Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
61 Perjalanan singkat


__ADS_3

"Mama tidak boleh ikut. Aku ada perlu sama mama." Seorang pria langsung memeluk erat tubuh Rena. Mencium pipi Rena dengan sangat sayang, masih memeluk, tubuh Rena sampai bergoyang seiring dengan gerakan Andhra.


"Ada apa hemm? Roman-romannya bahagia banget anak Mama!"


"Sini, Ma! Sini!" Rena kini dituntun oleh Andhra agar duduk di sofa.


"Ma! Mama cantik banget hari ini." Yah, memeluk lagi.


"Hemmh, sepertinya anak Mama lagi menginginkan sesuatu nih! Apa penting banget ya, sampai merayu mama. Tidak seperti biasanya lho. Jika mama perhatikan, kamu sampai tidak sempat ganti baju gini." Rena menarik sedikit lengan kemeja Andhra.


Andhra memiliki rumah sendiri dan jarang pulang ke kediaman Abhimanyu. Tapi beberapa hari ini, dia sering pulang dan menghabiskan waktu bersama. Untungnya rumah mereka tidak terlalu jauh.


"Iya ma! Ini demi masa depan Andhra nanti." Bersemangat sekali, seperti anak kecil mau minta hadiah ulang tahun. Rena memiringkan kepalanya tanda penasaran.


"Benarkah?" Rena sampai menggeser bokongnya, hingga berhadapan dengan Andhra.


"Tapi mama harus berjanji untuk mengabulkan permintaan Andhra. Ya! Ma!"


"Sebentar, mama harus tahu, permintaannya apa dulu. Mama tentu akan mengabulkan jika hal itu bisa Mama lakukan." Ucap Rena


"Mama pasti bisa melakukanya. Mama harus melakukannya."


"Ih, maksa banget anak Mama." Rena mencubit pipi Andhra dengan sayang.


"Sekarang katakan, anak Mama ini mau minta apa hemmmh!" Ganti menepuk lengan Andhra yang melingkar di lehernya.


Hening.


Andhra nampak salah tingkah. Melepas pelukannya, dengan lambat. Bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kayak perawan ditanya mau kawin apa ndak. Hehe


"Lho, kok malah diem. Ayo dong katakan. Anak Mama ini mau minta apa? Mama janji deh bakal mengabulkan jika memang mama mampu." Menarik tangan Andhra, lalu meletakkannya di atas pangkuan.


Hening.


"Ada apa sih ini!" Rasya baru saja pulang dari kantor, melonggarkan dasinya dengan susah payah. Rena masih setia duduk di samping Andhra dengan jemari bertaut.


"Pantesan saja, papa dicuekin. Anak laki-laki pulang sih." Yah, sifat cemburunya kumat. Meski begitu, Rena tidak ambil pusing, tahulah jika suaminya hanya bercanda.


Rasya mengambil tempat duduk tidak jauh dari keberadaan ibu dan anak itu. Tentunya setelah mencuri cium dari kening Rena.


"Ini nih, Pa. Anak kita kayaknya lagi galau. Katanya pengen sesuatu, tapi sejak tadi mama tungguin nggak bilang juga maunya apa."


"Benar itu Ndhra, kamu menginginkan sesuatu?"


Kenapa pipinya bersemu merah begitu? Kayak gadis dilamar saja. Batin Rasya.


"Andhra, benarkah apa yang diucapkan oleh mamamu?" Andhra perlahan menganggukkan kepala. Rasya menaikkan satu alisnya sebagai tanda heran akan kelakuan anaknya yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Sayang, jangan buat kami penasaran dong, ayo katakan! Apa permintaanmu?"


Hening.


"Ma! Tolong pinangkan seorang gadis untuk Andhra dong!" Ucap Andhra sambil memelas, dia tidak segan mencium tangan mamanya sebagai tanda merayu.


Rena dan Rasya saling menatap tidak percaya.


"Ma, Pa!"


Ayolah Ma, setuju saja. Kita pergi sekarang.


"Siapa orangnya Ndhra?" Rasya mencondongkan tubuhnya, telinga Andhra berubah memerah, mengapa tiba-tiba lidahnya kelu ya.


"Jangan bilang, jika yang kau maksud adalah gadis yang waktu itu ada di acara ulang tahun Cyra." Tebak Rasya yang langsung ditanggapi acungan jempol Andhra.


"Kok Papa tahu?" Andhra nyengir kuda.


"Gadis itu? Kenapa nggak yang lain saja Ndhra?"


"Sebab Andhra sudah jatuh hati padanya, Ma! Andhra tidak bisa lagi menahan gejolak ini. Dari sekian banyaknya gadis, hanya dia yang mampu menggetarkan jantung Andhra." Matanya mulai berkaca-kaca, ada rasa bangga karena telah menyampaikan maksudnya.


