Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
part 22


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah, wanita cantik dengan balutan dress ketat berwarna merah menyala tersenyum puas. Baru saja dia menjalankan misi jahatnya.


"Ma! Apa Mama melihat ponselku?" Tanya wanita lain yang lebih muda.


"Tuh!" Tunjuknya pada benda pipih yang tergeletak di atas meja. Wanita muda menatap curiga.


"Apa yang Mama melakukan sesuatu?"


"Tidak! Hanya sedikit hiburan pagi yang indah." Karena tidak percaya, wanita muda itu segera mengambil ponselnya.


"Ma- mama... Kenapa mama tega sekali?" Sebuah video telah terkirim melalui ponselnya.


"Mella, mama sudah katakan padamu. Bahwa apapun akan Mama lakukan agar keinginan Mama terwujud. Bahkan video itu, adalah senjata pamungkas kita." Bola mata Mella memanas seketika. Bukankah dia sudah menghapus video itu sebelumya, lalu mengapa bisa sampai ada di sini?


Getaran ponsel kembali membuat Mella tertegun. Notif yang membuat dada Mella berdesir hebat. Seratus juta adalah uang yang terkirim ke rekening Mamanya saat ini. Dan pengirimnya tentu saja Ozan.


Hentikan kegilaanmu ini, Mel! Atau aku akan benar-benar meluluhlantakkan keluargamu. Andhra mungkin bisa mentolerir dan baik hati padamu, tapi tidak denganku. Tunggu saja tanggal mainnya.


Mella meremas benda pipih miliknya. Senyum sinis yang memuakkan telah merusak pagi yang belum sepenuhnya sempurna.


"Mama tega! Mama telah menjual aku."


Mella terisak tertahan. Tidak! Air mata ini sungguh terlalu mahal untuk seorang ibu seperti Hasma.


"Mama akan segera pergi! Terima kasih uangnya." Melangkah santai. "Tenang saja, aku masih punya beberapa salinannya."


Mella bertekad akan segera menghapus file-file penting itu dari ponsel Hasma. Tunggu dulu, bagaimana bisa Hasma mengambil dokumen itu?


Di sebuah rumah mewah, Ozan kesal bukan main. Dia membanting tumpukan berkas baru saja dia periksa.


"Sayang, ada apa?"


"Gadis itu selalu membuat ulah! Dan Andhra, tetap saja lemah." Marah pada diri sendiri yang tak mampu melawan kehendak atasan.


"Kurasa buka seperti itu." Anita mengelus perutnya, mendekati Ozan, menepuk lembut bahu suaminya.


Tadinya mereka bercanda ria di ranjang, sebelum mendapatkan pesan khusus dari Andhra. Tapi setelah notif dengan nada khusus itu berbunyi, raut wajah Ozan berubah serius. Pria itupun langsung berjalan cepat menuju ruang kerjanya.


"Apa maksudmu?" Mengguncang bahu Anita.

__ADS_1


"Andhra adalah orang yang berhati-hati dalam segala hal. Dia pasti memiliki rencana di balik semua ini. Kegagalan memenjarakan Hasma, sudah pasti membuatnya waspada."


"Kuharap itu semua benar!"


"Jangan khawatir, hai... Kau yang mengenal Andhra lebih baik daripada diriku, mengapa harus terguncang begini?" Anita memeluk tubuh suaminya sekarang.


"Pintar sekali istriku ini. Ayo redam kemarahanku dengan kasih sayangmu." Menggendong tubuh istrinya ala bridal style.


"Hai, kau harus mandi untuk pergi ke kantor."


"Tidak! Aku perlu isi daya sebelum memulai hariku."


"Kau ini!" Anita memukul manja lengan kekar Ozan.


"Lagian juga masih terlalu pagi."


~


~


Rossi ngedumel sepanjang jalan. Bagaimana tidak coba. Awalnya dia berencana untuk malas-malasan guna menghabiskan waktu dengan rebahan. Taunya sang ayah mengajaknya jalan pagi. Dia semangat banget dong. Eh, faktanya, dia diajak ke ladang pinggir hutan untuk mengambil pisang.  Dan sialnya, tempatnya duduk dirampas paksa sama tuh dua tandan pisang. Sebab sang ayah lupa membawa karung, jadi kesusahan juga bila membawanya tanpa tandan. Bagian depan si pisang putri mengejek Rossi. Tempat duduk Rossi di masa kecil juga telah dirampas.


"Atau Rossi mau pangkuin ini pisang?" Tanya Ayah


"Bagaimana dengan Rossi, Ayah!" Rengek Rossi saat setandan pisang berukuran besar dan panjang merampas tempat duduknya. Ayah mengikat pisang itu dengan tali dari karet lalu mengaitkan dengan pegangan motor belakang.


