
"Inilah kamarmu!" Farid membuka lebar-lebar pintu untuk Ryoki. "Semoga kau betah, anggap saja rumah sendiri."
Ryoki memandang setiap detail kamar, sebuah ranjang berukuran sedang, satu lemari kaca setinggi orang dewasa, juga sebuah meja dan satu sofa muat dua orang duduk. Kamar yang nyaman untuk hunian sementara. Perlahan, Ryoki mendekati jendela, menatap ke kebun samping rumah, dimana ada beberapa pohon buah rambutan yang mulai kekuningan ada juga yang sudah merah menggoda. Di sebelahnya lagi, ada buah Kelengkeng, tapi buahnya masih sebesar biji kelereng.
"Kamar seperti ini, sudah terbilang mewah di desa. Kuharap kau memakluminya, kota dan desa memiliki perbedaan. Di sini tidak ada AC. Kamar mandi juga terpisah dari kamar ini." Farid memindai pergerakan Ryoki. Dia sudah menemukan sebuah petunjuk yang semakin menyakinkan dugaannya.
"Udaranya sejuk, lebih sejuk daripada AC." Ryoki menghirupnya dalam-dalam.
Farid mendekati Ryoki, menepuk pundak sahabatnya itu, namun sang empu tidak juga menoleh.
"Katakan kepadaku, mengapa kau sampai merubah penampilanmu begini. Apa Andhra yang menyuruhmu" Ryoki cukup terbengong, beberapa saat, sampai sebuah senyuman terbit.
"Kau memang tidak bisa dibohongi." Ryoki memutar tubuhnya, menghadap Farid. Dengan sengaja, dia membuka masker, namun tidak dengan kacamata hitam yang hampir saja menutup sebagian wajahnya itu, tompel buatan di bagian pipi, juga terlukis jelas di sana.
Percuma saja menyamar di hadapan Farid. Andhra dan Farid, sama-sama memiliki mata setajam elang. Jika sudah mengenal seseorang, mereka akan cukup sulit dikelabui.
"Seseorang telah menyamar menjadi diriku. Dia mengambil perusahaan dan juga kekasihku, Mella."
"Bagiamana bisa itu terjadi?" Farid menyandarkan tubuhnya pada jendela, hembusan angin terasa segar di punggung.
"Entahlah! Waktu itu, aku hendak menemui Andhra terkait pembahasan proyek di pulau K. Dan di saat aku hendak pulang. Ada sebuah mobil yang mengikutiku. Aku mencoba menghindar saat curiga jika tujuan mereka tidaklah baik. Ternyata benar! Mereka menculikku dan membawaku ke sebuah rumah tua di tengah hutan. Aku di sandera hingga berhari-hari, mereka menyiksa dan membuatku tidak berdaya. Untungnya, aku tidak dibunuh."
"Lalu, bagaimana kau bisa terlepas?"
"Aku selalu mencari kesempatan di saat mereka lengah. Aku mengambil salah satu ponsel mereka di suatu malam, saat mereka telah tidak sadarkan diri akibat minuman keras. Aku mencoba menghubungi Andhra. Sayangnya, signal di tengah hutan, sangatlah sulit, panggilanku pun kurang maksimal." Ryoki kini duduk di atas ranjang.
"Lalu, kau selamat?" Ryoki menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Eh, maksudku belum. Usahaku telah dipergoki. Mereka semakin semena-mena terhadapku. Penjagaan semakin di perketat. Bantuan belum juga aku dapatkan. Aku bersabar diri kembali. Hingga saat mereka berinisiatif untuk memindahkan diriku. Selama pemindahan itu, satu hari penuh aku tidak dikasih makan. Saat aku tanya, apa alasan mereka berbuat demikian padaku? Ternyata agar tubuhku melemah dan tidak melakukan perlawanan. Sayangnya, setelah mereka membeberkan fakta, tubuhku terasa bugar kembali. Keinginan untuk terlepas dari mereka mengalahkan rasa sakit dan lemah karena kelaparan."
"Bagaimana kau bisa terlepas?" Farid semakin penasaran.
"Waktu pemindahan itu, tubuhku melemah dan akhirnya pingsan. Mungkin beberapa jam lamanya, aku baru sadar dan menyadari, bahwa aku sudah berada di sebuah mobil. Aku telah sadar sesadar-sadarnya bahkan mendengar setiap kata dan juga rencana yang mereka buat. Namun, demi bisa lolos dari jeratan mereka, aku tetap berpura-pura pingsan. Hingga sebuah kesempatan datang padaku, mereka berhenti di sebuah klub malam, meninggalkan aku dalam keadaan terikat."
__ADS_1
"Terus?"
