Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Kampung Kembang


__ADS_3

Bisa bisanya tuh orang mengadu ke ayah," Rossi ngedumel sendiri sambil memegangi perutnya yang masih sedikit nyeri. Beberapa kali juga bersin bersin. "Entah kesalahan apa yang ku perbuat oh Tuhan kenapa setiap datang bulan harus flu. Untung cuma tiga hari kalau datang bulan coba kalau kayak orang orang yang katanya sampai tujuh hari," gerutunya lagi sambil mengganti seprai.


Ibunya yang sedari tadi melihat kelakuan putrinya geleng geleng kepala. "Jadi anak perempuan itu, harus banyak banyak belajar sabar! Jangan sedikit sedikit menggerutu dan marah marah," meletakkan cangkir di meja lalu mendekati putrinya yang sudah duduk di ranjang. Rupanya sang putri telah selesai berberes.


"Habisnya tuh orang nyebelin, Bu!"  manja Rossi memeluk ibunya erat.


"Tidak biasanya lho kamu gini sama orang! uring uringan tidak jelas. Dan pertama ketemu malah langsung diajak pulang. Apa anak ibu ini baik baik saja hemmh?" mengelus pipi anaknya, Rossi semakin erat memeluk meletakkan kepalanya di bahu sang ibu.


"Aku baik baik saja, bu. Kenapa seh ibu malah nanya kayak gitu?" Rossi cemberut menatap mata ibunya lalu meletakkan kepalanya lagi seperti semula.


"Kamu sudah dewasa, Nak. Sudah wajar jika mengalami yang namanya tertarik dengan lawan jenis, ibunya tersenyum menundukkan kepalanya ingin melihat reaksi putrinya.


"Ibu bicara apa, seh! aku hanya ingin punya banyak teman kok gitu aja sudah. Lagian orangnya juga baik."


"Dari mana, kamu bisa menyimpulkan dia orang baik?" selidik ibunya, sebab setahunya Rossi tidak akan secepat ini bisa akur dengan orang lain apalagi lawan jenis.


"Dia tidak seperti kebanyakan pria ibu. Dia tidak mudah tergoda dengan perempuan." Rossi tersenyum sendiri, mengingat tingkah konyolnya saat di bis. Dia juga semakin penasaran dengan sosok Andhra yang begitu dingin.


"Apa, kau sudah mengetesnya," tebak ibu lagi. Rossi hanya mengangguk pelan lalu menceritakan apa yang di lakukannya terhadap Andhra saat berada di bis.


"Dasar anak nakal, kamu ya." Ibu mencubit pipi anaknya pelan. Keduanya pun berpelukan erat.


"Ibu, apakah dia orang yang baik menurut, ibu!" entah kenapa kata kata itu terlontar begitu saja tanpa bisa di rem. Rossi menutup mulutnya sendiri pipinya merona.


"Anakku, dengarkan ibu." menangkup kedua pipi anaknya. "Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan satu kali bertemu, Nak. Tapi yakinlah pada jalan takdir yang Allah SWT gariskan. Yakinlah jika memang dia berjodoh dengan, kamu maka Tuhan akan mempertemukan kalian di lain kesempatan dan menyatukan kalian dengan jalan di buat Nya." Ibu kini mencium puncak kening anaknya lembut. Lalu menggenggam tangan putrinya.


"Tapi, ingat, pesanku, Nak! Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya saja, bisa jadi dia akan menjadi orang kamu benci suatu saat nanti. Dan bencilah orang yang kamu benci sewajarnya saja, bisa jadi dia akan menjadi orang yang kamu cintai suatu saat nanti." Rossi memeluk ibunya lagi erat.


"Terima kasih, ibu!"  dengan senang hati Ibu membalas pelukan putrinya.


"Wah, ada yang lagi manja manjaan ini."  Rusdi bersedekap sambil bersandar pada pintu kamar Rossi.

__ADS_1


"Apa seh, Kak!" Rossi memonyongkan bibirnya, tapi kemudian tersenyum.


"Gabung sini, kak!" Rossi menepuk ranjang di sampingnya. Rusdi tersenyum lalu mendekat.


"Apa ayah sudah pergi?" tanya Rossi saat kakaknya sudah duduk.


"Sudah, sekalian dengan calon mantunya." Rusdi tertawa setelah mengatakan itu, menelisik raut wajah adiknya yang berubah merona.


"Aku lihat ada banyak bunga di wajahmu itu." Rusdi semakin menggoda adiknya.


