
Tamu undangan dan semua orang yang hadir telah berkerumun menanti pemotongan kue oleh si kembar Cyra dan Candra. Wajah mereka memang sangat mirip, hanya saja mereka berbeda genre, dan tinggi badan tentunya. Pemotongan kue di lakukan dengan meriah. Potongan pertama Cyra berikan kepada Rasya, dan potongan pertama Candra dia berikan untuk Rena. Lalu keduanya menyuapi Andhra bergantian.
"Kalian sudah remaja ternyata, lihatlah bahkan kau pasti akan lebih tinggi dariku nantinya," merangkul Candra dengan sayang.
"Aku di lupakan nih," Cyra cemberut sambil memonyongkan bibirnya.
"Owh, boneka kesayangan aku," merentangkan kedua tangannya. Cyra tenggelam dalam dekapan Andhra.
Banyak diantara para wanita berbisik-bisik cemburu akan posisi Cyra. "Andai aku menjadi gadis kecil itu, di peluk oleh Andhra, sudah mapan, ganteng," ucap salah satu wanita sambil memegang pipinya.
"Iya, ganteng seh, tapi dingin kayak es balok," cibir yang lainnya.
"Karna dingin itulah mampu mendinginkan hati aku yang panas ini," lebay si gadis bergaun putih.
"Iya, pokoknya menantang banget, bukankah yang dingin itu lebih segar, apalagi jika panas panas gini," si centil mengibaskan rambutnya kebelakang, bergaya dia.
Rossi mendengarkan setiap pembicaraan mereka sambil duduk anteng memakan buah.
*Aku seperti orang hilang di sini, Cyra juga hanya sebentar menyapaku tadi* batin Rossi. Dia memakan buah dengan kesal.
"Kakak!" suara Cyra membuat Rossi tersentak.
Panjang umur sekali dia. Baru saja hatiku berkata, sudah muncul orangnya.
"Eh iya Cyra, ada apa, ya!"
"Nih, aku ambil khusus buat kakak," Cyra menyodorkan kue ulang tahun kepada Rossi. Dengan senang hati Rossi mengambilnya menyuapkan kemulut dengan perlahan."Hemmh, lezatnya, terima kasih, ya!"
"Owh, ya! aku ucapkan selamat sekali lagi," di balas senyuman oleh Cyra.
"Bilang saja terus, kak! pumpung gratis," keduanya langsung terkekeh.
"Kak, dansa denganku, yuk! Cyra menarik tangan Rossi, mau tidak mau dia harus berdiri dan meletakkan kue yang hanya tinggal sedikit.
"Aku tidak bisa dansa," Rossi enggan bergerak terlebih perutnya terasa penuh, karna kebanyakan makan buah. Selain itu, dia sama sekali tidak pernah berdansa.
"Kita sama sama latihan, yuk!" mereka berdua sudah sampai di tempat dansa, hanya ada beberapa pasang saja di sana.
__ADS_1
Andhra yang melihat itu pun menarik Candra untuk turun ke lantai dansa.
"Kemana, Mas!" tanya Candra heran saja kenapa tiba-tiba kakaknya menarik dia ke lantai dansa. Padahal tadi banyak gadis yang mengajaknya berdansa tapi dia menolak.
"Sudah, diam ikuti saja petunjukku, nanti kau ajak Cyra berdansa dan aku akan menarik gadis itu bersamaku, oke," diangguki oleh Candra.
"Waow, tinggi juga seleramu, Mas!" seloroh Candra, pasalnya memang Rossi terlihat menawan malam ini.
*Eh tunggu, bukannya dia kakak yang kemarin bersamaku, ya! Cyra, kau akan mendapatkan hadiah terbaik malam ini. Kita menemukan kakak ipar kita.*
"Ayo! kenapa malah bengong di sini?"
"Aku terpesona dengan gadis itu, Mas! cantik sekali," Candra seperti mendapatkan harta karun yang selama ini di carinya. Andhra yang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun malam ini akan berdansa dengan seorang gadis "waow, akan ada kejutan apalagi setelah ini," gumam Candra mengikuti langkah kakaknya.
Cyra dan Rossi tampak kesusahan untuk menyelaraskan gerakan mereka, terlebih gaun mereka yang sama sama panjang. Salah mereka juga seh, memilih gaun panjang agar terlihat seperti Putri Cinderella.
"Cyra, lihatlah semua orang menatap kita," Rossi merasa menjadi pusat perhatian, karna ulahnya. Dia tertawa saat Cyra mengumpat saat Rossi menginjak gaunnya. Tapi sebenarnya Cyra tidak benar-benar marah.
