
"Kita telah sampai, kita akan temui kakek buyut dan kakek." Ucap Farid kepada si gembul Rafka. Andhra memalingkan wajahnya saat Farid semakin mendekat.
"Buyut, Kakek? Meleka capa!" (Mereka siapa?) Rafka mengedipkan mata berulang kali. Biskuit di tangannya tidak juga di lepas ataupun di makan sejak dari rumah.
"Mereka orang tua ayah." Jawab Farid singkat.
"Ndak ada olang." Balita berusia dua setengah tahun itu berkomentar. Farid meringis saja tanpa menjawab. Andhra tidak ingin ikut debat, dia memilih diam, masih sibuk dengan kenangan masa lalu.
"Dara!" Farid menatap istrinya memelas. Dengan maksud agar istrinya yang menjelaskan pada anak mereka.
"Karna mereka sudah memiliki tempat tersendiri, Sayang." Ucap Dara. Anak kecil itu nampak berpikir.
"Di mana tempatnya mah, atu mo main!" Dara tersenyum lagi.
"Tempatnya di sini, sayang!"Anak kecil itu menoleh ke kanan dan kiri.
"Ndak da capa capa!"
Dara memegang keningnya.
"Sudah, sudah ini makan biskuit aja! Setelah ini jalan jalan ya." Mengalihkan perhatian Farid senyum senyum sendiri sambil menciumi anaknya.
Sedangkan Andhra sudah berjalan dahulu dan bersimpuh di depan makam sambil mencabuti rumput. Kemudian mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa di ikuti yang lain. Rafka tampak bingung dengan tingkah para orang tua namun hanya diam saja malah sibuk dengan biskuit di tangannya meremah remahnya hingga mengotori tangan dan bajunya.
Berdoa telah selesai.
*Kakek, Andhra sudah menjadi orang sukses menurut kata orang. Tapi entah kenapa Andhra belum bisa merasa sukses, kek. Andhra juga sudah membalas dendam, tapi kenapa malah hati Andhra tidak tenang! Andai kakek masih hidup, pasti kakek akan menjadi tempatku bersandar.*
Selesai berdoa, Andhra dan Farid mendatangi rumah peninggalan kakek Suluh. Sekarang disana akan di bangun dua vila di kanan dan kiri bangunan kuno yang masih berdiri kokoh. Karna waktu yang masih terlalu pagi, para pekerja yang datang baru sedikit.
"Sudah berapa persen ini, Rid?" Andhra mengamati bangunan belum jadi di hadapannya.
"Baru tiga puluh persen. Dan sesuai permintaan darimu, kita tidak akan mengubah bangunan lama itu sedikitpun."
Raut wajah Farid sedikit berubah. Sejujurnya dia lebih memilih meratakan bangunan kuno yang menurutnya merusak pemandangan itu. Tapi bagi Andhra, itu adalah rumah berharga yang dianggapnya lebih mahal dari rumah manapun. Rumah dimana dirinya mendapat kehidupan baru. Banyak belajar tentang arti sebuah kehidupan dari seseorang yang bernama kakek Suluh.
"Bagus, rumah itu boleh saja di perbaiki, tapi jangan sampai merubah apapun yang ada di dalamnya." Maksud memperbaiki adalah hanya menggganti dinding bambunya dengan yang baru, tidak ada kata ganti dinding menjadi tembok atau apapun. Banyak kenangan berharga dari rumah yang telah ditinggal selama bertahun-tahun. Kalaupun Andhra pulang, jarang sekali menghuni rumah itu, sebab tempatnya lumayan jauh dari rumah lain
"Iya ya, aku tahu nggak usah di bahas lagi." Andhra tersenyum mendengar jawaban Farid. Syukurlah jika anak itu mau nurut.
__ADS_1
"Sudah! kita temui si Rusdi saja yuk!" Ajak Farid melihat seorang pemuda yang baru datang dengan motornya. Ada seorang cewek juga yang di boncengnya.
"Itu dia yang mengerjakan proyek kita ini." Farid memberi tahu.
"Bukannya dia anak dari pak Heru?" Selidik Andhra.
"Kamu sudah kenal, Kak!"
"Ya!"
"Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan?" Selidik Farid, sebab ibunya juga bercerita bahwa semalam Andhra pulang bareng dengan Heru.
"Nggak ada. Kami hanya bertemu tanpa sengaja." Jawab Andhra singkat.
Dara yang sedari tadi hanya diam saja kini berubah heboh setelah melihat seorang gadis turun dari motor Rusdi. Dara melambaikan tangan.
"Di sini." Teriak Dara sambil melambaikan tangannya.
Keduanya saling melepas rindu dengan berpelukan. Dua orang pria nampak memperhatikan keduanya. Terlebih Andhra yang sebenarnya terpesona dengan gaya Rossi yang sedikit tomboy dengan rambut tergerai bebas.
*Kenapa gadis ini makin terlihat keren ya.* Batin Andhra.
