
Dengan bantuan Rossi dan Dion, mobil mewah yang kini telah berubah seperti kerbau mandi lumpur itu sepenuhnya telah keluar dari kebun Pak Soleh.
"Mobil mewah sobo dadah!" celetuk Rossi sambil tertawa meledek.
"Apa maksudnya?" Si Dion anak kota rupanya tidak tahu artinya.
"Mobil mewah jalan-jalan ke kebun dekat rumah!" Ozan berjalan santai ke padasan dekat rumah Pak Soleh.
Beberapa menit yang lalu, mobil mewah milik Andhra, di tarik keluar kebun dengan mengaitkan tali tambang dari mobil Rossi ke mobil milik Andhra. Rossi bagian menyetir guna menarik mobil Andhra. Andhra bagian di dalam mobil miliknya sendiri guna menghidupkan mesin dan mengupayakan mobil miliknya keluar dari kebun. Tanah basah itu membuat tenaga mereka harus terkuras dua kali lipat. Terlebih Dion dan Ozan yang bertugas mendorong mobil. Mereka tetap saja terkena noda.
"Memang artinya begitu, ya?" tanya Dion.
Rossi mengacungkan jempolnya.
"Pak, tempat buat nyuci tangan dimana?" Ozan melihat kakinya dipenuhi oleh tanah basah, rasanya sungguh seperti ditempeli permen karet.
"Sebelah sini, mari ... Ikut bapak!" tunjuk pak Soleh. Ozan dan Dion bergegas pergi menyusul pak Soleh, tinggallah Rossi dan Andhra.
"Bagaimana bisa mobilmu masuk ke sana?" Andhra yang sejak tadi terdiam sebab sibuk memikirkan bagaimana caranya dia menebus kesalahan yang tanpa sengaja dia lakukan.
"Kecelakaan."
"Iya, aku tahu karena kecelakaan, tapi maksud aku adalah, bagaimana bisa kau masuk sampai sejauh ini? Apa mobilmu sedang bermasalah."
"Tidak! Akulah yang bermasalah!" Kedua mata mereka bertemu, Rossi jadinya salah tingkah dan sulit bicara. Padahal, dia ingin tahu kronologi kejadian yang menimpa Andhra. Tapi rasa empati mendadak mengalahkan itu semua.
"Apakah kau baik-baik saja?" Reflek Rossi mendekat seraya memeriksa tubuh Andhra, tangannya bahkan memegang lengan Andhra dengan khawatir."Kau tidak lecet, bukan? Masalah apa yang menimpa dirimu hingga kau sampai kecelakaan begini?"
"Sekarang semuanya sudah membaik." Lengkungan indah pada bibir Andhra membuat Rossi sejenak terpaku. Tanpa dia sadari, Andhra menautkan jarinya pada jemari lentik Rossi yang masih menempel di bahu Andhra.
Semuanya telah membaik saat kau mengkhawatirkan diriku. Kaulah obat dari segala kegundahan hatiku. Batin Andhra.
"Emhhh!"
Ozan berdehem sambil pura-pura tidak melihat.
"Serasa dunia milik kita berdua!" Dion memasukkan tangannya ke dalam saku celana, tapi pandangannya terkesan menggoda.
Andhra hanya berdecih, saat Rossi menarik tangannya dari genggaman tangan Andhra secara kasar. Mendadak rasa canggung memenuhi hati.
"Jadi, bisakah kita selesaikan tugas kita sekarang?" Dion melihat kecanggungan kedua sejoli itupun mencairkan suasana
"Ah, iya! Kita angkut barang-barang pesanan Paman." ucap Rossi sambil garuk-garuk kepala tak jelas.
Rossi dan Dion pun menaikkan semua barang ke bak mobil dibantu oleh Andhra dan juga Ozan.
"Pak Soleh, apa Bapak benar-benar iklas dengan kejadian ini? Maksud saya ... Saya telah banyak merusak tanaman Bapak. Itu pasti sangat merugikan."
__ADS_1
"Nak, kita sudah bahas hal kan? Jadi, usahlah di bahas lagi. Bapak sudah iklas, berarti itu bukan rezeki saya, mengenai perbaikan kebun, Bapak masih sanggup melakukannya." Pak Soleh menunjukkan lengan kanannya yang sama sekali tidak kekar.
"Nak Andhra juga tidak sengaja melakukanya. Bukan?"
"Tapi, Pak!"
"Rasa bersalahmu itu, sudah membebani dirimu. Bapak tidak tega jika menambah beban beratmu itu." Kekaguman Andhra pada sosok Pak Soleh inipun meningkat, selain ramah, berwibawa dan juga bijak, Pak Soleh ini juga memiliki hati yang lapang.
"Tapi, bapak dirugikan dalam hal ini, Bapak berhak mendapatkan ganti rugi."
"Kau juga merugi, lihatlah mobilmu itu." Yah, pasti akan ada banyak dana yang harus Andhra gelontorkan buat perbaikan mobil.
"Tapi itu karena kesalahan saya sendiri."
