Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta
Part 67


__ADS_3

Akhir pekan yang cukup menenangkan, kicauan burung peliharaan Andhra terdengar merdu, seakan dirinya berada di lingkungan pedesaan. Seekor elang merah nampak asyik mengoyak daging hingga tidak berbentuk lagi. Andhra tersenyum melihat semua peliharaannya telah menghabiskan makanan mereka. Sepasang love bird menari lincah berkejaran di dalam sebuah kandang yang dibuat hampir mirip dengan habitat aslinya.


"Pak Rip, apa perlu kita menambah pohon lagi, agar kenyamanan mereka terjaga?" tanya Andhra saat melihat Pak Rip kembali dengan sebuah nampan di tangan.


"Saya rasa tidak perlu, Tuan. Sepertinya, hutan buatan ini lebih dari kata nyaman, mereka sudah bertumbuh kembang dengan sangat baik."


Andhra kini bersantai di bangku bawah pohon kelengkeng, ditemani secangkir kopi dan beberapa kue yang sengaja dihidangkan oleh pak Rip.


"Duduklah, Pak Rip, Kita coba buah ini, apakah telah masak atau belum." Andhra mengambil sebuah kelengkeng, tidak jauh dari jangkauan tangannya. Andhra mengupasnya dengan cara yang elegan, lalu merasai apakah itu cukup manis atau tidak. Pak Rip masih berdiri sambil tersenyum.


"Tuan, jika ingin buah kelengkeng, ambillah yang warnanya seperti ini. Cobalah, akan lebih manis daripada yang Anda baru saja makan." Andhra menerimanya dengan tersenyum seringan embun menetes.


"Perfect! Ini sangat lezat." Andhra mengacungkan satu jempolnya kepada Pak Rip. Inilah kelebihan Pak Rip, dia lebih unggul di bidang buah-buahan.


"Ternyata kalah pengalaman saya."


"Tuan bisa saja. Saya hanya menuruti insting saja." Pak Rip merendah. Kembali memilah beberapa buah, lalu meletakkannya di atas piring, untuk jaga-jaga jika Andhra kembali menginginkan buah kecil manis itu.


"Bagaimana bisa begitu?" Andhra memasukkan satu buah lagi.


"Jika kita belajar dari seekor kalong, atau pemakan buah yang berkeliaran di malam hari, tentu hanya akan mengandalkan indera penciuman dan lidah. Pertama, memilih buah yang baunya harum, dan kedua menyicipinya. Saya melakukan hal itu kepada beberapa buah. Begitulah yang diajarkan orang tua saya dahulu."


Ya! Orang tua Pak Rip adalah penjual buah keliling, tapi setelah rumah dan toko keluarga mereka disita oleh para lintah darat, Pak Rip Dan keluarganya jadi gelandangan, hingga bertemu dengan Andhra sepuluh tahun lalu.


"Mantap!" Andhra mencium aroma khas buah kelengkeng yang sejatinya memang manis.


Tak berapa lama, datanglah pria berjaket hitam. Dari gerak lakunya, Andhra bisa menebak bahwa tamunya adalah Ryo. Andhra melirik seorang pelayan yang mengantarkan Ryo membungkuk. Pak Rip segera undur diri, cukup mengerti jika Pak Rip harus kembali ke dapur, mengambil kopi untuk Ryo.


"Kau telah kembali?" Ryo hanya mengangguk sebagai jawaban, mengambil tempat di seberang meja Andhra. Andhra melihat gelagat Ryo tidak semesti biasanya, seperti tengah menyimpan suatu beban pikiran yang cukup berat. Setelah kembali dari desa, pria ini malah kelihatan murung.


"Bicaralah?"


"Hemmh, apa? Apa maksudmu?" Ryo berkelit, dia cukup mengerti jika Andhra menyadari perubahan sikapnya mungkin saja. Ryo memilih mengambil secangkir kopi yang disodorkan Pak Rip, ketimbang membahas masalah yang dia bawa pada Andhra.


"Apa ini tentang Mella?" tebak Andhra.


"Bukan! Tapi ini!" Ryo mengeluarkan dua buah Zip flash menaruhnya di meja. "Isinya adalah pembedahan wajah terhadap seseorang. Pembedahan yang hanya dilakukan oleh dua orang berbeda genre."

__ADS_1


Andhra mengambil benda kecil itu, menelitinya dengan seksama. "Darimana kau dapatkan ini?"


"Rumah kosong milik seorang dokter bedah. Dokter ini sempat sangat terkenal, tapi kemudian keluarganya berantakan dan sekarang dokter itu tidak diketahui keberadaannya. Dia menghilang bersama istri dan anaknya."


"Lalu, hubungannya denganku apa?" Andhra melempar chip itu ke meja lagi.


"Hai, isinya sangat berguna untuk penyelidikan mu selama ini. Kau tahu?"


"Tidak!"


