Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 41


__ADS_3

"Ma, berilah Andhra waktu untuk berpikir? Kita masih memiliki banyak waktu, iyakan, Nak," Andhra hanya mengangguk dengan perkataan Rasya, yang entah kapan munculnya.


Apa sebaiknya aku katakan saja isi hatiku ya!


"Ma! Sebenarnya Andhra...!"


"Apa?"


Mengapa, aku merasa seolah menjadi tersangka tindak kejahatan ya?. Seperti kasus yang menimpaku ini terlalu rumit. Susah banget untuk sekedar curhat.


"Andhra ... Itu, Ma! Anu.


Rena dan Rasya saling bersitatap. Mereka penasaran sekali dengan apa yang hendak Andhra katakan. Memilih sabar menunggu kelanjutan Kalimat dari bibir Andhra.


"Andhra ... Anu!"


"Anu apa?"


"Gimana ngomongnya ya, Ma!"


Duh, gini banget ya, mau jujur saja tentang perasaan. Lebih gampang interview di hadapan para investor atau memilih berdebat dengan komisaris daripada curhat tentang wanita pada mama.


Rena mulai jengah menunggu Andhra yang malah menggaruk tengkuknya sambil senyum aneh. Tidak jelas. Membuang waktu.


"Kau ini, mirip banget sama pria yang mau nembak cewek. Grogi gitu."Celetuk Rasya setengah mengejek. Rasya kemudian minum air putih.


Rena kembali menutup mulut, sebab ucapannya di dahului oleh sang suami. Andhra tersedak oleh ludahnya sendiri. Membuat Rena mengulum senyum, kemudian tergelak kecil


"Minum ini dulu, Sayang!" Menuangkan air putih lalu menyerahkan pada Andhra, sedikit menepuk punggung Andhra agar batuknya reda.


"Jadi, ini tentang seorang gadis?" Rena semakin menggoda Andhra, mengedipkan sebelah mata dengan sangat jail. 


Duh, Mama.


"Siapa namanya? Alamatnya? Bolehkah Mama kenalan dengan dirinya? Mama jadi tidak sabar untuk kembali membuat pesta. Kebetulan sekali ada paket khusus dari restoran teman mama, jika catering disana ada diskon dua puluh persen." Rena begitu girang sampai menarik kursi dan duduk begitu dekat dengan Andhra.


"Emh uhuk uhuk uhuk!"


"Hati-hati, Sayang, jangan panik begitu. Kau ini! Manis sekali. Mengatakan pada mama saja, kau tidak bisa. Apakah sebegitu berharganya dia?" Goda Rena tanpa ampun. Andhra menghela nafas berat karenanya. "Secantik apa dia?"


"Sayang, Andhra yang jatuh cinta tapi kau yang begitu heboh seperti kau yang akan menikah. Sampai-sampai kau sudah tidak pedulikan aku lagi." Rasya pura-pura merajuk.


"Ah, iya! Tepat sekali! Pernikahan. Aku sampai melupakan hal itu. Andhra, katakan saja kapan kau akan melamarnya." Rena sungguh bersemangat. Sampai Andhra dibuat sesak nafas karenanya.


"Maa...!" Andhra memelas. Seolah memberi kode bahwa dia sedang tidak baik kali ini.


"Oke! Katakan pada Mama seperti apa gadisnya?"


"Cantik!" Ucap Andhra keceplosan. Ah, kenangan malam itu sangat sulit untuk dilupakan. Andhra tersenyum sendiri, Rena sampai mencolek tangan Rasya seolah mengatakan bahwa anak mereka telah jatuh cinta.


"Lalu."

__ADS_1


"Dia baik dan menawan."


"Menawan hati. Dan senyumnya memabukkan." Tebak Rasya.


"Sangat, bahkan aku tak jemu untuk selalu menatapnya." Tumpak Andhra dengan wajah merona. Malukah dia? Rena sampai terkekeh geli. Segara Rasya memberi kode agar istrinya bisa sadar situasi.


"Hemmh, lalu!" Rena melihat binar mata Andhra yang menyiratkan rasa cinta. Rena sangat bersyukur, akhirnya doanya terkabul. Andhra mau membuka pintu hatinya untuk seorang wanita.


"Ma....!"


Menyadari bahwa dia telah digoda oleh dua orang dihadapannya.


"Oke-oke!"


"Apakah ada masalah?"


Andhra diam beberapa lama.


"Tidak!"


"Lalu?"


"Andhra bingung harus memulainya dari mana!"


"Memang sudah sampai sejauh mana?" Andhra terlihat lesu.


"Tunggu-tunggu. Apa yang kau maksud adalah gadis kemarin malam itu?" Rena mulai paham. Sedangkan Rasya, sudah bisa menebak sedari tadi, tapi urung dia tanyakan.


"Dia memang gadis yang cantik dan sopan. Tapi....!"


"Apa Ma...!" Rena hanya melirik kedua orang yang tampak tegang dengan senyum jail menggoda.


