
"Oke! Tidak perlu basa-basi lagi, saya kemari hanya ingin bertemu dengan Anda dan meminta kepada Anda Agar batalkan saja rencana Anda untuk bersanding dengan Andhra."
Seketika penilaian Rossi terhadap wanita di hadapannya berubah terbalik.
"Apa?"
"Saya kira pendengaran Anda masihlah sangat bagus." Wanita yang bernama Anggun itu pun mencondongkan tubuhnya bicara dengan tatapan licik. "Kau tidak tahu siapa Andhra. Dia adalah pria yang pernah gila hanya karena seorang wanita. Dan sampai saat ini Andhra masih belum bisa move on. Tidakkah kau kasihan pada kehidupanmu nanti? Paras cantik yang kau miliki hanya akan terkurung dalam sangkarnya. Tapi tetap saja hati Andhra tidak akan bisa Anda miliki selamanya."
Rossi nampak mengatur nafas guna mencerna apa maksud dari perkataan Anggun yang seperti memprovokasi.
"Sebenarnya, apa tujuanmu datang menemuiku?" Tidak mungkin seseorang membuka rahasia orang lain jika tanpa tujuan tertentu.
"Tidak ada! Hanya minum kopi dan sedikit bergosip." Anggun bicara manis seiring gerakan mata mencemooh sinis.
"Lalu apa maksud dari perkataan mu tadi?" selidik Rossi.
"Tidakkah cukup jelas? Andhra bukan pria yang baik untukmu."
Anggun menyibakkan rambutnya dengan elegan, serasa dirinya telah berada dalama ketinggian. "Jika aku jadi kamu, akan aku tinggalkan saja dia.
Rossi sedikit risau dengan pembicaraan ini. Dia memang belum mengenal Andhra lebih dalam. Tapi dari yang dia tahu, Andhra sosok yang baik. Jika pun memiliki masa lalu yang sulit dilupakan adalah hal yang wajar bukan? Meski sebenarnya Rossi merasa tercubit dengan kebenaran yang dia dengar. Sedang wanita di hadapannya ini terlihat jujur dalam berbicara.
"Andhra memiliki sakit yang mengerikan jika kau tahu. Yah! Tidak ada media yang berani meliput atau membeberkan kebenaran sehingga hanya segelintir orang saja yang mengetahui fakta itu." Rossi teringat saat dirinya di pantai kemarin. Andhra lupa diri dan hampir saja melukai dirinya. "Lihatlah!"
Anggun memberikan ponsel miliknya berisikan sebuah video dimana Andhra tengah mengamuk, menghancurkan apa saja yang temuinya bahkan mencekik leher seseorang. Terlihat jelas bagaimana garangnya Andhra seperti orang kesurupan.
"Dan ini juga ada yang lain." Anggun memainkan jari lentiknya hingga terputar video lain tentang Andhra. Rossi diam seribu bahasa pikirannya mulai gamang.
"Baiklah Nona Rossi harap pikirkan lagi rencana Anda untuk menjadi pendamping seorang pria bernama Andhra. Dia adalah jelmaan monster. Saya permisi." Anggun berdiri dan pergi meninggalkan Rossi yang selimuti pikiran kacau.
~
~
Desa Kembang
__ADS_1
Rasya telah sampai di désa ini dua jam yang lalu. Tujuannya tentu saja pembahasan mengenai rencana pernikahan Rossi dan Andhra.
"Jadi bagaimana, Pak Heru?" Rasya telah selesai menyampaikan pendapatnya. Heru menoleh pada istrinya yang lebih banyak diam sejak pembicaraan ini dimulai.
"Kalau saya ikut bagaimana baiknya saja," ucap ibu seakan mengerti akan arti tatapan suaminya.
"Jadi, kita lakukan akad di desa ini. Dan minggu berikutnya, akan kita adalah resepsi pernikahan." Rena menimpali.
"Kami juga menginginkan resepsi pernikahan. Kebiasaan orang desa sini resepsi diadakan setelah mempelai pulang dari KUA," timpal Ibu.
"Kalau begitu kita akan adakan pesta pernikahan dua kali dong. Wah! Itu akan lebih seru lagi."
"Mempelai laki-laki akan datang dari rumahku." Farid ikut ambil bagian. Mana mau dia kalah peran dari para orang tua ini. Secara, Andhra adalah saudaranya.
