
"Apa yang kalian lakukan di sini," sebuah suara membuat jantung Rossi berdetak lebih cepat.
Ibu kos rupanya menanyai dua gadis yang sedang berada di luar, tak jauh dari kamar Rossi berada.
Andhra dan Rossi hanya saling menatap satu dengan lainnya. Andhra masih santai di atas tempat tidur, sedangkan si empunya sudah panik setengah mati memeras otak cari alasan yang pantas untuk mengelabuhi ibu kos yang terkenal galak juga judes itu.
Tahu begini, aku akan memilih pulang ke rumah paman saja tadi. Lelaki ini! Sungguh menyebalkan.
"Hai, kau cepat sembunyi," ucap Rossi tanpa suara, beserta isyarat menggunakan tangannya. Sedangkan Andhra tersenyum devil menstransfer ciumannya lewat udara, membuat mata Rossi membulat sempurna.
"Dasar pria aneh, mau bikin aku dalam masalah saja," omel Rossi yang hanya bisa di dengar dia sendiri.
"Rossi, kenapa wajahmu nampak begitu merah?" tanya ibu kos mencurigai gelagat Rossi. "Gelagatmu jugaaa... mencurigakan."
Rossi baca mantra 'jangan ketahuan' beberapa kali.
"Saya_saya hanya, hanya kepanasan saja," jawab Rossi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.
*Ya, Tuhan selamatkanlah aku.* batin Rossi dalam hati. Pasalnya ibu kos itu kepalanya melongok ke dalam menelanjangi setiap sudut kamar Rossi.
Tidak ada siapapun di dalam. Tapi udaranya tidak begitu panas, mengapa dia berkeringat begitu?
"Cepat istirahat, sudah malam ini. Jangan begadang sampai larut, tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Bu kos dengan tegas. Matanya masih memindai setiap detail ruangan setelah di rasa semua aman terkendali. Rossi menghembuskan nafasnya lega. Menyenderkan punggungnya ke pintu sambil mengelus dada.
"Aaa....kamu!" Rossi berlonjak kaget di kalah sosok Andhra tepat berada di sampingnya, bersandar pada dinding dengan gaya elegan. Dan ya Tuhan garis bibirnya itu, membuat Rossi semakin mabuk kepayang.
"Jadi, kamu tadi," Rossi melongo.
*Dia bersembunyi di balik pintu,* pikir Rossi tanpa bisa mengatakannya. Andhra sekarang tepat di depan matanya, bahkan deru nafasnya membelai bulu kuduk Rossi membuatnya meremang.
Andhra mencuri cium saat Rossi belum sadar dari keterkejutannya. "Selamat malam dan mimpi indah, jangan lupa mimpikan aku malam ini," ucap Andhra tersenyum, lalu pergi dengan gaya coolnya. "Jika iya, secepatnya kita menikah?"
What? Dia langsung melamarku?
Andhra mencuri cium kembali, bahkan sedikit ********** pelan.
"Selamat malam." Rossi sungguh terlihat sangat bodoh. Mulutnya menganga sebab masih shock dengan petualangan nya barusan.
"Hai, mingkem!" Andhra menggodanya lagi dengan mengedipkan mata.
__ADS_1
"Kau!" Rossi telah sadar terkesiap. "Cepat pergi dari sini!"
Keduanya saling memegang bibir mereka masing-masing dengan dada yang bergejolak tak karuan.
Bibirku sudah tidak perawan lagi. Kamu harus tanggung jawab, Kang. Batin Rossi.
Dia sangat manis. Batin Andhra
"Apakah ini yang namanya cinta," Rossi langsung menelungkupkan wajahnya ke kasur. Berguling ke kanan lalu ke kiri hingga terlelap dengan senyum manis.
Beda dengan Andhra yang kini telah sampai di gerbang kos Rossi.
"Maaf, Tuan! bukankah anda yang mengantar mbak Rossi, tadi?" tanya satpam.
"Kalau iya kenapa?" jawab Andhra cuek. Karna khayalannya bersama Rossi hilang bersama sapaan satpam.
"Mana mobil, Tuan? Bukankah tadi Tuan membawa mobil," Andhra merutuki kebodohannya sebab dunia teralihkan gara gara Rossi.
"Sa_saya hanya mau mengecek apakah gerbangnya terbuka atau tidak," entah masuk akal atau tidak alasannya, yang pasti Andhra sudah menjawab. Dia bergegas kembali mengambil mobilnya.
"Orang kaya sekarang tingkahnya pada aneh aneh, ya!" pak satpam geleng kepala.
Makan malam kali ini terasa sangat lengkap, keluarga besar Abimanyu berkumpul semuanya.
"Jadi bagaimana dengan kerjasama kita dengan pihak investor asing, Ndra?" tanya Rasya setelah meletakkan sendok di meja. Dia mengambil tissue dan menyudahi santapannya.
Andhra yang makan dessert dan buah meletakkan kembali garpu diatas piring. "Semua berjalan dengan semestinya, Pa!. Walau sempat ada ketegangan di antara kami saat aku menolak melakukan transaksi di klub Veronica." ucap Andha datar.
Rasya mengembangkan bibirnya,"Ternyata kau begitu berhati-hati dalam bertindak, ya!" Rasya mengambil buah dan memakannya.
