Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 83


__ADS_3

"Maaf ya! Aku merepotkan dirimu!"  Rossi tersenyum canggung di saat Andhra datang padanya. Diliriknya motor matic yang tergeletak di tepi jalan dengan ban kempes di bagian belakang.


"Kau pasti kecapekan ya!" Andhra mencium lembut kening gadisnya sambil menyeka keringat Rossi. Gadisnya terpana beberapa lama hingga hanya deru kendaraan lewat yang menggema.


Tidakkah dia kesal padaku sebab aku repotkan? Pikir Rossi


"Hai, jangan menatapku begitu. Minta cium lagikah?" Tanpa perlawanan Andhra melabuhkan bibir kenyalnya di bibir Rossi.


"Kau ini!" Merasa bibirnya ada yang menggigit Rossi mendorong tubuh Andhra. Bukannya marah malah terkekeh bahagia.


"Manis dan lezat." Menyapu sisa liur di bagian bibir Rossi dengan bibirnya. Pemiliknya bahkan tersentak.


"Ah, kau ini!" Rossi malu-malu mendorong kembali tubuh Andhra.


"Malu dilihat orang!"


"Baiklah, bagaimana jika kita teruskan di hotel. Tidak akan ada yang melihat!" Seketika pupil mata gadis itu pun melebar.


"Auwhh!" Cubitan manja mendarat sempurna di pinggang Andhra. Sebenarnya tidaklah terasa sakit. Bahkan seperti dielus saja. Dasar Andhra saja yang lebay.


"Makannya jangan main sosor aja kayak bebek. Dan pikirannya itu, tolong dikendalikan. Emang situ pikir aku cewek apaan."


"Cewek cantik dan menggairahkan. Lihatlah, Akang semakin tidak tahan untuk tidak membawamu pulang."


Cup


Ciuman brutal menyerang kembali. Tanpa kesiapan Rossi gelagapan dibuatnya.


"Hai...kau berani -beraninya melakukan itu tanpa izin, Ya!" geram Rossi. Lain dibibir lain pula di hati. Andai saja mereka sudah resmi, dengan senang hati Rossi rela dibawa ke hotel.


"Bilang saja minta lagi. Tuh bibir di monyongin," ledek Andhra.


"Ah, Nggak!" Kilah Rossi menutup mulutnya sendiri. "Belum halal, tahu!" Rossi merapikan anak rambut dengan malu-malu.


"Kita ke penghulu yuk biar halal." Andhra menyenggol lemah bahu Rossi.


"Kang Andiii...!"


"Apa, Sayang!"


"Udah deh, kita malah kayak AbG tahu, Nggak!"


"Nggak tuh. Rasanya kayak pengantin baru malahan. Pengen ngajak ke hotel."


"Ngapain?" Rossi sok polos padahal otak kotornya juga mulai traveling nggak jelas.


"Ya anuan lah!"

__ADS_1


"Anuan?" ulang Rossi menaikkan satu alisnya sambil terkekeh.


"Iya! Kita buat sesuatu yang hebat dengan diiringi alunan desah nikmat."


"Dasar pria batu, Omes!" Rossi tak kuasa lagi melanjutkan obrolan ini. Makin lama makin menjurus dan takut jika akhirnya malah berakhir kekhilafan.


"Tapi cinta kaaan!"


Rossi mengangguk malu-malu. Di saat bersamaan, sebuah panggilan memutus perbincangan asyik mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Rossi. Ketika menangkap ada perubahan besar terhadap raut wajah Andhra. Tatapan tajam dan penuh kebencian juga emosi tertahan yang menakutkan membuat Rossi tidak tahan untuk bertanya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rossi khawatir memegang kening Andhra. Membandingkan suhu tubuhnya sendiri dengan milik Andhra. Rossi takut jika Andhra akan sakit seperti saat di pantai.


"Tidak! Ah! Semuanya baik-baik saja. Sebaiknya kita segera pergi. Panas. Aku tidak ingin calon pengantinku ini menjadi hitam." Merangkul Rossi dengan sangat erat bahkan setengah menarik lembut hingga masuk ke dalam mobil.


"Ternyata semakin lama kau semakin cerewet ya. Tidak menduga jika pertemuan pertama kita sikapmu berbanding terbalik dengan yang sekarang."


Rossi memandang penuh cinta wajah Andhra yang juga telah mengambil posisi di bagian kemudi. Wajah tampan itupun menampakkan gigi gingsulnya dengan sangat mempesona.


Hati siapa yang tidak akan terperdaya jika panah asmara telah melesat menembus jantung. Menyatu ke seluruh tubuh melalui aliran darah.


"Diam, dan kencangkan sabuk pengamanmu." Bukan perintah. Melainkan tangan kekar itu sendiri yang bertindak gesit dan disudahi dengan ciuman hangat di bibir dan pipi.


Bagaikan berada di hamparan bunga. Hanya bisa memandang takjub tanpa kata. Rossi hanya bisa menerima dengan penuh suka perlakuan manis Andhra tanpa tergerak untuk membalasnya.


