Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 45


__ADS_3

"Tuan, meeting kedua dengan pihak Bravo, setengah jam lagi." Mella meletakkan sebuah map dan tablet di atas meja kerja Andhra.


"Ozan belum kembali?" Ya! Hari ini sebenarnya Ozan lah yang melakukan presentasi, tapi sepertinya, manusia satu itu tidak bisa di andalkan.


"Beliau mengabari bahwa istrinya sedang mengalami kontraksi, Tuan?" Ingatan Andhra kembali pada masa lalu, ibunya mengalami kontraksi hebat. Jantung Andhra tiba-tiba berdetak lebih cepat. Reflek Andhra menekan dada.


"Tuan, you're, Oke!"


Andhra tidak menjawab, tangannya terulur mengambil botol obat dari laci. Reflek Mella mengambil air minum, lalu membantu Andhra mengambilkan obat.


"Ini airnya, Tuan!" Andhra segera menelan pil itu, kemudian meneguk air hingga tandas. Andhra menyandarkan punggungnya pada kursi, perlahan keringat itu mulai berkurang.


"Apakah perlu saya panggilkan dokter?" Andhra menggeleng lemah.


"Terima kasih."


"Terhadap saudara tidak ada kata terima kasih." Mella tersenyum manis. "Kau sudah berlapang dada dengan mengakui diriku sebagai adikmu. Berarti kita adalah saudara" Mella bangga akan statusnya sebagai saudari Andhra.


Andhra masih bersandar pada kursi kerja memejamkan mata. "Persiapkan saja meeting nya. Kita akan ke sana." Mella tentu saja kecewa. Andhra seperti tidak menghiraukan perkataannya.


"Adek, kita pergi lima belas menit lagi." Senyum secerah matahari langsung menghiasai bibir Mella.


"Iya! Aku siapkan mobilnya."


Andhra malah terkekeh.


"Kenapa?"


"Kita meeting di restoran sebelah, kenapa harus memakai mobil?"


"Maaf! Lupa. Aku terlalu bahagia. Aku merasa kita memang sedarah." Kepolosan Mella inilah, yang membuat Andhra sangat menyanyangi adiknya. Meski kenyataannya, mereka terpisah sejak masih bayi.


"Jangan konyol!"


Mella tersenyum tulus. Dengan sengaja, Mella memeluk Andhra yang masih duduk di kursi.


"Terima kasih, karena sudah menganggap ku ada. Terima kasih, karena kau selalu melindungiku. Terima kasih, karena kamu, aku memiliki semangat untuk hidup lebih baik lagi."


"Kau sengaja mencuri kesempatan ya?" Mella merenggangkan pelukannya, tapi tidak untuk melepaskan.


"Aku terharu! Masa nggak boleh, peluk kakak sendiri juga."


"Kalau lipstik mu nempel gimana? Apa kata mereka nanti?" Ketus Andhra. Ih, Mella lagi bahagia juga malah di galakin.


"Maaf!" Memeriksa jas Andhra, Mella mengambil tissue, lalu mengelap air mata yang sempat menempel di jas Andhra.


"Dasar cengeng!" Mella hanya cengengesan.


Hening


Hening


"Apa Anda perlu sesuatu?"


"Tidak ada! Keluarlah!"


"Saya keluar dulu, panggil saja jika perlu sesuatu. Ini berkas yang harus Anda pelajari. Dan yang ini untuk Anda tanda tangani."

__ADS_1


"Hemmh!" Masih memejamkan mata. Antara ingin pergi dan ingin tinggal, Mella nampak cemas akan keadaan kakaknya. Beberapa kali membalikkan badan.


"Pergilah, aku baik-baik saja."


"A-aku aku, hanya ingin bilang sesuatu." Hening. "Kenapa Anda bisa mengalami penyakit seperti ini?" Mella secepat kilat mengusap kristal bening diujung mata.


"Pergilah ke ruangannmu!" Andhra menegakkan tubuhnya kembali. Warna merah di wajah, memudar.


Berbeda dengan Mella yang kembali berkecil hati. Sesungguhnya, dia ingin seperti saudara yang lain, dimana bisa berbagi cerita suka ataupun duka. Tapi, Mella cukup sadar diri, dia dan Andhra memiliki sekat yang begitu tebal hingga sangat sulit baginya untuk bisa berhubungan layaknya saudara normal.


"Baik!"


~


~


Di desa


"Tuan Farid, ini laporan hasil penjualan kita seminggu ini. Semua sudah saya masukkan ke dalam anggaran pendapatan dan pengeluaran."


Farid menerima pembukuan itu, memeriksa sebentar, lalu meletakkannya lagi.


"Mengapa hanya segini?"


"Maaf, Tuan! Dari desa sebelah kita mengalami kerugian. Mereka mengalami gangguan serius, penyakit flu burung, sepertinya belum juga lenyap dari desa itu. Berbagai usaha telah kami lakukan tapi...!"


"Aku akan pergi sendiri untuk menengoknya. Siapkan alat pengambilan sampel. Kita harus mengujinya kali ini." Farid curiga akan campur tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya, biasanya jenis penyakit akan hilang seiring pergantian musim, atau oleh penyemprotan insektisida.


Farid mulai melangkah menuju pintu, di saat itulah bersamaan dengan datangnya dua orang berbaju serba hitam.


"Tuan!"


"Kita bicarakan di dalam." Farid duduk lagi.


"Bagaimana?"


