Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 51 Dia lagi


__ADS_3

Duggghhh


"Auwwhh ... Kalau jalan hati-hati dong, Mas!"


Gadis ini lagi. Huffft


"Kau!"


Yah! Dia lagi malas rasanya berurusan dengan satu orang ini.


"Harusnya, kau istirahat di rumah! Ngapain malah keluyuran malam-malam begini?" Secepat kilat, pria itu membawa gadis di hadapannya dengan sangat mudah. Tubuh mungil itu diangkat dengan satu kali ayun seperti mengangkat karung beras.


"Hai, Batu, mengapa kau membawaku seperti ini? Turunkan aku! Apa yang kau lakukan?"


Gadis keras kepala, bukannya dia harus istirahat, mengapa malah keluyuran di sini.


"Hai turunkan aku!" Berontak lagi, memukul punggung Andhra.


"Kau ini, pernah makan apa tidak sih? Enteng banget kayak semut."


"Haiii, aku ini asisten koki handal ya, enak saja mengatai ku semut. Kalau aku semut beneran, aku akan masuk ke dalam bajumu dan menggigit seluruh tubuhmu."


Andhra tergelak hingga orang-orang di sekitar menoleh padanya. Biasalah, tempat ini memang cukup strategis, jadi lumayan ramai jika malam hari.


"Turunkan aku! Atau aku akan berteriak." Ancam Rossi.


"Diamlah!"


"Turunkan aku, atau aku akan teriak."


"Silahkan saja!" Jawab Andhra santai.


"Oke! Kau yang mengizinkan ya."


"Tolong! Tolong!"


Dua kali teriak sudah pada datang, wahhhh aku bisa melepaskan diri pada akhirnya.


Beberapa orang berkerumun, Andhra bagaikan tersangka maling ayam. Semua orang menatap tajam ke arahnya, Andhra pun berhenti.


"Hai, apa salahnya, mengapa kau perlakukan dia begitu?" 


"Turunkan dia! Apa yang kau lakukan padanya?"


"Cepat turunkan dia! Atau kami akan memanggil polisi."


"Maaf Tuan-tuan dan Nona-nona. Istri saya sedang merajuk,aku harus mengajari dia bagaimana caranya berbakti pada suami." Ucap Andhra tanpa menurunkan Rossi.


"Kan, aku bilang juga apa? Dia suaminya. Mana ada orang yang berani menculik seorang gadis di depan khalayak ramai seperti ini."


"Lha gadis itu teriak, khawatir saja jika dia penculik."


"Memangnya, apa yang terjadi?" Seorang ibu-ibu berbadan gemuk meneriaki Andhra, suaranya cempreng kayak ompreng. Baru saja muncul

__ADS_1


"Biasalah, dia sedang dilanda cemburu. Sudah dua hari tidak pulang, padahal aku sangat mencintai dirinya. Dan mustahil bagiku untuk bisa berpaling." Jawab Andhra


"Kalau ada masalah, selesaikan saja di ranjang." Teriak salah satu orang dari belakang.


"Iya! Mungkin kurang belaian, makanya dia mencari pelampiasan."


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Kau menyindirku? Berani kamu ya!" Pasangan itu pun keluar barisan dengan persoalan baru.


"Biasa perempuan, ada masalah sedikit aja bisanya ngambek lah, yang di salahin selalu saja pria. Ketika kita meminta maaf, eh dia bikin masalah baru." Nah loh, pada curhat sendiri-sendiri


"Iya! Kita sebagai pria terus saja di jadikan kambing hitam."


Kalau jadi kambing etawa, pasti sudah dijual.


"Perempuan memang suka menangnya saja!"


Rossi semakin melebarkan mata, bisa bisanya mereka melontarkan fitnah sekeji itu.


"Berani kamu berkata begitu hemmh." Telinga di jewer tuh syukurin. Apa dia lupa, jika perempuan harus selalu dianggap benar. Keluar dari kerumunan juga.


"Jewer saja Mbak, berani dia melawan kita kaum wanita."


"Hai, kamu! Beneran itu istrimu? Jika iya, perlakukan dia dengan baik, supaya tidak kabur lagi."


"Karena itu, saya berusaha membawanya pulang, tapi dia selalu saja ingin lari seperti kancil. Istri saya ini memang suka ngambek! Bahkan dia sering mengabaikan saya jika dirumah. Saya makan sendiri, tidur sendiri. Dia lebih suka pergi bersama teman-temannya." Rossi lagi-lagi shock mendengarnya. Drama apalagi ini?


Bolehkah dia mengutuk pria ini agar jadi batu saja.


"Iya! Padahal suaminya ganteng loh."


"Huum, suamiku yang nggak ganteng juga tiap hari minta di layani, eh ini punya suami tampan kok dianggurin."


"Wwoiii. Jangan percaya bualan dia! Dia pembohong. Turunin aku nggak?" Rossi berontak.


"Ayolah, sayang! Nanti kamu bakalan kabur lagi dan ninggalin aku kalau aku lepas." Semakin mengeratkan pegangannya.


What! Sayang? Kok dadaku mendadak marathon gini ya, saat dia panggil sayang.


"Maaf! Apa sekarang kami boleh pergi? Keluarga kami sedang menunggu di rumah." Andhra sudah tidak sabar lagi menunggu.


Natural sekali dia memainkan peran, sampai semua orang percaya. Terbukti dengan bubarnya orang-orang yang tadinya berkerumun, sudah membubarkan diri masing-masing.