"Tidak baik larut dalam penyesalan. Ambillah hikmahnya. Jika saja tidak ada kejadian ini, mungkin kita tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dan bercanda tawa ria. Terima kasih sudah mampir. Lain waktu, jika kebetulan lewat, jangan sungkan."
Andhra mengangguk "Anda sangat baik, saya berdoa, semoga Anda selalu dalam perlindungannya. Dan jika boleh tahu, mengapa Anda memilih mengiklaskan segalanya?"
Karena dengan sikap ini merupakan tindakan tulus hati yang bisa memberikan ketenangan, kedamaian bagi diri pribadi dan orang lain."
"Satu hal yang membuatku tidak mengerti, bagaimana caraku belajar iklas?"
"Sikap iklas mempunyai kaitan erat dengan niat. Karena adanya sifat iklas tergantung pada niatnya. Jika boleh saya sarankan, niatkanlah hati Nak Andhra untuk melupakan segala sesuatu yang telah terjadi. Maka, hidupmu akan jauh lebih aman dan tentram."
"Terima kasih, Pak! Saya izin pulang."
~
~
~
Perjalanan pulang dilakukan setelah terjadi sedikit perdebatan kecil. Rossi si kancil menggunakan akal cerdiknya untuk bisa pulang bersama Andhra. Andhra yang tengah dilanda asmara itupun memerintahkan Ozan agar menuruti permintaan Rossi. Padahal Ozan khawatir jika sakit Andhra kembali kambuh.
"Kenapa kau menatapku begitu?"
Kini Andhra dan Rossi berada dalam satu mobil.
"Tidak ada, hanya saja ... Kau belum menceritakan kecelakaan yang baru saja menimpa dirimu." Andhra menoleh sekilas, kemudian fokus mengemudi lagi.
"Apa yang perlu diceritakan? Bukankah,jejak yang kau lihat sudah menceritakan segalanya."
"Andhra ... Aku mohon! Bukankah aku ini adalah calon istrimu, kita akan menjalani hidup bersama berbagi segalanya dalam suka maupun duka."
Andhra menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan.
"Kau benar, kita akan menjalani hidup ini bersama dalam suka ataupun suka. Dan sebelum itu terjadi, kau sebagai calon mempelai wanita, kau berhak tahu, bahwa aku sebenarnya .
__ADS_1
..!"
"Sebenarnya apa, Ndhra?"
Cerca Rossi begitu penasaran.
"Trauma!Complex post traumatic stress disorder (CPTSD) Aku memiliki kehidupan masa kecil yang buruk. Dan kenangan itu terulang kembali saat aku beranjak remaja. Aku pernah mengalami trauma di umur delapan tahun, saat Mama meninggal di tangan orang-orang jahat. Orang yang paling aku sayangi, dibunuh secara keji di depan mataku sendiri. Aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbuat apapun. Seseorang membawaku pergi saat itu. Aku hanya bisa mengenang jeritan mama dalam rasa pahit.
Sejak saat itulah, hatiku dipenuhi dendam. Dan kejadian menyedihkan itu, terulang kembali setelah aku beranjak dewasa. Bara ayahnya Anita, adalah orang kepercayaan Papa, orang yang sangat menyanyangi diriku layaknya anak sendiri."
Rossi mengusap lembut punggung Andhra, berharap bisa menyalurkan kekuatan agar Andhra lebih tegar.
"Jika kau nampak lemah begini, sungguh tidak cocok." Mengusap air mata Andhra yang hampir saja menetes. Kini Rossi tahu, dibalik sikap angkuh dan sombong Andhra, terdapat luka yang begitu dalam.
"Dasar kancil. Kau pintar sekali mencari celah untuk mengejekku." Andhra mengacak rambut Rossi.
"Sebaiknya kita segera pulang, sudah sangat larut. Jika ada polisi bisa jadi kita disangka pasangan mesum."
"Mesum beneran juga tidak apa."
"Belum boleh tahu!"
"Kata siapa?"
"Ya, kata saya!"
"Owh!"
"Lho kok owh?"
"Ya, apa coba, owh no owh yes?"
"Andhraaaa....!"
"Apa sayang!"
Complex post traumatic stress disorder (CPTSD) merupakan kondisi psikologis seseorang mengalami trauma pahit akan masa kecilnya. CPTSD ini lebih parah dibandingkan dengan PTSD. Biasanya orang yang mengalami CPTSD ini memiliki trauma pahit masa kecil dan trauma tersebut terulang kembali ketika dirinya telah dewasa, seperti kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Saat kenangan pahit tersebut terulang kembali, otak akan menghasilkan hormon stress yang jauh lebih parah daripada sebelumnya dan menimbulkan rasa sakit serta nyeri pada otak. Jika tidak ditangani segera mungkin, maka akan terjadi komplikasi penyakit berbahaya dan kronis.
Rossi yang kini berada di atas ranjang merasa shock setelah membaca
Sebuah artikel mengenai sakit yang diderita Andhra.
"Separah itukah?"
To be Continued.....
__ADS_1