Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 21 siluet


__ADS_3

Jalanan sudah lebih ramai dari sebelumnya, beberapa orang yang akan bekerja di kebun karet sudah memulai aktivitas mereka. Kuat dan penuh semangat, begitulah mereka sebagai penyadap getah karet. Bermain dengan pisau melengkung untuk menyanyat setiap kulit pohon karet.


Andhra mengkayuh santai, sesekali dia menundukkan kepalanya sopan, sebagai rasa hormat kepada yang lebih tua. Namun, sifat ini akan hilang dengan sendirinya jika Andhra telah sampai di kota nanti, tepatnya saat berada di area gedung perkantoran. Dingin dan angkuh, itulah mungkin kata yang tepat untuk mendefinisikan.


"Ayo! Cepat ambil!"


"Nggak sampai, tahu!"


"Ah, berat Kamu! Kebanyakan dosa ya?" Si Gembul menggerakkan anggota tubuhnya untuk melepas rasa penat. Punggung sebagai pijakan, tentulah pegel.


"Sekali lagi. Ayo jongkok."


"Gantian dong! Berat tahu!"


" Tidak! Tubuhmu pasti berat. Diantara kita, kaulah yang paling besar. Ayo tunjukkan kekuatanmu."


Menepuk punggung anak yang terlihat paling gembul. Dengan muka ditekuk, anak itupun menurut.


Tiga anak laki-laki tengah berdebat untuk bisa menurunkan sebuah layangan yang rupanya tersangkut pada ranting sebuah pohon. Untuk ukuran anak-anak, pohon itu tentulah terlalu tinggi. Tapi bagi pria dewasa, mungkin sangatlah mudah untuk digapai.


Andhra menyaksikan mereka dengan rasa haru. Ingat akan masa kecilnya bersama Ozan. Dahulu, dia berjualan layangan di kota untuk bisa mendapatkan uang saku.


"Ayo cepat ambil! Kamu be-berat tahu! Eghhhh." Anak berbadan gemuk yang bertugas sebagai pijakan tengah protes. Kaos oblong nya basah oleh keringat.


"Belum sampai ... bagaimana cara ngambilnya? Kamu diamlah, kita bisa jatuh nanti." Si Gembul sudah mulai goyah.


"Ayo Meng, sedikit lagi itu sampai."


"Dari tadi kau hanya membual. Diamlah. Atau kami tidak mau mengambilkannya untukmu."


Sungguh sebuah ikatan pertemanan sejati. Mereka saling menyayangi satu dengan yang lainnya.


"Ayo lebih tegak lagi, a ...ku hampir jatuh!"Β  Anak kecil yang berada di atas oleng dan hampir saja terjatuh. Untungnya, ada tangan kokoh yang berhasil meraih tubuhnya.


"Kau kenapa, Meng? Apa berhasil?"


"Hai, apa kau jatuh Meng?" Si Gembul tidak merasakan beban apapun lagi. Yang di panggil Meng hanya terpukau oleh otot kekar pria yang kini berhasil mendaratkan tubuhnya kembali ke tanah.


"Waoooow, kuat dan kokoh!" Ucap anak yang menjadi penonton sejak tadi. Dia menekuk siku guna melihat otot tangannya, kemudian menepuk-nepuk sendiri otot lengannya yang datar, seolah membandingkan miliknya dengan milik Andhra.


Aku akan membesarkan ototku sehingga kekar seperti itu.


"Terima kasih Kak!" Ucap mereka serempak.


"Lain kali lebih hati-hati, dan kau hampir saja jatuh!" Andhra tersenyum, kemudian berdiri tegak setengah berjinjit guna meraih dahan dimana ada larangan itu tersangkut. Andhra mengambilkan layangan untuk anak-anak dengan gaya yang keren. "Lain kali, minta bantuan pada orang yang lebih dewasa untuk mengambilkannya." Nasihat Andhra.

__ADS_1


~


~


RossiπŸ’¦


"Hai anak gadis, ayo bangun! Atau jodohmu akan dipatok ayam nanti?" Teriak ibu di samping pintu kamar putrinya. Membawa pakaian kotor dari milik Rusdi yang berada tepat di samping kamar Rossi. Hari masih terlalu pagi mungkin untuk pegawai kantoran. Tapi bagi kebanyakan penduduk desa, jam seperti ini adalah waktu yang sangat baik untuk memulai aktivitas.


"Biarkan saja, Bu! Pasti jodohnya juga brewokan sebab diakan orangnya pemalas." Ejek Rusdi sambil menyemir sepatu kesayangannya.


Rossi mendudukkan bokongnya dengan malas. Dia tidak ada kewajiban untuk melakukan ibadah, tetap saja dipaksa bangun pagi.


"Iya! Ya! Sudah bangun ini" Jawabnya malas. Ibu dan Rusdi saling melemparkan senyum.


"Rossi, ikut ayah, Tidak?" Dari kecil sampai dewasa, ayahnya ini sama saja. Akan mengajak Rossi keliling kampung dengan mengendarai motor Astrea yang melegenda. "Kalau tidak, ayah tinggal lho!"


