
"Bangun oooi! Kasurmu nganggur tuh di rumah! Ngapain sih pakai tidur di sini!" Ketus Ozan. Dia uring-uringan sebab kurang tidur semalam. Dia juga cemburu, karena anaknya tidak mau di pisahkan dari tubuh Andhra.
Dari subuh, Andhra ganti pindah ke kasur. Arini yang melihatnya hanya tersenyum dan memilih duduk di sofa setelah membersihkan diri. Infus sudah terlepas dari pergelangan tangannya, karena Arini yang memaksa.
"Kamu tuh Ndhra, punya rumah nyaman malah nyusul kemari. Ambil posisi terhormat gua lagi."
"Kayak Mak-mak rumah rusun aja Kamu Yang, ngomeeeel terus dari tadi." Arini lagi ngemil cantik. Satu piring buah segar telah berada di pangkuannya. Kakinya sengaja selonjoran."Nggak capek apa! Itu tuh yang di laci atas belum kamu beresin. Cepetan beresin gih. Aku mau pulang pagi ini."
"Aku tuh nggak bisa tidur sebab mereka berdua. Kamu malah responnya kayak gitu." Ozan memberengut sambil memasukkan barang-barang yang akan dia bawa pulang.
Semalaman Ozan sampai begadang, sebab takut jika anak yang baru di lahirkan itu bakal jatuh dari dada Andhra. Bisa berabe kan? Bocah mungil itu, akan menangis jika diangkat Ozan untuk diletakkan di box bayi. Bahkan Andhra memeluk erat anaknya setelah itu, keduanya tidur dalam keadaan menempel kayak perangko. Dan Ozan, khawatir jika anaknya di jatuhkan Andhra saat sedang pulas-pulasnya.
Dan parahnya lagi, sehabis sholat subuh, Andhra mengulang kembali aktivitasnya dengan si baby hingga pagi.
"Bos, Andhra! Angger! Bangun wooi bangun!" Ozan memukul pelan lengan Andhra yang masih prosesif memegang si baby. Perlahan Andhra melepaskan si baby pada Ozan.
"Oeeekkk!" Ozan mengambil bayinya yang mulai berontak baru saja dia ambil, tuh anak langsung kencing. Pakai acara nangis lagi.
"Nak, Nak, semalaman kamu anteng dan nyaman saja bersamanya, kenapa sekarang malah rewel, kencing lagi. Punya dendam apa kamu sama Papa?" Ozan melihat nanar tangannya yang basah oleh air kencing si anak.
"Anak pintar!" Andhra mengecup puncak kepala si baby, kemudian melangkahkan kaki menuju pintu kamar mandi. Tentunya setelah mengambil sebuah paper bag di atas nakas.
"Ini milik Gua kan?"
Arini mengangguk. Ozan sibuk mengganti popok anaknya dengan susah payah. Dia harus bisa, masa kalah sama perjaka tua macam Andhra. Pikirnya. Arini mengulum senyum ketika Ozan mulai frustrasi.
"Yang, ini bagaimana pasangnya ya?" Arini masih setia pada tempatnya.
"Katanya mau jadi papa siaga, masak gitu saja nggak ngerti. Mas And saja lihai lho soal begituan." Goda Arini. Muka lecek Ozan semakin kusut aja.
"Belum bisa juga, Zan?" Ejek Andhra, matanya memindai gulungan baby mungil yang terlihat acak-acakan. Bayi itu sudah berada di pangkuan Arini.
"Namanya juga baru belajar, Bos!" Sahut Ozan. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mau langsung pergi kerja?" Penampilan Andhra sudah sangat rapi, kini pria itu sudah memakai pakaiannya lengkap. Ozan segera merapikan dasi sang bos dan juga teman karibnya itu.
"Nah, sudah rapi!" Ozan masih mengusap jas milik seolah membersihkan debu pada dada Andhra.
"Mau cium kening juga nggak?" tanya Andhra menggoda, layaknya sepasang suami istri.
"Cih, kau pikir aku cowok apaan?" Ozan bergidik ngeri. Arini tergelak karena ulah mereka. Selalu saja menggelikan.
__ADS_1
"Bos, sebaiknya jangan deketin anak Gua deh."
"Kenapa memangnya?" Andhra mengambil sisir milik Arini.
"Bos nggak sadar? posisi gua bisa terancam." Sungut Ozan. "Sebagai bapak yang baik, harusnya anak gua deketnya sama gua, tapi kenapa malah terlihat lebih nyaman sama, Luh?"
Andhra memutar bola mata malas. "Bukan anak Luh saja, istri Luh aja nyamannya sama Gua." sambar Andhra. Arini malah mengacungkan jempolnya.
"Tega, Luh sama Gua Dhra," Ozan pura-pura merajuk beralih duduk meringsek ke tubuh Arini.
