlihat hanya mereka yang benar benar beruntung bisa melihatnya.
__ADS_1
"Tampan sekali bos kita ya." Satu karyawan komentar sambil menutup wajah bersemu merah miliknya.
"Iya, tapi pelit senyum."
"Aku pernah melihatnya tersenyum dan uhhh aku tidak bisa tidur semalaman." Si lebay berbadan lebar ikut ghibah.
"Kapan big bos tersenyum." Kedua temannya penasaran.
"Jangan bilang saat kamu terpleset waktu itu." Tebak teman satunya.
"Hehehe. Kok kamu tahu." Keduanya terkikik menahan tawa.
"Yahh biar bagaimanapun kan tetep aku melihat senyum itu." Masih terbayang di ingatan. Kedua temannya saling sikut dan ngacir duluan.
"Pagi pak Andhra. Pagi pak Ozan" Sekretaris menyambutnya dengan senyuman. Mengikuti langkah Andhra yang lebar sedang Ozan sejajar dengan Mella di belakang.
"Pagi Mel. Apa jadwalku pagi ini."
"Hari ini ada meeting jam delapan setelah itu, peninjauan proyek di Pemkab jam sepuluh dan setelah makan siang ada janji temu dengan klien kita dari Jakarta." Sampai di kursi kebesarannya. Andhra di sambut dengan setumpuk map di meja.
"Mana berkas yang di perlukan, dan jangan lupakan pesanku tadi malam, kosongkan semua jadwalku beberapa hari kedepannya. Aku hanya akan memeriksa lewat email."
"Tentu!" Jawab Mella antusias.
Ozan memperhatikan Mella dengan seksama.
"Sepertinya kau begitu bahagia?" Mella gelagapan karena ucapan Ozan tentu saja mengandung sindiran.
Kau pasti senang kan bosmu tidak ada di tempat?
__ADS_1
"Mana ada begitu."
To be continued