
Rambut kusut itu dibiarkan terurai, sebuah pisau terlempar membentur kaca hingga pecah sampai berkeping-keping.
Mella mencengkeram rambutnya. Serpihan kejadian buruk kembali terbayang.
"Ndhra, dia sudah terbukti bersalah. Jangan lepaskan dia. Atau dia akan berbuat lebih buruk dari ini." Ozan sudah tidak bisa mentolerir. Baginya setiap orang yang melakukan kesalahan harus di hukum, baik kesalahan itu kecil ataupun besar. Terlebih terhadap orang yang telah berkhianat. Sekecil apapun penghianatan itu di lakukan pasti akan terjadi lagi jika ada kesempatan.
"Tidak Ndhra, aku mohon!" Menangkupkan kedua tangannya, dia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tapi mengapa ada yang memfitnahnya. *Cobaan apalagi ini ya Tuhan* batinnya
"Silahkan keluar!" Lirih Andhra.
"Apa kau tidak dengar?"
Mella sempat terkejut karna suara Ozan yang terlampau tinggi. Jika auman singa sudah menggema bersiaplah untuk mendapatkan terkamannya. Dilihatnya Andhra yang tidak mau memandang ke arahnya. Sedangkan Ozan memandang dengan tatapan elangnya.
"Sebaiknya kau pecat saja dia dan beri kartu mati." Ucap Ozan yang masih tlerdengar dari luar, karna Mella baru saja hendak menutup pintu.
"Biar bagaimanapun dia adikku." Andhra berkata dengan begitu lirih namun terdengar berat. Mella yang mendengarnya memejamkan mata bersandar pada dinding di sebelah pintu. Mengapa hubungan keluarganya begitu rumit.
"Adik macam apa yang selalu membuat kakaknya kesusahan Andhra! Adik macam apa itu hahhh. Dari dahulu ibunya telah membuat hidupmu seperti di neraka dan sekarang dirinya. Kurang baik apanya kamu yang sudah menampungnya." Ozan bukannya berani melawan sang bos. Lebih tepatnya khawatir, karna dia menganggap Mella mempermainkan emosi sahabatnya itu.
"Ada apa lagi ini ya Tuhan."
Lirih Mella sambil mengusap air matanya berulang kali. Wajahnya sudah sangat berantakan. Dia menoleh sekali lagi ke ruangan Andhra sebelum benar benar meninggalkan ruangan itu.
"Adik macam apa aku ini!" Gumam Mella. Sampai di meja kerjanya. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat dia benci.
"Kau mau apa lagi?" To the poin. Dia sudah lelah menjadi boneka dari seseorang yang tidak pernah menyanyanginya dengan tulus. Bukankah ibunya itu baru saja mengambil uang?
"Hai anak tidak tahu diri berani kamu membantahku sekarang." Jawab orang di seberang. Mella memejamkan matanya lebih lama berusaha mengontrol emosi yang meledak di dadanya. Rasanya seperti tersayat pisau belati.
"Apa mau mama!" Ucapnya hampir tidak terdengar. Rasanya sangat lelah mengikuti kemauan orang yang bertentangan dengan keinginan hati.
"Aku hanya ingin sejumlah uang, tidak banyak hanya sekitar tiga ratus juta!" Ucap yang di sana santai lalu menutup telponnya. Setelah itu Mella mengacak rambutnya frustasi. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
Tidak sampai di sana, Hasma meminta uang kepada Andhra melalui ponsel Mella. Itupun tanpa sepengetahuan Mella.
__ADS_1
Dan pagi ini, begitu berat rasanya hanya untuk bangun saja. Mengapa semua kejadian buruk datang silih berganti menghantui dirinya.
Mella berjalan malas. Ke kamar mandi, guna kembali mengguyur kepalanya di bawah shower berharap hal itu bisa mendinginkan kepalanya yang terasa panas karna mengingat kejadian sore tadi saat berada di kantor. Dan malamnya pun tidak nyenyak tidur sebab kejadian beberapa hari lalu menghantuinya di malam hari.
Aku yakin sekali, semua kejadian ini pastilah ulah mama. Ya pasti mama.
"Kau perempuan jahat!" Mella melempar benda di kamar mandinya ke dinding. Mengusap wajahnya kasar di bawah guyuran air. Merosotkan tubuhnya dan jatuh di lantai. Dia ingat betul mamanya pergi meninggalkan dirinya dan ayahnya saat dalam keterpurukan bahkan menyuruh seseorang untuk menyuntikkan obat kepada Rangga hingga menjadikan Rangga seperti orang gila.
