Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 18


__ADS_3

Waktu semakin berlalu.


"Beneran apa saja? Jangan protes ya, jika tidak sesuai selera."


Duh! Mengapa kamu harus sekeren itu sih! Dan sejak kapan hodie itu sudah tergeletak di sana? Batin Rossi menggigit bibir bawahnya sendiri. Otot kekar Andhra kini terpampang jelas di depan mata.


Rossi mengerjap beberapa kali, mengagumi sosok Andhra yang ternyata memiliki ketampanan paripurna. Ah, sialan Dara, dia mengotori otak polosku dengan kata-katanya.


Dengan lihai Andhra meracik kopi bagaikan barista yang handal. Harum kopi yang begitu khas tercium kuat di indera penciuman.


"Dari baunya saja sudah terasa nikmat."


Komentar Rossi tanpa sadar. Seperti biasa pria dingin itu hanya tersenyum. Tapi mengapa kali ini senyumannya mampu membuat jantung Rossi terpompa lebih kuat. Mungkinkah dia kena serangan jantung? Owh tidak.


"Silahkan di nikmati!" Rossi mencium aroma kopi yang begitu kuat.


"Hemmh!ini...!" Rossi mencicipi kopi yang terasa begitu nikmat. Perpaduan dari pahit dan manis yang sangat pas di lidah. "Perfect" Dua jempol tanpa ragu Rossi berikan. "Ini lebih nikmat daripada buatan Paman." Rossi menghirup kopi itu dalam-dalam sebelum menyesapnya.


"Apa kau penjual kopi? Barista?"


Alis Andhra terangkat keduanya.


"Tidak!"


"Lalu?"


"Apa?"


"Maksudku, kau bekerja dimana?" Sungguh mengesalkan bicara dengan orang yang irit bicara. "Dari awal kita bertemu, kau belum mengatakan dimana kau bekerja."


"Di AGC."


"Sungguh? Kau bekerja di sana? Di bagian apa? Tapi aku tidak pernah melihat dirimu." Rossi mengetukkan jarinya di bibir. Bertepatan dengan itu juga, mata Andhra membulat. Tahi lalat yang berada tepat di bawah bibir tipis Rossi mengingatkan dirinya pada seseorang.


"Isy!" Batin Andhra menjerit. Kenangan lama yang tidak pernah luput dalam ingatan. "Tapi dia Rossi."


"Hai! Aku bertanya, tapi kau malah melamun." Hilang sudah penggalan memory tentang Isy.


"Ah, itu! Aku sebagai ...!"


"Pasti pegawai bagian! Iyakan?" Tebak Rossi sok tahu. Andhra memilih diam daripada repot menjelaskan yang belum tentu dipercaya oleh lawan bicaranya."Bagian apa?"


"Perintah!"


"Mana ada seperti itu?" Rossi nampak berpikir. "Apa bagian HRD?" Andhra hanya diam menanggapi. Biarkan saja Rossi berpetualang dalam asumsinya sendiri. "Hai, kau tidak menjawab. Bukankah pihak HRD yang memutuskan diterima atau tidaknya seorang karyawan yang berpotensi di bidangnya?" Kali ini Andhra mengangguk.


"Nah, kan betul jawabanku."


Andhra hanya menghembuskan nafas berat. Menyesap kopinya perlahan sambil memejamkan mata. Tanpa dia sadari, Rossi juga mengikuti kelakuannya.

__ADS_1


"Kau ini!"


"Hai, aku kira begitulah cara baru menikmati kopi." Keduanya tertawa bersama. Eh, bukan Rossi lah yang paling sibuk tertawa. Andhra hanya tergelak kecil.


Sedangkan Farid mulai mengomel sendiri karena tidak menemukan keberadaan Andhra dimanapun.


"Lihatlah, kau yang memberi tantangan pada gadis cerewet itu. Dia sekarang menjelma menjadi Rahwana." Omel Farid pada Dara. Keduanya berkeliling untuk mencari Andhra atas perintah Ibu.


"Mana ada Rahwana perempuan?"


"Iya! Dia Rahwani! Beraninya menculik kakakku saat pertama bertemu." Farid mencak-mencak.


"Ingat-ingat lagi coba! Tempat manalagi yang biasa didatangi kakak saat kemari?" Ucap Dara kemudian. "Kak Andhra tidak mungkin pergi jauh dari tempat ini. Pertama kali pulang, dia tidur di rumah kakek. Dan begitulah seterusnya."


"Ya! Ada satu tempat lagi yang belum kita datangi!" Mata Farid menatap jauh ke dinding tebing.


"Jangan katakan jika Rossi dibawa ke sana?" Keduanya saling melemparkan tatapan penuh selidik.


"Oke! Kita buktikan saja benar atau tidaknya." Farid menggandeng tangan erat tangan Dara.


"Jika benar dugaan kita, berarti rencana kita menjodohkan mereka bakal ada hasil." Ucap Dara bersemangat.


Farid diam namun membenarkan dalam hati. Sudah terlalu banyak gadis yang ditolak oleh Andhra.


