
Hampir setengah jam lamanya, Andhra tertidur pulas dipangkuan Rossi. Dengan sabar dan penuh kasih sayang wanita itu membelai lembut pria yang kini mengisi relung hatinya. Andhra memiliki pahatan yang sempurna, kulit wajah halus nan lembut, alis tebal, bulu mata yang cukup lentik untuk ukuran seorang pria, hidung mancung, bibir yang seksi dan rahang tegas yang menggugah keimanan.
Kau sangat tampan. Baru kali ini aku bisa puas menatap wajahmu. Sungguh menggoda. Batin Rossi seraya mengelus wajah tampan milik Andhra.
Semakin di pandang semakin membuat hati gerimis. Rasanya jantung Rossi semakin bertalu-talu tidak menentu.
"Pria Batu yang rupawan!" lirih Rossi kemudian terkikik sendiri akan tingkah konyolnya. Dia mencubit hidung Andhra, lalu beralih ke pipi, beralih lagi ke hidung, lalu mengusap rahang bawah dengan gemas, Rossi bahkan tidak segan mencubit mesra dagu Andhra, lalu beralih pada bibir.
Rossi berfantasi liar dengan bibir tebal nan seksi itu. Jemarinya mengusap lembut pada bibir bawah milik Andhra, terasa halus dan sedikit kenyal.
"Kau sungguh membuatku terpesona. Tidur saja terlihat tampan begini. Bagaimana rasanya bibir ini ya. Dan hidung ini, dia mancung dan keren," Rossi bicara sendiri sambil menyentuh setiap inci wajah Andhra.
Keseruan itu pun mendadak terhenti.
"Derita macam apa yang menimpa dirimu, sehingga bisa memiliki trauma yang mendalam." Masih membelai wajah Andhra, berganti ke alis, hidung lalu turun ke bibir begitulah berulangkali.
"Kau begitu kuat!"
Rossi teringat reaksi Andhra beberapa menit yang lalu. Bahkan Andhra tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat penyakit itu kambuh. Andhra mencengkeram kuat rambutnya sendiri dan berguling dengan wajah memerah. Menggeram seperti orang kerasukan. Bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya pada dinding saung.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu agar bisa sembuh." Mengusap-usap lagi bagian wajah Andhra, kadang Rossi tersenyum membayangkan awal pertemuan mereka sàat pulang ke desa.
"Ayo bangunlah, kenapa lama sekali kau tertidur." Rossi memencet hidung Andhra dan memainkannya.
Rossi teringat lagi akan kebrutalan Andhra ketika kambuh.
Untung saja Rossi menemukan botol obat yang tanpa sengaja jatuh saat Andhra berguling tadi. Dengan susah payah dia membantu Andhra agar bisa menelan obat dan menemaninya hingga tenang kembali.
"Hai, Pria Batu. Ayo... bangun!"
Mengapa aku seolah pernah berada dalam situasi seperti ini? Dejavu ini sering muncul ketika aku bersama Pria Batu. Siapa kau sebenarnya? Batin Rossi.
Rossi membelai lembut rambut Andhra, tatapannya jauh kelautan, tapi pikirannya terjerat kenangan masa kecil yang samar-samar mulai muncul.
"Ah, bagaimana bisa dia laki-laki itu? Aku tidak boleh berharap lebih. Bisa saja mereka adalah orang yang berbeda. Aku telah menerima Andhra dengan segala kekurangan padanya. Tidak baik jika menyimpan yang lainnya," gumam Rossi. Tatapannya kini tertuju pada wajah teduh Andhra. Bersamaan itu, ada sepasang kekasih yang melewati saung, nampak tersentak ketika tahu sudah ditempati oleh Rossi. Mereka kemudian pergi begitu saja dengan gaya malu-malu. Mungkin mereka mengira, bahwa saung ini tidak ada yang menempati.
__ADS_1
Rossi kembali menatap wajah Andhra, hingga suatu pergerakan terasa,"Kau sudah bangun?"
"Dimana ini?" Andhra mengerjapkan mata berulang kali, kemudian berusaha bangkit seperti orang linglung. Terakhir, dia habiskan pandangannya pada Rossi. "Kita ngapain berdua disini?" Andhra berhasil mendudukkan tubuhnya sejajar dengan Rossi.
"Pacaran lah! Ngapain lagi!" Entah kenapa Rossi lebih memilih menyembunyikan rasa empatinya lewat nada ketus. Selain itu, Rossi tidak ingin Andhra tidak nyaman pasca traumatik sindrom.
