
"Tapi nanti temenin yah! please! Temenin yah! Mau yah!"
Ayo dong bilang iya! Bilang mau
"Temenin kemana?"
"Tuan Bos!" Lala menyapa sopan, kemudian berlalu setelah mendapat ultimatum dari Andhra, agar secepatnya meninggalkan tempat. Rossi memasang muka memelas, sayang sekali, Lala lebih takut pada Andhra.
"Mau, kemana? Mengapa minta ditemenin?" Rossi malah menyodorkan makanan yang sejak tadi dia pegang.
"Ini! Makanan Anda, dengan masakan sebisa saya."
Biar tahu rasa nih Si Bos! Sesekali di kerjain kayaknya bagus tuh. Andhra merampas barang yang dibawa Rossi, dengan gaya coolnya yang khas, Andhra duduk di sofa depan ruang kerjanya. Rossi melirik sekilas ruang kerja yang pintunya tidak tertutup sempurna.
Kenapa dia harus makan di sini? Tidak di dalam saja gitu. Batin Rossi.
"Kalau mau mampir, mampir saja. Masih menerima tamu kok!"Andhra membuka kotak makanan yang di bawa Rossi. Perlahan namun pasti, Andhra menyuapkan satu sendok makanan itu ke mulut. Andhra diam beberapa lama, mencium sejenak aroma yang khas dari masakan Rossi, Andhra juga mencicipi dengan penuh penghayatan, kemudian terdiam lagi beberapa lama. Ada kristal bening yang hampir saja meluncur dari ujung matanya.
"Apakah begitu buruk rasanya?" Rossi berdiri bagaikan patung. Merasa bersalah karena memasak sesuatu yang tidak pantas untuk seorang Presdir. Niat awalnya untuk iseng, kini berubah jadi sebuah penyesalan. Apakah perlu Rossi perbaiki?
"Maaf! Saya memang salah. Tidak seharusnya saya memasakkan itu untuk, Tuan. Tapi Tuan tenang saja saya akan segera menggantinya dengan menu lain."
Andhra mengalihkan pandangan, membuang muka hingga Rossi sedikit kesulitan untuk bisa memandang wajah tampan Andhra. Tangan kekar nan indah itu nampak sedang mengusap air mata.
"Kenapa harus panggil saya Tuan?" Pertanyaan Andhra membuat Rossi semakin tidak mengerti.
Apakah seburuk itu makanannya, hingga orang yang memakannya sampai tidak konsen begitu? Pikir Rossi.
"Makanannya terlalu buruk ya? Maaf! Aku hanya bercanda. Biar aku bereskan yang ini. Dan menggantinya dengan menu lain." Hampir saja tangan Rossi menyentuh makanan itu, tapi terhenti oleh pegangan prosesif Andhra yang seolah takut makanannya di minta orang lain.
"Kalau tidak suka, jangan di makan. Aku akan menggantinya dengan menu baru." Bukannya menjawab, Andhra malah menarik lembut tangan Rossi, hingga sang pemiliknya pun duduk di samping Andhra.
"Suapi aku!" Pinta Andhra, wajah yang biasanya tegas kini telah berubah bagaikan anak kecil yang polos.
"Untuk apa?" Bukankah tangannya baik-baik saja? Untuk apa minta disuapi?
"Sebagai pelengkap!" Rossi mematung sejenak.
"Kau bisa melakukan suapan sendiri. Kenapa harus memintaku segala?"
"Bawa balik saja sana!" Andhra sedikit menghentakkan makanan itu di meja.
Krukkk krukkk
__ADS_1
Perut Andhra berbunyi. Andhra melirik makanan di atas meja namun detik berikutnya membuang muka. Apakah dia tengah merajuk? Lucu sekali.
"Ngapain kau tertawa?"
"Seorang Presdir merajuk karena minta di suapi. Bagaimana reaksi orang-orang di luar sana jika melihatmu begini, Tuan?" Rossi masih tergelak.
"Pergi sana! Bawa juga makanan jelekmu itu." Andhra berdiri, secepat kilat Rossi mengulurkan tangannya memegang pergelangan tangan Andhra. Senyum tipis terbit dari bibir Andhra, bahkan saking tipisnya, Rossi tidak menyadari hal itu.
"Baiklah, bayi gede aku yang masih suka merajuk, kita makan dulu ya, supaya badannya sehat dan tubuhnya kuat. Aa...!" Satu sendok makanan lumer dan gurih telah mendarat sempurna di mulut Andhra.
Rasa masakan ini, sama persis dengan makanan bikinan paman Heru. Tidak salah lagi, resep ini pasti dia dapat dari paman.
"Kau tahu?" Ucap Rossi.
"Tidak!"
"Hai, dengarkan dulu baru jawab. Main sambar saja." Rossi tersenyum penuh arti. Sambil mengaduk bubur kemudian memberi Andhra suapan yang kedua. Suwiran ayam dan juga bumbu gurih bercampur manis juga lembut.
