
"Tuan, apa pantas saya duduk enak di sini layaknya seorang, Bos," gerutu Ozan sambil membenahi letak duduk yang sebenarnya sangatlah nyaman. Hanya saja hatinya yang tidak enak karena Andhra kini menyetir untuk dirinya. Andhra masuk mobil segera sebelum Ozan dan mengambil alih kemudi.
Tiga puluh menit yang lalu, keduanya mendatangi rapat penting di salah satu perusahaan, sejak bertemu tanpa sengaja, bertabrakan di lobi perkantoran dengan seorang wanita berkacamata besar, Andhra mulai menunjukkan sikap yang berbeda.
"Bos, jika begini orang-orang akan salah paham. Mereka akan lebih hormat padaku daripada kau." Ozan membujuk lagi. Andhra diam sambil terus fokus menyetir.
"Bos! Aku tidak enak hati karena sikapmu ini. Ingat harga dirimu itu. Kau harusnya duduk di belakang dan aku yang mengemudi." Pinta Ozan dengan sangat memelas. Biasanya, jika Andhra tengah kelelahan, akan duduk di belakang bila tengah segar bugar, akan duduk di samping pengemudi tapi sangat jarang nyetir sendiri. Andhra akan lupa daratan jika sudah melajukan mobil. Bahkan kecepatannya bisa saja melampaui batas normal.
"Diam atau aku akan melemparmu keluar!" ucap Andhra ketika berhenti di lampu merah. Ozan mengangkat kedua tangannya ke atas, sebagai tanda menyerah. Tapi rupanya tidak dengan mulut lemes si Ozan. Dia mulai membual lagi setelah mengedipkan satu matanya pada pengendara mobil yang berada tepat di sebelahnya mobil Andhra.
"Bos, perempuan cantik itu meresponku dengan sangat baik. Lihatlah, dia sampai tersipu malu begitu. Ada untungnya juga kau yang menyetir. Aku hanya duduk dan fokus menggoda para cewek cantik yang aduhai," kelakar Ozan sambil tetap menggoda seorang pengendara cantik.
Pikiran Andhra mendadak kacau, dia ingat kembali pada wanita yang dia temui di lobi kantor. Andhra melihat tato pada wanita itu, tato yang mengingatkan Andhra pada beberapa kenangan buruk di masa lalu. Darahnya langsung mendidih jika mengingat semua kenangan pahit masa lalu, tapi demi keselamatan, Andhra harus bisa mengendalikan diri.
"Tidak takut istri lagi." ucap Andhra tanpa menoleh pada Ozan. Artinya adalah, bisa saja Andhra akan mengadukan kenakalan Ozan pada Arini. Ozan segera meninggikan kaca mobilnya lagi.
"Please Andhra, aku hanya bercanda, Oke!" Ozan duduk sambil meletakkan siku di tepi jendela. Jemarinya menekan dagu. "Ini gara-gara kau mengambil alih posisiku. Kau itu atasan, mengapa serakah sekali padaku. Harusnya aku menyetir, tapi kau ... Sudahlah." Percuma saja bicara pada orang datar macam Andhra. Ozan saja bingung harus bicara apa lagi agar Andhra mau bertukar tempat. Sebenarnya Ozan tidak enak hati karena Andhra yang tidak pernah memposisikan dirinya seperti bawahan, tapi lebih kepada saudara.
"Kau juga tidak menunjukkan sikap Bos yang baik. Karyawan tengah berdemo, kau malah asyik saja dalam diam. Sungguh menyebalkan."
Lampu merah telah berubah kuning, kemudian berganti hijau, namun apa yang terjadi, Andhra masih setia pada tempatnya berhenti. Ozan sampai pengeng mendengar suara klakson di belakang.
"Bos, jalan wooi!"
Ada ekspresi kurang baik saat melihat Andhra yang tetap diam dan melajukan mobil dengan kecepatan diluar batas.
__ADS_1
"Bos, Andhra kau... Kau sedang dalam masalah?" Bukan pertanyaan sebenarnya, tapi lebih kepada kekhawatiran pada diri sendiri atau lebih tepatnya pada nyawa. Ozan memegang kuat apa saja yang bisa dia buat pegangan. Andhra tidak peduli, malah menaikkan laju kendaraan. Bahkan tubuhnya harus sampai miring beberapa kali sebab terhuyung seirama gerakan mobil yang melaju kencang.
"Andhra, aku mohon. Jika begini jalan ceritanya, maka lebih baik kau lempar saja aku keluar." Suara Ozan lebih keras daripada sebelumnya.
"Andhra, bisakah kau menurunkan laju kendaraan ini?" Kali ini Andhra sudah di luar kendali, matanya terlihat nyalang dengan garis kemerahan pada retinanya. Beberapa otot di tangan terlihat menonjol, bahkan rahang Andhra sudah mulai mengeras.
