Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
37 Dia


__ADS_3

Malam ini telah genap 16 tahun Cyra dan Candra merayakan hari kelahiran mereka. Kebahagiaan tiada terkira, terlebih Cyra dan Candra mereka telah lulus ujian dengan nilai yang memuaskan bersamaan dengan kenaikan umur mereka.


"Sayang, kau begitu cantik,  mama tidak menyangka, kau bisa tumbuh besar secepat ini!" seorang perempuan paruh baya mendekati putri satu-satunya.


Cyra memakai gaun berwarna silver di padukan dengan tatanan rambut yang di sanggul dengan kelabang melingkar di tepi, lalu beberapa di buat menjuntai menambah kesan sederhana namun elegan. Lalu di tambahkan mahkota kecil di bagian atasnya. Dia seperti putri dari negeri dongeng.


"Gimana penampilanku, Ma!" Cyra masih belum percaya diri dengan semua yang dia kenakan saat ini.


"Perfect, Sayang! semuanya terlihat menawan," mencubit pelan dagu anaknya. "Sebentar, tapi kayak ada yang beda dengan penampilan kamu hari ini," ucap sang mama lagi menelisik penampilan anaknya.


"Aku tidak memakai kacamata, Ma! aku menggantinya dengan lensa," lirih Cyra, dia sedikit takut dengan mamanya yang kadang selalu protes dengan penampilan Cyra.


"Ah, iya mama baru Ngeh, lho! Mama terpesona sama kamu, cantik sekali kok, Sayang! mama suka. Mama nggak nyangka saja, kamu bisa berdandan secantik ini,"  Bibir Cyra tertarik ke atas setelah mendengar jawaban sang mama.


"Terima kasih, Mama!" keduanya berpelukan erat.


"Ayo kita turun, semua sudah menanti dirimu," Rena menarik tangan Cyra dengan lembut, tapi sang empunya diam tak bergeming.


"Ma, Cyra tidak pede, Ma!" ucap Cyra sambil memegang tangan mamanya. Tahun ini adalah pesta ulang tahun termewah yang di gelar oleh Andhra sebagai hadiah untuk kedua adiknya.


"Kamu sudah begitu cantik! buat apa minder, ada mama yang menemanimu," menggenggam tangan anaknya. Cyra menghembuskan nafasnya berulang-ulang kemudian ikut sang mama turun.


Semua tamu undangan telah hadir. Dari teman bisnis keluarga dan juga teman sekolah si kembar. Mereka bergerombol dengan masing masing lawan bicara, dengan perbincangan yang hangat. Andhra yang telah hadir satu jam yang lalu, menyambut teman-teman bisnisnya serta berbincang ala kadarnya. Dia berkeliling mencari ayah angkatnya, tapi belum juga menemukan.


"Hai, Tuan sepertinya anda sedang mencari seseorang siapakah orang beruntung yang anda cari malam ini," goda Ozan sambil berkerling. Pasalnya banyak dari anak rekan kerja yang berusaha curi-curi pandang dan perhatian kepada Andhra, tapi dia tidak menanggapi.


"Kau pikir, apa? aku hanya ingin bertemu dengan papa, tapi aku belum menemukannya," ucap Andhra dengan wajah datarnya.


"Benarkah itu, tapi raut wajahmu tidak seperti itu?" Ozan melihat sorot mata Andhra berbeda dari biasanya. Bahkan dia menepuk bahu Andhra tetap saja tidak bergeming.

__ADS_1


"Andhra, apa yang kau lihat?" Ozan ikut menoleh.


"Lihatlah bidadari itu, Zan!" Ozan mengernyit heran. Inilah pertama kalinya dia mendengar Andhra memuji seseorang apalagi makhluk yang di sebut manusia dalam bentuk perempuan.


Rossi baru saja memasuki tempat pesta dengan anggunnya. Dia begitu kagum dengan suasana pesta yang berkilau dengan lampu lampu, dan pernak pernik serta dekorasi balon yang dominan dengan warna pink pucat dan gold di tata sedemikian rupa, membuat suasana pesta terlihat megah dan mewah.


Rossi mencari seseorang yang mungkin saja di kenalnya, tapi nihil. Dia tidak mengenal siapapun di sana. Sampai seseorang menepuk pundaknya.


"Hai, apa aku tidak salah orang? kau Rossi kan?" sapa Mella yang sedikit ragu, karna Rossi yang di temuinya malam ini berbeda dengan Rossi yang di temuinya di belakang kantor.