Hening


Sedangkan gadis kecil yang dari tadi menguping di balik pintu dapur, meninggalkan tempat itu dengan hati bahagia. Rupanya dia telah menemukan sebuah harta karun yang begitu berharga.


Aku yakin sekali, jika yang dimaksud mereka adalah kak Rossi.


"Sepertinya aku harus membuat rencana." Menggigit bibir bawahnya. "Baiklah, kita mulai dari yang paling sederhana dan masuk akal."


Mengetuk pelipisnya dengan jari-jari lentik.


Yes, menemukan ide.


Gadis itu pun segera mengambil ponselnya dari saku celana dan mengetik sesuatu. "Rencana pertama sudah selesai."  Lalu, dia berjalan, untuk berniat kembali ke kamar.


Saat melewati sebuah ruangan khusus studio keluarga, berisi foto-foto keluarga. Juga menyimpan semua aset kenangan keluarga, baik berupa album foto yang terjajar rapi di rak,lukisan anggota keluarga, beberapa kaset video dan juga chip dan lainnya.


Disanalah, ada berpuluh-puluh, atau bahkan ratusan kado tersusun rapi. Cyra baru menyadari, bahwa kado ini belum sempat dia buka. Banyak kiriman dari para saudara. Kalau dari teman, dia hanya memiliki satu dua saja. Paling banyak adalah kado milik Candra, tentunya dari para fans. Apalagi, saudaranya itu sangat malas untuk buka kado. Dasar cowok.


Sedangkan Cyra, memilih kado yang diberikan oleh Andhra, dia buka pertama kalinya. Isinya adalah sebuah boneka dan ada lagi sebuah benda kecil penyimpan data yang diyakini Cyra, pasti sebuah tulisan mengenai hidup Andhra. Cyra segera menyimpannya ke saku.

__ADS_1


Aku akan melihatnya nanti di kamar saja.


Hah, kado segini banyak, tapi malas untuk membukanya. Cyra mendesah pelan. Apalagi ada sebuah note di sebuah kertas menempel pada kaca.


BUKA KADO, AKU WAKILKAN PADAMU SAJA


I LOVE YOU MY SISTER.


"Dasar pemalas. Dia tidak memikirkan apa, jika para fansnya itu tahu, pasti mereka akan mengulitiku hidup-hidup."


Sekolah menengah atas nanti, aku tidak akan mau satu sekolahan dengannya.


Hening.


"Aku ada ide. Bagaimana jika aku nanti sekolah saja melalui jalur beasiswa. Ah! Jika papa tahu, aku pasti akan digantung."


"Sudahlah, fokus saja memporak-porandakan tempat ini!" Cyra mengambil satu buah kado kotak berukuran kecil berwarna silver yang menurutnya menarik. Mengocoknya pelan, tidak ada suaranya. Hanya suara usuk usuk.


Penasaran, Cyra membukanya. Hanya beberapa lembaran kertas yang di gulung. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil berbentuk kaca.


"Cantik sekali," batin Cyra. Memandang takjub sebuah kotak kaca berisi miniatur sebuah masjid.


"Barokallahu fi Umrik. Semoga keberkahan dan perlindungan Allah SWT selalu menyertaimu.


Jika takdir memang berpihak, tentu kita akan dipertemukan kembali dalam ikatan suci.


Dari orang mengagumimu dalam diam. Jika sudah saatnya tiba, aku akan menampakkan diri. Tumbuhlah dengan baik, doaku akan selalu menyertaimu.


"Untuk siapa ini?"


Cyra membolak-balik kertas yang lain, tidak ada tulisan apapun. "Aneh, siapa yang mengirim?" Cyra membalik kotak itu, kosong. Kembali mengguncang kotak kaca, seperti hujan salju di sekitar masjid. Dan warnanya berubah warna-warni menyala sempurna. Ada tulisan nama Cyra di sana. Kilau atap masjid semakin indah saja, kristal dibagian ujungnya bersinar terang saat dipantulkan cahaya. Beberapa menit kemudian, kembali redup.


Nama Cyra semakin membesar saat dipantulkan. Dihiasi oleh pantulan cahaya indah yang memenuhi kamar. Cyra berinisiatif untuk mematikan lampu. Kotak kaca itu, memantulkan sinar saat gelap. Cyra mengguncangnya lagi saat mati.


"Indah sekali!" Ucap Cyra berlama-lama memandang indahnya benda kaca yang dia pegang. "Tapi tidak ada namanya, siapa yang memberikan ini untukku ya?"


"Cyraaaa!"


"Iya Ma!" Segera Cyra menyalakan lampu. "Ada apa Ma!" Rena segera menarik tangan putrinya, lalu mengajak Cyra sedikit menjauh dari ruangan itu.


"Sini, mama mau nanya sama kamu! Siapa nama perempuan yang diajak dansa sama kakakmu Andhra kemarin?"


Mama ini gimana sih, bukannya sudah aku kenalkan kemarin? Batin Cyra.


"Memangnya kenapa, Ma?"


"Mama sebenarnya sudah punya calon buat kakakmu Andhra!"


Deg


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2