
Matahari masih belum terlalu tinggi. Namun otak Andhra rasanya telah berkelana entah kemana. Ada sebersit rasa rindu pada seseorang yang membuat jantungnya selalu maraton. Untung saja, pekerjaannya telah banyak berkurang.
"Ada baiknya aku pesan makanan, rasanya lapar sekali." Di rumah sakit, Andhra hanya makan beberapa potong buah saja tadi.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Tuan, ini berkas yang tadi Tuan minta." Sekretaris pengganti Mella kini berdiri tegak di hadapan Andhra. Sebenarnya, ada dua pegawai lain di bawah kuasa Mella, bisa juga disebut asisten. Mereka bertugas mengambil alih kerjaan Mella, jika Mella harus pergi menggantikan Andhra.
"Letakkan di situ." Sekretaris itu pun meletakkannya di meja depan Andhra.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Andhra. Dengan malu-malu sekretaris itu menjawab
"Belum Tuan!" Andhra mengembuskan nafas, otaknya traveling mengingat senyum manis seorang Rossi.
"Pesankan makanan untuk kita, dari restoran sebelah. Jangan lupa, bilang juga yang mengantar harus gadis yang bernama Rossi." Titah Andhra. Jarinya menunjuk ke arah sang sekretaris.
What! Mimpi apa aku semalam, Si Bos tersenyum manis begitu. Dan dia ... Ah dia mengajakku untuk sarapan Bersama? Apa aku tidak salah dengar? Owh, manisnya. Aku rela tidak sarapan dari rumah setiap hari jika begini. Batin sekretaris itu. Akalnya sibuk membayangkan adegan romantis yang sebentar lagi akan dia lalui bersama Andhra. Halu!
"Hai, Kau!" Andhra memanggil sekretaris yang tengah melamun itu. "Hai, kau!" Sebuah bolpoin meluncur tepat ke jidat si sekretaris.
"Hai, siapa namamu?"
Astaga, matilah kau Lala. Batin Lala. Matanya terpejam beberapa saat, tangannya tanpa sadar meremas blazer yang dia kenakan.
"Sa-saya, nama saya Lala, Tuan!" Ucapnya gugup, menunduk takut.
"Kau sengaja, mengabaikan saya?" Wajah tampan itu kini berubah bagaikan Hulk. Hancur sudah kepedean Lala.
Kenapa secepat ini Si Bos berubah? Bukankah tadi, dia terlihat senyum kepadaku? Selamatkan aku Tuhan.
"Tidak, Tuan! Maafkan saya." Lala mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. "Lain kali, saya akan selalu fokus."
Dalam hati, si sekretaris itu mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bertindak bodoh begitu. Semoga saja Si Bos tengah baik hati kali ini. Jangan sampai kena semprot apalagi sampai di pecat.
"Bagus! Lakukan tugasmu dengan benar!"
"Tentu, Tuan. Saya akan pesankan makanan untuk sarapan Anda."
"Hemmh."
Lala membalikkan tubuhnya, tapi dia gamang sendiri, harus pesan satu apa dua.
__ADS_1
"Tuan! Saya pesan berapa?" Andhra mengernyit heran.
"Menurutmu?"
Kenapa malah nanya balik? Saya harus jawab apa?
"Pesan satu Tuan!"
jawab Lala. Berharap bonus sarapan masih berlaku.
"Pesan juga untukmu, masukkan tagihannya pada saya." Lala hampir saja berlonjak kegirangan.
"Terima kasih! Terima kasih, Tuan!Saya harus pesan menu apa?"
Wajah Andhra semakin datar saja. Lala bergidik ngeri jadinya. Mau segera pergi, takut salah pesan makanan, jadi tidak ada salahnya bertanya bukan. Untuk jaga aman.
"Aku ingin ...Andhra mengetukkan jarinya ke pipi, seirama lesung itu terlihat jelas, bibirnya mengembang sempurna. "Katakan pada Rossi, masak apapun yang dia bisa." Lala mengernyit bingung, selain mengatakan "Iya, Tuan!" Dia bisa apa.
Sekarang, tugas utamanya adalah mencari gadis bernama Rossi dan memesan menu yang dia bisa.
"Bos Andhra ini, semakin kesini kok makin mencurigakan. Apa gadis bernama Rossi itu pacarnya?" Sudahlah, jangan berpikir macam-macam Lala, cukup lakukan pekerjaanmu dengan benar.
~
~
"Kau menyambutku?" Mella segera menghambur ke pelukan Dara.
"Tentu saja, kakak tampanmu itu mengirimiku pesan dari pagi buta tadi." Ucap Dara menunjukan beberapa pesan yang di kirim oleh Andhra.
Ternyata dia begitu perhatian padaku. Kau kakak terbaik, aku tidak akan pernah mengecewakan dirimu, kak!"batin Mella.
