Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 25


__ADS_3

"Baguslah, kalau kau merasa!" Jawab orang itu dengan sinis. Tapi tangannya di ulurkan untuk membantu Mella berdiri.


"Bangunlah, tidak sepantasnya orang yang kaya sepertimu berlutut di hadapanku." Ejek gadis yang memakai celemek itu. Senyumnya penuh mantra menyebalkan.


Mella langsung meraih tangan gadis di itu, walaupun ada rasa dongkol di hati karena ada gadis kecil  mengejek dirinya, dia mengusap lutut yang kena rumput liar.


"Jangan sok deh, nggak kenal juga." Ucap Mella sewot.


"Namaku Rossi, sebenarnya seh Rosyi bukan double s' tapi karena ayah dan kakakku pecinta balapan jadi, mereka memanggilku Rossi." Ucap Rossi "Sudah kenal kan sekarang."


Lanjutnya lagi tanpa mengulurkan tangannya.


"Aku Mella!" Mengulurkan tangan. Tapi Rossi tidak juga membalas, dia hanya mengangkat kedua tangannya yang kotor. Mella menarik tangannya kembali.


Cukup tahu diri gadis ini. Sepertinya dia orang baik-baik. Batin Mella


"Sepertinya hidupmu banyak beban ya!" Komentar Rossi sok tahu.


Duh, mulut! Kenapa kamu ember sekali. Sebaiknya aku pergi saja dari sini. Kabuuuuur


"Hai kenapa malah pergi? sudah tahu ada yang lagi bersedih karena menanggung banyak beban. Bukannya nolongin biar berkurang malah di tinggal pergi gitu aja." Teriak Mella.


"Tunggu di situ, aku sebentar doang."


"Hai, tunggu! Mau kemana?" Dengan setengah berlari, Rossi memberi kode agar Mella tetap diam di tempat.


Beberapa menit kemudian Rossi kembali dengan tissue, camilan, air mineral dan sebuah lipatan koran di tangannya.


Ternyata dia amanah juga ya! Mella tersenyum simpul.


"Kita duduk di sini." Rossi menggelar koran yang di bawanya tadi. Meletakkan barang lainnya di sana.


"Kayak mau piknik aja."


"Anggap saja seperti itu." Rossi tertawa renyah.


"Duduk di sini dan makanlah camilannya." Rossi merobek satu bungkus. "Ayo duduklah!" Ucapnya lagi karna Mella masih saja bergeming di tempat.


"Jangan takut kotor,  sebab yang kotor itulah kadang lebih berguna." Mella langsung melepas high heels dan duduk di samping Rossi.


"Apa maksud ucapanmu?" Mella tertarik dengan ucapan Rossi. Sedangkan Rossi masih asyik mengunyah sambil menikmati hamparan rumput yang di batasi oleh dinding tembok di lengkapi kawat berduri. Belakang kantor yang lumayan tenang untuk sekedar menjernihkan pikiran. Angin semilir menerbangkan helaian rambut keduanya.

__ADS_1


"Lihatlah tanah itu." Menunjuk sebuah gundukan kecil dekat lobang yang sepertinya baru saja di gali. Mella mengikuti arah jari Rossi mengarah. Sambil mengernyit heran.


"Apa yang kau pikirkan pertama kali tentangnya?" Ucap Rossi kemudian.


"Kotor!" Jawab Mella singkat.


"Kau benar, dia kotor dan banyak orang yang mengabaikan dirinya. Walaupun karena adanya dia, kita bisa menikmati buah buahan, sayuran dan pemandangan indah." Rossi menatap jauh, tapi terhalang tembok pembatas yang lumayan tinggi karna posisi duduk.


"Lalu!"


Rossi tersenyum melihat mimik wajah lawan bicaranya.


"Bagaimana kalau dia menjadi guci, gelas, teko, dan gerabah lainnya. Misalnya?" Tanya Rossi lagi.


"Tentu dia bisa di jual dan harganya bisa sangat mahal. Apalagi barang antik. Kita lagi bahas apa seh, kau malah tambah membuatku pusing." Mella merebut camilan di tangan Rossi dan memakannya tanpa izin. Rossi hanya tersenyum saja lalu mengatur nafas dia memposisikan tubuhnya menghadap Mella. Tapi tangan yang satunya mengambil tanah dan memainkannya.


"Tanah ini tidak dianggap berguna sama sekali, hanya di anggap sebagai barang yang kotor. Tapi, dia akan menjadi sangat berguna saat melalui banyak proses. Pertama, dia harus di basahi dan di gulêt. Baru setelah itu di bentuk, di sana, dia akan di buat sesuai yang di inginkan pengrajin. Jika tidak sesuai, akan di hancurkan lagi dan di bentuk lagi hingga mencapai bentuk yang di inginkan."


Rossi menjeda omongannya, meneguk air mineral yang di bawanya tadi. Mella menghentikan kunyahan nya mencoba mencerna apa yang Rossi sampaikan.


