
Ketika keyakinan itu datang, mungkinkah hati ini bisa berpaling.
Rembulan telah biaskan sinarnya, seindah hati saat dilanda asmara.
Rossi termenung seorang diri sambil memandang keluar jendela. Entah apa yang terjadi hari ini, yang pasti lambaian dedaunan dan bunga sangat indah dipandang mata. Meski yang benar adalah hatinya tengah galau saat ini.
"Apakah keputusan yang ku ambil sudah benar?" Lirih Rossi, dia melihat ke arah sekuntum mawar merah yang tengah meliuk-liuk indah diterpa angin. Kenangannya saat bersama Andhra saat di bus, saat dimana dia belum merasakan getaran apapun. Sampai tiba saatnya Andhra membuka masker, entah kenapa dia mulai grogi dan kehilangan banyak kata sejak saat itu.
Kenangan saat di masjid, Rossi belum menyadari apakah arti dari perasaannya. Tapi senja kala itu membuat Rossi mengerti sebuah rasa nyaman terhadap lawan jenis.
"Perasaan ini apakah benar? Lalu bagaimana kehidupan kita nantinya? Apakah berpacaran setelah menikah adalah pilihan yang tepat?" Rossi menenggelamkan wajahnya pada kedua kaki. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut indah yang tergerai sempurna.
Dering nada panggilan dari seseorang membuat Rossi menegakkan kepalanya kembali. "Siapa sih yang telpon, tidak tahu apa, lagi galau banget nih." Rossi menjambak frustasi rambutnya.
"Dia... Dia telpon."Rossi membelalakkan mata, seolah ada hantu yang muncul di hadapan Rossi, bahkan hampir saja ponsel Rossi terjun bebas ke lantai, tapi untungnya dengan sigap Rossi menangkap pakai kaki. "Hampir saja, Huffft. Kalau sampai ponsel ini jatuh, aku akan minta kamu buat gantiin." ucap Rossi sambil menggeser dengan gemas ikon warna hijau.
"Halo!"
Yang diseberang tersenyum tipis, seolah mendapat durian runtuh.
"Salam dulu dong, Sayang." Rossi menekan dadanya sendiri, rasa membuncah antara senang dan juga canggung.
"Hai, siapa kamu berani memanggilku dengan kata itu?" bantah Rossi seolah menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh oleh panggilan Andhra. Padahal, jantungnya seakan berhenti mendadak.
"Aku calon suamimu."
"Baru calon ya, jangan kegeeran deh." Rossi menggigit bibir bawahnya sendiri. Berharap Andhra tidak tersinggung dengan ucapannya barusan.
"Kamu mengakuinya kan?" Tanpa sadar Rossi mengangguk, seolah Andhra bisa melihat hal yang baru saja dia lakukan.
"Ya! Ya maksud aku, bukan begitu. Tapi begini. Sebenarnya ... A ... Aku hanya." Rossi menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal, bahkan Rossi tanpa sadar mengacak selimut yang tertata rapi di atas ranjang. Entah sejak kapan dia sudah pindah tempat.
"Hanya apa?" sambar Andhra tidak sabar. Andhra semakin mengeratkan pegangan ponselnya, bahkan dia mulai gusar, kenapa Rossi seakan-akan enggan bicara dengan dirinya. Bahkan suaranya terdengar terbata-bata.
"Tidak ada!" Rossi guling-guling di ranjang, ini dia bicara apa sih. Kenapa jadi ngeblank gini. Rossi makin frustasi. Bisakah dia mengambil jeda untuk berhenti bicara.
"Ros."
"Hemmh!"
Hening.
Andhra mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang. Semoga Rossi tidak sampai mendengarnya.
__ADS_1
"Ros, kau masih disana?" Andhra ingin bicara banyak hal, tapi mengapa lidah ini terasa kelu.
"Ya, masih!" Tanpa sadar keduanya saling menunggu kata dari lawan bicara.
"Kamu ingin bicara apa?" Rossi kini yang buka suara.
"Banyak!"
Hening.
"Kalau banyak, kenapa diam lagi?"
"Hanya bingung saja."
"Bingung." Rossi membeo. Sama dengan yang dia alami saat ini. Bingung harus mengatakan apa. Bahkan Rossi merasa panas dingin di sekujur tubuh. Beginikah jika seseorang bicara dengan orang dicintai?
"Iya! Sejujurnya, aku ingin mendengar jawaban dari pinangan ku, kalau boleh aku ingin mendengarnya langsung darimu." Rossi menjauhkan ponselnya. Jiwanya seakan mati kutu. Detak jantung semakin tidak terkendali, Rossi sampai menutup wajahnya karena hal itu. Malu, tapi kepada siapa? Andhra juga tidak akan bisa melihat wajahnya yang merona.
"Roooos, jawablah. Aku ingin mendengar langsung darimu."
"Halo ... Halo...maaf sepertinya signalku sedang tidak bersahabat." Rossi memutus panggilan ponselnya segera.
