Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 55


__ADS_3

Andhra telah menyelesaikan semua urusan biaya administrasi, bahkan menyisakan sejumlah uang di rumah sakit, jika nanti ada biaya tambahan. Andhra bahkan ikut menunggu jalannya operasi hingga selesai.


"Terima kasih, Mas. Sungguh beruntung nasib saya dan istri." Pria yang mungkin telah memasuki kepala empat itu, mencium tangan Andhra.


"Maaf! Saya tidak berhak menerima penghormatan sebesar itu. Saya hanya manusia biasa yang mendapatkan amanah untuk berbagi kepada sesama." Kilah Andhra, membatasi diri agar tidak tinggi hati. Andhra sungguh bersyukur, hidupnya jauh lebih baik daripada orang yang kini berada di hadapannya.


"Tetap saja, saya sangat berterima kasih. Istri dan anak saya selamat. Itu semua berkat bantuan Anda. Saya berjanji, akan berusaha melunasinya." Ucap orang itu, wajahnya sendu dan menampakkan kejujuran.


"Itu tidak perlu Anda pikirkan, yang terpenting adalah, keluarga Anda bahagia menyambut anggota baru."


"Sangat. Kami sangat bahagia." Pria itu mengusap air matanya. "Terima kasih sekali lagi."


"Sama-sama. Ini kartu nama saya, jika ada sesuatu, Anda bisa menghubungi saya." Ucap Andhra. Menyerahkan sebuah kartu nama. Setelah itu, Andhra bergegas pergi. Tujuan utama adalah menengok anak Ozan.


Pria itu termenung saat membaca kartu nama yang diberikan oleh "Angger Andhra Abimanyu. Jadi, dia...!" Pria itu hampir saja memanggil kembali Andhra, namun sayang! sudah tidak ada lagi. "Cepat sekali perginya. Semoga kita bertemu lagi. Andhra! Sungguh kau adalah penolong keluargaku. Suatu saat nanti, aku tidak akan segan untuk menolongmu. Semoga hidupmu selalu mendapat kebahagiaan."


~


Kamar VVIP rumah sakit.


"Sayang, bagaimana cara gantinya ini?" Ozan bingung sendiri, popok di tangannya hanya dibolak-balik sejak tadi.


"Makannya, jangan sok kalau nggak tahu caranya. Katanya bisa, sekarang malah ngedumel sendiri." Arini mencoba untuk duduk dengan susah payah.


"Minta bantuan kalau mau bangun!" Sebuah tangan terulur untuk membantu Arini. "Ozan, seharusnya kamu lebih sigap. Istrimu masih lemah. Mengapa dibiarkan bangun sendiri?" Wajah Andhra nampak datar, matanya menatap tajam ke arah Ozan.


"Bos, Anda di sini?" Ozan segera mendekati istrinya. Ada rasa cemburu, namun dia harus sadar, bahwa Andhra telah menganggap Arini sebagai adik.


"Tadinya, Mas Ozan berinisiatif untuk ganti popok si baby, tapi ternyata malah nggak bisa." Arini memberengut.


"Memang apa yang dia bisa? Kalau makan sih, iya!" Ketua Andhra


Andhra berjalan mendekati bayi mungil yang dibiarkan begitu saja oleh Ozan. Dengan cekatan, Andhra mengganti popok. "Ponakan paman, ganteng sekali. Kita tidur yuk!" Andhra menggendong si baby, membawanya ke sofa dan menidurkan di atas dada bidangnya. "Kita bobok ya, Sayang!"


"Andhra, kau kemari hanya ingin mengejekku dan mengambil alih posisiku saja?" Ozan tidak terima. Mendekati Andhra dan anaknya yang nampak anteng. Keduanya sudah tidur pulas.


"Lihatlah, mereka mudah sekali akur, tapi kenapa saat bersamaku, dia selalu rewel?" Protes Ozan.


Andhra memang sangat pandai merawat bayi. Hal itu Andhra pelajari saat Si Kembar di lahirkan. Rena bahkan tidak menyewa baby sitter, sebab sudah sangat terbantu oleh kehadiran Andhra.


"Mas And memang yang terbaik!"

__ADS_1


Arini mengulas senyum bangga. Sedari kecil, dia sudah terbiasa bermain bersama Andhra. Jadi, tahu betul bagaimana dulunya Andhra yang menyanyangi anak kecil, terutama Si Kembar.


"Sayang, aku rasa, anak kita akan lebih menurut kepadanya daripada padaku." Ozan mengadu.


Arini hanya menggidikkan bahu acuh. Merebahkan tubuhnya kembali, bersiap untuk tidur. "Jangan lupa, ambil si Baby, jika kau hendak tidur." Titah Arini sambil menaikkan selimut.