"Mella!" mereka berpelukan."Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini" ucap Rossi berbinar. Dia sungguh bahagia setidaknya dia tidak seperti orang hilang dalam acara yang bisa di bilang super mewah menurut kalangan bawah semacam dirinya.


"Begitupun dengan aku, ayok kita kesana saja. Aku juga merasa sendiri di sini," jawab Mella sambil menggandeng tangan Rossi menuju Chocolate fountain berada.


"Cobain ini deh, enak banget," Mella mengambil potongan buah apel, mencelupkan ke coklat lalu melahapnya dengan anggun. Rossi mengikuti cara yang di lakukan oleh Mella. Dia mengambil potongan buah kiwi.


"Ah, maaf Rossi aku mendapat panggilan, tapi sepertinya di sini terlalu ramai, aku permisi sebentar, ya!" ucap Mella meminta izin.


"Kan aku sendiri lagi, mana aku tidak mengenal mereka semua lagi. Mana seh anak kecil itu," celingak-celinguk sambil tetap memakan buah di hadapannya.


"Sendiri aja, Neng! butuh teman!" suara Andhra mampu memutar tubuh Rossi.


"Kau, berada di sini!" sejenak Rossi terpesona oleh ketampanan pria yang juga  tengah menatap dirinya. Namun bedanya Andhra terlebih dahulu cepat menyadari situasi.


"Sampai segitunya lihat orang tampan," Andhra tertawa dalam hati melihat perubahan wajah Rossi yang mendadak merah seperti tomat matang.


"Aku, aku mau kesana dahulu," Rossi dengan gugup mengatakannya. Dia ingin segera mungkin pergi dari hadapan Andhra.


*Kenapa aku bisa bertingkah sebodoh ini, seh. Aku selalu terpesona oleh ketampanannya.* batin Rossi.

__ADS_1


"Eits, mau kemana?" Andhra mencekal tangan Rossi hingga membuatnya berbalik arah kembali. Andhra semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Rossi, hingga tidak ada jarak lagi di antara keduanya. Rossi ingin segera berbalik, tapi tangan Andhra dengan sigap meraih pinggang rampingnya.


"Bagaimana jika orang lain melihat ini, nanti?" Andha dengan lembut mengusap coklat di bibir Rossi dengan jempolnya. Hawa panas dingin menjalar di sekujur tubuh Rossi, bahkan dia tidak berkedip saat melihat wajah Andhra yang begitu membuat dia tidak berdaya.


"Wah, romantis sekali," tepuk tangan Ozan menyadarkan keduanya. Rossi menundukkan wajahnya, malu tiada terkira.


Inilah adegan romantis yang bakalan fenomenal tahun ini. Andhra Abhimanyu menemukan tambatan hatinya. Arini girang bukan kepalang.


"Aku, aku permisi!" gugup Rossi lalu pergi dari sana.


"Waow, drama romantis yang luar biasa!, lihatlah," Arini menyodorkan handphonenya kepada sang suami. Ternyata Arini mengabadikan moment itu.


"Aku yakin ada yang tidak bisa tidur nanti malam," goda Arini sambil merebut kembali ponselnya dari sang suami. Andhra terlihat biasa saja menanggapi ucapan Arini.


"Mau kemana kalian?" tanya Andhra pada pasangan suami istri yang mulai menautkan tangan mereka.


"Aku lapar," jawab Arini singkat.


" Sebagai suami dan papa siaga aku harus mengawalnya, bukan!" ucap Ozan. Andhra sebenarnya ingin sekali meminta video atau foto dirinya bersama Rossi tapi ego mengalahkan rasanya.


"Arini," menggantung ucapannya. Ingin rasanya dia mengatakan agar di kirimkan.


"Ah, tidak! kalian pergilah. Ozan mengedipkan mata kepada istrinya, sebagai kode bahwa dia mengerti apa yang diinginkan sang bos. Sang istri yang juga mengenal keduanya tertawa renyah.


"Kau tenang saja, aku pasti mengirimkannya kepadamu, Bos!" pasangan itu tersenyum lalu pergi.


Andhra mengangkat jempolnya yang terkena coklat dari bibir Rossi. Dia menyesapnya "Manis"


*Anggap saja aku sudah mencium bibirnya* batin Andhra

__ADS_1


To be Continued


Apakah cinta bisa membuat orang sekonyol itu, ya!


__ADS_2