Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 8 Bonceng aku ya


__ADS_3

Bonceng aku ya


Suara dentingan sendok terdengar jelas di ruang makan. Disana ada Ozan dan Arini. Ozan makan siang dirumah. Tentunya atas permintaan sang istri yang tidak enak hati sebab melupakan mengurus suami di pagi hari.


"Apa mas And sudah berangkat?" Arini menatap suaminya.


"Manis sekali, kau selalu memanggilnya seperti itu!" Kesal Ozan. Dia cukup cemburu bila istrinya menyebut nama Andhra dengan sebutan mas And.


"Hai...kita bersama sedari dulu. Seharusnya kau tidak mempermasalahkannya! Buktinya aku menikah dengan, kamu!" Arini heran dengan suaminya ini masih saja cemburu padahal mereka kan teman akrab dari kecil ah ralat sejak remaja lebih tepatnya.


"Apa kau mencintaiku!" Goda Ozan.


"Tentu saja bahkan dulu, aku sempat mengikuti ide konyol mas And untuk membuatmu cemburu." Arini segera membekap mulutnya sendiri.


Ozan menghentikan sendoknya yang hampir saja mendarat di mulut. Dia tersenyum penuh arti, mendekatkan wajahnya pada Arini.


"Bilang apa, kamu!" Ozan menaikkan satu alisnya. Tapi senyum di bibirnya penuh dengan umpan.


"Tidak...aku tidak bilang apa apa, kau salah dengar kali. Ah iya sayur ini enak ya." Pura pura sibuk dengan makanan di hadapannya.


"Berarti waktu itu Andhra hanya pura pura ya!" Wajahnya datar kembali. Tapi hatinya begitu menghangat senang ternyata Andhra sahabatnya tidak benar benar menyukai istrinya.


Arini gelagapan harus jawab apa. Pasalnya, dia cukup gengsi untuk mengakui rasa cinta yang begitu dalam untuk Ozan. Bahkan rasa itu telah ada semenjak SMP hanya saja Ozan yang playboy itu tidak pernah menyadarinya. Ozan sibuk untuk mengejar gadis lain.


"Hehe ...iya. Mau bagaimana lagi. Kamu tidak pernah melirikku waktu itu." Mengaku sajalah lagian sudah keceplosan juga.


Ozan malah mengecup kening, pipi dan bibir istrinya bergantian.


"Maafkan aku. Karna aku telat menyadari perasaan aku yang sebenarnya."


"Eh ini rasanya kok pedas ya." Ozan menjilati lidahnya sendiri beberapa kali, dia langsung meneguk air di hadapannya hingga tandas. Arini tergelak karenanya.


"Maaf, aku menguyah cabe tadi." Mata Arini sampai berair karna menahan tawa.


"Kamu masih suka menguyah cabe?" Wajah Ozan masih memerah karna menahan rasa pedas di lidahnya matanya melotot sempurna. Pasalnya semenjak hamil, Arini demen banget makan cabe. Katanya kurang enak kalau tidak lalap cabe.


"Aku tidak tahan." Arini sedikit murung. Ozan melirik mangkuk berisi cabe yang ada di hadapan Ozan. *Sejak kapan mangkuk itu berada di sana ya?* Batin Ozan.


"Tapi, apa kamu baik baik saja setelah makan itu." Ozan menunjuk cabe di meja,  dan setelah itu mengelus  perut Arini yang sudah membuncit.


"Dia yang mau!" Mimik muka Arini memelas agar tidak mendapat ceramah pagi. Ozan menarik nafasnya kasar. "Boleh ya! Emang kamu mau kalau anak kita nantinya ileran?"

__ADS_1


Dia yang mau, anak yang dijadikan alasan.


"Apa kamu tidak ingat, jika kamu punya sakit magh? Kamu tidak boleh makan terlalu pedas, sayang."


Arini memegang tangan suaminya.


"Aku baik baik saja. Ini kemauan si dedek." Menyakinkan suaminya.


"Baiklah. Tapi jika kemauannya menyusahkan dirimu, aku harap kau jangan asal menurut dengan, dia." Ucap Ozan sambil mengelus perut istrinya. "Jangan buat mama kamu susah ya." Mencium perut istrinya. Arini begitu bahagia menerima perlakuan suaminya.


Di kediaman Andhra


Andhra telah melangkahkan kaki menuruni tangga. Pakaian kasual  dengan paduan hoodie warna hitam, celana jogger warna gelap dan ditutup oleh sentuhan sepatu berwarna kontras berwarna putih kanvas. Juga tas punggung hitam miliknya.


"Berangkat sekarang, tuan." Pak Rif menyapa majikannya di bawah tangga.


"Iya, pak Rif apa sudah siap?" Jawab Andhra.


"Sudah, tuan!" Sambil tersenyum mempersilahkan pagi ini Andhra akan pulang ke desa dengan menaiki bus.