"Setelah itu, tahap berikutnya dia baru di jemur di bawah terik matahari. Dan tidak berhenti sampai di sana. Dia harus merasakan bara api selama berjam-jam. Apakah sudah selesai? belum Mella. Dia baru akan di cat dan di ukir sesuai keinginan pengrajin itu. Barulah akan di pajang dan di saat itupun, dia kadang masih saja mendapat celaan. Tapi tak sedikit pula mungkin yang menatap takjub bahkan membeli dengan harga fantastis." Rossi menatap netra Mella yang sepertinya penuh tanda tanya.


"Apa maksud ceritamu tadi! bukannya kau menghibur malah menyajikan cerita anak anak yang tidak masuk akal." Omel Mella mengambil camilan lagi.


"Cuma cerita pembuatan gerabah." Cuek Mella. Rossi tersenyum sinis.


"Bukan begitu, Mella. Kamu ini terlihat cerdas namun bodoh ya!" Mella menatap sebal gadis ini.


"Kau mengatai ku?"


Habisnya, di ceritain sebuah perumpamaan malah nggak ngeh." Rossi berhenti sejenak menepuk tangannya agar tanah yang menempel hilang.


"Gerabah sama seperti perjalanan hidup manusia. Dia yang akan mencapai sebuah derajat tertinggi harus bersabar ketika menghadapi segala cobaan hidup. Seperti ketika kamu menjalani ujian hidup yang terasa berat. Begitulah proses tanah itu menjadi gerabah."


"Lalu!"


Mella dengan khusuk mendengarkan apa yang di sampaikan Rossi, bahkan meletakkan camilannya.


"Seperti gerabah yang di jemur, di biarkan begitu saja, tapi jika malam hari, jika ada hujan dengan cekatan pengrajin akan menghindarkan dari semua itu. Sama dengan Tuhan. Dia tetap berperan penting dalam kehidupanmu. Sebenarnya Tuhan selalu menjagamu memberi ujian sesuai kadar kemampuanmu."


"Terakhir, ujian manusia sampai kepada pembakaran. Di mana dia harus bisa menahan panasnya api agar lebih kuat lebih terbentuk dan bertahan dari apapun. Apa kau tidak merasa, telah sampai di tahap itu?"

__ADS_1


Mella terkesiap dengan penuturan Rossi. Meski kata katanya biasa saja tapi maknanya telah mencubit hati dan pikirannya.


"Berarti setelah itu...!"


"Ya! kau akan di hias. Meski nantinya bagus. Pasti masih akan ada yang mencemooh. Tapi itulah kehidupan, kita hanya berusaha menjadi orang baik.  Walaupun kata orang kita kurang baik."


"Terima kasih Rossi, kau telah menguatkan aku." Mella menggenggam tangan Rossi.


"Sama sama! aku harap kau bisa melewati semua rintangan di dalam hidupmu." Ujar Rossi.


"Ah maaf!" Mella melepas tangan Rossi.


"Apa kita bersahabat." Ucap Mella lagi.


"Aku mau mau saja, tapi sepertinya dirimu orang berpengaruh di kerajaan ini. Apa kau tidak malu berteman dengan pelayan sepertiku?" Tanya Rossi.


"Pelayan?" Mella mengernyit. "Tapi aku tidak pernah melihatmu?" Selidik Mella.


"Ah iya, aku di bagian dapur membantu pamanku memasak." Jawab Rossi.


"Baiklah, kita berteman, oke! Jangan pernah kau berpikir, aku ini orang kuno yang masih membedakan kasta." Mella bergaya seolah marah.


"Baiklah, kita berteman?" Rossi menyambut uluran tangan Mella kali ini.


"Rossi, sepertinya aku sudah lama berada di sini. Aku harus kembali ke ruang kerjaku."  Menengok jam tangan di pergelangan tangannya lalu berdiri dan mulai memakai high heels.


"Semangat Mella, ini! Jangan lupa ponselmu." Rossi menyerahkan ponsel yang di temukannya tadi.


"Semangat juga untukmu. Kapan kapan kita ngobrol lagi ya. Kalau bisa kita janjian di lain hari." Sudah mulai berjalan menuju kantor, pastinya setelah mengambil hp miliknya.


Setelah perpisahan keduanya.


"Ya Allah aku lupa menanyakan nomer ponsel Mella." Menepuk jidatnya sendiri.


Semoga kita bertemu di lain waktu. Yah! jika  Allah mengizinkan kita pasti bersua kembali.


Sedangkan Mella, telah sampai di lift. Wajahnya sudah nampak berseri seri. Dia merasa terhibur dengan omongan Rossi. Membuatnya tidak lagi rapuh dia akan menjadi kuat dengan menghadapi api masalah yang di hadapi dirinya sekarang.


Aku akan menjadi gerabah cantik yang bernilai tinggi.


"Astaga, aku lupa minta nomer darinya."

__ADS_1


Tak berapa lama ponselnya berdering, terdapat nama Ozan di sana.


Bersambung...


__ADS_2