"Dasar lebay! Dah, gua pergi dulu. Ada banyak pekerjaan yang mesti ku kerjakan pagi ini. Semoga saja Mella mampir kantor sebelum pergi." Ozan yang tadinya menggoda si Baby, kini menegakkan tubuhnya. Andhra mendekat guna mengambil potongan buah, memakannya dengan lahap. Ya! Itu adalah buah yang disiapkan oleh Ozan saat Andhra tidur sehabis subuh.
"Mella pergi? Memangnya mau kemana? Lalu siapa yang akan berada di sampingmu untuk menghandle semuanya jika Mella pergi?"
"Mella, aku tugaskan ke luar kota, tepatnya meninjau proyek kita di kota B. Setelah itu, dia juga harus memeriksa kondisi IndoChick." Andhra beralih mengambil jus buah, meminumnya hingga tandas.
"Bagaimana jika Mella berbelok? Kau tahu sendiri bukan, mamanya sangatlah pandai merangkai kata. Apalagi, kita belum menemukan dokter itu. Dia adalah kunci dari semua masalah yang kita hadapi."
"Kau tenang saja, semua sudah ku atur" Jawab Andhra.
"Siapa asistenmu untuk sementara ini?"
Ozan nyengir kuda, tahu maksud perkataan Andhra. Sudah seringkali Ozan mengambil libur dadakan akibat kehamilan sang istri. Untung atasannya, teman karib atau bisa di bilang saudara sendiri, kalau tak...pasti kena pecat.
"Siap, Bos!"
~
~
"Mirip?"
Mella mengangguk antusias mengiyakan.
"Aku ini makhluk langka, mungkin hanya satu di dunia, jafi, tidak ada kata mirip."
Bahasa tubuhmu, caramu bicara, kau sangat mirip dengan orang itu. Batin Mella.
"Selamat pagi! Surprise!" Ucap seseorang yang baru saja datang bergabung. "Pada mau kemana ini? Mella, bawa koper segala mau pergi kemana? Kenapa tidak ada bilang padaku?"
__ADS_1
"Aku akan pergi keluar kota, Ryo! Maaf, karena dadakan, aku belum sempat memberitahu dirimu." Mella memandang nanar tangan Ryo yang sudah bertengger di bahunya.
Entah kenapa, aku merasa kau adalah orang lain. Hati ini juga tidak merasakan getaran apapun. Apakah yang terjadi? Kemana perginya getaran itu. Mella semakin gundah.
"Sayang, harusnya kamu bilang, biar aku atur jadwal dan mengantarkan dirimu pergi."
"Tidak usah repot-repot Ryo, aku sudah ada teman pergi. Andhra yang mengirimnya." Sambar Mella. Mata menatap ke arah pria bertudung itu.
"Dia seperti anggota Zargot saja. Misterius gitu." Ryo menatap penuh selidik.
"Sok tahu kamu. Dia orang baik kok. Namanya Ryoki."jawab Mella.
"Mirip banget sama namaku." Sambar Ryo. Merapatkan tubuhnya pada Mella.
"Mungkin hanya kebetulan saja." Pungkas Mella cepat. Entah ada apa dengan dirinya yang seakan tidak ingin membuat Ryoki canggung.
"Kamu jangan macam-macam di sana ya." Ryo mencium kening Mella dengan mesra. Pria yang dikenal sebagai Ryoki mengepalkan tangannya kuat.
"Mbok, bisa percepat lagi? Saya akan telat nanti." Mella ingin segera pergi, tak tahu hati siapa yang ingin dia jaga saat ini, yang pasti, Mella tidak nyaman saat tangan Ryo bertengger mesra di bahunya.
"Owh, ayolah, Sayang! Kau ini terburu-buru sekali. Bagaimana jika kita breakfast dulu, ini juga masih terlalu pagi. Kau bisa sakit jika yang ada di otak cerdas mu, hanya pekerjaan saja. Apa kau tidak merindukan ku. Semalaman kita tidak bertanya kabar, chatku juga tidak kau jawab pagi ini. Ingin rasanya aku mati saja jika kau diamkan aku begini. Apa salahku?." Bujuk Ryo. Seolah dialah kekasih yang paling mencintai wanitanya di dunia ini.
"Tidak Ryo, maaf! Tapi ini proyek yang sangat penting bagiku. Maaf ya!" Mengelus pipi Ryo perlahan. "Aku pergi dulu, ayo kita pergi Ryoki."
"Apakah itu pacarmu?" tanya Ryoki, kini sudah berada di dalam mobil. "Dia berlebihan sekali."
"Jangan sok tahu!" Ketus Mella.
"Memang tahu. Berapa lama kamu pacaran dengannya? Apa saja yang kalian lakukan selama itu?"
"Tidak usah Kepo, nyetir saja dengan benar." Enggan banget mambahas Ryo, bikin hati Mella jadi galau.
"Hemmh, sepertinya ada kabut awan di langit biruku."
Deggg
"Apa katamu?" Mella mengorek telinganya, dia tidak salah dengar kan?
To be Continued.....
__ADS_1