
Sesuai kesepakatan, pagi ini Andhra, Farid, Dara dan tak ketinggalan si kecil Rafka yang anteng di bonceng oleh ayahnya dengan alat khusus. Mereka pergi ke makam kakek Suluh bersama sama.
Kakek Suluh adalah kakek yang menolong Andhra saat dirinya hanyut di sungai.
Lanjutan part(4-5) saat Andhra hanyut di sungai karena ulah Hasma.
Flashback
Kakek Suluh
Perlahan Andhra membuka mata, dia melihat sekeliling, hanya ada dua ruangan. Rumah yang sangat sederhana, dengan dinding anyaman bambu, beratapkan genteng hitam tahun empat puluh lima. Rumah yang hanya seluas dua puluh empat meter persegi itu berisikan rak kayu dengan tiga piring dan empat buah gelas diatasnya, ada juga bangku panjang dan satu meja di tengah ruangan.
Andhra beralih pada satu ruangan lagi yang tertutup kain tirai pada pintunya. Lalu Andhra menelusur lagi dengan sedikit menggerakkan kepalanya, ada tungku sederhana yang hitam pekat asap masih mengepul, seperti baru dipakai. Di atasnya ada panci berwarna hitam juga.
Sunyi tidak ada satu orang pun di sana. Dia berusaha bangun, tapi tubuhnya terasa sangat kaku, pegal, pinggang dan kakinya kebas, sulit untuk digerakkan.
"Angger sudah bangun ya?"
Pria tua datang dari luar dengan setandan pisang di pundak. Menghampiri Andhra, lalu membantunya, duduk.
"Sa..sa... ya di mana?"
Masih asing dengan tempat barunya. Dia mengingat sekilas, dirinya terbawa arus banjir saat itu. Lalu dipandanginya lagi sosok pria, di sampingnya. Pria yang sudah udzur, tapi, pria ini terlihat segar bugar. Peci hitam yang berubah coklat, menambah kesan wibawanya.
"Angger ada di gubuk, kakek! angger ditemukan warga hayut disungai, karna warga tidak ada yang mengenal angger, jadi, tidak ada salahnya kakek bawa kemari."
"Terima kasih, kakek."
"Minumlah ini, Ngger agar badannya lebih bertenaga."
Menyodorkan gelas berisi minuman berwarna merah kecoklatan. Wedang jahe gula aren itu pun terasa menyegarkan di tubuh. Rasa dingin yang dirasakan Andhra berubah hangat kala, dia menyesapnya perlahan.
"Nama Angger siapa?"
Mengambil gelas yang disodorkan Andhra, minuman itu sudah habis dalam sekejap. Kakek tua tersenyum.
"Angger makan dulu ya, akan aku ambilkan."
"Maaf merepotkan, kek! Kalau boleh tahu, nama kakek siapa?"
"Warga di sini biasa panggil saya kakek Suluh." Tersenyum pada Andhra. Kakek itu pun melanjutkan aktivitasnya, mengambil daun pisang, diletakkan di atas piring, lalu menuang bubur panas di atas tungku. Kakek Suluh mengarsir gula merah, dan ditaburkan diatas bubur jagung.
"Ini makanlah, Angger selagi masih hangat."
Andhra memperhatikan makanan asing di depannya.
"Terima kasih, kakek. Tapi, bisakah saya memakai baju dahulu?" Andhra sadar jika dirinya hanya berselimut sarung saja.
"Ini pakailah, Ngger!" Menyerahkan kaos seukuran dengann Andhra.
__ADS_1
"Wah ternyata, kamu seumuran dengan cucuku ya! sekarang makanlah." Kekek Suluh menunggui Andhra menyantap makanannya.
"Kau seperti tidak pernah makan saja, Angger." Terkekeh melihat lahapnya, Andhra makan. Panasnya bubur sepertinya tidak menghalangi Andhra untuk terus menyuap.
"Enak sekali, kek!Saya tidak pernah makan yang seperti ini. Makanan apa ini namanya?"
Kakek Suluh mengernyit, netra tuanya menelisik setiap inci wajah Andhra.
'Ada aura berbeda dari wajah, anak ini, siapakah dia?' batin kakek.
"Itu namanya bubur jagung." Andhra berhenti mengunyah, meneliti makanan itu dengan seksama. "Dari mana asalmu, Ngger?" Andhra heran dengan jawaban kakek ini yang malah menanyakan asal usulnya.
Dari desa X, kakek. Menyuapkan kembali bubur yang tinggal dua sendok.
"Cukup jauh dirimu hanyut, Ngger."
"Kalau dari sana, kenapa kau tidak mengenal makanan ini? Dan kenapa sampai hanyut kemari?"
"Aku hanya tujuh bulan saja di sana kakek! Tadinya aku mengikuti olimpiade matematika, tetapi orang jahat itu menemukan aku, dan mengejarku sampai akhirnya aku terhanyut kemari, kek."
"Pantas saja, aku tidak pernah melihat, kamu di sana desa itu hanya di huni oleh beberapa orang saja."
"Apakah, kakek sering kesana?"
"Ya, biasanya sering, tapi enam bulan belakangan ini, aku tidak kesana. Biasalah faktor umur."
" Kakek mau kemana?" Kakek yang sudah sampai di depan pintu itu pun menoleh.
