Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 49


__ADS_3

"Tuan, ini berkas yang Anda minta tadi."  Mella meletakkan berkas, tepat di depan wajah Andhra. Satu kali gerakan Andhra memeriksa dan membubuhkan tanda tangan.


Mella menatap lama seseorang yang duduk tenang di sofa, bahkan gadis itu mulai mendekat.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Mel, apa kau tidak punya pekerjaan lain?" Andhra segera pasang mode galak. Biar bagaimanapun, identitas tamunya ini harus tetap di rahasiakan.


"Maaf Tuan!" Mella segera membalikkan tubuhnya. Kemudian pamit undur diri. Pintu menutup perlahan, seiring hilangnya Mella.


"Hufft, hampir saja." Pria misterius itupun mengusap dadanya pelan.


"Apa kau tak merindukannya?" Gurau Andhra.


"Baiklah, akan aku peluk dia nanti!" Terdengar serius, tapi sebenarnya, dia lebih takut pada mata elang Andhra.


"Hai, Raja Elang, bisakah kau tidak lebih serius dariku. Selalu saja menakutkan. Bahkan di saat diriku tak berdaya begini." Ucap pria itu.


"Sampai semuanya jelas, kau akan tetap jadi bayanganku. Aku tidak tahu pasti, siapa sebenarnya yang bersalah di sini. Mella juga tidak tahu yang mana Hasma sebenarnya. Sejak kejadian itu, mereka telah bertukar wajah. Enda yang berada di jeruji, juga bukan yang aslinya. Bahkan wanita itu telah mati keracunan. Jadi bukan tidak mungkin, target berikutnya adalah dirimu." Andhra mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja.


"Ya! Anda tepat sekali. Terima kasih, karena sudah datang menyelamatkan diriku waktu itu. Anda telah banyak berjasa." Pria itu kembali membuka tudungnya. "Oh ya! Bukankah Anda telah datang ke rumahku kemarin?"


"Benar! Dia sangat pandai mempelajari karaktermu." Andhra memandang sejenak ke arah pria itu, lalu kembali memeriksa berkas terakhir.


"Apa dia pernah menyentuh Mella?"


"Dia pria bodoh!" Andhra menyakinkan orang yang sepertinya tengah di landa cemburu itu.Pria itu pun terlihat menghembuskan nafas lega.


"Syukurlah!"


"Dia tidak akan sebodoh itu!" Andhra tersenyum tipis.


"Dasar berondong!" Pria itu tersenyum sinis. "Mau saja di jadikan kacung sama tante-tante."


Pria yang duduk di sofa itu merasa jijik sendiri. Orang yang kini menyamar menjadi dirinya adalah pacar Hasma. Seorang pemuda berandalan yang urakan.


"Apa kau ingin mencicipinya?" Gurau Andhra, yang langsung di tanggapi pelototan.


"Jika ada yang manis dan legit, mengapa harus pilih yang alot dan pahit begitu. Pasti sudah banyak penyakit yang bersarang di tubuh plastiknya itu." Pria itu menggidikkan bahu geli.


"Bagaimana jika pertunangan itu benar-benar terjadi? Bahkan jika sampai mereka menikah. Aku tidak rela, Mella sampai jatuh ke tangan pecundang itu."


"Kau pikir, aku akan membiarkannya?" Andhra kini berdiri, lalu duduk sedikit jauh dari tempat tamunya berada. "Kau nikmati saja kebersamaan mu dengan Mella tiga hari ini. Ingat! Identitasmu harus tetap terjaga. Anggap saja ini adalah bonus untuk bakat tersembunyi mu ini." Andhra bicara serius.


"Bagaimana jika dia curiga. Ikatan hati, tentu lebih kuat bukan? Kau juga melihatnya tadi, dia seperti sadar akan keberadaan diriku."

__ADS_1


"Jangan membual! Bersiaplah, bukankah kau ingin pergi sejak tadi?" Pria itu memakai kembali tudungnya, memastikan jika maskernya terpasang sempurna.


"Sampai jumpa Minggu depan, Bos!" Andhra mengangguk.


Hening.


Sebaiknya, aku mengatur kepergian Mella.


Andhra bangkit, lalu melakukan panggilan.


"Keruangan saya, sekarang!" Ucapnya langsung memutus panggilan.


Mella berjalan santai menuju ruangan Andhra. Tadinya, dia berada di pantry untuk menyeduh teh. "Ada apa ya! Bukankah berkas terakhir sudah aku berikan? Apa ada yang keliru ya?"


Daripada kena semprot, sebaiknya aku bergegas. Gagal lagi deh, minum tehnya. Mella menggigit bibir bawah. Ah iya, kebetulan sekali ada OB datang.


"Mbak, mau bikin minuman ya?"


"Iya, Bu!"


"Jangan panggil ibu! Saya tidak setua itu. Panggil saja Mella."


"Tidak sopan rasanya, jika hanya panggil nama. Saya panggil Mbak Mella saja, ya! Seperti yang Ibu, eh Mbak panggil kepada saya." Mella mengangguk setuju.


