
Akhir pekan seperti biasa Rossi sudah berada di rumah. Rossi tidak bisa beraktivitas dengan baik sejak tiba di rumah.
"Istirahatlah dulu, Nak! Ayahmu sedang berada di masjid saat ini. Dia sudah menanti kepulanganmu sejak tadi pagi." Mendadak dada, pasokan udara menjadi sangat sedikit, Rossi bahkan kesulitan bernafas.
Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan oleh Cyra dan Candra, terkait kedatangan Andhra ke rumah ini? Batin Rossi. Jika iya, apa yang harus aku katakan nanti?
"Ros! Hai!" Rossi tersentak.
"Iya! Ibu?"
"Apa kau baik-baik saja," selidik Ibu. Reaksi Rossi bagaikan anak yang ketahuan bolos sekolah.
"Rossi baik-baik saja,Ibu. Mungkin kecapekan karena berdiri lama di bis tadi." Rossi nyengir kuda.
"Kan sudah Ibu bilang bawa motor saja lebih efisien. Kamu juga sampai rumah nggak terlalu petang."
"Emmh, itu, Rossi khawatir kalau berkendara terlalu jauh, takutnya capek dan...!"
"Sudah! jangan diteruskan. Itu nggak baik. Pamali tahu. Ucapan itu doa. Jadi biasakan mengucapkan yang baik-baik saja." Ibu berlalu pergi.
"Ibu kenapa sih! Aku kan mau bilang kalau Rossi ngantuk nggak bisa sampai cepat. Beda kalau naik bis, biarpun ngantuk atau bahkan tidur, masih jalan." Rossi garuk-garuk kepala lalu masuk kamar.
Beberapa menit kemudian, Ayah dan Rusdi datang dari Masjid.
"Sepertinya anak perempuan ayah sudah datang!" ucap Rusdi saat melihat sebuah tas punggung tergeletak di sofa.
"Iya! Dia baru saja datang. Biarkan dia bersih-bersih terlebih dahulu. Kalaupun dia istirahat, kan masih ada waktu esok." Ibu seakan mengerti tabiat suaminya yang tidak pernah menunda pekerjaan, mencoba membujuk. Ibu meletakkan dua gelas kopi di meja untuk Rusdi dan Heru.
"Jika dia keluar kamar, itu artinya masalah ini harus diluruskan malam ini juga," kekeh Ayah, mengambil segelas kopi di meja.
Flashback
"Apa yang mendasari niat, Nak Andhra untuk meminang atau mengkhitbah anak saya?"
"Ingin menghindari zina." Ayah menghembuskan nafasnya, sebenarnya dari sekian orang yang pernah datang, anak inilah yang jawabannya paling singkat.
Kebanyakan dari para lelaki, akan memuji kecantikan, kepintaran, kecerdasan dan kelebihan Rossi sebagi gadis sederhana nan cantik.
"Apa ada alasan lainnya? Tentu di kota banyak sekali gadis cantik dan menarik juga lebih pantas dari anak saya yang bisa Nak Andhra jadikan pendamping hidup. Kenapa harus memilih anak saya, Rossi?"
__ADS_1
"Karena dari sekian gadis, hanya dia yang berani mencuri sesuatu berharga dariku."
"Apa maksudmu? Anak saya tidak pernah melakukan hal buruk seperti yang Nak Andhra tuduhkan. Kami tidak pernah mengajarinya untuk mencuri. Bahkan di saat kami membutuhkannya sekalipun." Heru menggebu-gebu, tentu saja dia tidak percaya akan ucapan Andhra.
"Putri Anda mencuri hati saya."
Ayah tersenyum seringan kapas dihembuskan angin, hatinya mulai tersentuh, tapi demi melihat bagaimana cara pemuda ini menyakinkan dirinya, Heru tetap pura-pura berpikir. Sedangkan Andhra, memilih memandang ke sembarang arah.
"Maafkan saya jika lancang. Tapi hati dan pikiran saya selalu tertuju pada putri Anda." Andhra tersenyum mengingat saat-saat pertama kali bertemu Rossi. Rossi yang membuatnya jadi pria berbeda, Rossi yang mampu membuatnya jadi pria seutuhnya.
Heru menatap cara bicara Andhra, sesama pria, Heru mengerti apa makna dari kata-kata Andhra, Heru juga melihat, binar mata Andhra menunjukkan kesungguhan.
"Apa yang akan kau janjikan kepada putri saya?" tanya Heru lagi. Ingin memastikan bahwa anaknya akan berada di tangan pria yang tepat.
"Tidak ada!" Heru mengernyit heran. Mengapa jawaban pemuda ini selalu berbeda dari yang biasa dia dengar. Bukankah dia pria yang mapan dari keluarga terpandang. Kenapa tidak ada hal apapun yang akan dia berikan untuk putrinya?