"Tentu saja aku berusaha melepaskan ikatan di tanganku, aku berusaha sekuat tenaga. Saat ikatan itu terlepas, masih menemukan jalan buntu. Mereka meninggalkan mobil dalam keadaan terkunci dari luar. Sungguh sial." Farid bukannya simpati, malah tergelak.
"Cukup cerdas juga penculik itu!" Komen Farid.
"Sialan, Luh." Umpat Ryoki.
"Hidup, Luh aja yang sial."
"Entahlah! Atau memang nasib buruk sedang menguji diriku. Aku putus asa saat hal itu terjadi, tapi semua itu Musnah bersama hadirnya salah satu dari mereka. Seseorang datang untuk mengambil sebuah tas. Aku segera mengambil ancang-ancang untuk menyerang, dengan sekali gerakan, pria itupun berhasil aku lumpuhkan. Aku juga sempat membuang tas itu ke wajahnya. Merampas kunci dari tangannya, lalu membawa mobil itu pergi."
"Aku mengira kau bakal duel maut sampai babak belur kayak Jacky Chan gitu!" Farid menyeringai sambil berlalu pergi.
Gila! Enak bener mulut nih Bocah, nggak ngerasain sih, bagaimana gentingnya kejadian itu.
"Wooi, Luh nggak mau dengerin lanjutannya?" Farid hampir saja melampaui pintu.
"Cepetan ceritain, atau aku tinggal."
"Lalu, Luh sampai rumah dengan selamat gitu?" Sahut Farid.
"Kagak! Gua kena tilang. Sebab saking bahagianya telah lolos dari para penjahat itu, aku sampai lupa bahwa lampu merah harusnya berhenti." Ryoki nyengir kuda, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gua sudah tahu endingnya, pasti Andhra nolongin Luh kan? Andhra sampai harus pulang cepat dengan naik helikopter sebab kekonyolan, Luh itu." Farid berdecak sebelum pergi meninggalkan Ryoki seorang diri.
"Jadi, sampai segitunya kakak ipar peduli padaku?" Ryoki bahagia sampai berlonjak.
~
~
~
__ADS_1
Andhra kini tengah gelisah menunggu makanannya datang. Sampai dia beberapa kali menanyakan hal itu pada Lala.
Kapan makanannya datang?
Kamu benar-benar pesan apa tidak? Lama sekali!
Kamu tidak salah tempat kan, pesannya?
Lala sampai bingung sendiri, sejak kapan bos itu berubah jadi cerewet begini. Kayak bakul jamu gendong aja. Lala bahkan sampai datang sendiri ke restoran tempat dia memesan makanan saking takutnya mendapat cercaan lagi.
"Bagaimana, Ros? Apakah sudah selesai?" Ketika Lala telah sampai di dapur restoran. Menu yang dimasak oleh Rossi telah terbungkus rapi dan siap antar.
"Ini! Semua masakan yang saya bisa." Lala sampai merasa bodoh sendiri. Ada dua menu karya Rossi yang Lala sendiri tidak mengerti apa namanya. Lala segera menutup kembali makanan yang sempat dia buka, memasukkan kembali ke dalam boks. Lala mengambil pesanan untuknya sendiri, sedangkan untuk Si Bos, sudah tentu tugas Rossi. Begitulah pekerjaan yang dia terima hari ini.
"Kita antar ke Presdir." Lala berjalan anggun di depan Rossi. Rossi sampai memandang takjub gaya jalan si karyawan bak model peraga busana. Rossi sampai berpikir untuk bisa memakai hak tinggi begitu suatu saat nanti.
Kini Rossi telah sampai di depan ruang pak Presdir. Rossi yang kurang bersemangat bertemu Andhra, memeras otak guna mendapatkan sebuah ide. Yak, ide pertama, hadang dulu mbak karyawan di hadapannya lalu jalankan misi.
"Mbak, kalau boleh, bisa nggak, Mbak saja yang bawa makanan ini?" Tanya Rossi hati-hati. Rossi tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali. Rossi sampai rela berjalan putar arah, agar bisa bicara berhadapan sama Lala.
Nggak sampai gitu juga kali Ros!
Lala berpikir beberapa lama, seolah memberi harapan kepada Rossi yang malang. Sayangnya, Lala tidak cukup nyali untuk berani menolak perintah sang Bos.
"Saya masih takut dipecat, jadi Mbak saja yang masuk ya?" Pinta Lala balik. Apalagi menu masakan Rossi membuatnya tidak percaya diri.
"Ayolah Mbak?" Lala menggeleng seperti anak kecil yang takut masuk ruang dokter gigi.
"Tapi nanti temenin yah! please! Temenin yah! Mau yah!"
Ayo dong bilang iya! Bilang mau
"Temenin kemana?"
__ADS_1
To be Continued....