"Aku baik!" Jawab Rossi sambil melepas pelukan sahabatnya. Tentunya setelah cipika cipiki.
"Sejak kapan ada di rumah?" Tanya Dara serius.
"Baru tadi sore kok beb, ini anakmu ya. Wahhh gantengnya!" Sambil mencium pipi Rafka gemas.
"Anak panying danteng." Rafka sok pede.
"Lho udah bisa ngomong ya. Bilang apa dia."
Dara pun menerjemahkan bahasa yang digunakan anaknya."Anak paling ganteng!" Rossi semakin gemas di buatnya.
"Oh iya lupa ini kenalkan kakaknya Farid yang dari kota." Dara menunjuk Andhra. Yang di tunjuk hanya bergeming.
"Sudah kenal, kita juga pulangnya bareng kemarin."
"Apa!" Dara dan Farid bersamaan lalu saling menatap.
__ADS_1
"Iya dia yang boncengin aku pakai motor, thanks ya berkat kamu aku sampai rumah dengan selamat." Ucap Rossi pada Andhra.
*Semalam judes, sekarang hangat. Dasar cewek aneh. Kancil! Tapi macan."
Rusdi juga mendekat lagi setelah tadinya masuk ke dalam salah satu ruangan yang berada di dalam rumah kakek Suluh dengan membawa gulungan kertas. Farid dan Andhra pun berjalan kearahnya. Mereka akan membahas proyek lebih lanjut. Sedangkan Dara dan Rossi memilih masuk ke dalam rumah lama agar Rafka tidak terpapar cahaya matahari yang mulai terang.
"Jadi bagaimana bisa kamu pulang bersama kak Andhra?" Dara mendudukkan bokongnya di ranjang kuno yang masih terawat. Andhra memang tidak membiarkan siapapun merusak barang kenangan milik kakek Suluh.
"Kami tanpa sengaja satu tempat duduk saat di bis. Mukanya datar banget, kalau bicara seperlunya aja."
"Memang begitulah kak Andhra, tapi orangnya baik, kok." Dara yang bertujuan ingin menjodohkan Rossi dengan Andhra mencoba memprovokasi.
"Jadi, jangan katakan jika kau ingin jomblangkan aku dengan pria dingin seperti es kutub itu? Nggak usah ya...aku cukup nyaman menjadi jomblo selama ini." Ucap Rossi sambil menaikkan kakinya ke ranjang.
Rossi ingat pesan Dara saat mereka berkirim pesan, yang ingin mengenalkannya kepada seorang pria. Dan dengan kekehnya Dara membujuk Rossi, hingga saat ini sampailah dia di tempat ini. Semua karna ide Dara, dia menyuruh Rossi untuk ikut kakaknya ke tempat kerja.
"Kau, temanku mulai sejak kecil. Ya aku tahu Rossi kau masih menginginkan dirinya, seorang yang pernah hadir di masa lalu. Tapi sampai kapan? pangeran masa kecilmu itu pasti sudah dewasa sekarang, atau mungkin malah sudah menikah." Dara menasehati temannya itu.
"Tapi aku tidak bisa melupakan kenangan itu, Dara! Bahkan aku masih ingat di mana tempat tinggalnya. Hanya saja, sekarang dia sudah lama meninggalkan tempat itu. Dan sayangnya aku tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Tapi aku yakin bisa bertemu dengannya suatu saat nanti." Rossi menghapus air mata yang mulai menetes tanpa dia sadari."Dan aku tidak bisa menjalani sebuah hubungan dengan pria lain, karena nama Angger selalu ada dalam ingatanku."
"Bukannya kau tidak bisa Rossi, tapi kau tidak mau berusaha. Sudah banyak pria yang ingin dekat dengan kamu? Tapi kamu tidak mau membukanya dan membiarkan salah satu diantara mereka masuk."
"Apa itu salah?" Rossi mengusap air matanya kasar.
"Tidak salah, hanya saja kurang tepat. Kau seperti membatasi hatimu, padahal hatimu juga ingin bahagia. Kau hanya butuh mencobanya." Dara tersenyum mengelus lembut pundak temannya.
"Entahlah Dara."
"Sudahlah jangan menangis. Dasar gadis cengeng." Ejek Dara.
Dara berteman dengan Rossi sejak kecil, walau desa mereka berjauhan. Tapi itu tidak membuat tali persahabatan mereka renggang. Dara tahu betul jika Rossi sering menyisihkan uang jajannya agar bisa mencari seseorang yang pernah hadir di masa kecilnya suatu saat nanti, bahkan dia rela tinggal dan bekerja di rumah pamannya agar bisa dengan leluasa mencari sosok yang dicari selama ini.
"Aku berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti."
"Hemmh, yah aku doakan yang terbaik untukmu. Namun tidak ada salahnya kan? Mencoba dekat dengan Kak Andhra." Rossi mengerjapkan mata berulang kali. Andhra memang menawan dan cukup menarik hati.
"Akan aku pikirkan nanti."
To be continued
__ADS_1