"Kenapa hidupku serumit ini ya Tuhan!" Dia bangkit lagi dan segera menyudahi acara mandinya.
Hendak berkaca! Mella baru sadar jika kaca pun telah marah kepadanya.
✓
Kediaman Ozan.
Seorang sedang mengelus perut istrinya. "Tidurlah sayang, kau harus baik baik saja di sana." Sesekali dia tersenyum karna mendapat respon dari anaknya. Bayi itu menendang nendang dalam perut ibunya.
"Bagaimana dengan Mella? Apa dia membuat masalah lagi?" Arini bertanya sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Tapi aku ragu jika Mella sampai berbuat sejauh itu!" Arini ingat sekali bagaimana Mella terlihat tulus menyanyangi Andhra sebagai kakak. Dia dan Mella sudah berteman sejak SMA jadi Arini sudah tahu betul akan sifat sahabatnya itu.
"Aku pikir awalnya seperti itu, tapi setelah melihat buktinya aku jadi meragukan kebaikan Mella selama ini."
Ozan akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Aku masih tidak percaya, Mella melakukan itu. Karna setahu aku, dia sanggup menikahi manusia bejat itu karena ingin melindungi Andhra." Arini menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia memejamkan matanya merutuki mulutnya yang selalu tidak bisa di ajak kompromi.
"Apa maksudmu?"
Ozan kini telah bangun dan duduk mensejajari istrinya.
"Baiklah, lebih baik aku cerita saja!" Arini menghembuskan nafasnya sebelum mulai bercerita.
"Waktu itu aku bertemu dengan Mella dan kekasihnya. Di sana juga ada tantenya." Arini yang waktu itu melihat wajah Mella nampak tidak bergairah, mencari tempat duduk yang lebih dekat dengan meja mereka bertiga agar bisa mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Apakah! Enda sudah bebas dari penjara?" Ozan nampak terkejut.
"Siapa Enda?"
"Adiknya Hasma, ibu tiri Andhra!"
"Aku tidak tahu, tetapi wajahnya memang mirip!" Jawab Arini mengingat sosok Enda. Dirinya hanya mengenal wajah Hasma yang kebetulan memang sudah terkenal sebagai istri bapak wali kota. Tapi kalau secara langsung belum pernah.
"Apa yang di bicarakan saat itu?" Ozan meraih pundak istrinya menyandarkan pada dada bidang miliknya.
"Ya itu tadi, aku mendengar jika sebenarnya Mella tidak mencintai calon suami yang kebetulan mantan kekasihnya itu!"
"Cerita yang benar!" Ozan mencubit lembut pipi istrinya.
Setelah itu, Arini menceritakan jika saat itu. Mella tengah duduk bertiga dengan Enda dan calon suaminya.
"Kenapa kita harus menikah segala hah!" Itulah yang di tanyakan Mella saat itu, Mella tahu jika Ryo memutuskan hubungan karna ada orang ketiga. Tentu saja dia tidak sebodoh itu menerima kembali Ryo." Ucap Mella smbil memainkan tangan suaminya.
"Lalu!"
"Wanita itu lalu memperlihatkan sebuah video kepada Mella, dan mengancamnya akan menyebar luaskan video itu jika Mella menolaknya. Tapi Mella tidak terpengaruh. Sepertinya itu video asusila yang waktu itu di buat sama Andhra, makannya Mella tidak khawatir."
"Tapi saat Ryo mengancamnya dengan memperlihatkan sesuatu kepada Mella, aku lihat mukanya berubah dan dia berucap 'jangan kau sentuh Andhra! aku akan menikah denganmu, tapi jangan sampai kau menyentuh Andhra!' ucap Mella saat itu. Dan setelahnya aku lihat Mella nampak begitu bersedih. Sedangkan kedua orang di hadapannya saling menatap bahagia." Arini mengakhiri ceritanya.
"Kira kira, apa yang ditunjukkan Ryo sampai Mella begitu saja mengiyakan keinginan Andhra?" Ozan nampak berpikir.
"Mana aku tahu!" Arini menggidikkan bahu.
"Apa jangan jangan!" Ozan seketika ingat kejadian tadi sore saat Mella mengelak atas tuduhan yang di tujukan kepadanya.
"Jangan jangan apa, mas?"
Di lihatnya Ozan sudah meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
To be continued....
__ADS_1
Kira kira Ozan mau menghubungi siapa ya hayoooo ikuti bab berikutnya...