
Siang ini, matahari bersinar terang menerangi bumi. Suasana panas juga terjadi di meja dalam sebuah restoran. Ada tiga orang yang sedang menikmati makan siang mereka dalam keheningan.
Satu orang wanita paruh baya, tidak pernah melepas kaca mata tebalnya, walaupun sudah berada di dalam ruangan. Dia juga langsung mengembalikan maskernya setelah selesai menyantap makan siang nya.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" akhirnya yang paling tua di antara mereka buka suara. Dia mencoba memperbaiki hubungan dengan anaknya, setelah sekian lama bersitegang.
"Sepertinya kita tidak sedekat itu, hingga kita harus mengetahui kabar masing-masing." Mella menjawab dengan ketus. Dia tidak nyaman dengan keadaan ini, di mana dia harus berhadapan dengan musuh yang menjelma menjadi keluarga. Ibu! Hah! Mungkin surga sudah berpindah tempat dari kakinya. Sehingga hanya neraka yang terlihat.
"Ayolah, nak! apakah kita akan seperti ini terus-menerus." Perempuan paruh baya itu berusaha membujuk dengan segala tipu daya yang di milikinya. Biar bagaimanapun dia tetap seorang ibu.
"Aku tahu apa yang, kau inginkan! kau ingin kehancuran kakakku, bukan?" gadis itu menatap sinis dua orang di hadapannya.
"Kau pintar sekali, Mella!" perempuan itu pandai bersikap manis terhadap orang lain, bahkan ponakannya itu juga beberapa kali terkecoh, tapi kali ini, Mella tidak akan membiarkan itu terjadi. Mella sudah memutuskan untuk bersikap penurut, hanya sebagai kamuflase saja, agar bisa mengorek informasi yang dia butuhkan dari dua perempuan di hadapannya.
"Bukankah, kau telah banyak mengajariku tentang itu, Tante!" Mella mengambil jus di atas meja dan menyedotnya pelan. Ternyata panasnya udara tidak hanya di luar, tetapi juga di dalam dadanya saat ini.
"Tidak usah bertele-tele, cepat selesaikan maksud dan tujuan kalian membawaku kemari. Aku tidak punya banyak waktu hari ini," kata Mella yang sudah mulai jengah. Beberapa kali dia memeriksa jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah, tujuan kita kemari adalah, ingin memberitahukan kepada dirimu, bahwa pernikahan kalian akan di laksanakan satu bulan lagi." Perempuan bernama Enda itu memberi tahu dengan senyum sinis yang menghiasi wajahnya.
"Lalu, apa yang kalian harapkan dari pernikahan ini?" Mella masih bersikap tenang.
"Tidak ada, tapi jika kau berani kabur dari pernikahan ini, kau bersiaplah untuk menanggung akibatnya." Enda mengancam dengan serius, dia bahkan telah menyusun rencana cadangan untuk memeras ponakannya itu.
"Kalian tidak usah khawatir soal itu, tapi jangan lakukan apapun terhadap ayah." Mella mulai mengemukakan tawarannya.
"Itu tergantung dari, kamu," kata Enda santai sambi menyedot minuman miliknya.
"Lalu, bagaimana dengan uang itu? Apakah sudah kau siapkan?" ucap wanita berkaca mata itu.
__ADS_1
Kali ini, Mella menghirup lebih banyak oksigen agar sedikit lebih tenang menghadapi dua manusia yang sedang memeras dirinya. Dadanya mendadak terasa sesak. Dahulu, dia begitu menyanyangi dan menghormati wanita yang telah melahirkannya itu, tapi semua berubah sejak Mella mengetahui apa yang di lakukan ibunya untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.
"Itu...aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Tapi, jika boleh aku tahu untuk apa uang sebanyak itu. Bukankah aku sudah mengirimkan uang setiap bulannya." Mella sangat yakin jika tidak semudah itu untuk membuka mulut mereka.
"Apa kau lupa, sebentar lagi kau akan menikah. Tentu, kami membutuhkan dana untuk persiapan, bukan?" sebuah jawaban yang logis untuk mengelabuhi gadis yang berada di hadapannya. Dan berharap ucapannya masih di percaya kali ini.