"Ambil kayu bakar, kau tenanglah di sini dahulu. Kalau ingin bersihkan diri, ada sumur dibelakang rumah, dan bilik yang itu untuk sholat." Menunjuk ruangan di balik korden, sebelum melangkahkan kakinya, dan menghilang di balik pintu.
Setelah berapa menit berikutnya.
Perlahan Andhra bangun dari tidurnya. Tuntutan alam membuat dirinya harus berjalan keluar rumah. Banyangan rumahnya yang megah kembali dalam ingatan. Hidupnya dulu begitu sempurna dengan banyak harta dan kasih sayang melimpah. Namun raut wajahnya berubah saat rumah megah yang penuh kebahagiaan berubah menjadi neraka kematian ibunya. Tempat di mana ibunya dipaksa meninggalkan dunia.
"Ibu, aku akan menjadi sangat kuat agar bisa membalaskan dendam." Giginya gemertak dan tangannya mengepal.
Jika ada yang bertanya, siapakah orang jahat? orang jahat adalah, orang baik yang tersakiti. Bukankah begitu. Setiap manusia terlahir dalam keadaan suci dan baik. Tapi, semua berubah saat, dia tertekan, terhina, karna tidak mendapatkan keadilan, mereka berusaha menciptakan keadilan itu sendiri.
Kadang sebagian berusaha menerima dan bertahan menjalani kenyataan. Tapi apa daya, manusia dilengkapi dengan hawa nafsu yang selalu mengajak berbelok. Pernahkah mendengar suatu riwayat, jika perang terbesar adalah memerangi hawa nafsu. Andhra menekan nafsunya untuk menyiapkan balas dendam dengan tetap bertahan hidup.
Andhra berusaha bangun dari tempat tidur. Semua tubuhnya terasa ngilu dan pegal. Di bagian pahanya ada balutan kain putih. Ada rasa sakit jika digunakan untuk menopang tubuhnya. Kain di paha itu berubah menjadi merah. Andhra terduduk kembali di ranjang. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit saat kehilangan ibunya.
Bersamaan itu, pintu di dorong dari luar. Kakek Suluh telah kembali dengan kayu bakar di pundak.
"Angger, sudah bangun?"
"Mau kemana?" Dilihatnya Andhra berusaha untuk bangun kembali.
"Saya ingin buang air kecil, kek!"
__ADS_1
"Baiklah, kakek bantu yuk!" Mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, kakek. Tetapi aku bisa sendiri."
Berusaha berdiri lagi. Pahanya terasa nyut nyut.
Kekek Suluh tersenyum saja membiarkan Andhra berusaha sendiri. Dia merambat melewati dinding untuk mencapai pintu.
"Kau mengingatkan aku pada seseorang nak!" Gumam kakek Suluh. Belum mencapai sumur, Andhra sudah ambruk terlebih dahulu.
"Sini, kakek bantu!"
"Aku pasti bisa, kek!"
'Aku harus kuat agar bisa mencapai tujuanku.'
"Bukan saatnya keras kepala, Ngger!"
Meraih tubuh Andhra dan menuntunnya ke bilik bambu dekat sumur itu. Bilik itu terlihat bersih meski sederhana. Batu hitam terjajar rapi sebagai alas pengganti keramik. Sebuah tong besar terbuat dari tanah sebagai wadah air. Dan di pojokan sudah ada closet jongkok.
Sangat berbeda jauh dari kehidupan Andhra beberapa bulan lalu. Bahkan sekarang, dia tak memiliki keluarga lagi. Kenangan buruk itu pun silih berganti berlarian di memory. Tak terasa air mata merembes membasahi pipinya.
"Bocah lanang kok nangis."
Cerca sang kakek ketika masuk untuk meletakkan sarung sebagai pengganti sarung Andhra yang terkena darah.
"Angger wisuh o kono mari iku sholat."
( Nak berwudhulah dulu, setelah itu sholat)
"Ini ganti perban, kamu!" Menyerahkan gulungan putih kepada Andhra.
Dengan sabar, kakek Suluh menunggu Andhra menyelesaikan ritualnya. Setelah semua selesai dituntunnya Andhra menuju kamar satu satunya di rumah kecil itu. Kamar yang hanya dua kali dua tiga meter persegi. Kamar itu sangat bersih terawat, ada satu jendela yang masih menutup, di sampingnya ada penyangga yang terbuat dari kayu, di atasnya ada beberapa buku tebal, satu tasbih menggantung, satu peci hitam, dan satu lagi peci haji dan satu lagi ada lemari di pojokan entah apa isinya.
Kakek Suluh melebarkan dua sajadah.
"Angger, bisa sholat kan?"
"Bisa, kakek!"
Tak terasa air mata Andhra menetes kembali. Teringat saat dirinya dan kedua orangtuanya berjamaah menunaikan kewajiban. Andhra segera menghapus air matanya. Dia pun melaksanakan sholat dengan posisi duduk."
Flashback end
Andhra mengusap air mata secepat kilat. Kenangan itu begitu melekat sempurna di ingatan. Setiap dia dalam keresahan, tempat inilah yang dia datangi. Makam kakek Suluh. Orang yang telah banyak membantunya di masa lalu. Menolongnya dari belenggu duri hidup yang hampir saja merenggut nyawanya.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak oke!
__ADS_1