"Sayang!"


"Hemmh!"


"Sayang, aku tidur di sebelahmu, ya?"


"Nggak mau! Sempit! Itu ada tikar yang di bawa Mak Nah tadi." Arini menyebut pembantu yang ikut menemaninya sejak kemarin sebelum operasi.


`


~


~


Tok


Tok


Tok


"Iya! Lima menit lagi, Mbok."


"Ada yang pengen ketemu sama Non Mella."


"Siapa sih, Mbok?"


"Katanya, orang yang semalam bersama Non."


"Aku mandi dulu, Mbok."


"Iya, Non!" Terdengar suara pijakan kaki itu menjauh, hingga tidak terdengar. Mella membuka selimutnya dengan malas.


Pagi-pagi sekali, Mella dikejutkan oleh tamu tak diundang. Siapa lagi kalau bukan seorang pria yang tadi malam bertemu dengannya di kafe.


"Semalam dia membuatku susah tidur, dan sekarang, dia membuatku kelabakan sendiri. Masih terlalu pagi, mau apa sih dia." Mella mencari baju ganti, kemudian menyiapkan tas yang akan dia bawa. Setelah semua lengkap, Mella bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


"Non Mella mandi dulu katanya, Mas nya mau minum apa sambil menunggu?"


Tadi, maskernya dibuka, sekarang kok dipakai lagi ya!


"Tidak usah repot-repot Mbok. Saya hanya datang untuk menjemput Mella."


"Jika begitu, saya permisi, Mas!"


"Silahkan, Mbok!"


"Wajahnya kok kayak tidak asing ya?" Gumam Si Mbok sambil berlalu. Masih mengingat-ingat kiranya pernah ketemu di mana.


Dua puluh menit pun berlalu, Mella tidak juga muncul. Pria itu masih sabar menunggu, meski sesekali gelisah, bahkan mungkin sudah ke sepuluh kalinya memeriksa jam di tangan.


"Wanita ini, selalu saja membuatku menunggu." Pria itu tersenyum sendiri. Membayangkan wajah manis Mella saat tersenyum.


"Aku bisa gila karena penyamaran ini. Harusnya aku selalu melimpahkan kasih sayangku padamu, hanya saja, semua harus begini jalannya. Demi kamu, dan masa depan kita."


Pria itu berdiri, menekan perasaan yang hampir tumpah. Andai waktu tidak sekejam itu padanya, mungkin dia akan menjalani kisah cinta ini layaknya manusia normal.


"Kita berangkat sekarang?" Sebuah suara membuat tubuhnya berputar. Pria itu terpaku oleh pesona paras ayu nan indah milik Mella. Dari sisi manapun, Mella adalah gadis manis yang patut untuk di puja dan di cinta.


"Cantik! Seperti bidadari!" Ucap pria itu tanpa sadar. Sayangnya, Mella tidak bisa melihat bagaimana bodohnya raut wajah pria itu jika terpesona.


Kenapa aku bisa salah tingkah begini ya? Aku merasakan kejujuran dari nada bicaranya. Dan hati ini, kenapa selalu berdetak kencang seperti pertama kali bertemu dengan Ryo. Dan saat saya bertemu dengan Ryo, kenapa malah seakan-akan mati rasa. Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah hatiku sudah mulai mendua. Batin Mella.


"Emhhh, apakah kita bisa pergi sekarang?" Tanya Mella setelah kembali sadar. Pria itu hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.


"Tidak sarapan dulu, Non?" Mella memeriksa jam di tangannya. Simbok sekan paham jika majikannya tengah buru-buru, dia memiliki inisiatif baru. "Atau saya bungkus saja ya Non, buat nanti makan di jalan." Si Mbok pergi tanpa menunggu persetujuan, dengan sigap tangannya menata nasi goreng beserta lauk pauknya.


"Mbok, tambah timun dan kerupuk ya!" Pria yang tadi tiba-tiba mendekat bersama Mella.


Dia... Bukankah itu kesukaan Ryo, nasi goreng dengan timun dan kerupuk. Batin Mella.


"Mbok, jangan kasih telur untuk saya. Saya tidak suka telur." Mella seketika menolehkan kepalanya.


"Kau...!"


"Kenapa?" Kata pria itu sewot.


"Kauu...! Seleramu sangat mirip dengan seseorang yang begitu dekat denganku." jawab Mella.

__ADS_1


"Selamat pagi! Surprise!" Ucap seseorang yang baru saja datang bergabung. "Pada mau kemana ini? Mella, bawa koper segala mau pergi kemana? Kenapa tidak ada bilang padaku?"


To be Continued....


__ADS_2