
"Kedatangan kami kemari, pertama-tama adalah untuk bersilaturahmi.Dan perlu bapak sekeluarga ketahui, jika ada wajah baru yang belum pernah sama sekali bapak Heru sekeluarga kenal sebelumnya," Farid menjeda omongannya, menunjuk dengan jempol kanan. "Beliau adalah Bapak Rasya Abhimayu bersama istrinya yaitu Arena Abhimayu. Mereka adalah orang tua dari saudara saya Andhra. Kiranya bapak Heru sekeluarga telah mengenal kakak saya Andhra." Heru dan istrinya tersenyum manis.
"Selamat datang di gubuk kami Pak, Bu." Ibu terlihat kikuk. Pandangannya masih menelisik sejak Rena baru saja datang.
Meski orang kaya, tapi cara dandannya tidak berlebihan. Aku jadi pengen cantik alami seperti itu!" Pikir Ibu.
Inikah penguasa perusahaan yang sebenarnya, auranya benar-benar kuat. Batin Heru. Pantaslah jika Andhra juga mewarisi hal itu.
"Jangan merendah begitu, Pak Heru. Rumah paling nyaman adalah rumah yang di huni oleh orang-orang yang ramah seperti bapak." kelakar Rasya. "Silahkan lanjutkan Bapak kepala desa. Sepertinya ada yang sudah tidak sabar."
Pandangan semua orang tertuju pada Andhra. Mereka ada yang mengulum senyum, dan sebagian terkekeh. Itu terasa bagaikan ejekan bagi Andhra.
"Baiklah, sepertinya kakakku ini sudah mulai tidak sabar." ejek Farid tersenyum miring. "Kita sudah bertahun-tahun menjalin hubungan antar saudara dan juga hubungan kerjasama dalam berbisnis. Saya sangat mengenal keluarga Pak Heru, dan begitupun sebaliknya." Farid melanjutkan ucapannya saat terjeda. Hidangan telah tersusun rapi, sengaja mereka abaikan rasa ingin mencicipi segala makanan yang menggoda selera, demi bisa segera menyelesaikan tujuan mereka bertamu.
"Sebelumnya, saya telah datang tadi sore kemari, mengabarkan bahwa saya akan datang bersama rombongan keluarga saya. Dan sekarang kami di sini guna menyampaikan sebuah keinginan. Tapi rasanya tidak pantas jika hal itu anak muda yang mengatakan nya. Akan terasa lebih afdol jika hal ini di sampaikan oleh Bapak Rasya."
"Hai, secara tidak langsung kau mengatai ku tua! Aku ini masih muda. Anakku saja yang cepat tumbuh," elak Rasya, melirik Andhra.
"Lihatlah, suamiku ini tidak sadar jika rambutnya sudah luntur." Rena menimpali. Arti lain dari perkataannya adalah jika Rasya telah beruban. Semua orang tertawa.
"Begitulah para pria, mereka sering menolak umur, padahal yah ... Bernafas saja kadang sudah ngap!" Bisik Ibu, namun didengar semua orang. Sontak saja mereka ketawa.
"Lihatlah, para ibu-ibu ini. Mereka sudah terlihat kompak. Apalagi jika nanti di satukan dalam bentuk keluarga." Rasya mengambil kesempatan di antara gurauan.
"Jadi, maksud Bapak dan Ibu ...!"
"Ya! Kedatangan kami kemari adalah, meminang putri Anda untuk anak kami Andhra." Rasya menepuk bahu anaknya. Andhra menundukkan wajahnya, antara bahagia dan lega. Berharap semoga di terima.
"Saya kira, Bapak kepala desa ini sudah memberitahu sebelumnya. Jadi, kami tinggal meresmikannya saja kan? Besar harapan kami untuk bisa menjadikan Rossi sebagai menantu kami. Mendampingi putra kami, berjalan bersama seiya dan sekata. Baik dalam suka ataupun duka."
Andhra melirik sedikit reaksi Heru. Pria itu tampak menoleh ke arah istrinya. Seketika dada Andhra berdetak kencang.
"Kami mengerti Pak Rasya, tapi Bapak tahu sendiri kan? Jika anak muda di zaman kita dan zaman sekarang sangatlah berbeda. Anak muda sekarang dominan lebih memilih pilihannya sendiri. Kami tidak bisa memberi keputusan hanya karena kami yang ingin. Takutnya akan berdampak buruk bagi hubungan kita ke depannya." Rasya mengangguk mengerti.
"Sudilah kiranya Bapak sekeluarga memberi waktu kepada kami untuk berbicara terlebih dahulu dengan anak kami. Syukur-syukur bila dia setuju, tapi, jika anak kami menolaknya nanti, saya harap tidak menjadi keretakan dalam hubungan silaturahmi yang sudah pernah terjalin sebelumnya."
__ADS_1
Ibu mengangguk lemah, setuju jika Rossi sendiri yang akan memutuskannya.
Rasya menatap wajah Andhra yang berubah lesu dan putus asa. Ingin rasanya Rasya tertawa, tapi kayaknya bukan waktu yang pas.
