
"Oke! Deal! Kita menikah dahulu, baru punya anak. Farid akan datang bersama Ibu seminggu lagi untuk mengadakan lamaran. Kau bersiaplah. Secepatnya kita menikah."
"Apa?"
Rossi terbengong beberapa saat. Andhra juga ikut terhenti, ternyata telah sampai di depan ruang Andhra.
"Pak, Anda sudah datang! Selamat pagi Pak." Mella keluar dari ruangan Andhra. "Berkas yang Anda perlukan buat meeting, telah siap."
"Baik, segera siapkan segala sesuatunya. Saya akan bersiap."
"Baik, Pak!" Mella baru menatap dengan jelas, gadis yang bersama Andhra "Hai,Rossi, kau juga berada di sini?" Celetuk Mella. "Apa kabar?" Mella hampir menubruk tubuh Rossi, jika saja tidak melihat tangan kekar Andhra membelit tubuh itu.
Jadi benar? Mereka memang memiliki hubungan.
"A - aku baik." Ucap Rossi gugup dan canggung. Tubuhnya terasa sulit di gerakkan. Malu juga diperlakukan seperti seorang kekasih. Apalagi Mella menatapnya penuh selidik.
Tangan ini, mengapa belum juga terlepas.
"Kau ... kembali ke ruanganmu." Titah Andhra. Mella mengangguk sopan.
"Rossi, nanti main keruangan ku ya! Ada di sebelah sana." Tunjuk Mella.
"Ini kantor, bukan tempat bermain."
Galak amat si Bos.
Mella segera menghilang, tatapan Andhra bagai Elang kelaparan.
"Ayo masuk!" Rossi masih menata hati dan pikiran yang tiba-tiba ngeblank. Ulah Andhra sungguh membuatnya jadi orang bodoh.
"Cepat mau pesan apa?" Rupanya akal warasnya telah kembali. Harus berlagak profesional, jangan terpengaruh kata-kata tadi Ros. Batin Rossi
"Hai, obrolan kita belum selesai! Sebaiknya kita masuk dan bicara baik-baik."
Berlebihan sekali dia, kalau pesan tinggal bilang saja, tidak perlu repot-repot membawaku kemari.
Waoooow ruangan kerja ini begitu elegan, tunggu! Sepertinya ini bukan ruangan pegawai biasa.
Andhra membalik sebuah nama yang berada di meja sebelum Rossi menyadarinya.
"Aku harus kembali membantu Paman. Cepat katakan apa pesananmu." Rossi meremas tangannya sendiri, basah karena keringat. Jantungnya mulai susah diajak kompromi.
Pria, ini! Sungguh membuatku selalu dalam masalah.
"Jika aku pesan Rindu, apa kau mau mengirimkannya?" Mata Rossi terbelalak.
"Tuan, bisakah kita bicara serius. Saya sudah menuruti Anda hingga kemari. Maka, akan lebih baik Anda tidak membuang waktu saya." Padahal dalam hati berjingkrak senang luar biasa. Begitu senang mendapat kata-kata manis dari pria tampan yang membuatnya sulit tidur di malam hari.
"Lalu, aku harus pesan apa? Kamar pengantin buat kita? Atau makanan apa saja yang harus ada saat resepsi pernikahan nanti."
Andhra mengedipkan mata sebelah. Membuat Rossi berjengit kaget plus grogi, debaran di dada semakin menjadi.
Pria ini, bisakah dia bicara serius.
"Aku serius!"
__ADS_1
Seperti cenayang, Andhra bahkan seperti bisa membaca isi pikiran Rossi. Seram, bukan?
Keduanya saling menatap sepersekian detik. Sebelum akhirnya Rossi tersadar dan membuang pandangan asal.
Ruangan yang semula dia kagumi, kini mendadak bagaikan rumah hantu yang mendebarkan setiap waktunya.
"Tidak! Bukan begitu, maksudku, bisakah kau lepaskan tanganmu ini." Sekuat tenaga melepas pegangan tangan Andhra. "Kita belum muhrim, hehe."
"Mau aku halalkan, biar jadi muhrim?"
Andhra melepaskan tangan dari pinggang Rossi. Duduk di kursi kebesarannya guna menulis sesuatu, lalu menyerahkan pada Rossi.
"Bu-bukan maksudku begitu."
Bicara apa sih kamu, Ros. Tolong hati dan pikiran fokuslah.
"Lalu!"
"Anda pesan apa? Mohon kasih tahu sekarang. Sa-saya harus kembali."
Jika ingin restoran ini semakin maju, maka jangan sampai kita menyinggung pelanggan. Terlebih petinggi di gedung ini. Restoran kita, berada di bawah naungannya. Pesan sang Paman yang selalu diingat oleh Rossi. Dan sialnya, kata-kata itu menjadi kelemahan dirinya.
"Ini! jangan sampai di baca orang lain." Menyerahkan potongan kertas setelah di lipat.
"Ba- baik! Pesananmu akan segera dikirim."
Aku harus segera pergi! Batin Rossi.