Ketukan sepatu berhak tinggi, menggema seirama langkah kaki pemiliknya. Mella memenuhi panggilan Andhra, di tengah perjalanan, dia melewati sosok misterius yang membuatnya penasaran. Pria itu berjongkok guna memperbaiki simpul tali sepatu.


"Hai, kau!" Mella mencoba bicara saat mereka berpapasan. Tidak ada sahutan, bahkan orang itu pura-pura tuli,bangkit dan kemudian pergi, tanpa peduli pada panggilan Mella  "Hai, kau berhenti!" Mella masih bersikeras untuk mengejar.


Sayang sekali, meski sudah berusaha, pintu lift tertutup rapat kembali. Mella bergeming di tempat dengan rasa penasaran yang semakin meninggi.


"Siapa dia? Entah mengapa aku seperti mengenal sosok itu, postur tubuh, gaya jalan dan jaket itu."


Tidak ada gunanya, lebih baik aku temui Andhra saja.


~


~


~


"Ros, untuk hari ini dan seterusnya, kau tinggal di rumah paman. Paman tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu. Kau beruntung sekali, sebab ada orang baik seperti Tuan Andhra yang menolongmu. Bagaimana jika orang lain yang menemukanmu? Bisa saja mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan." Paman menyatakan keputusannya.


Paman tidak tahu saja, gara-gara pria itu juga Rossi sampai pingsan begini. Andai saja waktu itu Andhra langsung menolong, tentu Rossi tidak akan sampai pingsan. Huh! Pria itu juga telah mengambil hati paman.


Rossi memilih membuang tatapan keluar jendela. Jalanan lumayan lenggang sehingga tidak banyak mobil yang lewat. Bunga yang tersusun rapi di halaman rumah, terlihat indah bermekaran, ada dua kupu nampak bergembira ria di sana. Memenjarakan pandangan Rossi hingga paman merasa di abaikan.

__ADS_1


"Ros, kau mendengar Paman bicara bukan?" Tanya paman. Rossi memutar kembali pandangannya, bersitatap dengan pamannya kembali.


"Iya, Paman!"


"Jangan di ajak bicara terus, dia butuh asupan nutrisi saat ini." Bibi Ijah membawa nampan berisi makanan dan buah segar.


"Nak, makanlah dahulu, agar tenagamu cepat pulih." Bibi menyendok makanan lalu menyodorkan ke arah Rossi "Ayo! Buka mulutmu."


"Biar aku sendiri Bibi!" Pinta Rossi. Bibi itu tersenyum dan menyerahkan nampan pada Rossi.


"Kau urus saja dia. Aku akan kembali ke restoran untuk mengecek pembukuan. Kasihan Dion di sana sendirian." Ucap paman setelah mengusap lembut rambut keponakannya. Tak lupa juga mendaratkan ciuman di kepala sang istri.


"Bibi!"


"Hemmh, yah! Ada apa?"


"Antara Paman dan Bibi, siapa yang terlebih dulu jatuh cinta?" Tanya Rossi dengan gaya menggoda. Dia mengerling nakal sehingga bibi gemas di buatnya.


"Kalau saya bilang tidak tahu, apakah kau akan percaya?"


"Ish, ditanya malah balik nanya sih, Bi!" Rossi memasukkan makanan satu sendok penuh, karena kurang puas akan jawaban Bibi.


Bibi pun tergelak karenanya.


"Sebenarnya, Bibi yang menginginkan pamanmu waktu itu." Ucap Bibi malu-malu. Rossi menutup mulut, sebab reaksi Bibi sungguh berlebihan.


"Pamanmu waktu itu merantau di kota ini seorang diri. Dan Bibi, masih sekolah waktu itu. Bibi melihat pamanmu berdagang es krim. Bibi selalu bertemu dengannya saat dia berdagang di depan sekolahan bibi. Suatu hari, Bibi melihat pamanmu memberi es krim secara cuma-cuma pada anak jalanan."


"Bibi pun mulai memiliki hati untuknya. Setiap hari, bibi mengintai pamanmu. Dan setiap hari pula, paman mu memberikan es krim secara cuma-cuma pada anak jalanan."


"Lalu, bagaimana Paman bisa mengenal bibi?"


"Ituuu... saat tanpa sengaja paman memergoki bibi yang selalu mengikutinya." Bibi sampai menunduk malu, seperti anak gadis yang ketahuan jatuh cinta. Rossi tergelak karenanya.


"Lalu!"


"Kami berkenalan secara pribadi. Setiap bertemu, pamanmu selalu menggoda bibi. Sejak itulah kami sering berinteraksi."


"Cieee... Bibi. So sweet!"


"Tapi Pamanmu tidak segagah Tuan Andhra saat membopong tubuhmu." Rossi langsung kincep "Dia bagaikan aktor Hindrik Roshan." Bibi tersenyum sendiri, mukanya sampai memerah. Rossi menggigit sendok kuat-kuat.


"Apa dia bisa sekeren itu?"


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2