"Kenapa ponselnya dimatikan?" Andhra bingung jadinya. "Aku menunggunya tiga hari, dan semua kulalui dengan susah payah. Dia, dengan teganya memutuskan panggilan." Andhra masih belum percaya, jika baru saja ada yang mematikan panggilannya secara sepihak. Kini dia beberapa kali melakukan panggilan kembali, sayangnya nomer yang dituju tidak bisa lagi aktif.
Andhra memukul sofa dengan sangat kesal.
"Siapa yang sial?"
Seperti biasa Ozan menyelonong masuk. Andhra masih tetap pada pendiriannya, diam seribu bahasa.
"Ayolah, katakan padaku, kenapa wajahmu kusut begitu? Hemmh" Ozan dengan tengilnya meminum jus jeruk yang tersedia di atas meja. Tentu saja tanpa permisi.
Sama seperti biasa, Andhra hanya menarik nafas kasar.
"Ndhra, aku bukan orang lain, kenapa kau jadi pemalu begitu? Kau baru saja bicara dengan calon Kaka iparku, bukan?" Ozan mengedipkan mata sebelah. Andhra meliriknya sinis, masih dalam mode enggan bicara.
"Begini saja! Aku akan ajari kau menaklukkan calon Kaka ipar, tapi dengan satu syarat. Kau hanya perlu memberi pengertian kepada Arini." Alis Andhra otomatis terangkat sempurna, mencium adanya maksud tersembunyi.
"Bagaimana? Setuju apa tidak!" desak Ozan. "Kau akan sangat beruntung bekerja sama denganku. Kaka ipar pasti akan langsung bertekuk lutut padamu." Andhra malah memutar bola matanya malas. Ozan segera memutar otak. Cukup paham jika Andhra mulai bosan akan pembahasan ini, saat dilihat dari gelagatnya.
"Baiklah, aku menyerah!" ucap Ozan pada akhirnya sambil mengangkat kedua tangan.
"Kebiasaan!"
__ADS_1
"Percuma saja bicara denganmu. Sejak pertama kau tidak merespon sama sekali. Tak guna!"
"Apa katamu?"
"Tidak! Tidak ada! Maaf Bos, keceplosan tadi." Ozan mengangkat dua jari
"Menaklukkan istrimu saja, kau datang padaku, bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu itu?"
~
~
~
Di sebuah kafe, seorang perempuan cantik duduk santai sambil menikmati kentang goreng. Sesekali dia memeriksa ke arah pintu, memeriksa jam di tangannya. Berdecih kesal karena yang ditunggu tidak juga kunjung datang.
"Lama sekali dia datang."
"Bukan lama, tapi kau saja yang datang lebih awal. Sehingga kau membuang waktu dengan percuma." Suara seorang perempuan tak kalah cantik darinya tersenyum setengah mengejek. Tanpa permisi, perempuan itu mengambil tempat duduk di hadapan perempuan yang menunggunya tadi.
"Nyonya Abhimanyu, akhirnya kau datang juga. Tidak ada yang percuma dengan menunggu seorang wanita terhormat seperti Anda." Rena membusungkan dada, terlihat jauh lebih angkuh dari biasanya.
"Ada perlu apa kau ingin menemuiku?"
"Pesanlah sesuatu terlebih dahulu wahai Nyonya Abhimanyu yang terhormat. Kali ini saya yang akan traktir."
"Kurasa itu tidak perlu. Aku masih banyak pekerjaan lain." Artinya Rena tidak ingin berbasa basi. Sejujurnya dia sangat jengah dengan perempuan yang tersenyum manis penuh kepalsuan.
"Owh tidak! Aku sampai lupa, jika Nyonya Besar Abhimanyu adalah wanita super sibuk."
"Katakan! Apa maumu?"
"Aku inginkan Andhra. Bukankah aku pernah memintanya kepadamu? Tapi kau malah memberikannya pada orang lain. Apa kau lupa perjanjian kita? Apa perlu lagi kuingat kan?" Rena melipat kedua tangannya di dada.
"Kau memerasku?" Rena mulai berani mengibarkan bendera perang
Perempuan berkacamata besar itupun melepas benda yang menghalangi pandangan nya dengan cara elegan.
"Owh, tentu saja tidak. Aku hanya sedikit mengingatkan dirimu. Mengapa kau tersinggung begitu Nyonya. Kau pasti ingat dengan jelas, Andhra harus menjadi milikku. Apapun yang terjadi."
"Berhenti bertingkah di luar batasmu, atau kau akan menyesal nanti." Rena berdiri kemudian menyambar tasnya dengan kasar. "Percuma saja aku buang-buang waktu di sini."
"Silahkan pergi, aku akan dengan senang hati melakukan tugasku. Sejauh mana kau mampu bertahan Nyonya Abhimanyu." Perempuan itu memakai kembali kacamatanya. Senyum tipis penuh kejahatan membuat wajah cantik itu menjelma bagaikan monster yang menakutkan.
__ADS_1
To be Continued.....