"Kalau begitu, jangan lanjutkan niatmu. Sebab putriku tidak akan bersama orang yang pengecut sepertimu."
"Saya bukannya tidak sanggup untuk berjanji. Tapi, saya lebih takut jika suatu saat nanti saya mengingkarinya. Keinginan saya, bertekad pada satu hal, ketika mendapat restu, saya akan berusaha menjadi suami yang layak bagi putri Anda. Berusaha sekuat tenaga menjaga dan melindungi putri Anda, agar dia selalu merasa nyaman bersama saya."
"Hanya itu yang kau bisa? Tanpa usaha apapun?" Heru yang tadinya melangkah dua langkah saja, telah berdiam diri di tempat.
"Usaha? Sebatas itukah kemampuanmu?" Heru tersenyum devil.
"Saya bisa melakukan apapun. Bahkan mungkin menghadirkan seorang anak." Heru mengepalkan tangannya kuat.
"Berani kau berbuat demikian kepada putri saya, jangan harap saya akan beri kamu kesempatan untuk sekali saja bertemu dengan putri saya?"
"Koreksi pertanyaan Anda!" Heru malah mengernyit bingung.
"Sedari tadi, Anda terus memojokkan saya dengan pertanyaan konyol. Saya bukanlah manusia sempurna yang bisa melakukan semua hal. Sebab itulah, saya merasa tidak memiliki arti apapun. Harta saya, mungkin suatu saat akan habis, kehormatan dan kedudukan yang ada pada saya, bisa saja lenyap. Dan saya, saya bisa pergi kapan saja. Lalu apa yang akan saya janjikan?" Heru bergeming di tempat, tubuhnya bergetar. Seperti dia pernah mendengar kata-kata ini, tapi dimana?
"Bisakah kau menjaga hatimu untuk tetap setia? Hanya ada nama putriku di hatimu?" Heru mencoba tetap rileks, dia tidak boleh terpengaruh, atau kepalanya akan berdenyut sakit.
"Saya akan mengingatnya."
Heru menepuk bahu Andhra dengan sedikit kuat.
"Mengingat saja?" Protes Heru.
__ADS_1
"Tidak!"
"Apa kau berani melawan dunia untuk putriku?"
"Bahkan Malaikat maut pun akan saya lawan." Andhra menjawab mantap.
"Kamu sok sekali. Bukankah itu takdir setiap manusia? Datangnya pun tiada satu orangpun yang dapat mengira."
"Mohon Anda memaklumi saya yang jatuh cinta ini." Andhra menundukkan kepalanya. Merasa bahwa ada kekeliruan dalam ucapannya.
Haru tergelak beberapa kali. Merasa lucu akan reaksi Andhra. "Kau seperti anak kecil ketahuan mencuri permen." Heru masih tergelak.
"Saya akan bicara dengan putri saya. Tapi tidak janji untuk membujuk dirinya mau menikah denganmu. Saya hanya akan memberi tahu dirinya. Jika ada seorang pemuda datang bersama keluarganya untuk meminang."
"Terima kasih, saya rasa, itu sudah lebih dari cukup." jawab Andhra.
"Bagaimana jika putriku menolakmu?"
"Artinya kita tak berjodoh."
Heru kembali menepuk bahu Andhra hingga terguncang, bahkan merangkulnya.
Flashback off
"Nak, putri Ayah!" Heru menarik tangan anaknya, membawanya tenggelam kedalam dua tangan besar milik Heru. Kini hanya ada Heru dan Rossi. Kedua orang penghuni rumah lainnya, pura-pura pergi, padahal ya, mereka nguping di balik dinding.
"Pemuda yang pernah datang bersamamu kemarin malam datang bersama keluarganya guna meminang dirimu. Dia meminta izin kepada ayah untuk bisa masuk pada dunia putrinya."
Rossi menggigit bibir bawahnya, jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Sudah bisa dipastikan tangannya sedingin es kutub.
"Hai, anak ayah kenapa jadi tegang begitu? Apakah perlu ayah beri pelajaran pada pemuda itu? Sepertinya kau malah ketakutan begini? Apa dia melakukan suatu hal padamu?"
Rossi tidak mampu menjawab, bibirnya terasa seperti ditempeli lem. Lidahnya terasa kaku sehingga sulit digunakan untuk bicara. Dia hanya menggeleng beberapa kali.
"Sayang, Anak Ayah, bicaralah. Biasanya kau cerewet sekali." Rossi kembali menggeleng.
"Bagaimana ayah akan memberi keputusan jika kau tidak bicara?"
"Kemungkinan, ayah akan tolak saja pinangan Nak Andhra"
__ADS_1
To be Continued.....