"Maaf! aku tetap tidak bisa memberikan apa yang kalian minta. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tegas Mella. Dia harus bersikap tegas, dia sangat lelah untuk selalu menjadi boneka kedua perempuan itu.
"Anak tidak tahu di untung, Kamu!" amarah wanita berkaca mata itu meledak juga akhirnya. Suaranya hingga membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
"Berani sekali, kau melawanku, hahh? apa kau ingin melihat bagaimana, aku telah membuat papa kesayangan mu itu menjerit-jerit seperti anjing gila." Wanita berkaca mata itu berkata sambil menuding wajah Mella. Urat di lehernya terlihat jelas menandakan bahwa, dia tidak bermain-main dengan ucapannya.
"Dia hanya perlu ini, agar tahu harus berbuat apa!" seringai licik muncul di wajah Enda, dia memutar video saat Rangga berada di rumah sakit.
"Stop!, Aku mohon hentikan itu." Mella menutup kedua telinganya. Tiba tiba suara jeritan Rangga di rumah sakit membuat hatinya merasa iba. Kondisi Rangga yang memilukan, mampu membuat hatinya yang kuat mendadak lemah untuk saat ini.
"Jadi, bagaimana? kalau kau pintar, pasti kau tidak akan menolak keinginan, Kami." Enda semakin menekan Mella.
"Beri aku waktu!" akhirnya Mella memutuskan.
"Tiga hari lagi," kata wanita berkaca mata itu. Sambil bangkit dari tempat duduknya. Dia hendak mencium kening putrinya, namun Mella memalingkan wajah.
"Tak perlu menunjukkan kepalsuanmu."
"Ini semua aku lakukan untuk kebaikanmu." Desis perempuan berkaca mata itu.
"Kau saja tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, jadi jangan gunakan kata kata itu untuk membujukku."
"Semoga harimu menyenangkan, Sayang." Bisik Enda dengan senyum manisnya, sambil membelai rambut Mella. Dulu, dia merasa hangat ketika mendapat perlakuan semacam itu, tapi sekarang semua berubah seratus delapan puluh derajat hanya rasa jijik dan benci yang menguasai hatinya.
__ADS_1
Mella sudah muak dengan semua yang di lakukan mamanya. Dia menangis sesenggukan setelah, seorang diri, tapi dia menyadari restoran itu bukan tempat yang tepat untuk dirinya menumpahkan air mata. Sesegera mungkin dia mengusap air matanya dan pergi dari sana.
Dari arah yang berbeda, pria berjaket hitam yang menguping dan juga merekam pembicaraan mereka bertiga juga bangkit dari duduknya, setelah mengirim beberapa video yang di dapatnya beberapa menit yang lalu.
Sampai di parkiran, pria itu tersenyum setelah melihat Mella naik ke dalam sebuah taksi.
Di kantor, Andhra nampak serius memandangi layar laptopnya. Persiapan untuk meeting siang ini sudah dia pelajari semuanya. Gawainya bergetar pertanda ada notifikasi yang masuk. Andhra menggeser laptopnya.
"Sudah aku duga, pasti merekalah dalang di balik semua ini. Aku tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka." Wajah Andhra tampak memerah.
Ozan yang menyelonong masuk mengalihkan perhatian Andhra.
"Maaf, aku tidak mengetuk pintu. Para investor sudah berada di ruang rapat. Tinggal menunggu anda saat ini."
Andhra hanya mengangguk saja. Ozan dengan sigap mengambil berkas yang berada di meja Andhra, lalu membawanya.
"Tunggu sebentar." Ozan meletakkan map itu di meja, lalu merapikan dasi yang di pakai oleh Andhra, karna letaknya kurang enak di pandang mata.
"Oke, perfect," ucapnya.
"Terima kasih, kau selalu bisa aku andalkan," menepuk bahu Ozan.
Andhra kini sudah sampai di ruang rapat. Semua orang berdiri menyambut kedatangan dirinya. Hingga ada satu orang membuatnya tercengang.
"Dia kenapa bisa ada di sini?" lirih Ozan, tapi terdengar jelas oleh Andhra.
TBC
Selamat membaca, semoga suka. Mohon bantuan like, Vote dan share ya! juga hadiahnya, agar author semangat. Terima kasih 😊🙏
__ADS_1