Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
part 79


__ADS_3

"Auwwhh! Punya mata nggak sih?" omel wanita yang baru saja tersungkur akibat membentur tubuh kekar Andhra.


"Maaf!"


"Kau!"


Andhra sungguh terkejut dengan penampakan seorang gadis remaja mengenakan seragam OB.


"Cyra!" Panggil Andhra dengan mata melotot sempurna. Pasalnya ini masih jam sekolah, tapi bagaimana bisa adiknya ini bermain-main di kantor miliknya dengan pakaian yang aneh.


"Hehe Bang Andhra!" Gadis kecil itu tidak peduli akan tatapan sangar abangnya. Bahkan Cyra menyelonong begitu saja menuju ruang kerja Andhra.


"Hai... Mau kemana kau?" Gagal sudah rencananya untuk menemui Rossi. Andhra harus mengurus adik kecilnya ini terlebih dahulu.


"Numpang tidur!" Cyra sudah memasukkan sebagian tubuhnya. Kepalanya menyembul keluar, gadis berkepang dua itupun hilang di balik pintu.


"Cepat katakan apa alasanmu blurut?"


Blurut artinya adalah meninggalkan pekerjaan. Biasanya berkaitan dengan sekolah.


"Aku bukan blurut. Tapi memang sudah pulang."


Kini keduanya sudah duduk di sofa yang sama. Cyra masih mengenakan seragam OB.


"Lalu, apa tujuanmu kemari? Dan kenapa kau tidak bersama Candra? Dan apa ini?" Andhra menarik sedikit pakaian Cyra seakan jijik dengan penampilan baru adiknya.


"Hehe! Keren, Nggak?"


"Apanya?" Bahkan adiknya terlihat lebih culun dengan rambut kepang dua. Baju seragam OB, dipadukan dengan sepatu sekolah. Sungguh penampilan terjelek yang pernah Andhra lihat.


"Keren!" ucap Andhra tersenyum mengejek. "Cocok untuk pemain sirkus."


"Apa aku sejelek itu?"


"Baru nyadar kah?"


"Unik tahu!" bantah Cyra.


"Unik karena lebih jelek dari yang terjelek."


Cyra melemparkan tubuhnya di sofa enggan menanggapi komentar Andhra yang begitu sadis. Dia tiduran dengan menaikkan kaki tanpa melepas sepatu. Andhra menggeser sedikit tubuhnya hingga tepi. Cyra tanpa ragu meletakkan kepalanya di atas paha Andhra.


"Kangen saja sama, Bang Andhra!" Cyra menutup wajahnya dengan lengan.


"Hai, beginilah caramu bicara dengan yang lebih tua?" Menoel lengan Cyra.


"Bang, aku tuh capek tahu. Mau istirahat."


"Yang benar yang mana? Kangen apa mau numpang tidur?"


"Dua-duanya lah, Bang!" Cyra mengubah posisinya menjadi miring dengan mengarahkan wajah ke perut Andhra. Mendusel hingga memeluk perut Andhra.

__ADS_1


Keduanya hening. Andhra menggerakkan tangan perlahan, mengusap lembut kepala Cyra. Begitulah yang sering dia lakukan jika Cyra sedang bermanja-manja.


"Bang!"


"Hemmh!"


"Kalau Abang sudah menikah nanti, Abang tidak lupa sama Cyra kan? Abang akan tetap sayang sama Cyra kan?" Gadis remaja itu mendongak sesaat lalu memeluk tubuh Andhra lebih erat.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Banyak teman Cyra yang bilang, kalau Abang mereka berubah setelah menikah. Cyra nggak mau itu terjadi sama Bang Andhra. Bang Andhra harus selalu sayang sama Cyra." Lebih posesif memeluk tubuh Andhra seakan tidak akan pernah melepaskan Andhra untuk siapapun.


"Dengarkan Abang, Cyra!" Posisi masih sama. "Sebelum ada Kak Rossi, kau adalah orang pertama yang paling Abang sayang setelah Mama. Dan itu tidak akan terganti."


"Benarkah?" Buru-buru Cyra bangun untuk memastikan kebenaran dari apa yang dia dengar. Andhra mengangguk tanpa ragu.


"Tapi Abang mungkin juga akan banyak menghabiskan waktu dengan orang yang berstatus menjadi istri Abang." Wajah Cyra berubah cemberut.


"Kenapa harus begitu?"


"Abang harus lebih banyak menyesuaikan diri. Abang juga harus mengerti istri Abang. Seperti kebersamaan Abang dan Cyra selama ini sehingga kita memiliki ikatan yang kuat dan kasih sayang melimpah. Cyra akan bahagia jika melihat Abang bahagia. Begitulah yang harus Abang lakukan. Agar hubungan suami istri juga bahagia dengan dukungan dari sanak keluarga."


"Jadi, secara perlahan Abang melupakan Cyra, begitu?"


Andhra menangkup pipi Cyra dengan kedua telapak tangan besarnya.