"Yak, aku setuju dengan ide kamu, Nak!" Rasya mengagungkan dua jempol."
"Pasti akan seru jika seluruh keluarga kita boyong ke sini, Pa! Kita akan adakan pesta meriah yang dikenang sepanjang masa." Rena begitu antusias tapi, sedetik kemudian wajah gembira itu berubah sendu. Rasya memegang erat jemari istrinya. Seakan mengerti akan isi pikiran Rena yang tengah diselimuti rasa was-was.
"Jadi deal ya, Pak Heru. Acara pernikahan diadakan dua minggu lagi," desak Rasya.
"Jujur saja, sebenarnya kami belum begitu siap. Kami tidak mungkin menyiapkan segalanya hanya dalam waktu dua minggu."
"Tapi, kalau acara resepsi harusnya kan pihak perempuan yang bertanggung jawab, Nak?" Heru tidak enak hati. Dia cukup menyesal karena telah berkata jujur.
"Bapak jangan merasa tidak enak hati. Saya dan Ibu telah sepakat jika Kak Andhra menikah, maka kami yang akan menanggung semuanya."
"Lihatlah, Ma! Pejabat yang satu ini telah memboikot kita," seloroh Rasya. "Terima nasib baik saja Pak Heru. Kasihanilah Fariq."
Pak Heru memicingkan mata bagaimana bisa orang nomer satu di desanya harus dikasihani.
"Kasihan kenapa?" Ibu ternyata juga sepemikiran dengan Heru.
"Uangnya tidak akan berkurang. Kasihan dia nanti bingung harus naruh dimana." Rasya cengengesan.
"Ih, Papa garing banget deh!"
__ADS_1
"Lha kalo nggak garing nggak kriuk, Ma!" Rasya mencomot satu potong ubi kukus. Sedangkan yang lain tertawa menanggapi.
"Iya! Kita tinggal terima enaknya sajalah, Jeng! Biarkan saja Si Farid ini yang menanggung semuanya. Kita sebagai orang tua duduk anteng saja dan menunggu hasil baik. Jika ada kekeliruan kita jewer saja kupingnya." Farid semakin melebarkan bibirnya sebab ucapan Rena.
"Jika seperti itu ya ..., mau bagaimana lagi. Namun, kami perlu menanyakan pada Rossi apa konsep pernikahan yang dia inginkan." Ibu terkesan berhati-hati dalam berucap. Dia sudah sangat bersyukur, sedikit tidak enak hati namun juga bahagia. Besannya ini meski kaya tapi merakyat. Terlihat bagaimana cara Rasya tanpa sungkan lagi memakan hidangan sederhana yang disuguhkan.
"Papa, jangan dihabiskan ah. Sisakan untuk yang lain." Rena memukul pelan pundak suaminya.
"Jarang-jarang Ma, kita dapat makanan sehat seperti ini," Rasya tertawa renyah
"Tidak apa, Bu Rena, kami malah senang sekali bisa menjamu tamu walau alakadarnya."
Mau bagaimana lagi, Rasya dan Rena tidak ada konfirmasi jika mau berkunjung hari ini. Tentu saja tidak ada persiapan apapun. Rasya dan Rena juga sepakat untuk melakukan kunjungan dadakan guna melihat seperti apa besannya ini.
~
~
Andhra berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel sesekali dia memeriksa apakah ada notif yang masuk atau tidak. Sejak tadi pagi calon istrinya tidak sekalipun membalas pesan darinya apalagi mengangkat telpon.
"Rossi, kamu dimana? Kenapa tidak mengangkat panggilan dariku," geram Andhra mengacak rambutnya frustasi.
"Apa sebaiknya aku datangi dia ya? Yah! Sebaiknya aku kesana saja."
Andhra bergegas pergi setelah menyambar jas yang tersampir di kursi kerjanya.
"Kancil kesayanganku, i am coming."
Andhra melangkahkan kaki lebarnya dengan sedikit berlari, rasanya begitu menggebu ingin segera bertemu.
Tapi ketika Andhra hampir saja mencapai lift seorang OB keluar terburu-buru hingga menabrak tubuh Andhra.
"Auwwhh! Punya mata nggak sih?" omel wanita yang baru saja tersungkur akibat membentur tubuh kekar Andhra.
"Maaf!"
__ADS_1
"Kau!"
To be Continued