"Jangan menatapku begitu."


kata Rossi tanpa sadar. Tatapan matanya sendu merayu. Tatapan penuh cinta yang mendamba. Andai saja Andhra tidak ingat jika mereka belum halal.


"Rosss, berhenti menatapku begitu?" Andhra tergelak. Menyentil dahi Rossi hingga pemiliknya sadar kembali.


"Auehhh.....ke ke kenapa?" Rossi tergagap. Matanya bahkan berkedip beberapa kali.


Apa yang baru saja dia lakukan? Pikirnya.


"Lama-lama aku takut padamu!" Lirih Andhra dengan wajah sok polosnya.


"Takut? Kenapa?"


"Aku terlihat seperti santapan lezat di matamu. Yah, aku tahu jika aku ini tampan dan menawan." Logat Andhra dibuat layaknya seorang gadis yang pemalu. Rossi mencermati setiap kata dan gerakan tangan Andhra yang sungguh menggelikan. "Tapi aku hanya ingin disentuh oleh pasangan halalku saja!" Pose Andhra dengan menyilangkan kedua tangan di dada membuat Rossi meledakkan tawa yang sejak tadi dia tahan.


"Owhhh...perjaka polos yang menggoda. Kau sungguh membuatku dimabuk asmara. Bisakah kita mulai perjalanannya agar aku tidak khilaf dan merampas keperjakaan yang kau jaga selama ini?" timpal Rossi ikut masuk dalam adegan konyol Andhra. Disambut gelak tawa renyah keduanya.


"Oke! Nyonya Andhra, kita jalan kemana?"


Rossi seakan berpikir keras hingga alisnya bertaut.

__ADS_1


"Kemanapun asal berdua denganmu."


~


~


~


"Hanya Kalian berdua?"


Ozan dan Mella saling melempar tatapan mata. Kakak tertua Tuan Besar Abhimanyu. Dialah Abhidarma. Pria paruh baya itu nampak kecewa dengan perilaku ponakannya akhir-akhir ini. Andhra seakan menghindari dirinya  setelah pertikaian yang disebabkan oleh Anggun. Putrinya.


"Saya kira, Anda sangat paham akan sifat Bos Andhra." Dengan senyum mengembang, mengandung umpan luar biasa yang bisa mengecoh lawan.


"Dalam bisnis, urusan pribadi tidaklah patut di campur adukkan dengan masalah pribadi." tukas


Seorang gadis yang baru saja bergabung dengan mereka bertiga.


Pakaiannya terlalu minim hingga menutup sepertiga paha atas. Juga belahan dada rendah yang menunjukkan aset rahasia gunung kembar itu menyembul hampir seluruhnya. Namun tak berapa lama gunung itu di tutup oleh map yang dibawanya sejak dia masuk ke dalan ruangan.


"Apakah saya terlambat?" Dia menatap sinis pada Ozan dan Mella. Bahkan melempar map dengan angkuh ke atas meja.


"Anggun!"


Pungkas Abhi yang merasa anaknya telah banyak berubah. Tata krama dan sopan santun yang selama ini dia ajarkan tidak lagi digunakan sebagai perhiasan.


"Papa, sudahlah. Buat apa masih mempertahankan yang tidak berguna. Masih banyak lagi di luaran sana orang antri untuk bergabung dengan kita. Mengapa masih saja bertahan dengan orang tidak bertanggung jawab Seperti anak pungut itu."


"Siapa yang anak pungut?" Semua orang mengarah ke pada pintu masuk. Ada Rasya berdiri sambil memasukkan satu tangannya ke saku. "Kakang Mas, apa kabarmu?" Sapa Rasya pada Abhi disertai pelukan hangat."


"Kabar baik, Di. Saya harapkan kabarmu juga sama baiknya."


"Syukurlah, KangMas. Meski umur makin menua tapi rasanya raga ini masih bugar."


"Sungguh suatu anugerah tak terhingga nikmatnya. Semoga senantiasa sehat selalu." Keduanya berangkulan lagi dengan mengucap amin.


Kini Rasya menoleh pada Anggun. "Kamu, Cah Ayu. Sekarang bicaramu  semakin lancar saja, ya!."


Adalah kalimat sindiran. Rasya tidak mungkin menegur anak kakaknya secara langsung. Bisa jadi menimbulkan ketegangan.


"Owh, tentu saja, Paman! Sebab aku memang benar-benar keturunan Abhimanyu." Sikap Anggun terkesan angkuh. "Paman datang sendiri?Lalu dimana anak pungut Paman yang tidak tahu diri itu?"


"Anggun. Jaga ucapanmu." Bukannya mengindahkan ucapan Abhi, Anggun kembali berulah.


"Apakah aku salah, Paman? Ternyata anak serigala tidak bisa menjelma menjadi kelinci."


"Anggun!" pungkas Abhi tertahan. Tangannya terangkat hingga sampai pipi Anggun. Namun hanya menggantung di udara. Ada sesuatu yang menahan Abhi agar tidak melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


"Sepertinya dia bukan Anggun yang kita kenal, Kang."


To be continued


__ADS_2