Berangsur-angsur ingatan Andhra membaik, dia teringat pada ulahnya saat mendorong Rossi.
"Maaf! Apa kau terluka?" Andhra memeriksa tubuh Rossi, dia melihat lebam di pergelangan tangan. "Jika aku dalam kondisi seperti tadi, sebaiknya kau pergi saja," lirih Andhra sambil meniup luka memar di pergelangan tangan Rossi, terakhir dia tinggalkan ciuman di sana. Rossi mendadak speechless dengan perlakuan Andhra.
"Hai, apa kau mendengar ku?"
"Dengar!" jawab Rossi sekenanya.
Bicara apa tadi ya? batin Rossi.
"Aku bisa saja melukaimu lebih dari ini!" Masih mengusap usap bagian yang lebam. Rossi mulai paham sekarang. Rupanya Andhra mencemaskan dirinya. "Jadi ingatlah! Bahwa kau akan meninggalkan diriku saat sakit ini kambuh."
"Tapi ... Aku tidak bisa. Aku tetap ingin tinggal."
Kau sangat cantik. Aku terperdaya olehmu sejak pertama kali bertemu. Kepribadianmu, tingkah lakumu semuanya begitu unik. Kau gadis yang memberi warna pada hidupku yang hampa. Teruslah disisiku hingga kita menua. Batin Andhra.
Suasana berubah canggung
"Andhra! Kang! Bagaimana jika kita menyusul yang lainnya?" kata Rossi sambil tersipu malu, sebab tatapan Andhra yang menusuk hingga ke jantung.
"Tidak!"
"Eh, mau ngapain kamu?" teriak Rossi gelagapan sendiri. Kepala Andhra mendarat sempurna di paha miliknya. Posisi apakah ini?
"Pacaran lah! Ngapain lagi!" Andhra bersikap manja seraya menarik lembut telapak tangan Rossi yang masih mematung di udara. "Elus kepalaku." titah sambil meletakkan tangan Rossi.
"Nggak mau!" Reflek saja Rossi menyembunyikan tangan ke balik punggung. "Aku mau bermain pasir dan bersenang-senang dengan Cyra."
"Hai ... Sama suami jangan membantah!" Tangannya terulur guna merebut tangan Rossi.
__ADS_1
"Eh, kapan kita nikah? Belom ye, masih calon!"
Tangan Rossi akhirnya dia gapai juga.
"Baiklah, calon istriku, kita belajar jadi pasangan yang serasi, Oke!" Andhra memejamkan mata, menikmati hembusan angin pantai yang kali ini membawa rasa bahagia.
"Tapi, aku sudah janji sama Cyra dan Candra. Akan membuat istana pasir bersama."
"Jika kau sudah memiliki janji dengan orang lain, kenapa kemari?"
"Karena aku mencarimu. Kau tidak ada diantara kami sebab itulah aku mencarimu," Andhra menatap lekat wajah Rossi, kembali pandangan keduanya saling mengunci.
"Apa kau khawatir padaku?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja khawatir, kau adalah calon suamiku."
"Apa hanya karena itu?"
Ayolah, katakan bahwa kau mencintaiku. Batin Andhra
"Kau selalu menatapku begitu?" Rossi membuang muka, bibir Andhra berkedut menahan tawa sebab reaksi Rossi yang terkesan malu-malu lucu "Hai, apa kau tidak takut matamu itu terkontaminasi oleh kecantikanku yang paripurna ini?" teriak Rossi kemudian berdiri dan lari menuju pantai.
"Lebih dari itu pun aku mau!" Lirih Andhra. Kemudian menyusul Rossi.
"Cyra, apa kau lihat kemana Abangmu pergi?" Gadis remaja itu menolehkan pandangannya sekilas, Rena tengah asyik makan es krim bersama Tuan Besar Abhimanyu.
Bukannya langsung menjawab, Cyra menyelusuri tepi pantai dengan mata telanjang. Di tepi yang lumayan jauh dari jangkauannya, dia melihat Andhra dan Rossi tengah memadu kasih.
"Mereka mungkin sedang melupakan kita." Cyra kembali menunduk setelah mengeluarkan uneg-unegnya.
Candra yang sejak tadi memperhatikan arah pandang Cyra juga tersenyum.
"Dia sudah besar, Ma! Jangan selalu di cari."
Mereka semua tanpa sengaja memandang ke arah yang sama. Andhra sudah mau pergi ke pantai, itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
To be Continued