"Tunggu!" Ingin lari saja tapi raga ini selalu menuruti kemauan pria ini. Bodoh kau Ros. Tubuh dan pikiranmu tidak sinkron.
"Apalagi?" Kesal bercampur malu-malu kucing
"Hishhh!" Tangan Rossi terangkat, maksud hati ingin memukul wajah tampan Andhra itu, tapi akal pikiran melarang. Namun, peristiwa mengejutkan membuatnya bertindak bpdoh. Andhra melayangkan ciuman jauh untuknya.
Sebaiknya aku segara pergi, sebelum aku mati konyol di sini.
"Hai, jangan lupa pesanku. Jangan lama-lama ..."
Rossi segera kabur. Takut Andhra akan berbuat hal di luar dugaan. Sampai dia melupakan tawaran Mella. Bahkan saat Mella berteriak memanggil, Rossi tidak menjawab.
Tersengal-sengal akhirnya Rossi bersandar pada dinding lift. "Aku hampir saja mati berdiri." Memegangi dadanya yang kehabisan pasokan oksigen. "Bisa saja aku mati muda karena jantungan saat bersamanya."
"Emang apa sih, isi pesanannya?" Rossi yang penasaran itupun hendak membuka kertas pemberian Andhra, namun belum sampai kertas itu terbuka. Lift terhenti, dua karyawan wanita masuk ke dalam lift. Rossi memundurkan tubuhnya. Mengamankan dalam saku kertas kecil yang diberikan oleh Andhra.
"Gosip pagi ini sungguh heboh. Aku sampai lupa memfotokopi file penting ini. Bagaimana kabar yang beredar jika direktur kita yang terkenal sebagai makhluk paling dingin itu menggandeng seorang gadis pagi ini."
"Ya! Aku juga dengar itu. Kemarin malam juga tersebar berita, bahwa dia juga berdansa dengan seorang gadis pada pesta ulang tahun adiknya."
"Kau juga dengar itu?"
"Tentu saja! Seluruh bagian devisi sibuk membicarakannya. Itu sudah membuktikan bahwa Presdir adalah laki-laki normal." Karyawan itu mengambil lipstik dan mengoleskan pada bibirnya.
"Sayangnya, aku tidak melihat gadis itu, undangan hanya diberikan untuk orang penting saja. Keluarga Abhimanyu sangat berhati-hati dalam menyelenggarakan pesta."
"Benar! Andai saja aku bisa masuk ke sana malam itu, tentu akulah yang akan di pilih Presdir." Kini bukan hanya lipstik, tapi juga bedak dia poleskan ke wajah.
__ADS_1
"Hanya bagian terpenting saja yang hadir. Atau mungkin mereka yang sudah lama bekerja di sini."
"Aku jadi penasaran, seperti apa gadisnya."
"Pasti cantik."
"Nggak juga. Ada yang bilang, gadis itu biasa saja. Mungkin gadis itu menjebak Tuan Presdir."
"Siapa yang berani berbuat begitu?"
"Ya gadis itu. Bisa jadikan, bukankah Presdir kita sangat menggoda."
"Jadi menurutmu, gadis itu menghalalkan segala cara untuk mendekati Presdir?"
Lift terbuka, kedua karyawan itu berhenti bergosip. Keluar dengan gaya elegan mereka. Tapi dimata Rossi, mereka berjalan layaknya ulat bulu.
"Jika tidak tahu, jangan bergosip sesuka hati." Rossi meninju udara. Cukup geram dengan ucapan terakhir mereka.
"Gara-gara kertas ini, aku jadi bahan gosip satu kantor." Rossi mengeluarkan lagi kertas kecil itu. Dengan sebal, Rossi membukanya.
Pesan soto rindu dengan suwiran sayang, untuk kekasihku yang belum mau membuka hati. Tambahkan bumbu cinta agar aku tidak selalu terperdaya oleh pesonanya. Sebab kuah asmara akan semakin nikmat jika di taburi gelora jiwa yang semakin membara.
Pesanan harus diantar jam makan siang.
"Apa apaan ini?"
Muka Rossi bersemu merah, ingin marah tapi hati justru merasa bahagia.
"Tunggu! Inikah nomer ponselnya dia?" Tersenyum pada dua belas angka yang terselip di sana.
~
~
~
Karena gagal memanggil Rossi, Mella memilih kembali berkutat dengan berkas dan laptopnya. Hingga sebuah panggilan masuk.
"Dia lagi!" Mella berdecak sebal. Meletakkan kembali ponselnya. Si penelepon sepertinya tidak menyerah. Handphone kembali bergetar. Kali ini, Mella mengangkatnya.
"Katakan! Apa maumu?"
Mendengarkan dengan seksama.
"Kau pikir? Aku akan menurutimu kali ini?"
Hening
Mella mendengar lagi, kali ini perubahan pada wajahnya terlihat jelas.
"Kurasa kau sudah gila."
Hening, Mella nampak meremas map di hadapannya.
"Baiklah! Tapi jangan salahkan aku, jika pada akhirnya kita akan saling bermusuhan." Panggilan di putus oleh Mella.
__ADS_1
"Aku harus bangkit."
To be Continued....