"Kami sudah menemukan pelakunya. Mereka mengaku, jika di suruh oleh orang bernama Dika." Farid mengingat siapa orang yang memiliki nama itu, ternyata adalah saingan bisnisnya, juga seseorang yang pernah menyukai istrinya, yaitu Dara.


"Ini hasil penyelidikan kami. Dan ini juga hasil sampel yang kami ambil kemarin. Mereka menyuntikkan zat kimia melalui pipa, sehingga seluruh ayam yang meminumnya mati." Farid geram dalam hati.


"Berapa persen barang yang sudah terkontaminasi?" Farid semakin geram dan juga pusing. Bagaimana dia akan mengembalikan daya produksi mereka, sedangkan hampir lima puluh persen mengalami kerugian.


"Apakah kau sudah memberi tahu Ozan?" Kedua orang itu sepakat berkata "Belum pak!"


"Kumpulkan semua bukti dan kita eksekusi mereka secepatnya. Berani sekali mereka bermain-main denganku. Jangan beritahu Ozan ataupun Andhra, kali ini, biar aku atasi sendiri. Ini sudah menjadi tanggung jawab ku. Jika mengalami kesulitan, aku sendiri yang akan menghubungi mereka."


"Baik, Pak."


~


~


Beberapa menit telah berlalu.


Kini Andhra di ikuti oleh Mella telah berjalan menuju sebuah restoran, cukup dengan hanya berjalan kaki, sebab tempatnya yang lumayan dekat. Andhra berjalan santai dengan satu tangan berada di saku.


"Tuan! Anda le...!" Mella terheran, sebab jalan yang mereka lalui lewat pintu samping. Andhra terus saja berjalan, sehingga mau tidak mau Mella juga memilih jalan yang sama. Tentu saja lebih dekat sebenarnya.

__ADS_1


Gubrak


"Jangan mendekat! Atau aku akan benar-benar bertindak kejam padamu."


"Aku tidak mau di sini. Siapapun tolong lah aku, hussh jangan mendekat. Kamu inih, kenapa bandel banget."


Meooong


Andhra memicingkan mata, sebuah pemandangan tak terduga membuat mood booster nya kembali membaik dalam sekejap. Seorang gadis yang beberapa hari ini selalu mengganggu kini berada di hadapannya dengan tingkah yang sangat konyol. 


Mengingatkan Andhra akan seseorang di masa lalu.


Flashback


"Aku tidak mau di sini." Teriak gadis kecil saat sampai di pinggir sebuah warung makan. Dia merapatkan tubuhnya pada Andhra. Di sana, ada seekor kucing yang sedang menjilati kakinya sendiri.


"Biar Akang yang mengusirnya ya." Andhra mencoba melepaskan diri dari gadis kecil, tapi malah semakin erat dia pegangan dan beberapa kali mulai bersin bersin.


Ozan kini yang bertindak mengusir kucing itu. "Sudah pergi Ndut kucing nya jangan takut lagi." Ozan geleng geleng kepala. Isy sudah nangkring, kini berada di gendongan Andhra. Betapa manjanya gadis gembul itu, yang tidak mau turun dari pangkuan Andhra.


"Turun ya Isy, macanku, biar Akang suapi!" Bujuk Andhra. Gadis yang dipanggil Isy malah mengeratkan tangannya. Alhasil Andhra makan dengan Isy yang tetap duduk manis di pangkuan.


"Ndut, Andhra biar makannya tenang kamu pindah sini gih." Ozan kasihan melihat kerepotan Andhra. Dan herannya lagi, kenapa temannya bisa begitu sabar menghadapi anak perempuan gendut itu.


"Nggak mau, ini hari terakhir aku sama Kang Andhra." Anak itu mulai berkaca kaca matanya. Andhra mengisyaratkan agar Ozan diam. Ozan cuma bisa geleng kepala. Heran juga sama temannya yang jika di bilang puber, kenapa harus sama anak kecil. Kalau di bilang seperti saudara, sepertinya tidak hanya sebatas itu. Ozan memijat pelipisnya sambil sibuk menyimpulkan


Flashback end


"Hai, kenapa malah bengong di sana? Bantu aku!" Pluk, sebuah ranting kering terlempar dan jatuh tepat mengenai kepala Andhra.


"Kauuuu!"


Berani sekali, gadis ini. Lihatlah kelakuannya, dia sampai memanjat dinding begitu.


"Apaaaa! Mau marah! Dasar batu. Tolong lah, usir kucing itu."


"Memangnya kenapa? Dia sangat manis." Ucap Andhra jail. Mella hampir saja melakukan perintah Rossi, tapi urung, karena kode dari Andhra, agar Mella pergi terlebih dahulu.


"Katakan pada Pak Vino, jika aku sedikit terlambat. Tapi, berikan mereka proposal kita terlebih dahulu."


Mella hanya mengangguk, tapi matanya menatap sendu ke arah Rossi.


"Maaf Ros!" Ucap Mella


"Kau, mengapa nggak membangkang sesekali." Bujuk Rossi.


"Tolonglah!" Rossi hampir menangis. Andhra tetap memberi kode agar Mella pergi.


"Janji, tolong dia ya! Kasihan." Mella pun berlalu.


"Kucing, kenapa kau begitu manis."


"Usir dia aaaa!" Teriak Rossi saat kucing itu di dekatkan padanya.


"Dia semanis dirimu."


"Aaa....nggak!"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2