"Selamat datang, Mella. Ada baiknya kita mengobrol di dalam." Fariq mempersilahkan. "Hai Ryo, kau ini sok misterius, pakai menyamar segala." Fariq ganti menepuk punggung pria yang masih memakai kacamata tebal dan juga masker. Jangan lupakan tudung yang tegak berdiri menutup kepala.
"Dia pengawal hadiah dari Kak Andhra. Namanya Ryoki. Dan kau, Ryoki, perkenalkan ini Kak Farid kepala desa juga saudara Kak Andhra." Farid mengernyit heran. Farid bisa menebak dengan jelas jika sosok di depannya ini, pastilah Ryo, kenapa Mella memperkenalkan nama lain. Farid melihat kode yang di tunjukkan oleh Ryoki, Farid mengangguk paham.
"Oke, Ryoki, karena kau sudah di sini, mari ku tunjukkan suasana di desa ini."
"Hai, kami baru sampai!" Protes Mella. "Tidakkah kau biarkan aku istirahat terlebih dahulu, aku akan jalan-jalan nanti bersamaan menemui klien."
"Baiklah, aku akan tunjukkan kamarmu, Ryoki!" Fariq segera merampas kesempatan untuk bisa mengorek informasi dari Ryoki.
"Tumben! Semangat sekali!" Gurau Dara.
__ADS_1
"Biar betah dia di sini." Fariq mengerling nakal pada Dara. Untungnya Mella sibuk dengan ponsel, sehingga tidak melihat.
"Ayo Mel, akan aku tunjukkan kamarmu." Dara menarik tangan Mella menuju kamar yang dimaksud. Mella mengikuti langkah Dara sembari menyimpan ponsel ke dalam saku celana.
"Dimana ibumu, Dar?" Tanya Mella, tidak melihat Halimah sejak dia datang.
"Ibu pergi ke rumah temannya, katanya habis operasi kemarin. Nanti kalau pulang, akan aku kasih tahu jika kau sudah datang." Mella mengangguk antusias.
"Kalau boleh tahu, sepenting apa pekerjaanmu kali ini?" Dara mendaratkan bokongnya di ranjang. Mella tersenyum tipis.
"Tidak terlalu penting juga, seperti biasa hanya sekedar melakukan tinjauan. Itu sengaja kami lakukan agar para karyawan bekerja maksimal."
Dara yang tidak tahu menahu mengenai bisnis hanya ber oh ria.
"Oh ya! Bagaimana kabar Kak Andhra dan Rossi?"
"Maksudmu?" Mella sungguh tidak mengerti, mengapa tiba-tiba Dara menanyakan hal itu. Mungkinkah yang dimaksud adalah Rossi yang bekerja di restoran dekat kantor.
"Rossi, yang bekerja di restoran Pamandangan? Yang dekat kantor Andhra?" Dara mengangguk antusias. Mella jadi semakin penasaran.
"Bagaimana bisa kamu mengenalnya? Apa hubungan Rossi dan Andhra?" Nah, ini yang kemarin membuat Mella penasaran, bagaimana bisa seorang Andhra membawa seorang gadis masuk ke dalam ruangannya.
"Sebenarnya, saya ingin membuat kesepakatan dengan Rossi, saya meminta dia untuk mendekati kak Andhra, sayangnya dia menolak mentah-mentah. Awalnya sih, dia mau! Tapi setelah itu, bilang, jika dia tidak mau bermain hati. Takut jatuh cinta beneran." Ungkap Dara.
Dara pun menceritakan awal mula pertemuan Rossi dan Andhra di bis. Sampai pertemuan Rossi dan Andhra untuk kedua kalinya di vila hingga Andhra membawa Rossi masuk ke dalam rumah bukit.
"Emmmh, jadi seperti itu." Mella kini mengerti, mengapa Andhra senang sekali mencuri-curi kesempatan untuk mendekati Rossi. Terlebih di saat Rossi mengalami alergi kemarin. Terlihat jelas jika Andhra begitu panik. Membawa tubuh Rossi sambil berteriak-teriak, membawa Rossi ke dalam restoran. Hingga Mella memberi ide agar dibawa saja ke UKS kantor.
"Bagaimana hubungan mereka selama di sana?" Dara mengguncang sedikit bahu Mella
"Ya, nggak bagaimana-bagaimana." Dara mendesah jadinya. Mella mengulum senyum, dia harus mendapatkan berita yang sebenarnya. "Tapi...!"
"Tapi apa?"
"Aku tanpa sengaja melihat Andhra dan Rossi bertemu. Mereka layaknya tidak saling mengenal." Jail Mella, melirik Dara yang berubah masam.
"Aku berharap banget, kak Andhra sama Rossi, mereka adalah orang-orang yang baik."
"Cinta tidak bisa dipaksa Dara."
"Seperti cintamu pada Ryo ya! Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
Deg
__ADS_1
Kecuali itu, Dara! Aku masih belum mantap. Hati jahatku mengajak mendua.
To be Continued