
Hari ini ketiga kalinya Andhra datang ke rumah sederhana milik Pak Sholeh. Andhra melanjutkan terapi pijat sebab efek yang dia rasakan sungguh berbeda dengan efek obat yang penenang yang selama ini dia konsumsi. Atau mungkin memang Tuhan telah menunjukkan kuasanya dengan mengangkat penyakit Andhra. Tapi satu hal yang pasti. Andhra tidak lagi merasa gelisah ketika mengingat semua kejadian buruk di masa lampau. Dia bisa mengingat semuanya tanpa menderita sakit kepala luar biasa.
Setidaknya, meski tidak bisa menyembuhkan rasa sakit hatinya, namun respon tubuhnya bisa tenang dan terlihat baik-baik saja.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak?" Pak Sholeh menepuk pundak Andhra yang masih terbuka. Tubuh kekar itu nampak berkilau oleh cahaya sebab dibaluri minyak urut. Ramuan khusus yang dibuat sendiri oleh pak Sholeh.
"Semakin baik!" Andhra memposisikan tubuhnya menghadap Pak Sholeh. Masih telanjang dada. "Saya sangat berterimakasih. Sebab bantuan Pak Sholeh, saya merasa semakin sehat dan bugar."
"Syukur Alhamdulillah jika demikian. Saya gembira mendengarnya. Setidaknya kemampuan saya masih berguna." Pak Sholeh terkekeh sambil menepuk punggung Andhra beberapa kali. Kemudian dia bangkit dan mencuci tangannya dengan air kendi. Setelah itu minum dari kendi itu juga. Berkumur-kumur kemudian menelannya.
Kegiatan Pak Sholeh mengingatkan Andhra pada sosok sepuh kakek Suluh. Segala tindakannya hampir serupa. Bahkan dalam tata cara makan dan minum. Andhra hampir saja buka suara untuk menanyakan perihal kesamaan itu. Jika mungkin saja keduanya memiliki ikatan saudara jauh atau bisa juga malah dekat. Namun terpotong oleh perkataan Ozan.
"Pak Sholeh, apa saja ramuan yang terkandung disini?" Ozan menimang botol kaca transparan. Di dalamnya terdapat beberapa akar dan daun-daun serta beberapa biji tanaman meski begitu, cairan di dalamnya terlihat jernih. Di bagian penutupnya terdapat segel terbuat dari kawat anti karat. Tentu saja tidak akan tumpah meski botol itu terguling.
Kemarin-kemarin dia tidak sampai sedetail ini melihat rak milik Pak Sholeh. Ternyata banyak sekali bagian-bagian tertentu tumbuhan yang dikeringkan. Semua tertata rapi dengan wadah terbuat dari anyaman bambu. Ozan menduga jika pastilah untuk ramuan obat. Beberapa botol berwarna hitam dengan penutup terbuat dari kayu terjajar rapi di bagian paling atas. Itulah yang dia tanyakan saat ini.
"Hanya beberapa rempah seperti akar jinten, minyak kelapa, minyak kayu putih, minyak sereh, minyak lawang, cengkeh, daun lada, jahe, lengkuas, temulawak dan bawang merah. Semuanya dari alam. Dan saya tanam sendiri di belakang rumah sana." Bangga Pak Sholeh. Dia menyeruput kopi hitam yang pekat. Sedikit saja membasahi bibirnya.
"Baunya juga tidak buruk." Ozan menghirup aroma segar dan juga menenangkan. Namun aroma ini cukup berbeda dengan yang dipakai untuk urut Andhra.
Karena penasaran, Ozan mengambil sisa minyak urut untuk Andhra kemudian membandingkan keduanya. Pak Sholeh tersenyum. Andhra geleng-geleng kepala seraya mengenakan kemejanya kembali.
"Kalau buat Nak Andhra, saya hanya menggunakan minyak jahe, minyak zaitun, akar-akaran dan serei. Dalam takaran tertentu, semua bahan itu bisa di suling dan menghasilkan minyak luar biasa yang bisa menghilangkan kecemasan dan juga stres."
"Waooow! Adakah minyak untuk ibu hamil?" Ozan seketika ingat akan Arini yang selalu mengeluh sakit punggung.
"Ada!" Pak Sholeh mengambil satu botol dengan tutup kayu. "Ini aroma terapi dari minyak kayu putih, kencur dan beberapa bahan lain untuk kesehatan ibu hamil."
"Harganya?" Ozan mengambil botol dari tangan Pak Sholeh setelah meletakkan kembali botol yang dia ambil sebelumnya.