"Kenapa diam? Masih saja cemburu?" Begitulah perempuan, sering berasumsi sendiri.


"Tidak!"


Pintu kedua terbuka, mereka semakin melangkah masuk ke dalam.


"Lihatlah! Ada bekas kopi di sini."


"Tuan!" Sapa seorang lelaki paruh baya yang mengurus rumah ini. Dia baru saja datang saat Andhra berjalan keluar untuk memperlihatkan halaman atas pada Rossi. Jika biasanya halaman rumah ada di depan, maka sangat berbeda dengan rumah ini. Halamannya berada tepat di atas.


"Pak Rif." Farid tersenyum ramah." Apakah bapak melihat Andhra kemari tadi?"


"Iya, Tuan Andhra baru saja keluar bersama seorang gadis." Jawab pak Rif tak kalah ramah "Mungkinkah itu calon istrinya."


"Dih, pak Rif kepo bener jadi orang." Sambar Dara. Pak Rif nampak tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah, aku akan ke sana." Pria paruh baya itupun menunduk dengan hormat.


"Permisi ya Pak!" Ucap Farid ramah.


"Ayo, sayang!"


Mereka berjalan beriringan menuju halaman atas.


"Lihatlah, mereka tampak asyik berdua!" Ucap Dara saat melihat Andhra dan Rossi nampak akur.

__ADS_1


Halaman yang cukup luas untuk sebuah taman hiburan. Taman ini akan dibuka untuk umum setiap hari Jum'at. Tapi perkebunan di sekelilingnya, selalu ramai setiap hari. Kebun kopi dan coklat adalah sumber penghasilan dari tanah ini. Tanah yang sengaja dibeli Andhra setelah dikabarkan sebagai bukit yang paling angker. Tapi nyatanya tidak! Itu hanyalah ulah Andhra dan kakek Suluh dahulu untuk mempertahankan beberapa pohon lindung di bagian hulu sungai. Lima pohon wungu yang telah tumbuh besar selama ratusan tahun lamanya. Pohon itu akan semakin indah jika musim berbunga.


"Kuharap ini awal yang baik." Dara berseloroh.


"Iya! Sebab jika gadis itu patah hati, tidak akan ada lagi yang akan membujuknya." Farid merangkul mesra pundak Dara.


"Kau menyindirku?" Dara memberengut kesal. Dia memang pernah patah hati sebab pertama kali jatuh cinta pada Andhra. Dan jawabannya, kalian sudah tahu pasti apa? Andhra menolak! Dan akhirnya dia pun menjalin hubungan dengan Farid. Awalnya Dara hanya ingin balas dendam kepada Andhra karena ditolak. Tapi nyatanya, dia jatuh cinta beneran.


Dan ketika cinta mereka diuji oleh orang ketiga? Lagi-lagi Andhra datang sebagai penyelamat.


"Benarkan? Aku bahkan sampai harus kena amukan Andhra!" Farid sok menghiba.


"Kau ini! Itukan masa lalu. Sekarang aku hanya cinta kepadamu."


"Dan aku sangat mencintai dirimu lebih besar dari yang kau tahu." Farid semakin mengeratkan pegangannya di bahu Dara. Semburat rona merah terlukis jelas di pipi Dara.


"Kau!" Dara memukul manja dada bidang Farid, sebelum akhirnya mereka berpelukan.


"Kalian kemari?" Andhra mengagetkan adegan mesra pasangan suami-istri itu. Dara segera melepaskan diri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kau, mengganggu saja!" Andhra berdehem saja.


"Kalian memang pasangan yang romantis. Patut di jadikan sebagai panutan!" Puji Rossi dengan riangnya.


"Norak!" Ledek Andhra melewati Farid.


"Hai, Kak! Ibu memasak makanan spesial untukmu. Aku kemari karena ingin mengajakmu sarapan bareng." Andhra menghentikan kakinya, bersamaan dengan perutnya yang mulai demo.


"Dimana?"


"Tempat biasa!" Itu artinya di rumah kakek Suluh. Andhra memutar arah. Diikuti oleh Rossi dan Dara.


"Hai, ada surga di bawah kita." Rossi menyenggol bahu Dara yang hanya tersenyum sebagai Jawaban.


"Bicara sesuatu! Issh, kau ketularan Kang Andhra."


"Kau akan lebih terkejut lagi saat menjadi istri iparku." Ucap Dara berjalan mendahului Rossi. Tentu saja Rossi semakin penasaran dibuatnya.


Hei...bukankah ini taman dekat jalanan yang biasa aku lalui. Pikir Rossi.


TBC


Aku tidak pernah mengira jika tempat ini sering aku lalui. Dan gerbang itu? What?


Penasaran kan, lewat manakah Rossi kali ini? Yang pasti bukan melalui jalan masuk yang tadi ya!


Author bermimpi punya rumah di bawah bukit dengan halaman dan kebun di atasnya. Tapi author bukanlah orang kaya. Jadi, jalan keluarnya adalah membangun rumah impian author dalam dunia halu.


Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak oke!

__ADS_1


__ADS_2