"Andhra... Kau sudah gila ya. Kalau kau ingin mati, mati saja sendiri. Aku masih ingin hidup bersama istri dan anakku." Suara Ozan menggelegar hingga menembus sampai ke gendang telinga Andhra yang tadinya seperti tuli. Bayangan mamanya yang meninggal, melintas dalam pikiran Andhra tanpa mampu dia kendalikan. Mobil melesat begitu cepat tanpa bisa dikendalikan lagi.
Sebuah mobil meluncur dari arah berlawanan, Ozan yang melihatnya, mendadak panik.
"Andhraaaa ....!" Ozan semakin panik dan mengeratkan pegangan, merapalkan doa apapun yang dia bisa. Sepintas dia ingat akan keluarganya, jika memang nyawanya telah sampai di sini, Ozan pasrah saja meski sebenarnya tidak rela. Ozan menutup rapat matanya, terasa tubuhnya oleng beberapa kali hingga membentur dinding jendela kaca, lalu oleng lagi hingga rasanya semua tulangnya terlepas dari tubuh. Hanya perasaan takut dan panik yang mendominasi.
Berbeda jauh dengan Andhra yang terlihat tanpa ekspresi, terlihat tenang meski otaknya tengah dirasuki penyakit masa lalu. Andhra membanting setirnya ke kiri hingga masuk ke ladang seseorang. Ladang yang penuh dengan tanaman sayur mayur itu hancur berserakan. Mobil berbelok dengan kencang, kemudian memutar dan merusak hampir separuh tanaman sayuran.
"Apakah kita masih hidup?" Ketika kembali membuka matanya, terlihat Andhra menekan kepala dengan memejamkan mata. Bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Yang dirasakan adalah sakit kepala luar biasa hebat.
Ozan segara mencari obat milik Andhra. Sial, sebab kekacauan yang dibuat Andhra, Ozan cukup kesulitan mencari keberadaan obat itu. "Andhra, dimana kau menyimpannya?" Andhra terus saja menekan kepala, tidak ada tanggapan apapun. Antara kesal dan panik, Ozan mengabsen semua binatang yang dia kenal.
Keringat dingin mulai bercucuran, Ozan semakin khawatir karenanya. Saat genting seperti itu, seorang pria berusia senja mengetuk kaca mobil.
"Hai, keluar kau."teriak orang itu. Ozan menjambak rambutnya frustasi. Dengan gugup membuka kaca jendela mobil.
"Maaf pak, ada apa ya?" Ozan lupa jika dirinya tengah merusak ladang orang.
"Ayo Keluar" titah pak tua itu.
__ADS_1
"Tapi, Pak!" Ozan melihat ke arah Andhra yang nampak menyedihkan.
"Keluarlah!" titah pak tua lagi. Wajah keriput itu terlihat lebih tegas dari sebelumnya.
"Ya, iya, saya akan keluar pak!" Ozan membuka pintu mobil dengan susah payah, bahkan sabuk pengaman itupun menjadi sangat sulit untuk di lepas. Bodohnya dia yang dalam keadaan panik, membuka pintu mobil sebelum melepaskan seatbelt.
"Ayo keluar!" Ucap pak tua itu lagi.
"Iya, pak! Ini sudah keluar. Tapi teman saa...!" ucapan Ozan menggantung saat matanya melihat kekacauan yang telah diciptakan oleh Andhra. Kebun itu seperti habis diterpa ****** beliung.
Kau sudah membinasakan penghasilan seseorang, Ndhra. Lihatlah hasil dari kenakalanmu itu. Batin Ozan.
"Maafkan atas kesalahan kami, Pak! Ini adalah sebuah kecelakaan. Kami juga si siap menanggung ke ... Kerugian..." Ozan menjadi sedikit kesulitan berkata-kata dia menunjuk ke dalam mobil. "Teman saya yang mengemudi dalam keadaan tidak baik-baik saja, jadi saya mohon agar Bapak memakluminya." Ozan mengatupkan kedua tangan dengan tak enak hati. Pak Tua itu mengamati isi mobil dan menemukan Andhra dalam keadaan kacau.
"Keluarkan dia, dia sedang dalam kesakitan." ucap bapak itu tanpa menoleh ke arah Ozan.
"Hati-hati. Bawa dia ke gubukku!"
"Tapi, Pak! Apa tidak sebaiknya saya bawa ke rumah sakit saja?" Biasanya juga begitu, jika kumat begini, Andhra dibawa ke rumah sakit.
"Bawa ke gubukku. Bukankah dia telah merusak ladangku? Dia harus bertanggung jawab untuk semuanya.
"Tapi, Pak! Lihatlah kea ...!"
"Diam, atau aku akan lapor polisi."
__ADS_1
To be Continued..