Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 81


__ADS_3

"Zaaaan, siapkan semuanya."


'Aku kira dia lengah. Ternyata tetap saja waspada' batin Ozan.


Ozan menghilang untuk beberapa detik dan kembali bersama wanita cantik yang tinggi semampai. Wanita berbalut blezer warna hijau muda dipadukan dengan rok span senada.


"Bang, Andhra!" Hebohnya sambil menghambur ke pelukan Andhra. Naasnya wanita itu terjerembab ke sofa sebab dengan sengaja Andhra menghindar.


"Auwhhh, Bestie kesayangan Eike, tega bener sih! Mentok deh. Ketabrak ini." Sungutnya dengan lebay. Mengusap usap baju dan tangan seakan-akan banyak debu menempel di sana.


Rossi tak kuasa menahan tawa.


"Seneng Yeay, lihat Eike di buat malu sama tuh Kesayangan."


"Sini, aku bantu!" Rossi mengulurkan tangannya, langsung ditampik oleh Andhra.


"Dia batangan."


Yang ditunjuk memberengut. Rossi menatap Andhra seperti orang bodoh, alias belum paham.


"Emas maksudnya?"


"Tanpa 'E'."bisik Andhra lagi, tapi bisa didengar jelas oleh wanita transgender itu. Ditanggapi dengan cebikan kesal.


Bahkan ketika Bestie mengulurkan tangannya guna memperkenalkan diri. Andhra segera melerai.


"Nama yang keren, Bestie!"


"Yes, Eike selalu paling keren." Gaya pongah nan centil membuat bibir Rossi membuka lebar. Tanpa sadar Andhra pun ikut tersenyum. Senyum yang tulus untuk rona bahagia di wajah Rossi. Namun, ketika tatapan Rossi menerpa wajahnya, dia kembali membeku.


'Tadi sepertinya aku lihat dia tersenyum'


"Pilih yang Kau suka." ucapnya seraya melepaskan pinggang Rossi. Nafas lega keluar dari bibir gadis itu, dengan serakah menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tentu saja setelah kepergian Andhra.


"Pengap ya, deket sama Cogan!" bisik Bestie


"Tunjukkan padanya, gaun dengan kualitas terbaik." titah Ozan selepas kepergian Andhra.


Semuanya terlihat indah. Bestie selalu mengikuti kemana arah kakinya melangkah untuk membantu dirinya menemukan gaun yang cocok. Diantara semua gaun yang mempesona, Rossi telah menjatuhkan pilihannya pada gaun sederhana berwarna putih salju. Gaun pengantin dengan


"Amazing, ini pilihan yang sempurna. Belum ada yang memilih gaun ini sebelumnya. Para pengantin biasanya memilih kepuasan dengan kesan glamournya. Tapi Anda...." Bestie mengagungkan jempol.


Entah berapa lama waktu yang telah dihabiskan hanya untuk mengganti sebuah gaun.


"Kau menodaiku." teriak Rossi. Tangannya memukul dada bidang Andhra. Sejak gaun itu mendarat di tubuhnya,Andhra sama sekali tidak melepaskan dirinya hanya sekedar bercermin. Kini keduanya berada di ruang ganti.


"Aku akan tanggung jawab." timpal Andhra tanpa rasa bersalah. Bahkan dia menggigit telinga Rossi. Memutar tempat hingga berada tepat di belakang Rossi.

__ADS_1


"Auwhhh, sakit tahu!" Mulut seakan berontak tapi hati menginginkan lebih. Apakah ini yang dinamakan pesona cinta? Pelakunya tidak akan sadar jika telah berbuat dosa.


"Bagian mananya?" Perlahan rambut terurai itu tersibak dan kecupan hangat mendarat di bagian punggung bagian kanan atas.


"Ini"


Cup


'Harusnya aku marah seperti yang selalu aku lakukan pada pri begajulan lainnya. Tapi hati ini kenapa berbunga-bunga saat mendapat perlakuan intim darinya.'


"Jangan menatapku begitu,"


"Memangnya kenapa?"


"Kau akan semakin jatuh cinta padaku." bisik Andhra sembari menjilat sedikit ujung telinga Rossi. Tentu saja meninggalkan gelenyaar aneh hingga bulu kuduk berdiri. Andhra tersenyum jahil lalu menyibakkan rambut Rossi.


"Kenapa kau lakukan itu lagi?" geram Rossi. Saat ini keduanya menjadi pusat perhatian. Bahkan Ozan menyingkir perlahan. Tanda merah di leher Rossi terlihat jelas.


"Bos! Ingat! Belum muhrim!" Teriak Ozan yang ditanggapi wajah kesal Andhra. Andai saja yang dikatakan Ozan tidaklah benar, mungkin saja kepalan tangannya akan berpesta pora meninju muka Ozan.