"Ibu...lihatlah anak ibu yang paling tampan itu menggodaku," rajuk Rossi dengan manjanya.


"Kakak, diamlah adikmu ini sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya."malah ikut menggoda.


"Ibu...!" Rossi kesal dengan ulah ibu dan Rusdi yang selalu kompak saat menggoda dirinya.


"Tau begini kita kirim dia kesana sejak  SMA saja, bu. Biar nggak perawan tua kayak gini." Rusdi masih saja meledek.


"Aku masih muda tauk. Gurunya aja yang aneh harusnya kelas satu malah di masukin kelas tiga." Rossi cemberut. 


"Ya kamunya juga! bentuk badan bikin orang salah kira," ledek Rusdi lagi.


"Tapi bagus juga seh, kalau tidak begitu kita tidak akan satu kelas."


"Iya sampai perguruan tinggi juga di persulit gara gara umur," ucap Rossi tergelak sendiri.


"Tapi, aku bangga sama, kamu dek!" mengusap kepala adiknya sayang.


"Terima kasih kakakku tersayang." Mencubit hidung kakaknya. Tanpa mereka sadari ibu mengusap air mata beberapa kali.


"Kenapa ibu menangis?" Rossi memegang tangan ibunya. Rusdi juga bergeming memandang sang ibu.

__ADS_1


"Andai ibumu masih hidup, pasti dia akan sangat bangga." ucap sang ibu sambil mengusap air matanya.


Bagaimana tidak sedih jika melihat anak yang terlihat ceria ternyata memiliki nasib yang kurang beruntung. Orang tuanya meninggal saat berusia lima tahun dan bibinya sampai sekarang belum juga di temukan karna kecelakaan pesawat.


"Jangan sedih lagi dong ibu, semuanya telah berlalu. Ibu pernah bilang  kepadaku untuk mengiklaskan semuanya bahkan sampai merubah nama panggilanku. Tapi sekarang, ibu malah lupa akan hal itu." Rossi memeluk ibunya di susul oleh Rusdi.


"Jangan ikut ikutan sesak ini." Rossi mendorong tubuh Rusdi di belakangnya.


"Suasana lagi haru begini masih sempetnya lu ngusir gua," sungut Rusdi yang akhirnya pindah tempat di sebelah ibunya. Rossi menjulurkan lidahnya mengejek.


"Ibu jangan nangis lagi ya. Aku masih bersyukur memiliki keluarga ini. Pakde, bude adalah kebahagiaan, aku."


"Stop memanggil kami seperti itu, Rossi."


"Apa ibu lupa! Kalau ibu mengingat kejadian itu lagi, aku akan panggil ibu dengan sebutan bude." Rossi melipat tangannya di dada pura pura ngambek.


"Biarin dia, bu. Ibu sama aku saja." Rusdi mengeratkan pelukannya ke ibu. Rossi malah tersenyum dan ikut memeluk.


Sedangkan di desa Kembang, depan rumahnya bapak kepala desa. Dua orang beda usia baru turun dari motornya. Mereka berjalan menuju pintu dan mengucapkan salam. Suara seorang wanita paruh baya menjawabnya.


"Lho nak Andhra, pak Heru silahkan masuk." Halimah berbalik dan mempersilahkan tamunya duduk. Sedangkan Andhra permisi untuk bersih bersih. Rumah Farid kini terbilang rumah yang paling besar di kampungnya. Andhra juga memiliki kamar khusus di sini.


"Farid kemana, Bu?" Andhra menemui bu Halimah yang sedang menata kue untuk pak Heru. Dan untuk pak Rahmat, lima tahun yang lalu meninggal karna serangan jantung.


"Pergi menghadiri acara walimatul  tasmiyah di desa Kedung. Mungkin sebentar lagi juga pulang. Sudah tadi pagi kok berangkatnya."


"Pantesan Bu. Andhra hubungi dari tadi siang nggak di balas sama, dia." Andhra menghela nafas tahu betul dia jika desa itu terpencil jadi sudah di pastikan susah signal.


"Kayaknya ada mobil berhenti deh. Apa mungkin mereka ya?" Halimah menajamkan pendengarannya.


"Accayamualeikum ..!"suara anak kecil  terdengar cadel memenuhi seisi rumah.

__ADS_1


To be continued


Happy reading semoga suka. Jangan lupa dukungannya ya oke say.


__ADS_2