"Jangan ayah, kalau nangis nggak ada yang bikinin dia gulali. Soalnya pak Karta pensiun jualan gulali." Rusdi menyebut nama penjual gulali yang telah meninggal dua bulan lalu.


"Cuci muka dulu, Ayah!" Rossi beranjak dari tempat tidurnya dengan segara.


"Ndak usah terlalu bersih, dicuci sebanyak apapun masih tuh pipi tembemnya." Ledek Rusdi, seolah mengingatkan bahwa Rossi adalah anak gadis yang gendut dulunya.


Rossi secepat kilat melakukan ritualnya. Mandi kilat dan ganti roti kering yang tidak lagi penuh seperti kemarin. Rossi sudah merasa, mungkin hari ini akan terakhir kalinya dia menstruasi.


"Mana Ayah, Kak?" Tanya Rossi setelah berada di ruang tamu, Rossi telah siap dengan celana olahraga sebatas lutut dan hodie berwarna putih tulang. Rusdi juga telah berganti pakaian ternyata. Kini pria itu memakai setelan kemeja plus dasi, lalu ditutup dengan jaket kulit.


Motor gede yang kemarin digunakan untuk membonceng Rossi, sudah menanti di halaman rumah."Kakak ada rapat dadakan dengan klien pagi ini. Jadi, daripada nanti terlambat, kakak pilih pergi lebih awal." Jawab Rusdi sambil menyalakan mesin.


"Kakakmu sedang ada kerjaan di kota. Dan manti siang harus kembali lagi karena pekerjaan di vila pak Kepala desa." Sahut ibu dari dalam.


Tinggallah si astrea di halaman, tapi sang empunya tidak ada.


"Ayah dimana, Ibu?"


"Ada di garasi!" Ibu berjalan mendahului Rossi. Eh, juga mau ke garasi rupanya.


Apa yang dibawa ibu?


"Ayaaahhhh! Aku sudah siap." Rossi masuk ke dalam garasi. Betul saja, ayahnya berada di sana. Memeriksa ban motor lain yang terparkir rapi di garasi. Terhitung masih ada dua motor lagi. Motor baru milik ayah yang sengaja dibelikan oleh Rusdi dan satu lagi, motor matic milik Rossi.


Ibu sudah meletakkan barang yang dibawanya tadi, di pojokan. Eh, ternyata tempat perkakas ayah.


"Motornya kenapa Yah?"


"Seperti biasa, ayah hanya memanaskan mesinnya saja."

__ADS_1


"Kenapa jarang sekali dipakai?"


"Ah, dipakai juga bila kencan sama ibumu." Ayah mengerling menggoda Ibu yang langsung melotot gemas, kemudian melenggang pergi dengan wajah memerah. Rossi menutup mulutnya karena tak mampu menahan tawa. Kadar cinta orang tuanya semakin saja bertambah tiap hari.


"Anak ayah sudah siap?" Rossi mengangguk semangat.


"Let's go!"


"Ibuuuu kami pergi ya!" Hanya lambaian tangan yang mewakili.


"Wah, indahnya!" Rossi melihat matahari mulai muncul diantara perbukitan, dia mengabadikan momen ini melalui ponselnya. Tanpa sengaja bidikannya mengenai siluet tubuh seorang pria.


Gagahnya, siapa dia? Batin Rossi. Dari kejauhan siluet itu bagaikan titisan Dewa Rama yang datang untuk menyelamatkan Dewi Shinta.


"Kamu mikirin apa sih Ros!" Dia menggetok kepalanya sendiri. "Ayah kemana ya!"


Kan tak sadar bila sejak motor itu berhenti, Rossi sudah ditinggal pergi oleh ayahnya. Dasar Rossi.


"Ayaaahhhh!"


"Ngapain teriak! Ayah disini."


Ya Tuhan! Ayahnya sedang memangkas batang pisang. Setandan pisang putri sudah berada tak jauh dari kaki Ayah.


Jadi, ayah mengajakku karena mau ambil pisang. Whaaat! Bagaimana dengan nasib hodie putihku nanti?


"Butuh bantuan, Ayah?" Tawar Rossi. Pura-pura perhatian.


"Untuk yang ini tidak usah! Tapi entah yang berada di sebelah sana."


Adalagi? Terlihat di kejauhan batang pisang menjulang tinggi dengan tandannya yang panjang nan kokoh. Warna buahnya sudah mulai menguning sedikit bercahaya diterpa sinar jingga matahari yang mulai terbit.


"Ayaaahhhh! Tunggu!" Terlambat sudah. Rossi melamun tapi ayahnya telah sampai di pinggir jembatan.


"Nak Andhra! Untuk apa dia disini?"


Gumam Ayah.


"Siapa Yah!" Rossi kepo dengan gelagat ayahnya yang seperti mencari seseorang.


"Tidak ada!"


To be continued.....


Rossi baru sadar jika siluet pria masuk dalam ponselnya tadi berada di jembatan itu. Eh, pergi kemanakah orang itu?

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya. Mohon tinggalkan jejak. Bagi yang sudah mendukung, terima kasih banyak ya. Maafkan author jika terlambat membalas, sebab cuaca ini cukup membuat author kesulitan mendapatkan signal. Mohon dimaklumi ya


I love you all 😍😘😘😘😘


__ADS_2