"Aku tidak mau jatuh di lubang yang sama," ucap Andhra memasukkan lagi potongan kiwi ke mulutnya, di susul potongan yang lain.
"Bagus, papa bangga kepadamu. Berhati hatilah menghadapi wanita licin itu. Kalau ada kesulitan, aku siap membantu dirimu," ucap Rasya lagi.
"Andhra!" Rena tidak lagi meneruskan ucapannya. Rasya memberi kode agar Rena tidak ikut campur dalam masalah ini. Rasya sangat tahu, jika Andhra memiliki keinginan, dia tidak akan berhenti sebelum mencapainya.
"Iya, Ma! katakanlah," Andhra menghentikan aktivitasnya.
"Pa, Ma!" Saya mau ke kamar dahulu, ada tugas yang belum aku selesaikan," Cyra lebih dulu meninggalkan meja. Dia cukup mengerti dengan kode yang Rena berikan.
__ADS_1
"Aku juga mau nge_time sama teman teman, Pa!" izin Candra yang diangguki oleh papanya.
"Andhra, mama ingin bicara sama, Kamu!" Rena mengkode Andhra untuk mengikutinya. Andhra mendongakkan kepalanya meminta penjelasan kepada Rasya apa ingin Rena bicarakan. Rasya hanya menggidikkan bahunya, tidak tahu, begitulah artinya kira-kira.
"Ma, apakah ada sesuatu hal yang penting, sehingga mama memanggilku?" Andhra kini duduk di samping Rena.
"Nak," Rena menjeda omongannya, dia sedikit bingung untuk mengutarakan maksud hatinya.
"Andhra, mama ingin bicara kepadamu, jika_," Rena masih sedikit enggan menyampaikannya, dia takut akan membuat Andhra semakin jauh darinya.
"Mama, katakan apa yang mama inginkan? Jika Andhra akan berusaha untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan Mama, semampu Andhra." Rena tak kuasa menahan haru di dadanya, dia membelai wajah anaknya dengan sayang.
"Terima kasih, Nak! Kau memang anak yang baik. Nak, jika mama meminta sesuatu darimu, apakah kau akan menurutinya? Mama ingin yang terbaik untuk anak Mama, Mama tidak punya maksud lain," Rena beralih menggenggam tangan Andhra.
"Katakanlah, Ma! apa yang ingin mama sampaikan," Andhra sudah tidak sabar dengan mamanya yang berbelit-belit.
"Mama ingin Andhra menikah dengan seorang gadis yang telah kami pilihkan untukmu. Mama berharap, kamu tidak menolaknya untuk kali ini. Sudah begitu banyak gadis yang kami sodorkan kepadamu, selalu saja kau tolak. Entah apa alasannya kami tidak pernah tahu. Namun kali ini, mama tidak menerima penolakan," genggaman tangan Rena semakin kuat, binar mata dan garis senyum di bibirnya membuat tubuh Andhra menegang.
*Haruskah aku mengatakan pada mama. Aku sudah punya pilihan. Seorang gadis yang baru saja aku kenal, tapi sudah menjadi bagian dari jiwaku. Menjadi detak jantung dan namanya mengalir di seluruh nadiku. Apakah aku sanggup menolak permintaan mama kali ini."* batin Andhra. Perasaannya galau saat ini membuatnya hanya bisa bungkam.
"Mama tahu, kamu tidak memiliki hubungan dengan siapapun, bukan? Bahkan kau selalu menolak untuk berdekatan dengan wanita. Umurmu sudah matang, Nak, sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu. Membina rumah tangga memiliki keluarga bahagia. Mama tidak ingin kamu selalu sendiri, mama tahu, pasti di ruang hatimu ada yang terasa sepi."
*Tapi, Ma. Aku sudah memberikan hatiku kepada seorang gadis yang aku sendiri belum yakin, dia mencintaiku atau tidak. Perasaan ini begitu kuat dan percaya pasti akan terbalas.* Sayangnya kata itu hanya terlontar di hati saja.
Bayangan kebersamaan dengan Rossi pun berkeliaran di otaknya. Wajah gadis itu menari di pelupuk mata. Ini pertama kalinya Andhra merasa nyaman dengan seorang gadis. Ada perasaan menggelitik yang membuatnya ingin terus bersama Rossi. Dan tadi malam, dia bahkan memiliki keinginan untuk tidur bersama Rossi.
"Andhra, kenapa kau diam saja, Nak? apa ada yang menggangu pikiranmu?" Rena menggoncang bahu anaknya. Membuat Andhra tersentak.
"Mama, aku akan memikirkannya," ucap Andhra sekenanya.
"Tapi mama butuh jawaban, Nak! Bukan pikiran?" desak Rena.
"Ma, berilah Andhra waktu untuk berpikir? Kita masih memiliki banyak waktu, iyakan, Nak," Andhra hanya mengangguk dengan perkataan Rasya, yang entah kapan munculnya.
Apa sebaiknya aku katakan saja isi hatiku ya!
"Ma! Sebenarnya Andhra...!"
To be Continued
__ADS_1
Thanks, sudah bersedia membaca karya receh author, mohon dukungannya, ya!