
Taman bunga terindah yang baru saja Rossi temui masih segar di ingatan. Berbagai macam bunga dengan pot-pot sedang, tersusun rapi memikat setiap mata yang melihat. Ya! Itu semua ada di balik gerbang dekat perkebunan yang orang bilang adalah sebuah gudang. Ternyata menyimpan ratusan bahkan mungkin hampir ribuan bunga yang terawat dengan begitu baik. Semerbak harum masih begitu melekat di indera penciuman.
Tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Rossi bahkan merasa sangat beruntung, karena bisa melihat sisi terindah dari bukit ini.
"Apa yang dilakukan Andhra padamu? Sejak kalian jalan bareng, kau jadi pendiam ya!" Bunyar sudah lamunan Rossi.
"Dara! Kau mengagetkan ku saja!"
Setelah sarapan bersama, kini mereka berpencar. Rossi memilih duduk di teras rumah sambil melamun. Tentu saja membuat Dara penasaran. "Dimana yang lain? Lalu anakmu? Aku tidak melihatnya sejak kau kembali kemari."
"Tanyanya satu-satu!" Dara memukul pelan paha Rossi. Dia ikut duduk bersila di samping Rossi.
"Kak Farid dan Kak Andhra pergi untuk meninjau peternakan. Sedangkan Rafka aku tinggal di rumah. Ada ibu mertua yang menjaganya."
"Lalu bagaimana dengan itu nanti?" Rossi menunjuk peralatan makan yang tadi mereka pakai.
"Akan ada yang mengurusnya nanti." Dara tersenyum manis.
"Ibu kepala desa, hidupmu mulia sekali. Semuanya sudah ada yang menangani." Rossi memeluk temannya, Dara pun membalas. "Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Doanya tulus.
"Amiiin! Aku akan lebih bahagia lagi jika kau benar-benar berdampingan dengan kak Andhra." Rossi melepaskan pelukannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu! Andhra sepertinya tidak menyukaiku." Dara tersenyum,menarik lengan temannya hingga kini mereka beradu pandang. "Jangan terlalu berharap padaku Dara, kau tahu sendiri kan?"
Dara mengangguk mengerti, tapi sejurus kemudian sifat jailnya muncul.
"Katakan padaku! Apa kau menyukai Andhra?" Binar harapan tercetak jelas di wajah Dara. Rossi jadi tidak bisa berkutik karenanya.
"Mana ada? Bukankah kau yang memberikan tantangan padaku? Sebab itu aku bekerja keras!" Jujur Rossi. Dara tentu saja kecewa, besar harapannya tadi untuk menyatukan Andhra dan Rossi.
"Kalian terlihat akur tadi. Kurasa itu awal yang lumayan baik."
Hening
"Jarang banget lho, Kak Andhra mau bicara pada seorang wanita meski hanya sedetik. Bahkan mengajak mampir ke rumah rahasia miliknya. Kurasa kau akan menduduki tempat istimewa di hatinya."
Kan! Benarkan itu tadi sebuah rumah. Persis seperti istana mini.
Dara, bisakah kau tidak membuatku kepedean?
"Aku jadi bangga diri sebab ucapanmu itu!Sekarang, berikan uangku. Bukankah aku pemenangnya sekarang?"
Dara mencebik, kemudian mengambil ponsel yang tadi sempat dia tinggalkan.
"Kuberikan saldo yang kau minta. Puas kau!" Sungut Dara. "Tahu gini aku tantang kau berkencan dengan kak Andhra besok."
"Nah! Ini baru temanku. Ah jika terus-terusan begini aku tidak perlu repot-repot meminta uang pada ayah." Rossi berjoget ria mengekspresikan kebahagiaan. "Jangankan kencan, aku akan buat kakakmu itu terjerat oleh cinta ku." Rossi mengutuk mulut sialnya. Bagaimana bisa dia bicara begitu. Memukul pelan mulutnya yang tidak punya rem. "Hehe, kuharap kau tidak mendengarnya tadi." Nyengir kuda
"Rossiiii...!"
"Iya Dara!"
__ADS_1
"Saldoku masih tersisa angka Lima ratus dengan digit nol yang jumlahnya mungkin mencapai enam baris. Kabar baiknya lagi adalah," Dara memberi jeda sejenak, ekor matanya melirik Rossi yang dia anggap penasaran. "Aku akan dengan sukarela menyerahkannya kepadamu." Rossi menaikkan alisnya, prasangka curiga mulai bersarang di otak cerdasnya.
