Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 39 Mengantarkan


__ADS_3

"Lelah juga rasanya," Rossi melemparkan tubuhnya ke kasur yang selalu menemaninya menjelajahi alam mimpi.


"Kenapa aku selalu ingat wajahnya," gumam Rossi menutup mata. "Owh, dia tampan sekali malam ini," senyum Andhra tergambar jelas di otaknya. Bagaimana bisa dia begitu tertarik dengan pria dingin yang baru di kenalnya.


"Senyumnya, tatapannya, uhhh kenapa aku bisa segila ini, karna dia," menelungkupksn wajahnya ke bantal. "Hatiku meleleh, Kang" tertawa riang sambil geleng-geleng kepala.


"Lagi mikirin siapa, Neng!" sebuah suara membuat Rossi seketika terduduk. Matanya melotot sempurna, sedangkan bibirnya melongo, karna terkejut dengan kehadiran seseorang yang menari nari di pikiran.


"Apa, aku mimpi," dengan bodohnya Rossi menepuk pipi berulang-ulang. Lalu mencubit lengannya "Auwwhh," sadar dia jika seorang pria yang bersandar di pintu kamarnya adalah asli bukan bayangan.


"Kamu, kenapa bisa ada di sini?" ah malunya bukan kepalang, Rossi berharap jika ucapannya tidak di dengar oleh Andha, jika iya, apa yang harus dia lakukan coba.


"Ini!" melempar sebuah paper bag ke hadapan Rossi. Dengan masih ragu Rossi mulai mendekati dan membukanya perlahan.


"Secepat ini, kau menggantinya," Rossi sungguh tercengang akan handphone yang kini sudah berada di tangannya.


Flashback


Tadi saat di acara pesta.


"Kau!"


"Mari kita selesaikan malam ini dengan baik, Nona?"


Rossi langsung masuk ke dalam pelukan Andhra. Tapi naas, karna gugup, Rossi menjatuhkan benda pipih miliknya ke lantai. Sebelum sempat Rossi mengambilnya malah terinjak oleh sepatu Andhra.


"Apa yang kau lakukan," Rossi berjongkok mengambil ponsel miliknya yang retak.


"Kau ini manusia apa raksasa, satu kali injak saja ponselku sudah remuk begini?" ucap Rossi sendu menatap nanar handphone di tangannya.


Andhra jadi panik di buatnya, tapi bukan Andhra namanya jika tidak bisa mengatasi masalah sekecil itu. Apalagi masih banyak tamu di sana. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Andhra segera memberikan titah kepada Ozan untuk mengirimkan handphone dengan unlimited edition.


"Bangun, atau aku akan menciummu di sini sekarang juga," gertak Andhra. Dengan cekatan Rossi berdiri tegak sambil mengelap air mata yang hampir menetes.


Aku butuh waktu dua bulan untuk mendapatkan ponsel itu, dan sekarang! Hancur oleh pria Batu ini. Dasar Pria Batu.


"Ganti," ucap Rossi spontan, dia juga terkejut dengan apa yang di ucapkan.

__ADS_1


Kepalang tanggung. Pikirkan nanti malunya.


"Sebentar lagi juga sampai, sebaiknya kita selesaikan apa tugas kita malam ini." Andhra meraih kembali tangan Rossi dan mengalungkan ke lehernya. Menuntun Rossi untuk menyelesaikan acara yang tertunda. Entah kenapa hati Rossi tak mampu menolak ajakan Andhra.


"Aku suka kancil yang penurut."


Apa katanya? Sepertinya,daya tanggap Rossi sudah mulai ngeblank


*Bolehkah aku lebih serakah dan meminta lebih dari ini, ya Tuhan* batin Rossi. Perasaan apakah ini. Owh tidak! Masa laluku? Bagaimana jika kita bertemu nanti. Tak sanggup setia bila seperti ini godaannya.


Malam itu semua di penuhi oleh kebahagiaan tak terkecuali Andhra dan Rossi. Mereka berdua sibuk menata perasaan masing-masing mencoba mengerti sesuatu yang menggelitik di dalam hati mereka. Menguraikan rasa yang sulit untuk mereka ungkapkan melalui kata-kata. Tapi keduanya merasa enggan untuk sekedar saling melepaskan.


Bolehkah waktu diputar lebih lama dari biasanya?


"Selamat malam cantik."


Setelah acara itu, Rossi pulang diantarkan oleh Andhra, kata kata manis masih terlontar dari mulut Andhra membuat Rossi salah tingkah, hingga memutuskan untuk masuk kedalam kamar kostnya dengan segera dia lupa sudah tentang ponsel yang akan di berikan oleh Andhra.


Dan sekarang.


"Anda tidak ingin masuk bukan?"