"Jalan kaki saja. Deket juga! Rumah kita juga kelihatan tuh dari sini." Ayah menunjuk rumah yang terlihat atapnya saja kelihatan dekat, tapi sebenarnya jauh dari jangkauan. Iyalah, namanya juga pegunungan, harus turun baru naik lagi untuk mencapai tujuan.


"Ayahhh nanti jemput lagi ya!" Rengek Rossi lagi.


"Kalau ingat! Sudah jangan cengeng."


"Tempatku diambil sama dia!" Nggak jelas banget Rossi mirip bocah balita saja. Ayahnya sampai tergelak.


"Ayah sudah menghukumnya, lihatlah! Ayah ikat supaya tidak nakal lagi." Rossi kini yang melongo sebab ayahnya ganti menggoda dirinya. "Ayah duluan, kamu jangan lupa sedikit olahraga, biar perutnya tak berlemak." Ayah pergi tanpa menunggu jawaban Rossi.


Dulu banget iya, Rossi gendut. Tapi sekarang kan sudah langsung. Bobot saja tinggal empat puluh tujuh kg. Batin Rossi.


"Ayah tega banget ngeprang Rossi. Tau gini mending pakai sepeda sendiri aja tadi." Rossi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hodie. Menuruni lembah berliku dan naik lagi dengan perasaan kesal juga dongkol.

__ADS_1


Mending cari udara segar daripada langsung pulang.


Saat mencapai jalanan yang bercabang, Rossi memilih arah lain yang berlawanan dengan arah rumahnya.


"Kenapa jalanan di desa ini harus naik turun. Nggak ada yang lempeng gitu." Melalui tanjakan terakhir yang tidak terlalu tinggi, Rossi telah tempat strategis untuk menikmati keindahan desa. Hijau nan subur. Tumbuhan menari seirama matahari menyapa bumi. Embun berkilau seakan bersorak bahagia.


"Indah banget buat selfi nih!" Rossi memainkan ponsel beberapa kali. Mengambil gambar dirinya sendiri dengan berbagai gaya.


"Disana anak-anak pada ngapain?" Rossi melihat dari kejauhan aktivitas mereka. Menerbangkan layang-layang dengan penuh ceria. Tapi ada satu hal yang membuat mata Rossi melotot sempurna.


"Andhra, pria batu itu menerbangkan layang-layang?" Andhra tengah mencoba menerbangkan layangan, tapi kemudian mengotak atiknya lagi. Menerbangkan rendah dengan setengah berlari, lalu menurunkannya lagi.


Anak-anak bersuka ria mengikutinya. Tanpa terkendali lagi, Rossi mengambil beberapa gambar yang membuatnya cukup terpana.


"Biar batu, dia cukup hangat juga sama anak-anak." Rossi tersenyum sendiri. Menyaksikan semua itu dari kejauhan. Merasa cukup puas dengan hasil bidikannya, Rossi duduk bersila di atas rerumputan.


"Kemana mereka pergi?" Rossi kehilangan jejak Andhra dan anak-anak.


Tapi layangan itu masih terbang disana.


Dia menyusuri pinggiran terjal guna melihat dengan jelas. Hanya anak-anak saja yang masih betah berdiam diri di tempat tak jauh dari mereka berada tadi. "kemana perginya Dia?" Celingukan mencari. "Rossi, kau ini! Berhenti ngepoin pria batu itu. Yah! Jika orang lain menyebutnya si dingin. Aku lebih suka menyebutnya Si Batu. Pendiam dan susah di ajak bicara. Jika dingin adalah es yang bisa menyegarkan saat cuaca panas, dia adalah batu yang tetap menyebalkan walau musim mungkin berganti."


Mengapa jadi kesal sendiri sih. Mau pergi kemana kan urusannya dia. Mengapa Rossi jadi sewot sendiri.


Akhirnya Rossi tersenyum menertawakan kebodohannya.


Hingga tatapannya beralih pada bunga mekar berwarna putih yang menarik hati, mengalihkan perhatian Rossi. 


"Kau cantik sekali!" Tangan Rossi terulur, bermaksud memetik bunga dengan sejuta pesonanya. Naas, dia lupa jika batu yang dipijaknya berada tepat di atas tebing. Batu itu menggelinding jatuh bersama bongkahan tanah, otomatis kakinya pun ikut meluncur.


Desa ini memang begitu, berundak-undak sehingga banyak tebing rendah di sana sini.


"Arggghh!" Jatuh separuh badan Rossi. Bayangan cidera bahkan kematian membuat Rossi tak sanggup untuk membuka mata. Panik namun kemudian pasrah, terasa lebih baik.


Greeep.


"Aku tidak jadi jatuh?" Ucap Rossi bingung. Merasa ada yang menarik tangannya, dia membuka bola matanya.


"Kauuu!"

__ADS_1


"Mau naik atau tidak?"


TBC


__ADS_2