Rossi mencak-mencak, dongkol bukan main, berusaha meraih telinga Andhra dan menariknya kuat. Otomatis, Andhra menurunkan tubuh Rossi.


"Auwwhh...sakit tahu!"


"Rasain tuh! Makannya, tidak usah macam-macam kepada saya." Rossi berkacak pinggang. "Sok jadi suami yang baik lagi. Saya tuh tipe istri idaman, tidak mungkin saya akan keluyuran malam-malam tanpa izin suami. Apalagi sampai ngambek dan nggak pulang. Segala sesuatunya itu, harus diselesaikan dengan kepala dingin, begitulah keluarga seharusnya." Rossi memasang wajah garang. Kedua tangannya bertolak pinggang seperti preman pasar. Sesekali mengusap hidung dengan kasar.


"Kau, kau juga berani menyentuhku tanpa seizin diriku. Saya merasa tersinggung. Bahkan kau mengaku sebagai suami saya segala." Kini telunjuk mungil Rossi menunjuk wajah Andhra.


Andhra malah bersendekap, mulutnya hampir saja melengkung jika tidak ingat akan situasi. Andhra berusaha menahan tawanya, dengan pura-pura menggaruk ujung hidung, kemudian bersendekap lagi. Gadis di depannya terlihat lebih menghibur daripada nonton sirkus.

__ADS_1


"Kauuu!" Rossi lupa mau bicara apa tadi. "Siapa namamu? Ah, iya! Andi! Kang Andi. Wooi kang Andi yang terhormat. Ingat! Saya ini wanita baik-baik. Tulis di buku harianmu. Ingat! Wanita baik-baik. Kalaupun nanti saya memiliki suami, saya tidak akan pernah meninggalkan rumah seperti yang Anda tuduhkan tadi. Mengerti!"


Dada Rossi naik turun. Hidungnya mengembang mengempis seirama nafas yang memburu. Begitu kesal hingga rasanya ingin menggigit pria yang tengah berada di hadapannya.


Dia memasang muka ganas, seolah hendak menerkam Andhra.


Cup


Cup


Dua kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri Rossi. Mendadak Rossi melongo, hilang sudah sifat bar-bar bersama perasaan terkejut.


"Kauuuu!"


Berani sekali kau menciumku, akan ku beri kau pelajaran. Sayangnya, kalimat itu tertelan bersama ludah, tercekat di kerongkongan. Dia seperti patung Barbie. Diam dengan mata melotot.


"Hai, berkedip!" Bisik Andhra tepat di depan wajah Rossi, hingga bau mint tercium jelas di indera penciuman.


Rossi menghela nafas panjang. Mengedipkan mata seperti orang kelilipan.


"Kelilipan orang ganteng,  kedipnya harus gitu banget ya?" Belum juga Rossi menyerang, dia sudah di bekukan lagi oleh kalimat narsis Andhra.


"Siapa yang kelilipan?"


"Ituh! Di matamu hanya ada wajahku."


"Jangan melotot begitu? Kayak Suzanna saja!"


Apa? Dia menyamakan aku dengan pemeran film lama Suzanna, yang melotot dalam film kuntilanak itu?


"Hai, kaum old! Yang hanya kenal sama kuntilanak Suzanna, manusia batu yang super super nyebelin. Ingat ya! Ini adalah bentuk dari kemarahan seorang Dewi Rosyida. Kamu jangan lagi narsis karena semua yang ada pada dirimu sangatlah menyebalkan." Tangan mungil Rossi memutari wajah Andhra, terakhir dia ingin sekali mencekek tuh pria yang dia anggap paling nyebelin sedunia.


"Andai saja membunuh orang tidak dihukumi sebuah dosa, maka orang yang pertama kali aku bunuh, adalah pria ini." Batin Rossi.


"Menyebalkan, tapi ngangenin tahu." Andhra melenggang pergi dengan gaya coolnya.


"Kauuuu..! Hai, kau telah merusak acara malam ku. Dan sekarang malah pergi. Tanggung jawab kau." Teriak Rossi sambil menghentakkan kaki.


Andhra tidak menggubris, dia tetap memasuki mobilnya, lalu pergi meninggalkan Rossi.


"Batu, menyebalkan, tunggu saja pembalasanku nanti." Teriakan Rossi hanya di tanggapi oleh lambaian tangan Andhra dari dalam mobil.


"Apa? Dia tetap pergi? Meninggalkan aku? Sendiri, di sini." Rossi memutar kepala ke kanan dan kiri. Melangkah lagi hendak memasuki kafe tadi, "Itukan mereka yang tadi berkerumun? Bagaimana jika mereka menggosipkan aku lagi nanti?" Rossi membalikkan badan lagi, memilih berjalan kaki bertujuan untuk pulang.


"Bibi, tahu begini, aku tidak akan kabur dari rumah bibi tadi. Apa aku kualat, karena tidak mendengarkan nasihat Bibi ya?"


Rossi mengusap kristal bening di ujung mata. Kini tujuannya adalah kembali. Pulang.


Sudah hampir setengah jam lamanya,tidak ada satupun taksi, ojok, ataupun bis yang lewat. Mau pesan lewat online, hp lagi lobet. Lagi ketiban apes, Rossi memilih duduk di trotoar, menelungkup kan wajahnya pada kedua kaki.


"Ayuk! Aku antar kau pulang!" Sebuah tangan terulur tepat di depan wajah Rossi


"Hiks hiks hiks huaa..."

__ADS_1


To be Continued....


Kira-kira dia siapa ya?


__ADS_2