"Tidakkah kau memikirkannya sekali lagi? Masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dan menarik daripada gadis kampung itu?" Rena mulai mempengaruhi. Rasya nampak tidak setuju. Tapi, baru saja dia membuka mulut, Rena memberi kode padanya agar diam.


"Andhra tahu, Ma! Rossi tidak sebanding dengan mereka!" Senyum penuh terbit dari sudut bibir Rena.


"Apa kau memang sudah mantap?"


Rena masih bertanya.


Andhra bangkit dari duduknya. "Jika mama tidak mau, Andhra akan melakukannya sendiri. Tidak peduli apa kata orang nanti." Andhra segera mengambil keputusan untuk meninggalkan orang tuanya.


"Tunggu, Nak!" Rasya pun ikut berdiri dan menyentuh pundak Andhra. "Papa akan menemanimu." Ucap Rasya mantap.


"Baiklah, kita pergi sekarang kan, Pa!" Rasya mengangguk kembali, kali ini dibarengi oleh senyum yang tulus.


"Andhra, jangan bercanda ya! Mama tahu jika kamu tengah jatuh cinta dan ingin segera memilikinya. Tapi mana mungkin kita datang ke rumah orang tanpa pemberitahuan?" 


"Ma! Ayolah."


"Pa! Kita butuh Persiapan, belum punya apa-apa kita. Ke rumah orang juga harus bawa sesuatu. Tidak hanya datang dengan tangan kosong." Rena belum juga mengalah. Mana ada yang pergi ke rumah calon besan tanpa bawa buah tangan. Mau di taruh dimana muka ini.


"Andhra sudah pesankan bingkisan. Papa dan Mama tinggal duduk manis, dan persiapkan diri. Andhra sudah atur semuanya. Oke!"


"Tapi...!"


"Nggak ada tapi-tapian. Mama akan pergi bersama Andhra ke rumahnya Rossi sekarang. Ayo bersiap." Andhra mendorong tubuh Rena hingga sampai di depan kamar. "Mama dandan yang cantik. Helikopter sedang menunggu kita di landasan. Perjalanan singkat."

__ADS_1


"Ndhra kau...kau serius? Sayang, begini ya! Mama bukannya tidak setuju, tapi ini terlalu mendadak. Kita belum melakukan persiapan apapun." Rena berusaha memberi pengertian.


"Persiapan yang bagaimana, Ma? Nanti keburu diambil orang. Andhra tidak mau itu terjadi." Rena menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh sulit menasehati seseorang yang tengah mabuk cinta.


"Pa! Jelaskan padanya,Pa!"


"Orang sudah bener mau langsung menikah kok dilarang Ma. Hari ini melamar, besok menikah juga nggak papa."


"Paa...! Bukannya anak di arahkan malah di kompori."


"Biar lebih cepat dapat cucunya."


"Yup, buetul! Nanti akan Andhra kasih cucu cewek yang bisa diajak shopping sama Mama." Sambar Andhra.


Cyra biarpun cewek kan nggak pernah mau jalan berdua sama mamanya.


"Setengah jam lagi kita berangkat ya, Pa!Mama kalau keberatan ya...doain saja dari rumah, biar semuanya lancar." Setelah dirasa Rena tidak akan ikut dengan dirinya.


Mas Andhra minta do'a Maksa banget kan? Andhra bergegas pergi menuju kamarnya.


"Pa! Kita akan jadi pergi?" Rena masih belum percaya. Secepat inikah permintaan itu harus dikabulkan?


"Mau bagaimana lagi." Rasya menggidikkan bahu acuh. "Daripada nanti dia berbuat Zina." Tutur Rasya kemudian melenggang pergi.


Sebegitu frustasinya kah anakku? Sampai tidak sabar menunggu hari esok?


~


Di rumah Ozan.


"Sayang! Mana popoknya? Kenapa lama amat?"


"Bentar lagi sayang. Ada berita heboh nih!" Tunjuk Ozan pada notifikasi chat yang baru saja dia dapat.


"Berita paan? Paling juga mak-mak pagi bahas harga minyak. Cepetan mana popoknya." Arini tidak sabar lagi. Ozan tergopoh-gopoh sambil membawa benda putih bersih, menyodorkan nya pada Arini.


Ya! Meski memiliki pelayan, tapi dalam mengurus anak, Arini tidak akan membiarkan orang lain yang melakukannya.


"Ini lebih heboh daripada pembahasan harga minyak, Sayang! Bahkan satu kerajaan AGC bakal kena gempa karenanya."  Arini begitu penasaran dengan berita yang dimaksud oleh Ozan.


"Memangnya, berita apa?"


"Nih!" Mata Arini seketika membola, dia menutup mulutnya sendiri.


To be Continued.....


Kira-kira berita yang mana ya, yang sampai ke kepada Ozan?

__ADS_1


__ADS_2