Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 69 Mencari Rossi


__ADS_3

Malam semakin sunyi, bak sang peri yang melamun kerinduan. Hadirnya datangkan sejuta rasa, mengikat erat sempurna dalam dada.


     🌠Andhra.


Pagi yang cukup cerah untuk memulai aktivitas pagi. Semua orang telah siap untuk berperang mencari nafkah. Mella telah datang lebih awal daripada biasanya. Dia berjalan santai menuju ruangan kerjanya.


"Pagi Bu Mella?" Sapa Lala membungkuk dengan hormat.


"Lalaaaa... Aku bukan ibumu!" tegur Mella sambil menunjuk ke arah Lala, tapi bibirnya tersenyum manis.


"Sebagai formalitas saja, Mel. Lagian, ini ada di lingkungan kantor, saya tidak ingin di cap sebagai karyawan yang tidak hormat sama atasannya." Lala berkelit, Mella membuang mukanya asal, antara haru dan juga gemas.


"Terserah padamu saja. Kau ini sungguh keras kepala." Mella melebarkan kedua tangannya. "Sini peluk dulu." Keduanya berpelukan ria beberapa saat.


"Bagaimana kabarmu, Mel?" Setelah mereka merenggangkan pelukannya.


"Aku baik-baik saja."


"Semua lancar kan? Tidak ada masalah yang berarti?"


"Ya! Semuanya lancar. Bahkan sebenarnya masalah yang saya hadapi tidaklah begitu rumit." Mella menjawab demikian sebab selama bertugas, dia merasa terbantu oleh kehadiran Ryoki.


"Itu terlihat jelas dari binar wajahmu yang bercahaya layaknya gadis tengah jatuh cinta pada seorang pria." Lala mengedipkan sebelah matanya.


"Apa kelihatan banget ya!" Mella tersenyum tapi berbeda dari yang sebelumnya. Lala bisa menangkap perubahan itu.


"Apakah ada masalah? Kau seperti orang yang tengah banyak pikiran," tanya Lala. Mella hanya menggeleng lemah.


"Tidak! Bukan seperti itu. Aku ... Aku hanya di telpon sama ibu Prita kemarin, jika OB yang bekerja di lantai ini mengundurkan diri. Padahal kau tahu sendiri kan, Kak Andhra sudah sangat nyaman dengan OB yang lama. Dan cukup sulit bagi kita untuk mencari penggantinya."


Sebenarnya, bukan itu masalah yang tengah dipikirkan oleh Mella, dia masih kepikiran tentang hatinya yang mulai bercabang. Dia sangat nyaman dengan bodyguard yang menemaninya selama tiga hari ini. Tapi Mella juga tidak sanggup untuk mengkhianati Ryo.


"Mella!" Lala mengguncang lembut bahu Mella. Karena melamun, Mella tidak mendengar.


"Bu Mella!" Lala lebih mengeraskan suara.


"Ah, iya! Ada apa? Maaf, saya ... Saya kurang fokus." Mella tersenyum kikuk.


"Begini, Bu! Ah, maaf Mella. Saya ingin mengatakan bahwa, ada saudara saya dari kampung. Beberapa hari yang lalu, dia berusaha untuk mencari pekerjaan. Saya juga bicara padanya, bahwa kemungkinan di kantor ini ada lowongan..."

__ADS_1


"Pria apa wanita!" Antusias Mella.


"Ya... Cowok! Dia suami dari teman saya. Dan kebetulan, dia menyewa kontrakan di samping kontrakan saya. Kasihan juga mereka, kemarin sampai tidak bisa membayar biaya rumah sakit untuk Opera persalinan istrinya. Untung saja ada orang dermawan yang membantunya," Lala bercerita dengan mata berkaca-kaca. Mella sampai terharu.


"Benarkah itu? Oke! Jika laki-laki ajak saja bertemu dengan kak Andhra besok. Semoga saja bos kita yang pemilih itu mau menerimanya." ucap Mella antusias.


"Siapa yang pemilih?" Mella sampai berlonjak kaget, sebab suara seseorang yang tanpa permisi telah berada tepat di belakang tubuhnya. Saat dia memutar badan, terlihat wajah datar Andhra, tanpa ekspresi, sehingga Mella tidak tahu, apakah Andhra marah atau tidak.


"Kak Andhra ...!"


"Selamat pagi Tuan Bos Andhra, Tuan Bos Ozan!" Lala menyapa dengan sopan.


"Apa? Kamu bilang saya pemilih?" Andhra menunjuk pada wajahnya sendiri. Mella jadi salah tingkah karena takut ketahuan telah mengatakan hal jelek tentang atasannya.


"Sudah kukatakan Bos, dia memang begitu, mana pernah dia bicara hal baik tentangmu." Ozan memprovokasi, Mella semakin tidak berkutik hanya menunduk sebagai bentuk rasa takut dan segan.


"Bos, Bu Mella hanya membicarakan tentang OB yang baru. Saya merekomendasikan seseorang sebagai OB yang baru." Lala segara menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Baru saja dia melakukan kesalahan. Mella yang ditanya malah dia yang jawab. Diliriknya Mella yang mengangguk dengan gaya bodoh.


"Pria atau wanita?"tanya Ozan. Andhra diam seribu bahasa, sambil memasukkan satu tangan ke dalam saku celana.