*Bodoh kau Rossi kenapa kau persilahkan dia masuk, apa kata orang nanti jika ada yang melihatnya.*


"Waow, kau ingin aku masuk?" menunjuk ke wajahnya sendiri.


"Berhenti! tidak tidak jangan masuk kemari, aku mohon pergilah!" Rossi menyadari kebodohannya. Bisa bisa dia akan di kawinkan besok jika ketahuan sama ibu kost.


"Hai, aku sudah di sini tapi kau mengusirku begitu saja. Ini tidak adil untukku," Andhra pura pura merajuk. "Aku mau mampir dahulu," sudah duduk manis di ranjang. Rossi kalang kabut di buatnya, dia melongok memeriksa di luar, menutup pintu, lalu kembali lagi sambil mengelus dada.


*Syukurlah, tidak ada yang melihat, kini tinggal si biang onar ini. Ah dia kan pria idola hatiku, tidak tidak aku harus menyuruhnya pergi dari sini, atau aku akan mendapat masalah yang besar.*


"Kumohon, pergilah tuan," di buat seformal mungkin agar Andhra mau segera pergi dari hadapannya.


"Tadi kau tidak bilang seperti itu," Andhra tampak tenang-tenang saja bersantai di atas ranjang Rossi. Bahkan sekarang dia sudah merebahkan tubuhnya. Rossi semakin panik di buatnya.


"Aku mohon, Tuan! pergilah! aku akan lakukan apapun tapi jangan di sini," ucap Rossi menangkupkan kedua tangannya di dada. Yang di ajak bicara masih bergeming di tempat tidur.

__ADS_1


"Nyaman sekali tempat ini," ucap Andhra seakan tidak ingin pergi dari sana.


*Ayo Rossi berpikirlah buat orang ini pergi dari sini secepatnya. Atau hidupmu akan berakhir jika ketahuan,* batin Rossi dalam hati.


*Lihatlah wajahmu itu, begitu menggemaskan saat panik seperti itu. Aku akan membuat permainan ini lebih menarik.*


"Sudah, duduklah di sini apa kamu tidak ingin mencoba Handphone baru, Kamu?" Andhra masih mengulur waktu agar bisa berlama-lama dengan Rossi.


Rossi sudah mulai mendekat dengan sedikit ragu, bahkan dia terus menatap pintu agar bisa langsung siaga, bila di curigai nanti jika kedapatan berdua dengan lawan jenis.


"Wah, keren sekali handphonenya, jauh lebih bagus dari punya aku, terima kasih, ya. Pasti ini sangat mahal, ya? Kenapa tidak di belikan yang seperti milikku saja, tidak apa apa kok," ucap Rossi sok nggak enak hati, padahal jauh di dasar sana dia ingin berloncatan sekarang, karna Handphone miliknya sekarang memiliki kapasitas ruang yang lebih besar. Dia bisa mengunduh dan mendengarkan lagu sepuasnya dari sana.


*Tau begini dari kemarin-kemarin saja aku suruh dia injak handphone aku hihi lumayan dapat ganti berlipat-lipat lebih bagus dari punyaku.* batin Rossi.


"Ngapain ketawa sendiri, mikir apa hemm, pasti mikir hal yang nggak baik, nih," Andhra menyentil keningĀ  Rossi.


"Tidak! jangan sotoy deh jadi orang," elak Rossi menolak kebenaran yang Andhra ucapkan sambil mengelus jidatnya yang kena sentil.


"Kamu dengar sesuatu, tidak?" ucap Rossi tiba-tiba. Rossi memeriksa jam di tangannya.


."Owh, tidak ini adalah jamnya ibu kos memeriksa keamanan," ucap Rossi panik kembali "Kau pergilah, aku mohon atau aku akan benar-benar kena masalah nanti," ucap Rossi mendorongnya tubuh Andhra agar segera bangkit.


"Hei, kau tidak sopan sekali, mengusir tamu yang seharusnya kau hormati malah kau perlakukan seperti ini," ucap Andhra enggan sekali berdiri. Badan tegap nan kokoh itu tak bergeming oleh ulah tangan mungil Rossi


"Ayolah, aku mohon!" langkah kaki itu semakin mendekat semakin besar pula kepanikan yang di alami Rossi.


"Aku mohon keluarlah!" kali ini dengan mata berkaca-kaca. Andhra jadi tidak tega melihatnya.


"Baiklah, Nona, aku akan keluar dari sini," Andhra mulai berdiri tapi masih diam di tempat. Rossi berusaha mendorong tubuh itu, tapi tidak bergeser sedikitpun juga.


Dasar batu! Sudah bener pindahkannya.


"Apa yang kalian lakukan di sini," sebuah suara membuat jantung Rossi berdetak lebih cepat.


To be Continued


.

__ADS_1


__ADS_2