"Makannya dengarkan dulu!" sewot Ryo. "Dia adalah dokter yang melakukan operasi terhadap ibu tirimu itu. Selama ini kita mencari bukti-bukti kejahatan Hasma. Tapi tidak ada satupun yang berhasil membuat wanita sialan itu mendekam di penjara. Dia bermain dengan sangat rapi dan cantik.


Kita juga tidak bisa memenjarakannya dengan kasus lama. Sebab selama ini kita tidak tahu bagaimana wajah yang sekarang. Operasi itu berhasil dia lakukan. Hasma melakukan lima kali operasi wajah,tujuh kali operasi pada bagian tubuhnya dan tak terhitung lagi operasi lain yang membuat wanita itu tetap awet muda. Tapi dalam rekaman itu, semua telah ada bukti. Bagaimana bentuk wajah wanita itu, baik  sebelum dan sesudah menjalani operasi. Kita bisa menjadikannya senjata untuk memberi pelajaran kepada wanita ular itu."


"Biarkan saja!"


"Apa maksudmu? Kita telah bertindak sampai sejauh ini, lalu menyerah begitu saja?"


Andhra menyesap kopi dengan sangat santai, Ryo sampai jengah.


"Dia pasti akan menampakkan dirinya sendiri. Beberapa Minggu lalu, dia mengambil uangku melalui Mella."


"Tidak juga. Kita sudah sepakat untuk tidak menekan Mella." Ryo berdecih kembali.


"Lalu apa yang kau mau? Kau memburu dirinya selama bertahun-tahun, dan sekarang ... Kau akan melepaskannya begitu saja?" Ryo menyugar kasar rambutnya. "Bahkan sekarang kau akan menikah. Apa kau lupa tujuan kita?" Ryo semakin menekan Andhra. Dengan santai, Andhra menyesap kopi.


"Kau juga bisa melakukan bersama Mella. Bukankah hal itu yang ingin kau katakan padaku?" tebak Andhra, Ryo sampai berjengit tak percaya. Bagaimana bisa teman dan atasannya ini sangat mengerti dirinya. Tapi, dia kembali teringat satu hal. Ryo dalam penyamaran.


"Kau ingin mempermainkan aku?" Ryo melempar buah kelengkeng, Andhra bukannya marah, tapi tergelak oleh tingkah konyol Ryo.


"Misi ini belum selesai, bagaimana bisa kita membuka semuanya di depan Mella. Aku juga belum siap menjelaskan segalanya." Suara Ryo terdengar lebih rendah daripada sebelumnya.


"Dan yang lebih membuatku bingung, Mella kadang bertingkah manis seperti pertama kali kita bertemu, namun sesaat kemudian, dia tampak menyesali tindakannya. Kadang dia juga menjauh dariku. Aku mengerti, di saat seperti itu dia berusaha setia menjaga hatinya hanya untuk Ryo. Kadang seolah dia dekat denganku, kemudian menjauh kembali


Mungkin dia tengah berperang dengan perasaannya. Mella sempat mengatakan, bahwa Ryo yang sekarang berbeda, meski begitu, Mella tetap menyukainya juga. Aku yakin, dia mulai mencurigai Ryo palsu itu. Tapi...!" Ryo semakin gusar, Andhra meliriknya sekilas.


"Mella akan mengerti!" Andhra menepuk bahu Ryo.

__ADS_1


"Tidak untuk kebohongan!" sambar Ryo.


"Mella tidak bisa menerima  kebohongan, apapun itu. Aku takut dia semakin jauh dariku. Terlebih, saat Ryo yang asli itu berhasil meyakinkan cintanya pada Mella. Apapun bisa saja terjadi kan? Akankah aku kehilangan semuanya?" Ryo bangkit dengan kilat, memukul dedaunan yang menjuntai di depan wajahnya.


"Apa kau lupa, Mella tidak memiliki wali lain selain diriku?"


"Apa kau membujukku?"


"Menurutmu?"


"Benar juga sih, bukankah Mella tidak ada wali yang sah selain dirimu. Kau lah satu-satunya Kakak lelaki dari pihak ayah."


"Nah, itu tahu!" Andhra mengambil kopinya, menikmati aroma khas yang menguar sedap, lalu menyeruputnya.


"Tapi ... Apakah Tuan Fadal menikahi ibunya Mella?"


Andhra menyemburkan kopinya hingga mengenai wajah Ryo.


Uhuk uhuk


~


~


~


Di desa Kembang


"Ayah, apakah perlu Rossi ikut Ayah kemari?" Entah kenapa, langkah kaki Rossi tiba-tiba terasa berat. Dia kini berada di halaman rumah Farid bersama Ayahnya.


"Katanya bakal ngomong sendiri. Kau ini gimana sih, plin plan banget jadi orang."


"Tapi Ayaaaahhh. Apa perlu sekarang banget. Besok kan bisa." Rossi menggulung ujung kaos yang dia pakai, terlihat jelas jika gadis itu tengah grogi.


"Jangan pernah menunda hal yang baik!" Ayah mengedipkan sebelah matanya, menggoda. Rossi mengerucutkan bibirnya.


Tahu begini, aku pilih di rumah saja tadi. Batin Rossi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2