"Apa anda yakin akan naik bus, tuan!" Pak Rif sudah membukakan pintu belakang  untuk tuannya. Tapi Andhra malah membuka pintu depan tempat menyetir.


"Harus hati-hati ya Tuan!" Andhra mengangguk.


"Ayo masuk pak Rif biar kali ini aku yang bawa mobilnya."  Pak Rif menutup pintu belakang dan duduk di samping kemudi. Dia tersenyum bahagia jika seperti ini dia akan merasa tenang membiarkan sang majikan pergi sendiri.


"Pak Rif, nanti kalau Ozan datang kerumah tunjukkan berkas yang ada di nakas tepi ranjang ya, pak!" Andhra membuka suara saat di tengah perjalanan.


"Baik, tuan. Tapi...apakah tuan tidak apa apa pergi sendiri?" Kekhawatiran terlihat jelas di netra pak Rif.


"Aku bukan anak kecil pak Rif!"


Lalu mereka berdua diam kembali hingga sampai di terminal.


Andhra memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya juga memakai kaca mata hitam. Dengan santai dia menduduki kursi kosong yang di peruntukan untuk dua orang. Bus sudah mulai penuh. Kondektur mulai mengintruksikan agar segera jalan.


Seorang gadis dengan tergesa gesa masuk dan mencari tempat duduk. Saat menemukan bangku kosong di samping Andhra dia langsung mendudukkan bokongnya.


"Hufft panas sekali." Suara gadis itu seraya melonggarkan tasnya dan mendekapnya di depan. Membuka kancing kemejanya. Di ambilnya earphone bluetooth lalu duduk santai.


Aroma vanilla tercium begitu dekat di penciuman Andhra. Dia pun membuka bola matanya. Gadis itu memakai kaos dan kemeja kotak dengan lengan panjang. Di gulung nya bagian lengan hingga siku.

__ADS_1


"Ah maaf. Bisakah kau melebarkan lagi kaca jendelanya?" Tanya gadis itu di balik masker. Tubuh gadis itu sedikit menjauh dari Andhra. Tapi bus berbelok hingga membuat gadis itu jatuh di tubuh Andhra. Pandangan mata mereka bertemu. Andhra sekilas terpana dengan sorot mata gadis di hadapannya ini. Sayangnya tertutup oleh masker.


"Maaf." Ucapnya dengan malu malu.


"Apakah anda bisa duduk dengan tenang sekarang!" Intonasi yang di keluarkan Andhra terdengar kesal.


"Aku kan tidak sengaja!" Gadis itu duduk dengan tenang sekarang. Sesekali terdengar suara lirih dari mulutnya. Rupanya dia mengikuti lirik lagu yang di dengarnya. Andhra berdecak kesal karena merasa cukup terganggu.


"Bisakah kau diam?" Andhra membuka suara juga akhirnya.


"Kenapa memangnya!" Gadis itu membalas ucapan Andhra.


"Suaramu tidak enak di dengar!" Ejek Andhra.


"Hai itu karna aku tidak pegang mikrofon. Kalau dengan itu, pasti kau akan sangat terhipnotis." Gadis itu membuka maskernya. Ternyata dia sambil mengunyah permen karet. Dengan santai gadis itu membuat gelembung.


Andhra menatap sekilas wajahnya memiliki pesona tersendiri. Gadis itu mengambil tisu lalu membuang permen di mulutnya. Melemparkan tisu itu kebawah kursi penumpang lain. Setelah itu, dia mengambil air mineral dan menenggaknya hingga separuh.


"Mau minum, kang!" Gadis itu menyodorkan air minumnya. Andhra mengangkat tangannya sambil menggeleng.


Gadis itu menutup botol minuman miliknya. Lalu mengeluarkan camilan dari sana.


"Silahkan, Kang. Jangan malu malu biar tidak mengantuk di perjalanan." Padahal sebenarnya Andhra pengen sekali memejamkan mata. Tapi gadis di sampingnya tidak membiarkan itu terjadi.


"Ayolah ambil, Kang!"


Andhra menatap tajam gadis di sampingnya. Dan hanya di tanggapi nyengir.


"Nggak mau ya sudah, Kang jangan galak galak gitu. Nanti jauh dari jodoh lho." Andhra makin melebarkan bola matanya. Bisa bisanya nih gadis berkata seperti itu.


"Kang, akang mau kemana, kang. Boleh kenalan nggak dari tadi diem terus." Gadis itu mengoceh lagi.


Andhra hanya menghembuskan nafas kasar.


Berdosakah bila ku lempar gadis ini lewat jendela?


To be continued


Dengerin tuh kang Andhra bisa jauh dari jodoh lho. Hemmh


Ayo ayo jangan lupa dukungannya. Ntar jauh dari jodoh lho hehe

__ADS_1


__ADS_2