__ADS_1
"Bawa saja. Saya sangat senang jika apa yang saya kerjakan selama ini bermanfaat bagi orang lain." Ozan melongo. Melihat Andhra yang memandang Pak Sholeh dengan penuh kekaguman.
"Tapi, Pak!"
"Jangan menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Kurang elok!"
Ozan semakin kagum dan segan. Andhra semakin ingat akan sosok kakek Suluh.
"Sebenarnya, nak Andhra tidak menderita sakit yang serius. Dia hanya lebih perlu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Terima dan syukuri segalanya dengan lapang dada. Ambil hikmah dari kejadian buruk di masa lalu. Maafkan mereka yang bersalah jika memang sanggup. Jika memang ingin membalas, Jangan berlebihan." Netra tua itu menatap lamat-lamat ke dalam mata Andhra.
"Ya! Misalnya kematian harus dengan kematian juga! Orang yang telah membunuh orang tua Andhra harusnya mendapatkan ganjaran yang setimpal. Nyawa dibalas dengan nyawa."
Ozan mengambil tempat duduk di seberang Pak Sholeh. Pria berusia senja itupun tersenyum. Andhra juga nampak setuju dengan apa yang diucapkan Ozan. Orang tuanya dibunuh secara keji. Tentu saja dia terluka. Jalan untuk menyembuhkannya adalah balas dendam.
"Apa kau akan merasa puas setelah melakukan pembalasan seperti itu?" Ozan mengangguk antusias. Sedang Andhra hanya dengan sorot mata tajam dan penuh amarah.
"Lalu apa bedanya dirimu dengan pembunuh itu?"
"Memang benar aku mengatakan hal itu. Namun pada akhirnya kalian akan mendapatkan status yang sama dengan orang tersebut. Dia pembunuh dan..." Pak Sholeh menunjuk ke Ozan juga Andhra "Kamu pun sama."
"Mereka menyiksa mama tanpa belas kasih. Mereka tertawa diatas penderitaan mama. Betapa sakitnya hati ini." Nafas Andhra memburu. Peluh dingin mulai keluar.
"Andhra... dengarkan saya." Pak Sholeh telah berada di sebelahnya. Memegang kuat pundak Andhra hingga keduanya bertatapan. "Mau sampai kapan seperti ini? Inilah dampak dari balas dendam mu itu. Tangguhkanlah hatimu. Perluaslah rasa lapang di dada. Kamu akan semakin kuat."
"Pak Sholeh benar. Aku harus kuat agar bisa dengan segera menumbangkan mereka. Sudah cukup selama ini aku bersabar."
Sepertinya ucapan Pak Sholeh di salah artikan. Atau memang sengaja pura-pura tidak mengerti.
"Nak!"
__ADS_1
Dering ponsel membuat semua orang menoleh.
"Hallo! Apa! Iya saya akan segera pulang." Ozan terlihat panik. Segera meraih kunci mobil dan buru-buru pamit.
"Arini. Akan melahirkan." Ucapnya pada Andhra.
Kini Andhra yang gantian merebut kunci mobil. "Biarkan aku yang mengemudi kali ini." Khawatir jika Ozan kurang fokus di jalan akhirnya membahayakan nyawa mereka.
"Kamu yakin?" Sebab terakhir kali menyetir, Andhra merusak segala tanaman di kebun pak Sholeh. Jangan sampai hal itu terulang kembali.
"Kau meremehkanku?" Andhra sudah siap di kursi kemudi. Tentunya setelah berpamitan pada Pak Sholeh.
"Aku masih ingin melihat wajah anakku. Aku saja yang bawa." Merebut kunci mobil lagi. Andhra menghela nafas. Ponsel Ozan kembali berdering.
"Hallo!" Andhra merebut kembali kuncinya. "Arini semakin kesakitan." Teriak Ozan.
Tanpa suara Andhra menyalakan mobil dan mengendarainya dengan lihai.
"Siapa yang berada di rumah dengan Arini?"
"Sendirian. Sebab orang yang biasa membantu kami pulang kampung. Lusa baru kembali."
"Bodoh! Kencangkan sabuk pengamanmu." Ozan belum menjawab kala mobil itu melesat bagaikan kereta express.
Sampai di depan rumah Ozan. Pintu rumah terbuka lebar. Terlihat Arini di lantai menggeliat dengan memegangi perut. Kakinya bersimbah darah. Seketika kepala Andhra berputar.
Bukankah aku sudah sembuh. Kenapa...!
"Bos!"
__ADS_1
To be continued