"Sabar, Bos, yang halal lebih nikmat," Ozan tertawa meledek ketika kedua calon mempelai telah keluar.


"Kau, tutupi ini!" Titah Andhra pada Bestie. Belahan dada terlalu rendah hingga menunjukkan sedikit aset milik Rossi.


"Tentu saja! Semuanya bisa diatur." Selebihnya Rossi yang komplain sedikit tentang bagian tertentu dari gaun yang akan dia kenakan.


"Tidak! Samakan saja seperti biasanya."


'Pergi kemana dia?'


Dasar cinta kucing. Saat disampingnya sok tak peduli, tapi begitu menjauh segera dicari.


Di balik kaca transparan, suara dominan Andhra menghentikan langkah Rossi.


"Dia terlalu percaya diri. Sudah saatnya bertindak, ketika Dia kehilangan mawas diri, waktu terbaik baginya untuk dihancurkan. Kita hanya perlu sedikit bukti lagi. Tidak perlu melibatkan Ozan dalam hal ini."


'Owh, dia tengah menelpon tapi siapa? Sepertinya sangat serius? Kenapa pak Ozan tidak boleh dilibatkan? Apakah ini tentang sebuah konspirasi?'


"Nona, tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang lain."


"Ah, kau ini. Aku... Aku hanya ingin menunjukkan gaun ini padanya." Ozan tepat berada di belakangnya. Rossi tersenyum kikuk kemudian pergi.


Kembali lagi ke posisi awal. Mengganti gaun pengantin dengan baju yang semula dia bawa.


"Kau juga mendengarnya?" Selidik Andhra terhadap Ozan.


"Iya!"

__ADS_1


Hening.


"Apa aku sudah tidak berharga lagi bagimu?" Sekian lama mereka bersama. Begitu banyak masalah yang telah diselesaikan dengan sempurna, kenapa kali ini posisinya bisa tergeser? Kesalahan apakah yang tanpa sengaja diperbuatnya?


"Jangan tanyakan itu sekarang. Kau akan tahu detailnya nanti." Andhra melewati Ozan saat Rossi telah keluar dari ruang ganti.


"Bos!" Kaki Andhra berhenti melangkah, membalikkan badannya dan menyakinkan Ozan.


"Percayalah, semua ini aku lakukan untuk kebaikan semua orang."


~


~


"Alan, kita harus bergerak lebih gesit dari sebelumnya." Wanita cantik itu berjalan santai tanpa mengenakan sehelai benang. Semua yang ada di tubuhnya terlihat indah kecuali kerutan pada beberapa bagian yang memang tidak bisa kembali seperti umur yang diinginkan.


"Bukankah selama ini yang mengulur waktu adalah dirimu?" ucap Alan masih merentangkan kedua tangannya di ranjang. Entah apa yang mereka lakukan sebelumnya, hanya mereka  dan Tuhan yang tahu.


Othor mana tahu. Hehehe


"Sepertinya, Andhra mulai menyadari keberadaannya." Menjumput pakaian di lantai yang sempat dilemparkan oleh Alan. Memakainya.


"Kurasa belum. Sebab tidak ada tindakan apapun darinya. Dia terlalu bodoh untuk membaca semua gerakan Kuta. Bahkan mengenali wajah dibalik topeng." Alan tersenyum devil. Merasa bahwa semua yang dia lakukan sangatlah keren. "Dan Mella, dia tujuanku saat ini."


"Apa katamu?"


"Tidak ada!"


"Jangan bermain-main denganku, Bodoh. Aku mendengar kau menyebut nama Mella," sambar wanita itu.


"Aku hanya ingin permainkan dia." Alan tersenyum kecut. Tapi yang benar adalah dia mulai jatuh cinta.


"Jangan sampai kau jatuh cinta pada Mella. Dia telah berbelok. Susah payah aku besarkan dia. Tapi sifatnya tetap milik ibunya." Karena merasa kesal si wanita menyapu isi meja rias dengan tangan hingga semua tercecer kelantai. Bahkan ada satu botol parfum yang jatuh dan retak. Dia tidak peduli. Nafasnya memburu.


Dengan enggan Alan bangkit dan memainkan peran semestinya.


"Kendalikan dirimu, Sayang!" Bujuknya ketika sampai tepat di punggung wanita itu. Memeluknya dari belakang. Alan sengaja membalikkan badan keduanya dan bersandar pada meja rias.


"Kau selalu membuatku marah. Tak bisakah kau setia dan membiarkan hatiku bahagia?" Alan mengernyit malas. Memutar bola mata yang seharusnya berbinar.


"Bisa, tidak?" Ulang Wanita itu bersungut-sungut. Tapi tubuhnya tetap memunggungi Alan.


"Apa perlu aku jawab?"


hening.


"Bagaimana jika jawabanku, Tidak!"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2