"Pri ... Pria, Bos. Dia adalah suami dari teman saya." jawab Lala.


"Saya sendiri belum tahu, Bos. Tapi, menurut saya dia adalah orang yang ulet dalam bekerja." Lala menyakinkan Bosnya.


Ozan menatap Lala dengan tatapan tajam, seolah sebagai isyarat bahwa tidak sembarang orang yang bisa keluar masuk ruangan bosnya itu. Ozan sangat detail saat memilihkan seorang OB. Lala melirik ke arah Mella yang tengah menggidikkan bahu acuh. Lala bahkan merasa sangat gugup saat Andhra malah melenggang pergi tanpa memberi jawaban apapun.


"Bukan hanya ulet dalam bekerja, tapi juga harus jujur dan amanah!" tandas Ozan, membuat jantung Lala hampir meloncat dari tempatnya. Bagaimana tidak, dia sudah sangat ketar-ketir saat Andhra hanya diam, bahkan tidak menjawab sapaan pagi darinya "Dan Kau! Mella! Siapakan berkas yang kau dapatkan kemarin. Kita akan membahasnya pagi ini." Ozan melenggang pergi setelah membungkuk sopan. Lala dan Mella pun melakukan hal yang sama sebagai tanda hormat.


"Hampir saja!" kata Mella setelah Ozan pergi


"Kau sih, punya mulut tidak bisa di kontrol."


"Namanya juga lagi apes. Jangan di marahi dong."


"Tapi Bos kita semakin hari semakin tampan ya!" Lala menekan pipinya yang merona.


"Jangan jatuh cinta padanya. Taruhannya nyawa." Mella mencolek dagu Lala dan pergi tanpa permisi.


"Sudah terlambat, bahkan aku sudah jatuh hati sejak pertama kali bertemu," lirih Lala sambil tersenyum sendiri. Dia segera memutar kepala ke kanan dan kiri. Berharap tidak ada yang mendengar ucapannya.

__ADS_1


~


~


Di restoran, wanita yang berkacamata hitam itu rupanya tengah melakukan pengintaian. Menurut kabar yang dia dengar, gadis pujaan hati seorang Andhra bekerja di restoran ini. Dengan mengantongi satu foto yang dikirim oleh anak buahnya, wanita itu berniat untuk menemui saingannya.


"Mengapa gadis itu tidak muncul juga. Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Andhra." Wanita itu mungkin sudah sangat gila. Dia pernah ditolak bahkan pernah diperlakukan sangat buruk oleh Andhra. Tapi entah apa yang merasuki jiwa dan pikirannya, dia tetap berniat mendapatkan Andhra, apapun yang terjadi.


Seorang waiters datang lagi padanya.


"Apakah Anda ingin memesan lagi?" Waiters yang cantik dan ramah itu melihat jika sejak wanita berkacamata itu datang, hanya memesan satu minuman saja.


"Tidak! Tapi bisakah saya bertemu dengan gadis yang bernama Rossi? Saya ingin bicara hal serius dengannya." Wanita itu sama sekali tidak melepas kacamatanya, tapi waiters perempuan bisa menilai dari bentuk pipi bulat bersih itu pastilah dia wanita yang cantik.


"Maaf, tapi Mbak Rossi tidak ada bekerja hari ini."


"Kenapa bisa begitu?" Wanita itu melepas kasar kacamatanya sendiri. Nada bicaranya juga terkesan seperti ingin marah, mungkin karena usahanya sia-sia. "Ah, maaf! Yang maksud adalah, jam berapa gadis yang bernama Rossi mulai masuk kerja." Nadanya lebih rendah dari yang tadi.


"Mbak Rossi biasanya akan kemari dalam pergantian sif malam."


Wanita itu memakai kacamata kembali. Dengan kasar meletakkan selembar uang seratus ribu dan pergi dengan angkuh. Waiters hanya geleng-geleng sambil mengangkat gelas bekas minuman.


"Cantik-cantik kok nggak punya etika. Mbok ya bilang permisi atau apa kek gitu, saya kan juga manusia." Omel waiters itu, hingga sampai di tempat pencucian


"Ngomel saja Mbak Nuri, kenapa?"


"Owh Mbak Rossi sudah ada di sini to?" Bukannya jawab malah balik nanya. Rossi menatap sembarang arah, kemudian menatap balik ke arah waiters cantik yang agak lemot itu.


"Saya di sini sejak pagi lho, bukannya kita sempat bertemu di ruang ganti tadi?" heran Rossi.


"Yah, saya lupa Mbak, padahal tadi ada yang datang nyariin mbak. Saya bilangnya malah Mbak Rossi datang jika pergantian sif malam."


"Untuk apa dia nyari saya?" Rossi mengingat jika tengah memiliki janji dengan seseorang, tapi sepertinya tidak punya.


"Ndak tahu sih. Dia hanya bilang, ingin bicara serius sama Mbak Rossi. Tapi saran saya, jangan temui orang itu. Sombongnya minta ampun, bahkan dia pergi tanpa bilang permisi sama saya. Saya yakin dia akan datang lagi lain waktu."


"Betulkah?" Rossi masih berpikir keras, siapakah kira-kira orang yang mencari dirinya.


To be Continued....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, berupa like, komen, share, dan vote juga hadiah. Terima kasih 😊


__ADS_2