"Ini adalah bubur favorit ayah! Ayah sering membuatnya, bahkan hampir setiap hari." Binar kebahagiaan terlihat jelas dari guratan wajah Rossi. Tanpa sadar, gadis itu menyuapkan satu sendok untuk dirinya sendiri.
Andhra menduga, walaupun tidak pernah ada pembahasan tentang hati, tapi nyatanya, Rossi tidak menolak apapun yang dia minta, itu sudah cukup membuktikan bahwa gadis di hadapannya juga memiliki rasa yang sama. Sesimpel itulah pikiran para pria, mereka lebih percaya bukti daripada omongan, pun demikian dengan karakter mereka.
"Apa kau merindukannya sekarang?"
"Setiap hari!" Rossi mengambil bagian terakhir, Andhra segera mengambil alih sendok, lalu menyuapkan untuk Rossi.
"Ini berkahnya." Ucap Andhra tersenyum menawan. Rossi tersadar, menelan bubur terakhir dengan susah payah.
"Baru saja, kita...! Maksudku, aku baru saja makan satu sendok bersamamu?" Rossi kemudian mengambil air dan minum sebanyak-banyaknya. Mengelap kasar bibirnya. Canggung tapi nyaman. Entahlah, semua terasa tak masuk akal.
Perasaan aneh ini? Mengapa selalu begini saat bersama dengan dirinya? Apakah yang sebenarnya terjadi padaku? Batin Rossi.
"Minggu ini, apa kau akan pulang?" Tanya Andha memecah keheningan.
"Tidak!" Rossi menoleh sekilas, Andhra yang tak bergeming, kemudian matanya menatap lurus. "Apa kau lupa? Aku akan ikut piknik keluargamu."
"Iya!" Ucap Andhra malas.
"Sepertinya kau tidak suka?"
"Memang!" Andhra menyandarkan kepalanya di sofa.
"Kenapa?"
__ADS_1
Andhra tersenyum, bukan senyum karena bahagia, tapi nampak seperti memendam suatu luka. Senyum penuh kehancuran, itulah yang sebenarnya.
"Jadilah istriku!" Andhra menatap lekat wajah Rossi. Mengambil jemari Rossi dan menggenggamnya lembut."Aku tidak pandai merangkai kata. Aku juga tidak tahu cara membuat momen romantis. Tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku." Mencium jemari Rossi, lalu mengelusnya lembut.
Rossi terpana oleh pesona Andhra, kata sederhana namun mampu memenjarakan hati seorang Rossi. Dirinya seakan hilang kesadaran, terhipnotis oleh lembutnya tatapan Andhra. Membuat Rossi kesulitan bernapas.
"Rossi ... Banyak waktu yang aku habiskan untuk banyak berpetualang. Namun, rasa ini sekali tumbuh hanya padamu."
Kesadaran Rossi telah kembali, dia cukup grogi bahkan lututnya terasa sulit untuk diajak berdiri.
"Aku... Aku akan pergi." Rossi baru saja hendak berdiri.
"Berilah aku kepastian Ros, jika memang di hatimu tidak ada yang lain." Rossi tertegun beberapa saat, dia memilih pergi meninggalkan Andhra yang dipenuhi rasa kecewa.
Dia telah menolak ku." Batin Andhra.
"Setiap wanita tidak hanya percaya pada kata, tapi juga bukti nyata." Rossi membalikkan badan, kemudian berbalik dan pergi dengan membawa senyum menawan.
"Apa dia baru saja menerimaku?" Gumam Andhra gamang. "Aku tidak salah dengar kan?" Ucapnya lagi. "Tidak! Aku tidak salah dengar. Baiklah, akan aku buktikan."
~
~
"Apa kamu yakin? Ini rumahnya?" Farid meneliti sebuah rumah tak terurus. Halaman rumah yang dipenuhi oleh daun kering, juga beberapa sarang laba-laba menghiasi bagian depan rumah itu. Ada papan nama seseorang di bagian depan. "Dokter Indah" menggantung miring dengan banyak sarang laba-laba menghiasinya.
Ryo masih diam di tempat, sedangkan Farid, menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Rumah itu terlihat kotor tak terurus.
Dua jam yang lalu, Ryo mendapatkan telpon dari seseorang, alamat sebuah rumah yang pernah di tinggali oleh Hasma dan Alan.
"Masuk akal nggak sih? Mereka jadi dokter di sini? Bukankah Hasma dulunya seorang model?" Ryoki merasa ada tidak beres.
"Tentu!" Farid menjawab mantap.
"Apa?"
"Mereka membutuhkan seorang dokter untuk melakukan operasi plastik."
"Tapi, info yang kita dapat, Dokter Indah adalah dokter kejiwaan."
"Bagaimana jika kita masuk?" Ajak Farid. Mungkin saja ada sebuah petunjuk di dalam. Pikirnya.
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
To be Continued