"Jangan memintaku untuk macam-macam ya! Sepanjang pagi ini saja, jantungku harus bekerja keras dari lumrahnya."
"Mau kemana?"
Melihat Rossi yang buru-buru berdiri.
"Pulang! Belum mandi nih!" Rossi setengah berlari menuju tempat kakaknya bekerja. "Aku akan kembali ke kota X besok pagi. Jangan merindukan aku ya." Rossi mengisyaratkan untuk menghubungi dirinya, kemudian melemparkan ciuman jauh, sebelum kemudian membalikkan badan dan lari lagi.
"Dasar! Bilangnya jangan, tapi tangannya memberi kode." Dara masih terpaku di tempat.
"Besar harapanku padamu Ros."
~
~
Di tempat peternakan ayam
Kandang yang dibuat panggung memiliki dua lantai dengan enam belas kali sepuluh meter persegi. Yang diperkirakan mampu menampung ayam sekitar seribu ekor. Dengan masa panen dua bulan, sehingga mengahasilkan kualitas ayam super.
"Lalu kenapa kandang yang disana kosong Rid?"
Andhra menunjuk sebuah kandang kosong di belakang.
"Itu lagi masa pembersihan. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan agar kandang kembali steril. Juga menunggu ayam-ayam ini diangkut."
"Hemm!"
"Ozan sudah mengirim orang-orangnya tadi malam. Dan kabar yang saya dapat, pagi ini mereka akan sampai."
"Kuharap mereka bisa membantu menyelesaikan kasus ini. Maafkan aku yang tidak bisa lebih lama lagi untuk tinggal." Andhra mengibaskan tangannya yang basah.
"Tidak apa! Aku sangat senang kau datang hari ini. Itu sudah membuat rasa rindu kami terobati. Terlebih ibu. Jika kau ingin kembali, maturlah kepadanya." Andhra hanya mengangguk sebagai jawaban.
Malam harinya.
Setelah membersihkan diri, Andhra kembali sibuk dengan benda kotak pipih di mejanya. Dia sibuk mengecek email dan sesekali membalas.
"Kak!"
Dara kini mendekati Andhra setelah celingak-celinguk melihat ke sekeliling. Rupanya dia sedang mencuri waktu agar bisa leluasa bicara.
"Hemmh."
Melirik sebentar, kemudian fokus lagi.
"Menurut kakak, Rossi seperti apa orangnya?"
"Dia temanmu, bukan?"
"Iya! Maksudku, menurut kakak, apakah Rossi gadis yang baik?" Andhra sama sekali bergeming.
__ADS_1
Kan, Kak Andhra begitu kaku orangnya. Semangat Dara. Kamu harus memperjuangkan keyakinanmu jika Rossi dan Andhra bisa bersatu.
"Dia gadis yang baik apa tidak?" Masih menunggu jawaban. Sabar!
"Baik!"
Yes! Akhirnya dia menjawab.
"Lalu!"
Bisakah sedikit memberi bocoran, bagian mananya yang baik kak Andhra. Dara menjerit dalam hati.
"Kaaakkk!"
"Hemmh."
Yah! Cuma deheman doang. Dara sampai bingung harus menanyakan apa lagi.
"Kak Andhra, apakah Rossi itu cantik?"
"Tentu!"
"Yes! Berarti kakak menyukainya. Buktinya kakak memuji temanku itu?" Lampu hijau menyala sempurna, saatnya melanjutkan misi. Yaitu mempengaruhi.
"Kak, cobalah untuk menjalin hubungan dengan temanku ini. Dia baik kok walau memang sedikit tomboy seh. Tapi hatinya halus bak kapas."
"Kak! Apakah Rossi bisa masuk dalam kriteria calon istri idaman Kakak?"
"Tidak tahu!" Menggidikkan bahu. Hancur sudah harapan Dara.
"Bukankah kakak tadi memuji gadis itu?"
"Iya! Karena kau bertanya!"
"Sekarang, jawab dengan jujur!" Dara memberi penekanan ektra pada kalimat yang baru saja terucap. "Kak! Dengarkan aku dulu."
Andhra menutup laptopnya.
"Iya! Bicaralah!" Mulai jengah.
"Apakah Rossi itu cantik?" Jika seorang pria memuji lawan jenis, sudah pasti ada ketertarikan bukan.
"Cantik."
"Nah! Kakak telah memuji temanku, itu berarti dia ...!"
"Perempuan!"
Pyarrrr ...
Berarti dia berkata cantik karena Rossi seorang perempuan?
Yang benar saja!
__ADS_1
TBC