"Hai, gadis! perkenalkan aku Candra Abhimanyu, maukah kau berdansa denganku wahai, Tuan Putri!" Candra membungkukkan badannya. Rossi dengan ragu menerima uluran tangan Candra.
"Mas Andhra cemburu, ya!" tebak Cyra. Adik perempuannya itu tentu mengerti dengan apa yang terjadi. Andhra beberapa kali melihat Candra dan Rossi dengan kesal.
"Kak Rossi cantik sekali malam ini," Candra menggoda Rossi dengan manisnya. Dia beberapa kali menelisik reaksi Andhra seberapa jauh kakaknya itu menyukai gadis yang kini bersamanya.
"Hai bocah! aku tidak tertarik dengan berondong sepertimu, jadi berhentilah menggodaku," Rossi menepuk pipi Candra dengan pelan.
Andhra menekan kuat jemari Cyra sebab hatinya mulai terbakar.
"Kakak! Kau ingin membunuhku?" Andhra terkesiap.
"Maaf Cyra! Kakak tidak sengaja." Meniup lembut jemari Cyra.
"Lalu, seperti apa pria dewasa yang kau inginkan wahai, Nona manis," Candra menarik pinggang Rossi agar lebih dekat. Dia melirik dengan ekor matanya wajah Andhra sudah memerah.
*Berhasil* ucapnya dalam hati.
"Aku tidak memiliki kriteria, hanya saja aku menyukai pria yang penuh dengan kejutan," ucap Rossi antusias tiba tiba terlintas di pikirannya sosok Andhra saat berada di bis waktu itu. Ternyata Andhra yang terlihat sederhana adalah seorang yang memiliki kekuasaan di tempatnya mencari nafkah.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Mas Andhra?" Rossi nampak gugup mendengar pertanyaan Candra. Dia seperti ketahuan selingkuh.
"Dia, dia, dia baik!" ucap Rossi sekenanya.
"Bukan itu maksudku! Iya semua orang tahu dia memang baik, walau kadang juga tidak baik, maksudku apa di hati kakak tidak ada sesuatu yang terjadi saat bersama Mas Andhra?" selidik Candra yang sudah mulai curiga jika sebenarnya Rossi memiliki perasaan terhadap sang kakak.
"Aku," menunjuk dirinya sendiri. "Aku, ah tidak," Candra mengernyit bingung dengan jawaban yang Rossi berikan.
"Tidak!" Candra mengulang kembali ucapan Rossi, dia yakin jika Rossi saat ini sedang menyembunyikan perasaannya. Candra adalah remaja dengan sejuta pesona yang tergolong badboy, jadi dia bisa mengetahui gerak gerik perempuan yang sedang di landa asmara. Otak cerdasnya bisa berpikir lebih dewasa daripada usia aslinya.
*Wahai, calon kakak ipar, jangan pikir aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi diantara kalian.*
*Anak ini, bagaimana bisa bertanya seperti itu, aku harus jawab apa?* Batin Rossi.
"Aku tidak pernah bersama tuan Andhra," kilah Rossi, pasalnya jantungnya sudah dag dig dug hanya, karna menyebut nama Andhra.
"Ayolah, Kak! aku sudah melihatnya tadi, kau dan mas Andhra berbicara di sana," Candra menunjuk dengan dagunya, tempat di mana Rossi dan Andhra bicara tadi. Bahkan Candra juga melihat senyum Andhra saat menjilat bekas coklat di jari jempol.
"Itu_itu hanya perbincangan ringan saja tidak lebih."
"Lebih, juga makin bagus," gumam Candra, dan jangan lupa bibirnya itu yang kini menunjukkan senyum devil.
"Kamu, bilang apa, tadi?" Rossi menyakinkan pendengarannya yang sempat menangkap gumaman Candra.
"Apa?" Candra balik bertanya sambil tersenyum devil. Dia menarik pinggang Rossi lebih dekat lagi hingga tubuh mereka menempel.
"Apa yang kau lakukan Candra?" berusaha melepaskan diri.
"Seorang yang sedang di landa cemburu menuju ke arah kita," bisik Candra di telinga Rossi.
"Apa yang kalian lakukan?" sebuah suara yang begitu Rossi kenal. Dalam sekejap tubuhnya telah pindah dan menempel pada pria yang tadi bersuara.
"Kau!"
"Mari kita selesaikan malam ini dengan baik, Nona?"
To be Continued
__ADS_1