"Baiklah, kami mengerti. Tapi harap maklum kalau kami tidak bisa menunggu lama. Mungkin saja, waktu satu hari akan cukup untuk memikirkan semuanya." pinta Rasya, Andhra seketika mendongakkan wajahnya, memandang ke arah Rasya sangat setuju. Rasya mengedipkan mata sebelah.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Pa!" Baru kali ini Rena mengeluarkan suara merdunya.
"Saya juga berpikir sama seperti Bu Rena, apakah tidak terlalu singkat, bagi perempuan biasanya akan butuh waktu lama untuk hal apapun. Termasuk memantapkan hati untuk meniti masa depan."
Rasya menatap Andhra, tampak sekali wajah putranya itu sedikit gelisah. Rasya memegang bahu Andhra lalu menganggukkan kepalanya pela, seakan mengatakan, serahkan semuanya kepadaku pasti akan baik-baik saja.
"Tiga hari." Ucap Rasya "Saya rasa, tiga hari sudah cukup lama untuk mempertimbangkan segala sesuatunya. Saya juga positif thinking, jika Pak Heru sendiri juga tidak keberatan jika anak saya Andhra, menjadi bagian dari keluarga Anda."
Heru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya rasa juga begitu. Saya akan bicarakan hal ini dengan anak saya secara pribadi. Harap Pak Rasya sekeluarga bersedia memberi kami waktu."
Rasya menoleh pada Andhra yang mengangguk samar.
"Baiklah! Namun besar harapan kami agar bisa menjalin kekerabatan dengan keluarga Pak Heru. Kami tunggu kabar baiknya segera."
"Silahkan dicicipi dulu hidangan kami. Monggo! Beginilah adanya. Semoga berkenan." Ucap ibu. Mereka mulai menikmati sajian lezat berupa panganan tradisional.
"Ini apa namanya ya?" Rena menggigit sebuah makanan ringan yang menyerupai kerupuk, rasanya manis, gurih dan kriuk. "Enak banget"
"Owh, itu namanya carang madu, Bu Rena!" Jawab ibu.
"Carang madu?" ulang Rena, melihat sekali lagi benda yang ada di tangannya. Lidahnya terasa bergoyang ria di dalam.
Makanan unik batinnya.
"Iya! Karena bentuk Carang madu berbentuk kumpulan lembaran mirip carang atau ranting bambu, dengan diolesi madu, atau gula merah yang dicairkan di atasnya. Jadi, orang-orang menyebutnya Carang madu."
Rena mengangguk karenanya. Dia melihat makanan di tangannya dan menggigitnya lagi.
"Bahannya apa saja?"
__ADS_1
"Mama ... Tunggal makan saja kok repot sih?" tukas Rasya.
"Tidak apa-apa Pak, hal itu malah saya sukai, artinya Ibu Rena memuji jajanan ringan buatan kami," jawab Ibu "Kue ini dibuat dari bahan santan, tepung beras, dan gula. Dengan dua kali penggorengan."
"Wah, pantesan, ini sangat renyah. Cobain deh Pa!"
Tanpa sungkan Rena membagi kue itu pada Rasya, Rena juga mengambilkan untuk Andhra dan Farid.
"Nggak usah malu-malu kali, lagian ini kan rumah calon mertua kamu. Biasakan saja mulai sekarang."
Saat memberikan kue buat Andhra.
"Silahkan! Jangan sungkan-sungkan. Bu Rena juga bisa membawa beberapa buat oleh-oleh!"
"Ah, iya! Yang banyak saja sekalian. Biar saya promosikan buat teman-teman arisan saya. Siapa tahu mereka minat."
"Wah, terima kasih sekali Bu Rena! Ternyata selain cantik, Bu Rena ini baik hati ya!" Ibu terus memuji, biasalah trik menarik pelanggan. Makanannya memuji. Rusdi yang sedari tadi di pojokan hanya geleng-geleng kepala. Tangannya masih aktif memfoto dan mengetik sesuatu untuk seseorang di seberang sana.
"Lihatlah, mereka sudah sangat akur kan, Pak Heru! Akan lebih baik jika kita terhubung dalam ikatan keluarga. Pasti mereka bakalan lebih kompak." Nah, Si Rasya ini pandai sekali menyelipkan trik dadakan agar misinya lancar.
"Akan saya usahakan Pak Rasya. Saya pribadi, sebenarnya juga oke-oke saja dengan pinangan Nak Andhra ini. Tapi sayangnya, anak saya tidak berada di rumah. Kalau boleh, sebenarnya saya ingin bicara empat mata dengan Nak Andhra. Itupun jika Nak Andhra tidak keberatan. Dan mungkin, saya bisa putuskan."
"Bagaimana Andhra?" tanya Rasya.
"Saya tidak keberatan!" jawab Andhra.
"Baiklah, ikut denganku!" Heru berdiri lalu diikuti oleh Andhra.
To be Continued....
Setelah kembalinya Heru dan Andhra.
"Mama, pelan-pelan makannya! Sampai belepotan!" Tanpa sadar Rasya mengusap pipi Rena. Membuat semua orang memalingkan wajah. Andhra tepuk jidat.
Maaf, author tidak up dua hari ini di karenakan pekerjaan dunia nyata. Mohon di maklumi ya.
__ADS_1