"Tidak!Abang tetap akan mencintaimu sebagai saudara. Hanya saja, orang dewasa akan menghadapi banyak masalah sehingga karakternya pun bisa saja berubah. Dia harus bertanggung jawab pada pasangannya. Sehingga dia mungkin saja kesulitan membagi  waktu untuk keluarga ataupun saudaranya. Tapi ketahuilah, di dalam hatinya dia pasti masih menyimpan perasaan yang sama."


"Kepo!"


"Ayolah, Bang!"


"Seberapa besar?"


"Rahasia!"


Mencubit pipi Cyra.


"Bang, kasih tahu dong."


"Lebih besar mana antara cinta sama Cyra dengan Kak Rossi?"


Andhra terlihat berpikir seolah sedang mengukur kadar cinta yang bersemayam di hati.


"Cinta untuk Rossi, cinta untuk Rossi, Rossi!"


"Yang pasti tidak lebih besar dari cintaku padamu" Cyra melebarkan bibirnya.


"Bang Andhra gombal!" Cyra terkekeh. Cyra sejujurnya tahu bahwa Andhra sangatlah cinta pada Rossi. Terlihat bagaimana reaksi Andhra yang berbinar kala menyebut nama Rossi. "Menyebut nama Kak Rossi tiga kali. Tapi bilang cintanya tidak lebih besar. Cyra tahu, Bang. Itu pembodohan namanya."


"Lalu, jika ada aku dan Kak Rossi dalam bahaya yang sama, siapa yang akan Bang Andhra tolong terlebih dahulu?"

__ADS_1


"Lihat dulu, siapa yang paling dalam bahaya. Itulah yang pertama Abang selamatkan."


"Kalau Kak Rossi mencintai orang lain sebelum pernikahan, apa yang akan Bang Andhra lakukan?"


"Anak kecil, tahu apa kau tentang Cinta. Belajar saja yang rajin. Jangan kepo sama kehidupan orang dewasa." Andhra mengguncang pahanya.


"Jika Rossi mencintai orang lain, Abang akan melepaskannya a..."


"Itu artinya Bang Andhra tidak mencintai Kak Rossi sepenuh hati." Potong Cyra tersenyum jahil menanggapi. Bahkan dia memperlihatkan sebuah rekaman suara yang baru saja dia ambil.


"Jangan mulai Cyra. Kau menjebak ku!" Andhra ingat betul.


"Tentu!"


"Ayo kita temui calon kakak ipar. Aku lihat dia sedang dalam masalah tadi." Ucap Cyra bangkit dari duduknya. Andhra sampai mendongak ternyata adiknya telah tumbuh lebih tinggi dari yang dia perkirakan.


"Masalah?"


"Iya! Anggun datang menemuinya tadi."


Andhra sejenak termenung, tapi di detik berikutnya dia meninggalkan Cyra tanpa sepatah kata.


"Hai... tungguin. Katanya tidak akan meninggalkan diriku setelah menikah. Tapi belum resmi saja sudah melupakan diriku," teriak Cyra sambil berlari kecil mengikuti Andhra. Senyum simpul penuh makna menghiasi wajahnya yang jelita.


Kakak beradik itu pun mengundang perhatian setiap karyawan yang dilaluinya. 


"Andhra!" teriak seseorang ketika baru saja sampai di loby.


Seorang perempuan menenteng sebuah paper bag berwarna coklat.


"Sayang, apa ka..."


Baru saja gadis itu melangkahkan kaki menuju Andhra, telah dihentikan tatapan membunuh Andhra.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Andhra menyingkirkan tubuhnya dari upaya jangkauan perempuan di hadapannya.


"Aku hanya mengantar makanan untukmu, apa itu salah?" Andhra hanya berdecih kemudian pergi setelah membuang tatapan jijik.


"Andhra...!" Dengan sigap perempuan itu menghadang lagi. Sayangnya jatuh saat terkilir oleh high heels tinggi yang dia kenakan. Saat itulah Andhra melihat sebuah tato pada paha bagian atas milik perempuan itu. Andhra mengamatinya cukup lama hingga mungkin saja bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi siapa saja yang melihatnya dari arah berbeda.


"Kauuu...!" Tanpa sadar Andhra mencengkeram kuat lengan perempuan dihadapannya hingga merintih kesakitan. Namun hal itu tidak bertahan lama. Sebab detik berikutnya yang terjadi adalah perempuan itu nampak tersenyum di sela-sela rasa sakit. Menempelkan tubuhnya pada Andhra.


"Sayang, bisakah kau bantu aku terlebih dahulu?" Suara manja yang dibuat-buat membuat Andhra tersadar jika ini bukan saatnya untuk mengintrogasi perempuan ini. Reflek saja Andhra menghempaskan kasar lengannya yang telah disentuh oleh perempuan di hadapannya.


"Beraninya kau!" Marah Andhra semakin tidak terkendali.


"Baaaang...!"


Cyra tiba-tiba menghalau tindakannya. Dan seseorang yang sejak tadi berdiri di belakang Andhra kini pergi dengan derai air mata.


To be Continued

__ADS_1


maaf ya, baru bisa up setelah sekian purnama.


__ADS_2